Jadal Al-quran

 

Jadal Al-quran[1]

Oleh Fallah Absurditas[2]

Jika kau ingin ketenangan hati dan kedamaian jiwa, maka percayalah. Apabila kau ingin menjadi anak kebenaran, maka carilah[3].”

Tuhan Yang Mahaesa Berfirman :

قُلْ لَئِنِ اجْتَمَعَتِ الْإِنْسُ وَالْجِنُّ عَلَى أَنْ يَأْتُوا بِمِثْلِ هَذَا الْقُرْآَنِ لَا يَأْتُونَ بِمِثْلِهِ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيرًا

Artinya :

“katakanlah, Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa dengan Al-quran ini, mereka tidak akan dapat akan dapat membuat yang serupa dengannya, sekalipun mereka saling membantu antara satu dengan yang lain[4].”

Alquran sering kita dengar dan bahkan kita sering membacanya. Kitab ini merupakan petunjuk dan aturan hidup yang paling sempurna, dalam kata mata orang islam sendiri. Lantas, apa definisi alquran ?

القران في اللغة هو مصدر مرادف للقراءة ومن قوله تعال (إن علينا جمعه وقرأنه * فاذا قرانه فاتبع قرانه) أي قرأته.[5] وفي هوكلام الله تعال المنتزل علي نبينا (محمد) صلي الله عليه و سلم. المكتوب في المصاحف, المنقول إلينا نقلا متواترا, المتعبد بتلاوته, المتحدي بأ قصر سورة منه.[6]

Ayat-ayat dalam Kitab Al-Qur’an menggunakan bahasa Arab dan susunan kalimat-kalimatnya mengandung nilai sastra yang sangat sempurna. Bahasa yang digunakan dalam Al-Qur’an sedemikian menakjubkan sehingga kita tidak akan bisa menemukan ada kitab lain yang bisa menyamai keindahannya, apalagi melebihinya. Taha Husain, seorang sastrawan Mesir menyatakan, “Al-Qur’an jauh lebih indah dari prosa dan syair, karena keistimewaan yang dimilikinya tidak bisa ditemukan dalam prosa atau syair manapun. Oleh karena itu, al-Qur’an tidak bisa disebut sebagai prosa, tidak pula bisa disebut syair. Al-Qur’an adalah al-Qur’an, dan tidak bisa disamakan

Namun demikian, al-Qur’an mengandung kalimat-kalimat yang sangat halus dan  berbagai gaya bahasa sastra, seperti majaz, metafora, perumpamaan, atau penyerupaan. Dalam al-Qur’an juga terdapat ayat-ayat yang berpola atau berirama, yang jumlahnya lebih dari 100 ayat. Namun demikian, al-Qur’an memiliki perbedaan besar dengan syair. Selain itu, poin yang menarik untuk dicermati adalah bahwa al-Qur’an[7] juga memiliki perbedaan dengan kalimat, khutbah, dan hadits dari para nabi, sehingga al-Qur’an merupakan sebuah karya yang tidak ada dua.

Secara garis besar ‘ulûm al-Qur’an terbagi kepada dua bagian, yaitu: ‘ilm al-riwayah dan ‘ilm al-dirayah[8]. ‘Ilm al-riwayah adalah ilmu-ilmu al-Qur’an yang diperoleh melalui cara periwayatan (naql) yakni dengan cara menceritakan kembali atau mengutipnya, seperti bentuk-bentuk qira’at, waktu, tempat dan proses turunnya al-Qur’an. Ilmu-ilmu tersebut dapat diketahui melalui ‘ilm al-qira’at, ilm nuzul al-Qur’an, ilm mawathin al-nuzul, ilm asbab al-nuzul dan sebagainya.

Adapun ‘ilm al-dirayah adalah ilmu-ilmu al-Qur’an yang diperoleh dengan cara penelitian dan pengkajian, seperti mengetahui lafal-lafal yang asing (gharib), makna-makna yang menyangkut hukum dan penafsiran ayat-ayat al-Qur’an. Ilmu-ilmu tersebut dapat diketahui melalui ‘ilm gharib al-Qur’an, ‘ilm al-nasikh wa al-mansukh, dan sebagainya.

T.M Hasbi al-Shiddiqiy membagi ‘ulûm al-Qur’an kepada 17 macam ilmu, diantaranya:

  1. ‘Ilm Mawathin Al-Nuzul. kitab karya al-Suyuthi, al-Itqan Fi ‘Ulum al-Qur’an merupakan salah satu contohnya
  2. ‘Ilm Tawarikh Al-Nuzul contohnya kitab lubab al-nuqul fi asbab al-nuzul karya al-Wahidi.
  3. ‘Ilmu Makki wa al-Madani
  4. ‘Ilm Al-Qira’at
  5. ‘Ilm Tajwid
  6. ‘Ilm Gharib Al-Qur’an, buku yang relevan untuk kajian ini adalah al-Mufradath li Alfadz al-Qur’an al-Karim karya Al-Isfahaniy.
  7. ‘Ilm ‘I’rab Al-Qur’an contonhya karya al-Baqa’ al-Ukbari, Imla’ al-Rahman.
  8. ‘Ilm Wujuh Al-Nadzhair, ilmu ini dapat dipelajari dalam kitab Mu’tarak al-Aqran, karya al-Suyuthiy.
  9. ‘Ilm Al-Ma’rifah Al-Muhkam Wa Al-Mutasyabihat kitab yang dapat dirujuk diantaranya al-Mandzumah al-Sakhawiyyah karangan al-Syakhawiy.
  10. ‘Ilm Al-Nasikh Wa Al-Mansukh contohnya adalah kitab al-Nasikh wa al-Mansukh karya al-Ja’far al-Nuhas.
  11. ‘Ilm Badai’ Al-Qur’an
  12. ‘Ilm I’jaz Al-Qur’an
  13. ‘Ilm Tanasub Ayat Al-Qur’an, diantara kitab yang berhubungan dengan ilmu ini adalah kitab Nadzm al-Durar karangan Ibrahim al-Biqai’.
  14. ‘Ilm Aqsam Al-Qur’an, Ibn al-Qayyim membahas ilmu ini dalam kitabnya al-Tibyan Fi Aqsam al-Qur’an.
  15. ‘Ilm Amtsal Al-Qur’an, Al-Mawardi telah mengupas masalah ini dalam kitabnya Amtsal al-Qur’an.
  16. ‘Ilm Jidal Al-Qur’an
  17. ‘Ilm Adab Al-Tilawah Al-Qur’an[9]

Dari sekian banyak pembagian ‘ulum al-Qur’an[10], pada pembahasan tulisan kali ini penulis hanya akan fokuskan pembahasannya pada salah satu bagian saja, yaitu masalah jadal dalam al-qur’an.

Secara bahasa jadal berasal dari kata جَدَلَ-يَجْدُلُ – جُدُوْلًا   yang artinya صَلُبَ وَ قَوِيَ    atau dalam arti lain الحَبّ : قَوِيَ فِى سنبله.   Adapun secara istilah Jadal dan Jidal adalah bertukar pikiran dengan cara bersaing dan berlomba untuk mengalahkan lawan. Pengertian ini berasal dari kata جَدَلْتُ الحَبْل yakni فَتْلَهُ اَحْكَمْتُ (aku kokohkan jalinan tali itu), mengingat kedua belah pihak itu mengokohkan pendapatnya masing-masing dan berusaha menjatuhkan lawan dari pendirian yang dipeganginya[11].

Allah menyatakan dalam al-Qur’an bahwa Jadal atau berdebat merupakan salah satu tabiat manusia

Dan manusia adalah kahluk yamh paling banyak berdebatnya”(al-Kahfi; 54)

Dengan arti bahwa sesungguhnya manusia adalah makhluk yang suka bersaing, berdebat dan selalu mempertahankan pendapat dan fikirannya masing-masing. Rasulallah juga sebagai pengenban amanat ilahi diperintahkan agar berdebat dengan kaum musyrik dengan cara yang baik yang dapat meredakan keberingasan mereka. Firman-Nya:

Serulah manusia kepada jalan tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan debatlah mereka dengan cara yang paling baik”(al-Nahl; 125)

Dalam ayat lain Allah memerintahkan agar Rasulnya tidak menuruti perdebatan mereka, malah beliau mestilah menutup pintu perdebatan itu dengan cara yang paling ringkas dengan mengatakan: Allah amat mengetahui apa yang kamu lakukan. Firman Allah:

“Dan jika mereka membantah (mendebat) kamu, maka  katakanlah   Allah lebih mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (al-Hajj: 22: 68 )

Disamping itu Allah juga memperbolehkan ber-munazarah (berdiskusi) dengan ahli kitab dengan cara yang baik. Firmannya:

“Dan janganlah kamu berdebat dengan ahli kitab, melainkan dengan cara yang paling baik” (al-Ankabut; 46)

Al-Qur`ân menyebut kata Jadal dalam berbagai bentuknya sebanyak 29 kali. Lokus pemuatannya tersebar pada 16 Surat dalam 27 ayat yakni pada surah: al-Nisaa/4: 109 dan Huud/11: 32 masing-masing dua kali; al-Baqarah/2: 197; kemuadian pada al-Nisaa/4: 107; al-An’aam/6: 121, 125; al-A’raf/7: 71; al-Anfaal/8: 6; Huud/11: 74; al-Ra’d/13: 13; al-Nahl/16: 111, 125; al-Kahfi/18: 54, 56; al-Hajj/22: 3, 8, 68; al-Anka buut/29: 46; Luqmaan/31: 20; Ghaafir/40: 5, 4, 25, 56, 69; al-Syuura/42: 35; al-Zukhruf/43: 58; al-Mujaadalah/58: 1 masing-masing satu kali. Dalam bahasa Indonesia, Jadal dapat dipadankan dengan debat. Debat adalah pembahasan dan pertukaran pendapat mengenai suatu hal dengan saling memberi alasan untuk mempertahankan pendapat masing-masing. Jadal atau Jidal dalam bahasa Arab dapat dipahami sebagai ”perbantahan dalam suatu permusuhan yang sengit dan berusaha memenangkannya[12].”

