Tentang Tafsir An-Nasa’i

Nama              ; Lussi Maelussimah

NIM                ; 208-100-224

Jurusan          ; Tafsir Hadits/7.

Mata Kuliah ; Membahas KitabTafsir 2.

 

Biografi Imam An-Nasa’i

Nama lengkap Imam An-Nasa’i ialah Abu Abdurrohman, Ahmad Bin Syuaib Bin Sanan Bin Bahr Bin Dinar Al-khorosani An-Nasa’i[1]. Beliau diberi gelar Imam hadits, yang pandai, penghujjah, syaikh islam, pengkritik hadits, penghakim, dan hafidz. Namanya dinisbakan kepada suatu tempat yang bernama Nasa, sebuah kampung di khurasan, dengan fatah Nun dan sin sesudah Hamzah yang fatah. Menurut Al-dzahabi Imam Nasa’i ialah seorang Guru yang disegani, tampan, dan putih kulitnya[2]. Sedangkan menurut Ibnu Katsir, Al-nasa’i wajahnya sangat tampan, seperti cahaya lampu malam[3].

Imam An-Nasai lahir tahun tahun 115 Hijriyah[4]. Setahun menjelang kematiannya, beliau pindah dari Mesir ke Damsyik. Dan tampaknya tidak ada konsensus ulama tentang tempat meninggal beliau. Al-Daruqutni mengatakan, beliau di Makkah dan dikebumikan diantara Shafa dan Marwah. Pendapat yang senada dikemukakan oleh Abdullah bin Mandah dari Hamzah al-’Uqbi al-Mishri.

Sementara ulama yang lain, seperti Imam al-Dzahabi, menolak pendapat tersebut. Ia mengatakan, Imam An-Nasa’i meninggal di Ramlah, suatu daerah di Palestina. Pendapat ini didukung oleh Ibn Yunus, Abu Ja’far al-Thahawi (murid An-Nasa’i) dan Abu Bakar al-Naqatah. Menurut pandangan terakhir ini, Imam al-Nasa’i meninggal pada tahun 303 H dan dikebumikan di Bait al-Maqdis, Palestina.

Aktifitas Beliau Dalam Menimba Ilmu

Imam Nasa`i memulai menuntut ilmu lebih dini, karena beliau mengadakan perjalanan ke Qutaibah bin Sa’id pada tahun 230 hijriah, pada saat itu beliau berumur 15 tahun. Beliau tinggal di samping Qutaibah di negrinya Baghlan selama setahun dua bulan, sehingga beliau dapat menimba ilmu darinya begitu banyak dan dapat meriwayatkan hadits-haditsnya.

Imam Nasa`i mempunyai hafalan dan kepahaman yang jarang di miliki oleh orang-orang pada zamannya, sebagaimana beliau memiliki kejelian dan keteliatian yang sangat mendalam. maka beliau dapat meriwayatkan hadits-hadits dari ulama-ulama kibar, berjumpa dengan para imam huffazh dan yang lainnya, sehingga beliau dapat menghafal banyak hadits, mengumpulkannya dan menuliskannya, sampai akhirnya beliau memperoleh derajat yang pantas dalam disiplin ilmu ini.

Beliau telah menulis hadits-hadits dla’if, sebagaimana beliaupun telah menulis hadits-hadits shahih, padahal pekerjaan ini hanya di lakukan oleh ulama pengkritik hadits, tetapi imam Nasa`i mampu untuk melakukan pekerjaan ini, bahkan beliau memiliki kekuatan kritik yang detail dan akurat, sebagaimana yang di gambarkan oleh al Hafizh Abu Thalib Ahmad bin Sazhr; ‘ siapa yang dapat bersabar sebagaimana kesabaran An Nasa`i? dia memiliki hadits Ibnu Lahi’ah dengan terperinci – yaitu dari Qutaibah dari Ibnu Lahi’ah-, maka dia tidak meriwayatkan hadits darinya.’ Maksudnya karena kondisi Ibnu Lahi’ah yang dha’if.

