Kebenaran Menurut Friedrich Wilhelm Nietzsche

Kebenaran Menurut Friedrich Wilhelm Nietzsche[1]

Oleh : Absurditas Friedrich Fallah[2]

Tidak akan terbalaskan jasa seorang guru, apabila kita bertahan menjadi muridnya. By Friedrich Nietzsche.”

Kemampuan akal manusia dan pengetahuannya manusia berkeinginan untuk bisa menguasai alam. The Will To Power (Dalam bahasan Nietzsche) atau kehendak untuk berkuasa yang mendasari seluruh tingkah laku manusia. Lain daripada itu, kehendak berkuasa memasuki semua bidang. Maka Nietzsche mengatakan bahwa, Dunia adalah kehendak untuk berkuasa[3]. Inilah  salah  satu  pokok  pikiran Friedrich  Nietzsche[4]. Menurutnya, kehendak untuk  berkuasa  ini  nampak  dalam ilmu  pengetahuan.  Dengan ilmu pengetahuan,  manusia  ingin  menyelidiki  dunia  untuk  menemukan kenyataan dunia yang menjadi. Dengan ilmu, semua yang ada diubah kedalam bentuk-bentuk  yang  pasti.

Menurut Aristoteles, manusia mempunyai kodrat ingin mengetahui apapun[5]. Hasrat inilah yang mampu membuat manusia berkelana dan mengembara dalam proses yang tidak pernah berhenti. Pengetahuan ada yang diperoleh atau ditolak demikian adanya. Pengetahuan dapat diperoleh melalu cara-cara tertentu, dan hasilnya dapat ditolak dan dibantah. Masalah Ilmu pengetahuan tidak bisa dipisahkan dengan kebenaran, dan dalam kebenaran dalam ilmu pengetahuan bersifat terbuka, untuk dibantah, dikritik, dan dibantah sepanjang masa[6].

Epistemologi adalah cabang filsafat yang membahas masalah kebenaran dan cara mendapatkannya. Beberapa permasalahan yang berada dalam ranah epistemologi adalah metode, validitas, sarana, dan sumber apa yang dapat dipercaya untuk mendapatkan pengetahuan. Semua ini menjadi objek dalam permasalahan filsafat[7].

Kebenaran ilmu pengetahuan tidak akan pernah berhenti. Ia terus bergerak sesuai dengan bantahan dan gugatan. Akhirnya kebenaran mempunyai warna yang sangat beragam. Setiap aliran mempunyai kriteria kebenarannya masing-masing. Kebenaran tidak hanya berhubungan dengan ilmu pengetahuan. Ada hal-hal yang di luar ilmu pengetahuan berpengaruh dan berkepentingan terhadap masalah kebenaran. Misalnya unsur kekuasaan. Berkaitan dengan masalah ini, pemikiran Friedrich Nietzsche menjadi sangat menarik untuk diungkapkan. Persepsi epistemologinya diawali dengan asumsi dasar skeptisisme radikal terhadap adanya kebenaran dan kemampuan akal manusia. Sejak awal Nietzsche menyadari bahwa kekuasaan mencampurtangani masalah kebenaran. Pemikiran semacam ini tidak dapat diterima pada zaman modern yang didominasi oleh keunggulan akal, dan kemutlakan kebenaran[8].

Epistemologi Nietzsche di tengah zaman modern yang dicirikan dominasi akal[9] ini tampak sulit diterima. Pendobrakan dogmatisme akal dengan kosep The Will To Power, membuat Nietzsche berada di luar perbincangan epistemologi formal. Selanjutnya dengan semangat Nihilisme dan vitalismenya sangat penting untuk mengkaji epistemologi Nietzsche, yaitu masalah kebenaran.

