ANALISIS SEMANTIK KATA UZLAH

Penafsiran Al-quran yang dilakukan oleh para mufassirin terdahulu tidak terlepas dari bahasa yang ada dalam Al-quran, sehingga mempermudah menafsirkan ayat-ayat tertentu. Semantik adalah salah satu cabang ilmu linguistik yang memegang peranan penting dalam menafsirkan sutu kalimat atau lebih dari ayat-ayat Al-quran. Semantik ini khusus membahas tentang makna kata atau arti kata dalam ayat-ayat Al-quran, sehingga memudahkan bagi mufassirin secara khusus dan secara umum bagi semua orang Islam yang ingin mendalami dan memahami  isi Al-quran.

Secara populer banyak orang menyatakan bahwa linguistik adalah ilmu tentang bahasa, atau ilmu yang menjadikan bahasa sebagai obyek kajiannya, atau lebih tepat lagi seperti dikatakan Martinet[1] “Telaah ilmiah mengenai bahasa manusia”

Kata linguistik diturunkan dari kata Latin lingua yang berarti lidah, suara, kata-kata, tutur, logat, lafal dan bahasa[2]. Oleh karena bahasa merupakan pokok bahasan dalam bidang studi linguistik, maka seorang linguis mempelajari bahasa sebagai kemampuan manusia untuk berkomunikasi, sebagai ekspresi individual, sebagai warisan bersama satu masyarakat ujaran, sebagai bunyi-bunyi yang diucapkan, sebagai teks tertulis dan sebagainya.

Ilmu linguistik sering juga disebut dengan general linguistics, artinya ilmu linguistik itu tidak hanya mengkaji sebuah bahasa saja, seperti bahasa Indonesia, bahasa Jawa atau bahasa Arab, melainkan mengkaji seluk beluk bahasa umumnya[3]. Secara umum dapat dikatakan bahwa linguistik baru lahir pada abad ke-19 M. Sejarah Linguistik diawali dengan munculnya rhetorik yang berkembang di Yunani dengan Georgius sebagai tokohnya. Di dalamnya sudah terdapat pandangan bahwa bahasa berbeda satu sama lain namun rasa kebahasaan tetap ada pada setiap manusia, atau sekarang lebih dikenal dengan kesemestaan bahasa. Linguistik kemudian berkembang dalam pengertian grammar (tata bahasa), komparatif dan filologi.[4]

Pengertian Semantik

Ada beberapa pengertian menurut para ahli bahasa mengartikan semantik adalah ilmu makna[5] atau studi tentang makna kata atau semantik juga disebut teori makna atau teori arti. Jadi, semantik adalah ilmu yang membahas khusus makna kata-kata yang tersusun dalam suatu kalimat.

Al-quran menyifati dirinya sebagai risalah, dan risalah mempresentasikan hubungan antara pengirim dan penerima melalui medium sistem bahasa. Oleh karena pengirim, yakni Allah, dalam konteks Alquran tidak mungkin dijadikan sebagai objek kajian ilmiyah, maka wajar apabila pengantar ilmiyah bagi kajian teks Alquran adalah realitas dan budaya, yaitu realitas yang mengatur gerak manusia yang menjadi sasaran teks dengan penerima teks yang pertama, yaitu rasul dan budaya yang menjelma dalam wujud bahasa.[6]

Menafsirkan Alquran dengan menggunakan analisis linguistik merupakan model penafsiran yang telah mentradisi di kalangan ulama-ulama mufassir. Jika ditelusuri sejarahnya, metode penafsiran semacam itu sudah ada sejak Rasulullah. Beliau telah meletakkan dasar-dasar analisis linguistik dalam menafsirkan Alquran. Pengembangan secara metodologis lebih lanjut dilakukan oleh Ibn Abbas (687 M) dan pasca abad pertama Hijriyyah muncul sejumlah hasil karya yang dipublikasikan dengan memakai analisis linguistik filologis, misalnya karya Abu Ubaidah (w. 825 M), al-Sijistani (w. 942 M) dan berpuncak pada karya al-Zamakhsyari (w. 1144 M), yang lebih populer dengan sebutan al-Tafsir al-Kasysyaf.

Menyadari hal tersebut, maka warisan tradisi filologis ini kemudian direview oleh Amin al-Khulli (Aisyah bint al-Syati’ dalam al-Tafsir al-Bayani, h. 65) untuk dikembangkan dengan cara menambahkan wawasan kontekstual dalam penafsiran. Penafsiran Alquran, menurut al-Khulli idealnya terbagi menjadi dua bagian: (1) Penafsiran yang berusaha mengungkap latar belakang Alquran, genesis kata, kondisi dan bahasa masyarakat yang dmaksud oleh Alquran, (2) Kajian tersebut di atas dimaksudkan untuk mengungkapkan fungsi hidayah Alquran.