Dengan ini menunjukkan, bahwa tendensi beliau bukan hanya memperbanyak riwayat hadits semata, akan tetapi beliau berkeinginan untuk memberikan nasehat dan menseterilkan syarea’at (dari bid’ah dan hal-hal yang diada-adakan)

Sebagaimana imam Nasa`i selalu berhati-hati dalam mendengar hadits dan selalu selektif dalam meriwayatkannya. Maka ketika beliau mendengar dari Al Harits bin Miskin, dan banyak meriwayatkan darinya, akan tetapi beliau tidak mengatakan; ‘telah menceritakan kepada kami,’ atau ‘telah mengabarkan kepada kami,’ secara serampangan, akan tetapi dia selalu berkata; ‘dengan cara membacakan kepadanya dan aku mendengar.’ Para ulama menyebutkan, bahwa faktor imam Nasa`i melakukan hal tersebut karena terdapat kerenggangan antara imam Nasa`i dengan Al Harits, dan tidak memungkinkan baginya untuk menghadiri majlis Al Harits, kecuali beliau mendengar dari belakang pintu atau lokasi yang memungkinkan baginya untuk mendengar bacaan qari` dan beliau tidak dapat melihatnya.

Rihlah An-Nasa’i

Imam Nasa`i mempunyai lawatan ilmiah cukup luas, beliau berkeliling kenegri-negri Islam, baik di timur maupun di barat, sehingga beliau dapat mendengar dari banyak orang yang mendengar hadits dari para hafizh dan syaikh.

Di antara negri yang beliau kunjungi adalah sebagai berikut;

  1. Khurasan
  2. Quzwain[5]
  3. Iraq; Baghdad, Kufah dan Bashrah
  4. Al Jazirah; yaitu Haran, Maushil dan sekitarnya.
  5. Syam
  6. Perbatasan; yaitu perbatasan wilayah negri islam dengan kekuasaan Ramawi
  7. Hijaz
  8. Mesir

Guru-guru An-Nasa’i

Kemampuan intelektual Imam Nasa’i menjadi matang dan berisi dalam masa lawatan ilmiahnya. Namun demikian, awal proses pembelajarannya di daerah Nasa’ tidak bisa dikesampingkan begitu saja, karena di daerah inilah, beliau mengalami proses pembentukan intelektual, sementara masa lawatan ilmiahnya dinilai sebagai proses pematangan dan perluasan pengetahuan. Di antara guru-guru beliau, yang teradapat didalam kitab sunannya adalah sebagai berikut;

  1. Qutaibah bin Sa’id
  2. Ishaq bin Ibrahim
  3. Hisyam bin ‘Ammar
  4. Suwaid bin Nashr
  5. Ahmad bin ‘Abdah Adl Dabbi
  6. Abu Thahir bin as Sarh
  7. Yusuf bin ‘Isa Az Zuhri
  8. Ishaq bin Rahawaih
  9. Al Harits bin Miskin
  10. Ali bin Kasyram
  11. Imam Abu Dawud
  12. Imam Abu Isa at Tirmidzi

Dan yang lainnya[6].

Murid-murid An-Nasa’i

Murid-murid yang mendengarkan majlis beliau dan pelajaran hadits beliau adalah;

  1. Abu al Qasim al Thabarani
  2. Ahmad bin Muhammad bin Isma’il An Nahhas an Nahwi
  3. Hamzah bin Muhammad Al Kinani
  4. Muhammad bin Ahmad bin Al Haddad asy Syafi’i
  5. Al Hasan bin Rasyiq
  6. Muhmmad bin Abdullah bin Hayuyah An Naisaburi
  7. Abu Ja’far al Thahawi
  8. Al Hasan bin al Khadir Al Asyuti
  9. Muhammad bin Muawiyah bin al Ahmar al Andalusi
  10. Abu Basyar ad Dulabi
  11. Abu Bakr Ahmad bin Muhammad as Sunni, dan lain-lain.