Pandangan epistemologinya tentang kebenaran, pada dasarnya menentang kaum rasionalis dan idealis yang dianggapnya mengaggungkan akal. Ada dua hal yang ditentang oleh Nietzche, yaitu kepercayaan dan kemampuan akal untuk mencapai kebenaran. Yang kedua pembangunan terhadap kebenaran kokoh, mutlak, dan universal dengan bersandar pada kekuatan akal.

Nietzsche bersikap ragu kepada kebenaran didasarkan oleh beberapa hal : ketidakpercayaan terhadap kemampuan akal, dalam hal proses, berfikir, tidak ada prosedur yang disepakati, dan objek kebenaran yang mustahil diketahui.

Bagi nietzsche, tidak ada kepastian dan hukum. Pemahaman tentang dunia fenomena ini adalah banyakmasalah, sementara pengetahuan yang lain tidak mungkin. Keduanya sangatlah rumit. Hal-hal yang tampaknya sangat sederhana, setelah diteliti ternyata sangat kompleks atau menyeluruh. Mencari kebenaran tentang hal-hal yang ada secara nyata saja sulit, apalagi bila kebenaran yang diandaikan ada dunia nomena nan jauh di sana, suatu mission impossible. Skepstisisme kemampuan akal manusia ini dengan sendirinya membawa keraguan akan kebenaran. Neitzsche menganggap kebenaran dan kekeliruan sangatlah dekat. Kebenaran sering kali bermakna ganda, yang kekeliruan sudah tercakup di dalamnya. Kekeliruan-kekeliruan ini merupakan merupakan sesuatu yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan ini. Manusia membutuhkannya untuk kelanggengan hidupnya.

Keraguan Nietzsche sampai pada suatu pendapat bahwa kebenaran itu tidak ada kebenaran. Dan akhirnya masalah kebenaran itu adalah masalah permainan bahasa. Suatu kata ditunjukkan dan dipergunakan untuk menunjukkan ssuatu yang dapat disepakati. Bagi Nietzsche, bahasa adalah medium yang membekukan konsep-konsep yang penuh ilusi seperti kebenaran dan kehidupan. Konsep benar atau salah bagi Nietzsche tidak masalah, mereka adalah fiksi yang berharga karena mereka memungkinkan berlangsungnya proses evolusi sosial.

Nietzsche selalu mengingatkan kepada kita bahwa akal bukanlah bagian dari organ yang istimewa yang mampu menapatkan kebenaran. Akal tidak dapat bisa menangkap kebenaran secara sempurna, semestara kita perlu organ batin untuk menangkap dunia batin. Kebenaran pada akhirnya bersifat absurd.

Nietzsche tidak mau susah payah mencari kebenaran sejati, kebenaran di balik penomena, atau kebenaran lain yang sangat tak nampak. Epistemologi Nietzsche adalah “Epistemologi permukaan” yang tidak mau mencari kebenaran di balik realitas. Ia hanya puas dengan sesuatu yang suprafisial. Ia seorang yang antiessensialis yang berpegang pada hommo natura, manusia yang puas dengan penampakan di dunia ini. Karena dunia ini adalah yang sebenar-benarnya[10].

Nietzsche menyatakan bahwa kebenaran adalah sepasukan perumpamaan yang bergerak, metonim dan manusiawi. Kebenaran adalah semacam hubungan yang sudah diatur, dikuatkan, dikemas secara retoris, dan puitis. Kebenaran ini sudah lama dipergunakan menjadi kelihatannya pasti yang mengikat dan memaksa orang untuk mengikutinya. Kebenaran adalah ilusi yang oleh orang dilupakan bahwa itu adalah sebuah ilusi belaka. Sebagai metafor, kebenaran bersifat ambigu.

Semua kebenaran itu adalah fiksi. Fiksi seperti ini pada asalnya adalah sebuah interpretasi[11]. Masalah interpretasi tidak dapat dilepaskan dari perspektif dan sudut pandang. Dengan demikian kebenaran adalah hasil interpretatif sehingga kebenaran ilmu pengetahuan adalah kebenaran interpretatif[12]. Oleh sebab itu, kebenaran reletivisme tidak terbantahkan. Dunia tampa logis bagi kita karena kita yang membuatnya logis.