Analisis sastra kontekstual (al-tafsir al-Adabi al-Ijtima’i) al-Khulli sebagai upaya melampaui kajian filologis yang telah mentradisi, sebenarnya mendekati apa yang disebut analisis semantis terhadap Alquran, yakni suatu studi, kajian atau analisis makna berbagai perspektif yang mengkristal dalam kata-kata atau mencoba menguraikan kategori semantik menurut kondisi pemakaian kata itu.

Secara teknik, metode analisis semantik yang dibutuhkan dalam penafsiran Alquran sangatlah beragam sebagaimana konsep-konsep analisis yang terdapat dalam studi semantik secara umum. Hal ini disebabkan oleh luasnya pengertian makna yang menjadi dasar dari studi semantik di satu sisi dan eksistensi Alquran yang sarat akan topik kajian yang dapat didekati dengan berbagai macam cara pandang. Namun demikian, metode analisis semantik Alquran tersebut secara global dapat diuraikan menjadi: (1) Analisis medan semantik, (2) Analisis komponen semantik, dan (3) Analisis kombinasi semantik. Oleh sebab itu semantic membahas kata-kata dalam suatu kalimat atau kalam (dalam bahasa arab) termasuk ayat-ayat al Quran.[7]

Pengertian Makna[8]

Pengertian “makna” dewasa ini telah banyak diformulasikan oleh para sarjana dan pemikir sesuai dengan bidang kajian khusus mereka masing-masing,[9] seperti linguistik itu sendiri, psikologi, sosiologi, antropologi, fisiologi, biologi, filsafat analitis dan masih banyak lagi. Tidak terkecuali dengan semantik, sebagai studi makna, juga menjadi type filsafat baru yang didasarkan pada konsepsi baru dan berkembang dengan berbagai perbedaan dan cabang yang berbeda-beda.

Konsep Makna itazala

Ada beberapa ayat Alquran menyebut kata itazala sebanyak, yakni :

  1. QS. Al-kahfi  : 16
  2. QS. Al-maryam : 48
  3. QS. Al-maryam : 49
  4. QS. Al-mumtahanah : 4
  5. QS. Al-an’am : 68

Keseluruhan kata bentukan itazala yang berakar dari inti kata uzlah dalam Alquran, dimaknai dan dipahami dengan satu artian yang sama, namun berbeda dan beragam sesuai relasi antara satu ayat dengan ayat lainnya.[10]

Kata uzalah dalam beberapa ayat dalam al-quran menunjukan pada kebaikan. Mengasisngkan diri atau menyendiri bukanlah berasal dari tradisi kehidupan seorang muslim. Tradisi yang berasal dari kehidupan yang islami adalah pergaulan yang baik, berkumpul secara sehat dan bertamah-tamah, atau bersahabat dengan mereka yang suka pada kebaikan.[11]

Al-ghazali menjelaskan pengertian uzlah dan khalwat dalam bukunya ihya ulumuddin, antara lain ialah memusatkan diri untuk beribadah, bertafakur dan merasakan kejinakan hati dengan bermunajat kepada alloh SWT dan menghindarkan diri dari berbicara dan bergaul dengan makhluk. Menggunakan waktu dengan menyiapkan segala rahasia yang dijadikan (sir) oleh alloh SWT, baik tentang masalah langit dan bumi, akhirat maupun alam malakut. Hal yang demikian itu tidak dapat dilakukan tanpa memisahkan hati dari kesibukan sehari-hari, dari bercampur baur dengan masyarakat, itulah yang dinamakan uzlah.[12]

Selama manusia masih dalam pergaulan (dengan kesesatan dan orang-orang yang sesat), pengaruh hawa nafsu sangat mungkin menukik pada kalbunya: uzlah-lah yang mampu memotong tukikan itu. Hal itu pula yang membantu hatinya membebaskan diri dari bisikan nafsu syahwat. Inilah segi lain yang dapat dibantu oleh uzlah.[13]

Oleh karena itu, sebagian hukama berkata : tiada bertekunlah seseorang dalam khilwahnya, kecuali berpegang teguh dengan kitab alloh SWT.[14] Orang-orang yang berpegang teguh dengan kitab alloh ialah orang-orang merasa tentram meninggalkan dunia, dengan berzikir kepada alloh. Dengan berzikir kepada alloh hidup dan mati dengan mengingat dengan mengingat alloh, dan menemuinya dengan berzikir menyebut nama-Nya, jalan satu-stunya untuk bertafakur dan berzikir semacam itu, mereka harus mengasingkan diri dari masyarakat. Karenanyalah Nabi SAW pada permulaan tugasnya memutuskan hubungan dengan masyarakat dan menyendiri di gua hira untuk ber-tahaauts, sehingga teguhlah nur kenabian pada diri  Nabi SAW.