Persaksian Para Ulama Terhadap Beliau

Dari kalangan ulama seperiode beliau dan murid-muridnya banyak yang memberikan pujian dan sanjungan kepada beliau, diantara mereka yang memberikan pujian kepada beliau adalah;

  1. Abu ‘Ali An Naisaburi menuturkan; ‘beliau adalah tergolong dari kalangan imam kaum muslimin.’ Sekali waktu dia menuturkan; beliau adalah imam dalam bidang hadits dengan tidak ada pertentangan.’
  2. Abu Bakr Al Haddad Asy Syafi’I menuturkan; ‘aku ridla dia sebagai hujjah antara aku dengan Allah Ta’ala.’
  3. Manshur bin Isma’il dan At Thahawi menuturkan; ‘beliau adalah salah seorang imam kaum muslimin.’
  4. Abu Sa’id bin yunus menuturkan; ‘ beliau adalah seorang imam dalam bidang hadits, tsiqah, tsabat dan hafizh.’
  5. Al Qasim Al Muththarriz menuturkan; ‘beliau adalah seorang imam, atau berhak mendapat gelar imam.’
  6. Ad Daruquthni menuturkan; ‘Abu Abdirrahman lebih di dahulukan dari semua orang yang di sebutkan dalam disiplin ilmu ini pada masanya.’
  7. Al Khalili menuturkan; ‘beliau adalah seorang hafizh yang kapabel, di ridlai oleh para hafidzh, para ulama sepakat atas kekuatan hafalannya, ketekunannya, dan perkataannya bisa dijadikan sebagai sandaran dalam masalah jarhu wa ta’dil.’
  8. Ibnu Nuqthah menuturkan; ‘beliau adalah seorang imam dalam disiplin ilmu ini.’
  9. Al Mizzi menuturkan; ‘beliau adalah seorang imam yang menonjol, dari kalangan para hafizh, dan para tokoh yang terkenal.’

Komentar Ulama Terhadap Keilmuan An-Nasa’i

Imam al-Nasa’i merupakan figur yang cermat dan teliti dalam meneliti dan menyeleksi para periwayat hadis. Beliau juga telah menetapkan syarat-syarat tertentu dalam proses penyeleksian hadis-hadis yang diterimanya. Abu Ali al-Naisapuri pernah mengatakan, “Orang yang meriwayatkan hadis kepada kami adalah seorang imam hadis yang telah diakui oleh para ulama, ia bernama Abu Abd al Rahman al-Nasa’i.”

Lebih jauh lagi Imam al-Naisaburi mengatakan, “Syarat-syarat yang ditetapkan al-Nasa’i dalam menilai para periwayat hadis lebih ketat dan keras ketimbang syarat-syarat yang digunakan Muslim bin al-Hajjaj.” Ini merupakan komentar subyektif Imam al-Naisapuri terhadap pribadi al-Nasa’i yang berbeda dengan komentar ulama pada umumnya. Ulama pada umumnya lebih mengunggulkan keketatan penilaian Imam Muslim bin al-Hajjaj ketimbang al-Nasa’i. Bahkan komentar mayoritas ulama ini pulalah yang memposisikan Imam Muslim sebagai pakar hadis nomer dua, sesudah al-Bukhari.

Namun demikian, bukan berarti mayoritas ulama merendahkan kredibilitas Imam al-Nasa’i. Imam al-Nasa’i tidak hanya ahli dalam bidang hadis dan ilmu hadis, namun juga mumpuni dalam bidang figh. Al-Daruquthni pernah mengatakan, beliau adalah salah seorang Syaikh di Mesir yang paling ahli dalam bidang figh pada masanya dan paling mengetahui tentang Hadis dan para rawi. Al-Hakim Abu Abdullah berkata, “Pendapat-pendapat Abu Abd al-Rahman mengenai fiqh yang diambil dari hadis terlampau banyak untuk dapat kita kemukakan seluruhnya. Siapa yang menelaah dan mengkaji kitab Sunan al-Nasa’i, ia akan terpesona dengan keindahan dan kebagusan kata-katanya.”

Tidak ditemukan riwayat yang jelas tentang afiliansi pandangan fiqh beliau, kecuali komentar singkat Imam Madzhab Syafi’i. Pandangan Ibn al-Atsir ini dapat dimengerti dan difahami, karena memang Imam al-Nasa’i lama bermukim di Mesir, bahkan merasa cocok tinggal di sana. Beliau baru berhijrah dari Mesir ke Damsyik setahun menjelang kewafatannya.

