Catatan Harianku “Sedikit Sebuah Refleksi Kritis”

Refleksi Kritis*

Subjektif adalah pandangan sendiri : (filsafat) sesuatu yang bertalian dengan subjek, dengan aku yang mengetahui ; sesuatu yang berada dalam kesadaran tetapi terpisah dari kesadaran ; lawan objektif[1]. Subjektif selalu dihubungkan dengan suatu prodak penafsiran terhadap teks suci, maupun segala hal. Hal ini terjadi karena latar belakang mufassir yang berbeda dalam segi intelektualnya[2]. Tak hanya faktor intelektualnya saja yang mempengaruhi corak dan prodak tafsir, tapi psikologis diri dan keadaannya juga berpengaruh.

Dalam definisi tafsir, tafsir ialah pembahasan tentang suatu ayat, yang menghasilkan suatu hukum, hikmah-hikmah, dan penjelasan[3]. Dengan syarat menafsirkan seseorang harus mengetahui beberapa disiplin ilmu. Diantaranya ialah, nahwa, shorof, balaghoh, alquran, hadits, ilmu ushul fiqih, fiqih, tauhid, falak, dan lain-lain.

Singkat kata, jelaslah bahwa tafsir itu subjektif, karena apa yang dihasilkan dari suatu ayat tentang suatu hal. Seperti contoh tentang poligami (An-nisa : 3), Al-luusi menafsirkan dengan memakai pendekatan fiqh sehingga menghasilkan corak fiqh, serta metode penafsirannya bil royi. Dan natijahnya ialah boleh menikahi ayak yatim sesudah tiba

waktunya atau dengan kata lain cukup usia. Dan beliau juga menafsirkan boleh mempunyai istri yang bukan dari anak yatim[4]. Sedangkan Al-razi menafsirkannya menggunakan metode bil matsur yaitu alquran dengan alquran serta aluran dengan hadits. Hasil dari penafsirannya mengenai hal keadilan yang dititik beratkan[5].

Dari perbedaan di atas, kita lihat perbedaan penfsiran antara dua mufassir. Apabila ada pertanyaan, manakah yang benar? Maka penulis akan menjawab kedua-duanya benar untuk mereka dan keadaan sosio-culturalnya. Di sinilah benar dengan apa yang dikatakan Nietzsche bahwa kebenaran adalah sebuah interpretasi dan persepsi subjektif sesuai dengan kebutuhan. Sebagaimana yang ia katakan :

Apa itu kebenaran? Kebenaran ialah segerombolan perumpamaan yang selalu bergerak, metonim, manusiawi. Kebenaran adalah semacam hubungan yang sudah diatur, dikuatkan, dikemas secara retoris, dan puitis. Kebenaran telah lama dipergunakan secara pasti dan memaksa untuk mengikutinya[6].

*Ringkasan Suatu Pembahasan dari sebuah Skripsi yang ditolak. “xxxxxxx”. Subjektivitas Tafsir (Bandung : 2011). Hal 397. Jilid 2. Sebuah nama yang tidak bisa dituliskan. Ia membuat skripsi dengan tebal 765 halaman yang dimuat dalam dua jilid. Tafsir Hadits 5/B Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung.
[1]. Risa Agustin. Kamus Ilmiah Populer (Surabaya : 2001). Hal 503
[2]. Maka oleh sebab itu Al-shuyuthi dalam kitabnya Al-ithqon Fi Ulumi Al-quran menetapkan syarat untuk menafsirkan Al-quran.
[3]. Shibrom Malisi. Siraj Al-muridin (Semarang : 1995). Hal 398
[4]. Syihabuddin Mahmud Bin Abdulloh Al-husaini Al-luusi. Ruhul Maani Fi Tafsir Al-quran Al-adzim (Beirut : 2001). Hal 410. Juz 3
[5]. Al-razi. Mafatih Al-ghaib (Beirut : 2001). Hal 45. Juz 5
[6]. Friedrich Nietzsche. The Anticrist (London : 2004). Hal 197

About Falah

Keepsmile and .... and... and....
This entry was posted in Keagamaan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s