Nabi Muhammad saw. Berkhalwat di gua hira sampai datang perintah untuk berdakwah, sebagaimana tersebut dalam hadits bukhori :”diberi kesenangan kepada nabi saw, untuk menjalani khalwat di gua hira, maka ia mengasingkan diri di dalamnya, yakni beribadat beberapa malam yang berbilang-bilnag,[15]

Sumber rujukan :

  1. Artikel   abdul Aziz,S.pi M.Si
  2. Alwasilah, A. Chaedar. Beberapa Mazhab dan Dikotomi Teori Linguistik. Bandung: Angkasa, 1993.
  3. Aminuddin. Semantik; Pengantar Studi Tentang Makna. Bandung: Sinar Baru Algesindo, 2001.
  4. Aminuddin. Semantik; Pengantar Studi Tentang Makna. Bandung: Sinar Baru Algesindo, 2001.
  5. Al-Baqi, Muhammad Fu’ad Abd. Mu’jam al-Mufahas li Alfaz Alquran al-Karim. Beirut.  Dar al-Fikr. Tt.
  6. Chaer, Abdul. Linguistik Umum. Jakarta: PT Rineka Cipta, 1994
  7. Ferdinand de Saussure. Pengantar Linguistik Umum, terj. Rahayu S. Hidayat. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1988.
  8. Ibnu Mandur, Lisan al-‘Arab, (Beirut: Dar al-Sadr, 1990), Jld XIII,
  9. Izutsu, Toshihiko. Relasi Tuhan dan Manusia; Pendekatan Semantik Trehadap Alquran, terj. Agus Fahri dkk. Yogyakarta: PT. Tiara Wacana Togya, 1997.
  10. J.W. Verhaar. Pengantar Linguistik. Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 1985.
  11. J.W.M. Verhaar. Asas-Asas Linguistik Umum. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1996.
  12. M.H. Bakaila. Arabic Linguistik; An Introduction and Bibliography. London: Marshell Publisher Limited, tt.
    Manzur, Ibn. Lisan al-Arab. Beirut: Dar Sadir, 1990.
  13. Martinent, Andre. Ilmu Bahasa: Pengantar, terj. Rahayu Hidayat. Yogyakarta: Kanisius, 1987.
    Al-Qattan, Manna’ Khalil. Mabahis fi ‘Ulum Alquran. Kuwait: Dar al-Kutub al-Arabi.
  14. R.R.K. Hartman and F.C. Stork. Dictionary of Language and Linguistick. Londod: Applied Science Publishers Ltd, 1972.
  15. Radina, Aan dan Abdul Munir “Analisis bahasa dan Penafsiran Alquran” dalam Belajar Mudah Ulum Alquran: Studi Khazanah Ilmu Alquran, ed. Sukardi KD. Jakarta: Lentera, 2002.
  16. Al-Sabag, Muhammad bin Lutfi. Perhatikan Lamhat fi ‘Ulum Alquran wa al-Tijahat al-tafsir. Beirut: Maktabah al-Islami, 1996.
  17. Sudaryanto. Linguistik. Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 1985.
  18. Tohihiko dalam “Struktur Inti Konsep Kufr” dalam Etika Beragama dalam Alquran , terj. Mansuruddin Djoely. Jakarta: Pustaka Fidaus, 1995.
  19. Ullmann, Stephen diadaptasi oleh Sumarsono. Pengantar Semantik. Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2007.
  20. Verhaar, J.W.M. Asas-asas Linguistik Umum. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1996.
  21. Aqil, ibnu. Syarah alfiyyah. Beirut : dar al-fikr, 2005.


[1] . Andre Martinent,. Ilmu Bahasa: Pengantar, terj. Rahayu Hidayat. Yogyakarta: Kanisius, 1987. Hlm 19

[2] . kalau dalam bahasa arab lingua berarti lafadz, lafadz ialah perkataan yang mencakup sebagian huruf hijaiyyah ihat al-asy’ariy.  Jurumiyyah (Beirut : 1995). Hlm 1.  Dan lihat : Sudaryanto. Linguistik. Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 1985. Hlm 3-4.

[3]. Kalau dalam ilmu nahwu itu dikenal dengan irob. Yang merupakan menganalisis suatu kata atau kalimat (dalambahasa arab). Sedangkan ilmu shorof  mempelajari suatu kata itu bias berubah, yaitu dengan sebutan tasrif. Tasrif ialah perubahan asal suatu kata  sampai dengan beberapa kata supaya menghasilkan makna yang dimaksud.