Karena Imam al-Nasa’i cukup lama tinggal di Mesir, sementara Imam al-Syafi’i juga lama menyebarkan pandangan-pandangan fiqhnya di Mesir (setelah kepindahannya dari Bagdad), maka walaupun antara keduanya tidak pernah bertemu, karena al-Nasa’i baru lahir sebelas tahun setelah kewafatan Imam al-Syafi’i, tidak menutup kemungkinan banyak pandangan-pandangan fiqh Madzhab Syafi’i yang beliau serap melalui murid-murid Imam al-Syafi’i yang tinggal di Mesir. Pandangan fiqh Imam al-Syafi’i lebih tersebar di Mesir ketimbang di Baghdad. Hal ini lebih membuka peluang bagi Imam al-Nasa’i untuk bersinggungan dengan pandangan fiqh Syafi’i. Dan ini akan menguatkan dugaan Ibn al-Atsir tentang afiliasi mazhab fiqh al-Nasa’i.

Pandangan Syafi’i di Mesir ini kemudian dikenal dengan qaul jadid (pandangan baru). Dan ini seandainya dugaan Ibn al-Atsir benar, mengindikasikan bahwa pandangan fiqh Syafi’i dan al-Nasa’i lebih didominasi pandangan baru (Qaul Jadid, Mesir) ketimbang pandangan klasik (Qaul Qadim, Baghdad).

Namun demikian, tidak menutup kemungkinan bahwa Imam al-Nasa’i merupakan sosok yang berpandangan netral, tidak memihak salah satu pandangan mazhab fiqh manapun, termasuk pandangan Imam al-Syafi’i. Hal ini seringkali terjadi pada imam-imam hadis sebelum al-Nasa’i, yang hanya berafiliasi pada mazhab hadis. Dan independensi pandangan ini merupakan ciri khas imam-imam hadis. Oleh karena itu, untuk mengklaim pandangan Imam al-Nasa’i telah terkontaminasi oleh pandangan orang lain, kita perlu menelusuri sumber sejarah yang konkrit, bukannya hanya berdasarkan dugaan.

Mengenai Tafsir An-Nasa’i.

  1. Sumber Kitab An-Nasa’i : menurut pendapat penulis tafsir An-Nasa’i ini bersumber bil matsur. Didalamnya banyak alquran yang di tafsirkan oleh hadits Nabi, perkataan sahabat, dan qau tabi’in. Contoh dengan perkataan sahabat :
  2. Metode Kitab An-Nasa’i : ialah tahlili, karena beliau menuliskan kitab tafsirnya dari Surat Al-fatihah sampai An-Nas. Dengan menggunakan Asbab An-Nuzul, Pendapat Para sahabat, Kaidah Kebahasaan. Contoh yang menggunakan Asbab An-Nuzul :
  3. Corak Kitab Tafsir An-Nasa’i : Corak tafsir An-nasa’i ialah Fiqh. Contoh yang menghasilkan corak fiqih :
  4. Tsaqofah Imam An-Nasa’i :Ahli Hadits dan Ahli Fiqh.

 

Karakteristik Penulisan Kitab Al-Nasa’i.

  1. Latar Belakang : beliau menulis tafsir An-Nasa’i karena keilmuannya dalam bidang ahli hadits dan ahli fiqh,
  2. Perspektif Menafsirkan Ayat : Imam An-nasa’i menafsirkan menggunakan pendekatan hadits seluruhnya.
  3. Sistematika.
    1. Di awal periwayatan untuk menafsirkan al-quran, An-nasai selalu memakai kata “Akhbarona”. Contohnya : tidak bisa ditampilkan.
    2. Selain menafsirkan Al-quran dengan hadits, An-nasai juga menakhrij Hadits yang ada dalam kitab tafsirnya. Contohnya : tidak bisa ditampilkan.
    3. An-nasai tidak menuliskan ayat secara sempurna dalam satu surat, beliau hanya menjelaskan suatu kalimat memang harus dibicarakan menurutnya.
  1. Kelebihan. : kelebihan Tafsir ini menurut penulis ialah kita bisa mengetahui kualitas hadits yang dipakai untuk menafsirkan Al-quran. Contohnya bisa dilihat di atas sebagaimana yang telah dijelaskan.
  2. Kekurangan. : Kekurangan Tafsir ini ialah tidak menjelaskan semua ayat, dan secara utuh ayat tersebut.contohnya bisa dilihat sebagaimana yang telah dijelaskan.