Istilah yang dapat dipandang sebagai padanan daripada istilah Jadal adalah al Munazharah, al Muhawarah, al Munaqasyah dan al Mubahatsah. Istilah-istilah tersebut dapat dipandang sepadan, sebab pada dasarnya mengacu pada tujuan yang sama yakni untuk menjelaskan dan kejelasan sesuatu permasalahan. Hanya saja Jadal lebih menekankan kemenangan, dan pada saat yang sama kekalahan bagi pihak lawan debat. Munazharah merupakan kegiatan dimana dua orang saling mengemukakan pemikiran, masing-masing bertujuan membenarkan pemikirannya serta menyalahkan pemikiran lawan (debat)nya dengan jalan saling mencoba menguji pembuktian dalam upaya mencari/menampakkan kebenaran. Adapun muhawarah mengacu pada pembicaraan dimana di dalamnya ada dialog/tanya jawab dengan sopan yang bertujuan hampir sama saja dengan Jadal. Tentang munaqasyah dan mubahatsah hampir sama saja. Khususnya tentang Jadal dan muhawarah, di dalam al-Qur`ân terdapat ayat yang di dalamnya digunakan kedua istilah tersebut, yaitu pada surah Q.,s. al Mujadalah ayat pertama.

Metode Berdebat yang ditempuh al-Qur’an

Qur’an tidak menempuh metode yang dipegang teguh oleh para ahli kalam yang memerlukan adanya muqadimmah (premis) dan nafiah (kongklusi), seperti dengan cara beristidlal (inferensi) dengan sesuatu yang bersifat kully (universal) atas yang juz’iy (partial) dalam qias syumul, beristidlal dengan salah satu dua juz’iyat yang lain dalam qias tamtsil, atau beristidlal dengan juz’iyat kullly dalam kias istiqra. Hal itu disebabkan:

  1. Qur’an datang dalam bahasa Arab dan menyeru mereka dengan bahasa yang mereka ketahui.
  2. Bersandar pada fitrah jiwa, yang percaya kepada apa yang disaksikan dan dirasakan, tanpa perlu penggunaan pemikiran mendalam dalam beristidlal adalah lebih kuat pengaruhnya dan lebih effective hujjahnya.
  3. Meninggalkan pembicaraan yang jelas, dan mempergunakan tutur kata yang pelik, merupakan kerancuan dan teka-teki yang hanya dapat dimengerti kalangan ahli (khas). Cara demikian yang biasa ditempuh para ahli mantiq (logika) ini tidak sepenuhnya benar. Karena itu dalil-dalil tentang tauhid dan hidup kembali di akhirat yang diungkapkan dalam Qur’an merupakan dalalah tertentu yang dapat memberikan makna yang ditunjuknya secara otomatis tanpa harus memasukannya ke dalam qadiyah kulliyah (universal posisition)[13].

Berkata Syaikhul Islam Ibn Taimiyah dalam kitabnya ar-Raddu’alal Mantiqiyyin”

“Dalil-dalil analogi yang dikemukakan para ahli debat yang mereka namakan dan Maha Tinggi itu, sedikitpun tidak dapat menunjukan esensi Zat-Nya. Tetapi hanya menunjukan sesuatu yang mutlak dan universal yang konsepnya itu sendiri tidak bebas dari kemusyrikan. Sebab jika kita mengatakan, ‘ini adalah muhdas (baru) dan setiap yang muhdas pasti mempunyai muhdis(pencipta)’ ; atau’ini adalah sesuatu yang mungkin dan setiap yang mungkin harus mempunyai yang wajib’, pernyataan seperti ini hanya menunjukan muhdis mutlak atau wajib mutlak ……  konsepnya tidak bebas dari kemusyrikan”….. Selanjutnya ia mengatakan:”Argumentasi mereka ini tidak menunjukan wajibul wujud atau yang lain. Tetapi ia hanya menunjuk kepada sesuatu yang kullyy, padahal sesuatu yang kulliyy itu konsepnya tidak terlepas dari kemusryikan. Sedang wajibul wujud, pengetahuan mengenainya, dapat menghindarkan dari kemusyrikan. Dan barang siapa tidak mempunyai konsep tentang sesuatu yang bebas dari kemusyrikan, maka ia belum berarti telah mengenal Allah ….” “ini berbeda”, lanjutnya “ dengan ayat-ayat yang disebutkan Allah dalam Kitab-Nya, seperti firman-Nya:

sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam san siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, san apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu ia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan ia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang di kendalikan antara langit dan bumi; sungguh terdapat tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.” (al-Baqarah 2: 164)

dan firman-Nya:

sesungguhnya pada apa yang demikian itu terdapat tanda tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum ayng berakal, bagi kaum yang berfikir” dan lain sebagainya; memunjukan sesuatu tertentu, seperti matahari yang merupakan tanda bagi siang hari ……

Dan firman-Nya:

dan kami jadikan malam dan siang sebagai tanda, lalu kami hapuskan tanda malam dan kami jadikan tanda siang itu terang, agar kamu mencari karunia dari Tuhanmu dan supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan.” (al-Isra 17:12)”

Ayat-ayat tersebut menunjukan esensi Pencipta Yang Tunggal, Allah swt, tanpa sekat antara Dia denga yang lain. Segala sesuatu selain Dia selalu membutuhkan Dia, karena itu eksistensi segala sesuatu itu menuntut secara pasti eksistensi Pencipta itu sendiri[14].”