[4] . A. Chaedar Alwasilah. Beberapa Mazhab dan Dikotomi Teori Linguistik. Bandung: Angkasa, 1993. Hlm  22.

[5] . Ibid.

Apabila kita lihat turunya al-quran, dimana orang Arab itu pandai membuat syairan,  turunlah al-quran itu sebagai wahyu yang bias disebut  berisikan syiran-syairan. Maka, dalam al-quran makna suatu kalimat atau kata yang menunjuk pada satu makna itu bias berubah sesuai pemakaian dan penekanan terhadap kalimat atau kata itu sendiri (kalau dalam ilmu balaghoh ada yang disebut qhorinah).

[6] .Aan Radina dan Abdul Munir dalam Belajar Mudah Ulum Alquran: Studi Khazanah Ilmu Alquran, ed. Sukardi KD, 2002: 288-293

Al-quran merupakan bahasa tuhan melainkan berbahasa arab sesuai dengan bahasa kaum arab itu sendiri.ini semua karena nabi Muhammad SAW merupakan orang arab yang bersuku qurayis. Dalam komunikasi amtara jibril dan Muhammad itu berada di alam mitsal atau alam imajinasi. Alam imajinasi ialah alam dimana yang jasadiyyah atau materi menjadi bathiniyyah atau nonmateri, begitupun sebaliknya (Mulyadhi karthanegara. Menembus batas waktu : fanorama filsafat islam. Jakarta. 2005).

[7] .Dalam al-quran banyak kata yang di ulang-ulang. Tetapi, makna dari kata tersebut bisa berubah atau tidak itu sesuai dengan kalimat atau kata itu diperlukan. Oleh karena itu dibutuhkan analisis semantic. Akan tetapi, kita harus mengetahui metode-metode penafsiran untuk mengetahui makna dari kalimat atau kata itu. Mungkin di sini dibutuhkan metode tafsir maudhui atau tematik.

[8] . Dalam al-quran makna itu bisa di bagi atas dua bagian

(1). makna hakikat atau makna sebenarnya dan makna hakikat bila saya harus berpendapat itu terbagi kedalam tiga :

(a). tathobuk atau makna laras : menunjukan kepada kesempurnaan makna yang dipakainya.

(b). tadzomun atau makna kandungan : menunjukan kepada makna yang dimaksud hanya sebagian saja dari artipenuhnya.

(c). talazum atau makna lazim :menunjukan apabila makna yang dimaksud adalah pengertian lain, tetapi

Merupakan kemestian bagi kata tersebut. : lihat M. Ali hasan. Ilmu mantiq Logika (Jakarta : 1991). Hlm 21, abd al-hadial-fadzli (Beirut : 2008). Hlm 15, idzoh al-mubham min maani fi al-sulam fi al-mantiq (Beirut : 1996). Hlm 6

(2). Makna mazaz atau makna bukan sebenarnya. Tetapi itu bisa menjadi makna hakikat sesuai ayat yang merubah makna tersebut. : Al-suyuthi. Al-ithqhon (Semarang : 1991).

[9] . kalimat atau kata itu bisa berubah makna sesuai dengan bidang-bidang yang diperlukan,

[10] . kata itazala berasal dari kata azala yang merupakan sulasi mujarrod, lalu ditambahkan alif serta taa. Sehingga, makna tersebut menjadi makna musyarakah atau bermakna saling. Jelaslah bahwa uzlah bukan penyucian diri dengan keluar dari kalangan kaum tertentu. Tetapi, bagaimana cara kita menyucikan diri dari masyarakat tanpa meninggalkan mereka.

[11] .Said Hawwa. Jalan ruhani (Mesir : 1983). Hlm 157

[12] .H, abdul qadir djaelani. Koreksi terhadap ajaran tasawwuf. Gema insani press. Jakarta. 1996. Hlm 173-194 dan lihat juga : Al-ghazali. Ihya ulumuddin. Jilid II. Beirut. Dar al-fikr. 1995. Hlm 221-223

[13] . Ibid. hlm 159

[14] .dalam al-quran banyak ayat atau bahkan kebanyakan ayat yang menerangkan muamalah dan akhlak. Bagaimana cara kita bersosialisasi dengan masyarakat sekitar. Tradisi kehidupan islami adalah beruzlah dari kekufuran, kemunafikan, kefasikan, dari orang-orang kafir, orang-orang munafik, dan orang-orang fasik, serta beruzlah dari tempat-tempat yang penuh dengan caci maki terhadap ayat-ayat allohdan hal-hal serupa yang wajid dijauhi. Lihat : Said Hawwa. Loc.cit

[15] . H, abdul qadir djaelani. Loc cit. hlm 174

About Falah

Keepsmile and .... and... and....
This entry was posted in Keagamaan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s