[1]. Kepastian mengenai nasab penulis banyak praduga. Diantaranya :

  1. Sesungguhnya Ibnu Khilkan dalam “Al-wafiyat” (1/71), Ibnu Katsir dalam “Al-bidayah” (11/123), dan Abu Al-fidai dalam “Mukhtashor Fi Akhbari Basyar” (3/86) berpendapat : sesungguhnya nama beliau adalah Ahmad Bin Ali Bin Syuaib. Kami tidak menetapkan mana yang benar karena sesungguhnya Abu Basyar Al-daulabi dalam “Al-Kuna” (1/48. 40), Al-thohawi dalam “Musykau Al-atsir” (2/33), “Al-thobroni” Al-mujamu Al-shogir” (1/23), “Al-ausath” (No : 1679), “Al-kabir” (1173). Mereka adalah murid-muridnya.
  2. Sesungguhnya Al-rofi’i dalam “Tadwin Fi Akhbar Qudzwin” (2/197) menamainya Ahmad Bin utsman Bin Syuaib, mengakhirkan Syuaib, dan mengganti Ali dengan Utsman. Tidak ada kesalahan yang dihapus, tapi mengira dari pengarang. Ia bermaksud dalam fasal Ahmad Bin Utsman.
  3. Al-suyuthi menamainya dengan kake yang tua, dan disnan menamainya Yahya dalam “Husnu Al-muhadzoroh” (1/349) dan para ulama menyepakati mengenai hal thobaqohnya (Hal 303).

[2]. Al-dzahabi. Al-sayyar (Beirut : 1996). Hal 167-168. Juz 14

[3]. Ibnu Katsir. Al-bidayah (Beirut :1997). Hal 124. Juz 11

[4]. Pendapat Ibnu Atsir dalam “Mukodimah Jami Al-wusul” (1/195) dan Al-Suyuthi dalam “Husnu Al-muhadoroh” (1/349) sangat jauh : bahwa Al-nasai dilahirkan tahun 125 Hijriah. Pendapat ini adalah sebuah perkiraan dimana perjalanan mencari ilmu haditsnya pada tahun 230 Hijriah. Seperti penjelasan kedua Imam tersebut melihat kala Al-nasai menuntut ilmu hadits kepada Qutaibah Bin Said. Ibnu Hajar Al-asqolani berpendapat bahwa, Al-nasai dilahirkan di Bakur An-naisabur atau tanah Faris, itu tidak shohih. Seperti halnya Al-Sakhowi mengisyaratkan lemahnya nama nisbat kepada Sana Al-farisiyyah. Al-sakhowi. Fathu Al-mugis (Beirut : 2001). Hal 309. Juz 3.

[5]. Al-kholil dalam kitab “Irsyad” (1/436) ia menolak di Qudzwan di tahun 270 lebih. Sedangkan Al-rofii dalam “Al-tadwin” (2/197) berpendapat di tahun 275 Hijriah.

[6]. Di Khurasan beliau berguru kepada Qutaibah Bin Said, Ali Bin Hasrom, Ali Bin Hujr. Di Basroh : Abbas Bin Abdu Al-adzim Al-‘ambari, Muhammad Bin Musyana, Muhammad Bin Basyar, dan Amr Bin Ali. Di Mesir : Yunus Bin Abdu Al-ala, Ahmad Bin Abdu Al-rahman Bin Wahab, dan teman-teman Al-laits Bin Said, dan sebagainya. Di Bagdad : Muhammad Bin Ishak Al-shigoni, Abbas Bin Muhammad Al-dauri, Ahmad Bin Mun’i, dan lain sebagainya. Bersamaan dengan itu, tidak ada biografi tentang Khotib Al-bagdadi dalam sejarahnya. Kami semua merasa heran ketika Mushonif atau Al-nasa’i masuk ke kota Bagdad. Dengan alih-alih demikian Ibnu Najar mengetahui tentang khotib seperti yang dilampirkan dalam sejarah Bagdad. Lihat : Al-nasa’i. Tafsir Al-nasai (Semarang : 2001). Hal 37. Juz 1.

About Falah

Keepsmile and .... and... and....
Aside | This entry was posted in Keagamaan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s