Az-Zarkassyi berpendapat :”ketahuilah bahwa Qur’an telah mencakup segala macam dalil dan bukti. Tidak ada satu dalil pun, satu bukti atau definisi-definisi mengenai sesuatu, baik berupa persepsi akal maupun dalil naql yang universal, kecuali telah dibicarakan oleh kitabullah. Tetapi Allah mengemukakannya sejalan dengan kebiasaan-kebiasaan bangsa Arab; tidak menggunakan metode-metode berfikir ilmu kalam yang rumit, karena dua hal:

Pertama, mengingat firman-Nya:” Dan kami mengutus seseorang rasul pun melainkan dengan bahasa kaumnya[15].”

Kedua, bahwa orang yang cenderung menggunakan argumentasi pelik dan rumit itu sebenarnya ia tank sanggup menegakkan hujjah dengan kalam agung. Sebab, orang yang mampu memberikan pengertian(persepsi) tentang sesuatu dengan cara lebih jelas yang bisa di pahami sebagian besar orang, tentu tidak perlu melangkah ke cara yang lebih kabur, rancu dan berupa teka-teki yang hanya dipahami oleh segelintir orang . oleh karena itu Allah memamparkan seruan-Nya dalam berargumentasi dengan makhluk-Nya dalam bentuk argumentasi yang paling agung yang meliputi juga benyuk paling pelik, agar orang awam dapat memahami dari yang agung itu apa yang dapat memuaskan dan mengharuskan mereka menerima hujjah, dan dari celah-celah keagungngannya kalangan ahli dapat memahami juga apa yang sesuai dengan tingkatan pemahaman para sastrawan.

Dengan pengertian itulah hadist:”Sesungguhnya setiap ayat itu mempunyai lahir dan batin, dan setiap huruf memmpunyai suatu hadd dan matla”diartikan, tidak dengan kaum bathiniyah. Dari sisi ini maka setiap orang yang mempunyai ilmu pengetahuan banyak, tentu akan lebih banyak pula pengetahuannya tentang ilmu Qur’an. Itulah sebabnya apabila Allah menyebutkan hujjah atas rububiyah (ketuhanan ) dan wahdaniyah (keesaan-Nya) selalu dihubungkan dengan “mereka yang berakal” “mereka yang mendengar’ dengan “mereka yang berfikir dan terkadang dengan “ mereka yang mau menerima pelajaran”. Hal ini untuk mengingatkan setiap potensi dari potensi-potensi tersebut dapat digunakan untuk memahami hakikat hujjah-Nya itu. Misalnya firman Allah :

sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berakal.” (ar-Ra’d 13:4) dan sebagainya.

Ketahuilah bahwa terkadang nampak dari ayat-ayat Qur’an, melalui kelembutan pemikiran, penggalian dan penggunaan bukti-bukti rasional menurut metode ilmiah kalam. Diantaranya ialah pembukttian tentang Pencipta ala mini hanya satu, berdasarkan induksi yang diisyaratkan dalam firman-Nya:

sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah tentulah keduamya itu telah hancur binas.”(al-Anbiya’ 21:22). Sebab, seandainya ala mini mempunyai dua pencipta, tentu pengendalian dan pengaturan keduanya tidak akan berjalan secarateratur dan kokoh, dan bahkan sebaliknya, kelemahan akan menimpa mereka atau salah satu dari keduanya. Itu disebabkan, andaikata salah seorang dari keduanya ingin menghidupkan suatu jisim, sedang yang lain ingin mematikannya maka dalam hal ini tidak terlepas dari tiga kemungkinan: a)keinginan keduanya dilaksanakan maka hal ini akan menimbulkan kontradiksi , karena mustahil terjadi pemilahan kerja andai terjadi kesepakatan diantara mereka berdua, dan tidak mungkin dua hal yang berbeda dapat berkumpul jika tidak terjadi kesepakatan; b)keinginan mereka tidak terlaksana, maka yang demikian menyebabkan kelemahan mereka; c) keingina salah satunya tidak terlaksana, dan ini menyebabkan kelemahannya, padahal Tuhan tidaklah lemah

Pertama,Al-Qur’an dalam brdebat dengan para penantangnya banyak mengemukakan dalil dan bukti kuat serta jelas yang dapat dimengerti kalangan awam dan orng ahli. Ia membatalkan setiap kerancuan vulgar dan mematahkannya dengan perlawanan dan pertahanan dalam uslub yang kongkrit hasilnya indah susunannya dan tidak memerlukan pemerasan akal atau banyak peneyelidikan.

