Nuptials

Qadha’ berwujud istimrar 

Beraneka ithnab 

Beragam bukaa’

Khayar kupilih dalam Khaatim al-Khiyaat

Tanpa kutahu apakah itu Syahwah al-Khaafiah
Rahmat jiyadah al-khair

Kuwadahi dengan fanaa iri dengki

Seribu kureinkarnasi

Seluruh doa mebentang

Gungcangkan pilar kebajikan arasy’

Mengalir, cahaya mishbah tanpa kata

Demikianlah,

Kudoa demi terwujud nuptials

yang selama ini kunanti.

Aside | Posted on by | Leave a comment

Aus hohen Bergen

Karya Friedrich Nietzsche

Oh Lebens Mittag! Feierliche Zeit!
Oh Sommergarten!
Unruhig Glück im Stehn und Spähn und Warten: —
Der Freunde harr’ ich, Tag und Nacht bereit,
Wo bleibt ihr Freunde? Kommt! ‘s ist Zeit! ‘s ist Zeit!

Oh Hari Kehidupan! Oh waktu perayaan! Oh Kebun Musim Panas

Kebahagiaan hampa berdiri, menatap dan menunggu

kutunggu teman-teman, hari persiapan dan malam

di mana dirimu berada? Datanglah! Ini waktunya! Ini waktunya!

Continue reading

Aside | Posted on by | Leave a comment

Fitri

Kau permainkan kami

Menjadi petanda satu pada penanda lain

Kau mampu terayu pikiran-pikiran semu

Ketika kami mencurahkan semua imajinasi
Kau bermakna dalam hubungan-hubungan

Bermakna tabu,

Dalam keindangan gunung tertinggi.

Apakah kau tahu apa itu?

Aforis Neitzsche yang tampak dalam benang-benang.

Tapi bukan itu,

Kala Nietzsche mengumandang kemenangan nyata

Pada kisah manusia berteguh pada pemikirannya

Bukan itu pula?

Kala manusia terkurung cogito ergo sum.

Konon ketika bunga november semi

Kenapa menampik?
Berkatmu, kami tahu tragedi manusia

Saling menetes darah,

Berperang pandang dalam kata-kata

Kau tidak salah?

Iya kau tak salah, kata-kata!

Emosi manusia tak terkontrol

Sadarkah?

Seketika kau dijadikan tirai

Kadang kau jadi tirani terkuat.
Kata-kata,

Kau menunggu di luar masa

Kau dimintai makna ragam
Kau lahirkan kurang curam

Diantara jurang tersebut berisi kengerian

Dimana rasa takut dan bahagia datang

Dimanakah makna fitrimu?

Aside | Posted on by | 2 Comments

Refleksi terhadap Puisi Aus hohen Bergen. — (1886)[1]

Oleh:

Ghost Writer[2]

Sudah lama penulis tidak mencurahkan penafsiran terhadap puisi-puisi Nietzsche. Melalui inspirasi dari beberapa film yang menurut penulis bagus untuk dijadikan perbandingan dalam penafsirannya, maka puisi ini diangkat sebagai bahan pokok tulisan refleksi. Dalam tulisan ini, penulis akan memakai pandangan kaum Derridean. Penulis menganggap bahwa anda yang membaca memahami penuh tentang kerangka pemikiran tersebut. Selain daripada itu, dalam tulisan ini juga banyak proposisi-proposisi yang dibuang atau dihilangkan, analogi filosofis dalam berbagai dimensi yang ditarik dalam keberadaan manusia, dan diharapkan ada dialog dalam diri. Semoga penulis tidak menjebak dalam kesadaran terhadap diri kita sendiri. Continue reading

Aside | Posted on by | 8 Comments

Sarah dan Ken*

Seketika manusia harus menyadari akan sebuah hubungan, seperti hal aku dalam ragam relasi. Pertanyaan sederhana bisa diungkapkan, bila setiap gairah dipuaskan seketika setelah ia muncul, bagaimana manusia bisa menjalani hidup dan melalui waktu? Bayangkan jika beberapa orang dikirimkan kepada utopia di mana semua tumbuh dengan sendirinya dan burung kalkun terbang ke sana kemari siap dimakan, di mana sepasang kekasih menemukan satu sama lain tanpa ada penundaan dan menjaga pasangannya tanpa tanpa kesulitan. Di tempat seperti ini manusia akan mati karena bosan atau menggantung diri mereka sendiri. Manusia menciptakan keindahan dalam pikirannya sendiri karena ia dalam keadaan lain. Setelah itu, dengan penuh kemudahan juga, beberapa orang akan berkelahi serta membunuh satu sama lain, dan kemudian mereka akan menciptakan kesengsaraan untuk mereka sendiri, lebih daripada yang telah ditimbulkan oleh alam sendiri. Continue reading

Aside | Posted on by | Leave a comment

I am what do you say(s)

Tercium, wewangi yang tertebar
Beralas debu di himpitan angin
perlahan, bunga itu jatuh
mengering, sirna terinjak
sadar, bahwa namaku tertulis
bersama kenangan yang damai di lampau
Entah itu apa,
mendengung di gendang
serasa tasbih dan penghormatan abadi
Oh iya,
ada kalam di antara dadaku
rasanya ingin kutulis satu nama
dalam kemunafikan dan kepura-puraan
ingkar pada satu nama,
entah itu siapa?
Dia, entah siapa
melihati waktuku
kudekati, perlahan…!!
Hei siapa kau?
tanyaku agak gemetar,
“wujudku ialah kekosonganmu”, jawabnya.
dimana asalmu?
jawab melalui senyum palsu,
“aku ada di sela keinginanmu”
Ia menjauh,
pergi dan menari dalam tapa
“Kau adalah apa yang diucapkan sekitarmu, karena aku bersama prasangka mereka”.
kuterdiam dan bersujud
enggan kutemui dia
karena aku bukanlah sisi baik
Aside | Posted on by | Leave a comment

I was thought the essentialities of faithful had talked by Gus Dur in his Tanpo Waton. This is my reflectioning after i read the holy of interpretation of Quran so much.

Akeh Kang apal quran haditse
Seneng ngafirke marang liyane
Kafire dewe dan digatekke
Yen isih kotor ati akale
Gampang kabujuk nafsu Angkoro
Ing pepaese gebyare donyo
Mulo atine peteng lan nisto

Blaaa blaaaa blaaaa

Lamun palastro ing pungkasane
Ora kesasar roh lansukmane
Den gadang alloh swargo manggone
Utuh mayite ugo ulese.

The people are living in the world cant explanate all by rasionality. The example of thats no body must asked about where did we came from? Where did we end? What are we doing here? Where is begin? The simple of questions is ibadah. What do we ibadah Only? The religionist answered simple for the begining. More philosopher, scientist, and religionist are contesting to find the meaning in proper proper place for be alive beautifull people in world and the next our life.

Millions after millions we had tired by space and time. We just earned animosities of them before. Our activities was busied by knowledge, hoping, dreaming etc. The simple of metaphor of questions of all is we just create nice stories in our life and found out The book of God about our did in The world. We will find happiness in The next meet.

Neutron is thinking about god.
I’m not believing in God of thought, but believing in irrasionalities, absurdities, not Logic about God.

Neutron…!?

View on Path

Posted in Keagamaan | Leave a comment