Nietzsche kurang menyetujui terhadap kaum saintific yang memaksakan alam itu statis, dan memutuskan sebuah kebenaran. Padahal alam ini dinamis selalu bergerak dan berubah, serta kebenaran bukanlah suatu putusan. Kebenaran yang didapat berdasarkan atas kriteria masing-masing aliran. Oleh sebab itu, Nietzsche tidak mempercayai adanya kebenaran mutlak, semua itu adalah persepsi yang subjektif dan interpretasi sesuai dengan kebutuhan masing-masing.

Jika kau haus ketenangan jiwa dan kebahagiaan maka percayalah. Dan apabila kau ingin menjadi anak kebenaran maka carilah”. By Nietzshe.

 

[1]. Tulisan ini dibuat atas dasar sebuah nasihat dari Fajar Fauzan (Kaka Nahdatul Ulama) dan Hamdi Sign. Dan tulisan ini dipersembahkan untuk Akonk Klain Otori dan orang yang aku sayangi serta kukagumi.

[2]. Mahasiswa Tafsir Hadits Fakultas Ushuluddin UIN SGD Bandung Semester 5/B. Aktif di UKM Lembaga Pengkajian Ilmu Keislaman, UKM Women Study Center, FPI, LPI, Komunitas Kabel Data, dan Selalu numpang tidur di UKM SUAKA.

[3]. Friedrich Nietzsche. The Will To Power (London : 2004).

[4]. Nietzsche mengatakan bahwa ia atheis bukan secara intelektual, tapi secara naluri. Lihat : Friedrich Nietzsche. Ecce Hommo (London : 1993). Namun, menurut Deuleuz Nietzsche dianggap atheis karena banyak membantai kaum agamawan. Lihat : Gilles Deuleuz. The Filosofi Of Nietzsche (Yogyakarta : 2001). Terjmh. Dalam sejarahnya, Nietzsche sejak kecil sudah menunjukan kebenciannya terhadap kaum Kristiani. Hal ini nampak saat usia 7 tahun ia suka menulis surat kepada teman-temannya bahwa ia tidak percaya pada Kristus, malah ia percaya kepada Tuhan Dionisos. Lihat : Kohler. The Life Of  Nietzsche (Yogyakarta : 1998). Terjmh dan Friedrich Nietzsche. The Spirit Dionisian Of The Age (Yogyakarta : 2001). Terjmah.

Mengenai riwayat Nietzsche telah saya sampaikan dalam beberapa tulisan saya dulu. Lihat saja di FB, rijalalfiah@yahoo.com dan friedrichfallah@ymail.com : Cari di catatan.

[5].  Hardono Hadi. Epistemologi Filsafat Pengetahuan Kenneth T. Gallagher (Yogyakarta : 1994).

[6]. Kutipan : diambil saat belajar mata kulian Metodologi penelitian Tafsir dan Hadits oleh Bu Eni, 22/09/2011.

[7]. Hardono Hadi. Loc. Cit.

[8].  Kohler. Loc. Cit.

[9]. Harun Hadiwiyono. Sari Sejaraj Filsafat Barat (Jakarta : 1995). Dan : Soegiri. Arus Filsafat (Jakarta : 1995).

[10] . St. Sunardi. Nietzsche (Yogyakarta : 2001).

[11] . F, Budi Hardiman. Filsafat Modern : Dari Machiavelli Sampai Nietzsche (Jakarta : 2001).

[12]. A. Setyo Wibowo. Gaya Filsafat Nietzsche (Yogyakarta : 2003).

About these ads

Tentang Muhammad Krishna Falah

Keepsmile and .... and... and....
Tulisan ini dipublikasikan di Filsafat. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s