Kedua, Dalam al-Qur’an ungkapan ayat-ayat jadal Allah tidak menggunakan metode yang remit seperti metode yang dipegang oleh ahli kalam yang memerlukan adanya muqadimah (premis) dan natijah (kesimpulan) atau para penyair yang menggunakan kata-kata yang rumit, hal ini disebabkan;

Ketiga, al-Qur’an datang dalalm bahasa arab dan menyeru mereka dengan bahasa yang mereka ketahui, sehingga tidak ada lagi ungkapan yang samar dari maksud ayat seperti dalam mengkiaskan pengulangan terhadap penciptaan langit dan bumi yang terdapat dalan surat Yasin ayat 81;

“Dan tidakkah Tuhan yang menciptakan langit bumi itu berkuasa menciptakan kembali jasad-jasad mereka yang diganti sesudah hancur itu?Benar, Dia berkuasa. Dan dialah Maha Pencipta lagi Maha Mengetahui.”

Keempat, bersandar pada fitrah jiwa, yang percaya kepada apa yang disaksikan dan dirasakan, tampa perlu penggunaan pemikiran mendalam dalam memahami dalil adalah lebih kuat pengaruhnya dan lebih efektif hujahnya.seperti dalam pengungkapan tentang kedaan siang dan malam yang terungkap dalam Durat al-Isra’ ayat 12;

” Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda, lalu Kami hapuskan tanda malam dan Kami jadikan tanda siang itu terang, agar kamu mencari kurnia dari Tuhanmu, dan supaya kamu mengetahui bilangan tahun-tahun dan perhitungan. dan segala sesuatu telah Kami terangkan dengan jelas.”

Sehingga dapat kita lihat dari kesemua ayat-ayat Jadal atau ayat ayat yang lainnhya kesemuanya itu menunjukan esensi Pencipta Yang tunggal, tanpa serikat antara Dia dengan yang lain karena itu eksistensi segala sesuatu itu menuntut secara pasti eksistensi Pencipta itu sendiri.

Menurut al-Zarkassyi sebagaimana yang di kutip dalam Manna Khalil Qattan terj. Drs. Mudzakir AS, menyatakan bahwa al-Qur’an telah mencakup segal macam dalil dan bukti, tidak ada satu dalil pun, satu bukti atau definisi-definisi mengenai sesuatu, maupun berupa persepsi akal maupun dalil naql yang uuniversal, kecuali telah dibicarakan oleh Kitabullah. Tetapi Allah mengemukakannya sejalan dengan kebiasaan-kebiasaan bangsa Arab; tidak menggunakan metode-metode berpikir ilmu kalam yang rumir, hal ini disebabkan kepada dua hal,diantara nya;

Pertama,Mengingat Firman-Nya dalam Surat Ibrahim ayat 4;

“Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. dan Dia-lah Tuhan yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.

Kedua, bahwa orang yang cenderung menggunakan argumentasi pelik dan rumit itu sebenarnya ia tidak sanggup menegakan hujjah dengan kalam agung. Sebab orang yang mampu memberi pengertian tentang sesuatu dengan cara yang lebih jelas yang bis dipahami sebagian besar orang, tentu tidak perlu melangkah kepada yang lebih kabur, rancu dan teka-teki yang hanya dipahami oleh segelintir orang.

Bentuk-bentuk Perdebatan dalam al-Qur’an dan Dalilnya

  1. Menyebutkan ayat-ayat kauniyah yang disertai perintah melakukan perhatiandan pemikiran untuk dijadikan lalil bagi penetapan dadsar-dasar kaidah, seperti ketauhidan Allah dan Uluhiyah-Nya dan keimanan kepada malikat-malaikat, kitab-kitab, rasul-rasul-Nya dan hari kemudian. Seperti firman Allah;

21. Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa,

22. Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu Mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah,Padahal kamu mengetahui. (al-Baqarah; 21-22)

2. Membantah pendapat para penantang dan lawan, serta mematahkan argumentasi mereka, perdebatan macam ini mempunyai beberapa bentuk;

1). Membungkam lawam bicara dengan mengajukan pertanyan tentang hal-hal yang telah diakui dan diterima baik oleh akal, agar ia mengakui apa yang tadinya diingkari, seperti penggunaan dalil dengan makhluk untuk menetapkan adanya Khalik, seperti firman Allah:

35. Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)?

36. Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu?; sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan).

37. Ataukah di sisi mereka ada perbendaharaan Tuhanmu atau merekakah yang berkuasa?

38. Ataukah mereka mempunyai tangga (ke langit) untuk mendengarkan pada tangga itu (hal-hal yang gaib)? Maka hendaklah orang yang mendengarkan di antara mereka mendatangkan suatu keterangan yang nyata.

39. Ataukah untuk Allah anak-anak perempuan dan untuk kamu anak-anak laki-laki?

40. Ataukah kamu meminta upah kepada mereka sehingga mereka dibebani dengan hutang?

41. Apakah ada pada sisi mereka pengetahuan tentang yang gaib lalu mereka menuliskannya?

42. Ataukah mereka hendak melakukan tipu daya? Maka orang-orang yang kafir itu merekalah yang kena tipu daya.

43. Ataukah mereka mempunyai Tuhan selain Allah. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.(al-Thur; 35-43)

3). Mengambil dalil dengan mabda’ (asal mula kejadian) untuk menetapkan ma’ad (hari kebangkitan), seperti Firman-Nya dalam Surat Qaaf ayat 15:

15. Maka Apakah Kami letih dengan penciptaan yang pertama? sebenarnya mereka dalam Keadaan ragu-ragu tentang penciptaan yang baru.

a.         Membatalkan pendapat lawan danmembuktikan (kebenaran) kebalikannya, seperti yang tersurat dalam surat al-An’am ayat 91;

91. Dan mereka tidak menghormati Allah dengan penghormatan yang semestinya, di kala mereka berkata: “Allah tidak menurunkan sesuatupun kepada manusia”. Katakanlah: “Siapakah yang menurunkan kitab (Taurat) yang dibawa oleh Musa sebagai cahaya dan petunjuk bagi manusia, kamu jadikan kitab itu lembaran-lembaran kertas yang bercerai-berai, kamu perlihatkan (sebahagiannya) dan kamu sembunyikan sebahagian besarnya, Padahal telah diajarkan kepadamu apa yang kamu dan bapak-bapak kamu tidak mengetahui(nya) ?” Katakanlah: “Allah-lah (yang menurunkannya)”, kemudian (sesudah kamu menyampaikan Al Quran kepada mereka), biarkanlah mereka bermain-main dalam kesesatannya.

Ayat ini merupakan bantahan kepada pendirian orang Yahudi, sebagaimana diceritakan Allah dalam firman-Nya diatas bahwa mereka tidak menghormati Allah dengan penghormatan yang semestinya, di kala mereka berkata: “Allah tidak menurunkan sesuatupun kepada manusia”.

  1. Menghimpun dan merinci beberapa sifat dan menerangkan bahwa sifat-sifat tersebut ‘illah atau alasan hukum, seperti dalam firman-Nya surat al-An’am ayat 143-144;

143. (yaitu) delapan binatang yang berpasangan, sepasang domba, sepasang dari kambing. Katakanlah: “Apakah dua yang jantan yang diharamkan Allah ataukah dua yang betina, ataukah yang ada dalam kandungan dua betinanya?” Terangkanlah kepadaku dengan berdasar pengetahuan jika kamu memang orang-orang yang benar,

144. Dan sepasang dari unta dan sepasang dari lembu. Katakanlah: “Apakah dua yang jantan yang diharamkan ataukah dua yang betina, ataukah yang ada dalam kandungan dua betinanya? Apakah kamu menyaksikan di waktu Allah menetapkan ini bagimu? Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang membuat-buat Dusta terhadap Allah untuk menyesatkan manusia tanpa pengetahuan ?” Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.

c. Membungkam lawan danmematahkan hujjahnya dan menjelaskan bahwa pendapat uang dikemikakannya itu menimbulkan suatu pendpat yang tidak diakui oleh siapa pun, seperti firma-Nya dalam surat al-An’am ayat 100-101;

100. Dan mereka (orang-orang musyrik) menjadikan jin itu sekutu bagi Allah, Padahal Allah-lah yang menciptakan jin-jin itu, dan mereka membohong (dengan mengatakan):“Bahwasanya Allah mempunyai anak laki-laki dan perempuan”, tanpa (berdasar) ilmu pengetahuan. Maha suci Allah dan Maha Tinggi dari sifat-sifat yang mereka berikan.

101. Dia Pencipta langit dan bumi. bagaimana Dia mempunyai anak Padahal Dia tidak mempunyai isteri. Dia menciptakan segala sesuatu; dan Dia mengetahui segala sesuatu.

Dalam ayat ini dijelaskan bahwa Allah tidak mempunyai anak, hal ini kana proses kelahiran anak tidak mungkin terjadi dari sesuatu yang satu. Proses tersebut hanya bisa terjadi dari dua pribadi. Padahal Allah tidak mempunyai istri. Di samping itu  Dia menciptakan segala sesuatu dan penciptaanya segala sesuatu ini sungguh kontradiktif bila dia dinyatakan melahirkan sesuatu.

Demikian pengantar tulisan ini, saya harap ada keritikan keras untuk membangun kreativitas dan kenakalan intelektual saya. Wallohu Alam Bishowab.

Sebagian Rujukan :

Al-Qur`ân dan Terjemahnya, Mujamma’ al Khadim al Haramain asy Syarifain al Malik Fahd li Thiba’at al Mushhaf asy Syarif, Medinah al Munawwarah, 1412
Al-Almâ’iy, Zahir ‘Iwad, Manahij al Jadal fi Al-Qur`ân al Karim,  t.tp.: tp., t.th.
Al-Abrasyi, Muhammad Athiyah, Al-Tarbiyah al-Islâmiyah wa Falâsifatuha, Thab. Tsaniyah, t.tp.: Daar al Fikr, t.th.
Abdullah, Abdurrahman Shaleh, Cet. I; Educational Theory : a Qur’anic Outlook, terjemahan H. M. Arifin dan Zainuddin dengan judul “Teori Pendidikan Menurut al Qur’an”, Jakarta : Rineka Cipta, 1990.
Abduh, Syekh Muhammad, Risalatut Tauhid, terjemahan H. Firdaus A. N. dengan judul “Risalah Tauhid”, Cet. VI; Jakarta : Bulan Bintang, 1976.
Asari, Hasan, Yang Hilang dari Pendidikan Islam; Seni Munadharah, Jurnal “Ulumul Qur’an”, Nomor 1 Vol. V Jakarta, 1994.


[1]. Untuk memenuhi salah satu Tugas mandiri Tafsir IV oleh Ibu Siti Khodijah, dan akan disajikan di sebuah diskusi reguler UKM Lembaga Pengkajian Ilmu keislaman, atau LPIK tanggal 29/03/2012.

[2]. Bernama lengkan Noor Falah, jurusan Tafsir Hadits 6/B Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Mempunyai cita-cita melanjutkan s2 di Oxford University bersama sepupu perempuannya yang sedang study di sana. Aktif di Lembaga Pengkajian Ilmu keislaman, Lembaga Ausiensi Sisa Pengerasan Baja, dan Lembaga Pengkajian Filsafat dan Sains.

[3]. Friedrich Nietzsche. The Down Of Day (London : 2005). Hal 498, St Sunardi. Nietzsche (Yogyakarta : 2004). Dan Lihat Pula : Daniel Riddel. The Life Of Nietzsche (London : 1993). Hal 46.

[4]. QS : Al-isro : 88

Pendapat dalam Tawil Firman Tuhan Yang Mahaesa : “katakanlah, Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa dengan Al-quran ini, mereka tidak akan dapat akan dapat membuat yang serupa dengannya, sekalipun mereka saling membantu antara satu dengan yang lain”. Hai Muhammad, kepada orang-orang yang berkata kepadamu, “sesungguhnya aku mengenai perumpamaan al-quran ini : Apabila dikumpulkan jin dan manusia dengan saling menolong, mereka tetap tidak akan bisa membuat seumpama al-quran selamanya. Walaupun mereka saling membantu antara satu dengan yang lannya. At-thobari. Jamiu Al-quran Fi Tawil Ayyi Al-quran (Beirut : 1994). Juz  17. Hal 546.

[5].  QS. Al-qiyamah : 18-19, dan Lihat Pula : Mujamu Al-watsith. Juz 2. Hal 722.

[6] . Al-qoriroh. Irsadu Al-fuhul (Beirut : 1995). Hal 29. Dan : Muhammad Salim. Tarikh Al-quran (Beirut : 2009). Hal 5.

Adapun al-Qur`ân secara etimologis berarti “bacaan”, dan secara terminologis adalah Kalam Allah SWT., yang merupakan mu’jizat yang diturunkan (diwahyukan) kepada Nabi Muhamad SAW. dan diriwayatkan secara mutawatir serta membacanya adalah ‘ibadah. Sedangkan yang dimaksud Jadal al-Qur`ân adalah pembuktian-pembuktian serta pengungkapan dalil-dalil yang terkandung di dalamnya, untuk dihadapkan pada orang-orang kafir dan mematahkan argumentasi para penentang dengan seluruh tujuan dan maksud mereka, sehingga kebenaran ajaran-Nya dapat diterima dan melekat di hati manusia. Mukhtar Al-fadl. Dirosah Al-tafsir Wa Ulumihi (Arab : 2001). Hal 276

[7]. Al-quran mempunyai beberapa disiplin ilmu untuk menafsir secara baik dan benar. Hakikat-hakikat yang sudah jelas nampak dan nyata telah dapat disentuh manusia, dijelaskan oleh bukti-bukti alam dan tidak memerlukan lagi argumentasi lain untuk menetapkannya dalil atas kebenarannya. Namun demikian, kesombongan sering kali mendorong seseorang untuk membangkitkan keraguan dan mengacaukan hakikat-hakikat tersebut dengan berbagai kerancuan yang dibungkus baju kebenaran serta dihiasinya dalam cermin akal.  Al-Qur’an al-Karim, seruan Allah kepada seluruh umat manusia, berdiri tegak dihadapan berbagai macam arus yang mengupayakan kebatilan untuk mengingkari hakikat-hakikatnya dan memperdebatkan pokok-pokonya. Karenanya ia perlu membungkam intrik-intrik mereka secara kongkrit dan realistis serta menghadapi mereka dengan uslub bahasa yang memuaskan, argumentasi yang pasti dan bantahan yang tegar.

[8]. Manau Al-quthon. Mabahits Fi Ulum Al-quran (Beirut : 1997). Hal 39. Dan (……) . Al-tibyan Fi Ulum Al-quran (Beirut : 2001).

[9]. Di samping ilmu-ilmu yang sudah disebutkan di atas, masih ada ilmu-ilmu lain yang termasuk ‘ulûm al-Qur’an, yaitu ilmu tafsir atau hermeneutika (Exegesis Studies). Menurut Amin al-Khulli sebagaimana dikutip oleh Sunarwoto ilmu tafsir/ ‘ulûm al-Qur’an termasuk dalam kategori ilmu yang belum matang dan belum final. Ini berarti masih terbuka lebar peluang untuk mengadakan pembaruan terus menerus, baik menyangkut penafsiran ayat-ayat tertentu maupun perangkat metodologinya. Namun demikian, pembaruan ‘ulûm al-Qur’an masih dihadapkan pada: terjadinya perluasan wilayah “tak terpikirkan” (meminjam istilah Arkoun) di mana terdapat wilayah-wilayah yang “tidak boleh dijamah” serta “dilanggar” oleh pikiran-pikiran kritis ilmiah.

[11]. Dalam literatur  lain disebutkan definisi “Al-jadal ” dan al-jidal, maknanya bertarung dalam bentuk beradu dan tewas menewas. asal kalimat ini ialah ” saya menyimpul tali“  yakni……apabila saya memperkemaskan simpulannya. “tali yang tersimpul” ialah tali yang telah dikemas kuatkan simpulannya. Dengan maksud, seolah olah mereka yang berdebat saling memperkuatkan hujjah dan menyimpulkannya, sebagaimana beliau menguatkankan simpulan tali, supaya dengan menguatkan hujjahnya beliau akan dapat menewaskan  lawannya. Sebagai suatu istilah, Jadal adalah saling bertukar pikiran atau pendapat dengan jalan masing-masing berusaha berargumen dalam rangka untuk memenangkan pikiran atau pendapatnya dalam suatu perdebatan yang sengit. Berbagai batasan pengertian tentang Jadal dirumuskan para ulama, namun pada dasarnya mengacu pada perdebatan serta usaha menunjukkan kebenaran atau membela kebenaran yang ditujunya dengan berbagai macam argumentasi. Dari definisi-definisi yang ada bila hendak dibuatkan rambu-rambu, maka itu antara lain adalah (1) Hendaknya dengan jalan yang dapat diterima atau terpuji, (2) Diniati untuk mendapat dalil/argumen yang lebih kuat, (3) Untuk menunjukkan aliran/mazhab serta kebenarannya.

Dengan rambu yang demikian itu, para pihak yang terlibat dalam jadal memang tidak harus saling membenci, walaupun pada dasarnya sulit menghidari suasana saling bermusuhan. Sebab, sebagian dari watak dasar manusia adalah memang suka membantah atau berbantah-bantahan, bahkan Tuhannya pun dibantah. (Q.,s. al Kahfi/18 : 54). Kenapa demikian? Sebab manusia memang memiliki potensi/kebebasan untuk itu, yang tidak dimiliki oleh makhluk yang lainnya (lihat catatan nomor 10). Untungnya kita punya pedoman yaitu al-Qur`ân yang menganjurkan jika hendak berbantahan, maka berbantahanlah dengan cara yang terbaik. Hasyim Umar. Jadl Fi Al-quran Wa Jamihi (Beirut : 1992). Hal 398

[12] . Athobari. Loc. Cit.

Athobari dalam kitab tafsirnya menyatakan bahwa jadal di sana bermakna khusumah/bantahan, dengan penjelasan sebelumnya,”banyak orang atau sebagai bantahan dan kepura-puraan. Tidak ada manfaat dan petunjuk. Beliau juga menutup sebuah hadits dari Ibnu zaid. Yaitu :

كما حدثني يونس، قال: أخبرنا ابن وهب، قال : قال ابن زيد، في قوله:( وَكَانَ الإنْسَانُ أَكْثَرَ شَيْءٍ جَدَلا ) قال: الجدل: الخصومة،

 Hadits ini berada dalam kitab Shohih bukhori

  1. No 1059 Bab “وَكَانَ الإنْسَانُ أَكْثَرَ شَيْءٍ جَدَلا”
  2. No 6801
  3. No 6911
  4. No 1294

Dalam tafsiran QS.  Al-kahfi : 54

[13]. M. Ibnu ‘Uluwi al-Maliki al-Husaini. Zubdzatu al-Itqan Fii ‘Uluumi al-Qur’an.(Arab Saudi: 1997). Hal 219

[14] . Dalil-dalil Allah atas ketauhidan-Nya, ma’ad (hidup kembali di akhirat) yang diberitakan-Nya dan bukti-bukti yang ditegakkan-Nya bagi kebenaran rasul-rasu-Nya,tidak memerlukan qiyas syumul atau qiyas tamsil. Akan tetapi dalil-dalil tersebut benar-benar tentang makna yang ditunjukkannya; dan proses perpindahan pikiran dari detil tersebut kepada madlulnya pun sangat jelas bagai proses perpindahan pikiran dari melihat sinar matahari ke pengetahuan tentang terbitnya matahari itu. Inferensi semacam ini bersifat aksiomatik (badhl) dan dapat di pahami oleh semua akal.

[15]. Zahir Iwad Al-maiy. Manhaj Al-jadal Fi Alquran Al-karim dan Muhammad Athiyyah. Al-tarbiyyah  Al-islamiyyah Wa Falasifatuha (Semarang : 1997). Hal 76.

 

About these ads

Tentang Nenk Euis Rahmawati Shalihah

Keepsmile and .... and... and....
Tulisan ini dipublikasikan di Keagamaan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s