MENCARI NAMA ALLAH YANG KESERATUS


Oleh Lussi Maelussimah

 Ditengah kemelut perkembangan sain dan teknologi yang menawarkan kesejahteraan hidup umat manusia di satu sisi, dan mengancam kelestarin alam pada sisi lain, muncul sebuah gagasan besar untuk mengideologisasi globalisasi. Pada saat yang sama, timbul pula berbagai pembahasan tentang ajaran dan kearifan tasawuf di forum diskusi, penerbitan buku dan media massa seolah sebuah jawaban yang dilemparkan dari sebuah dunia jauh, dunia masa silam, yang wujud faktualnya semakin langka di abad kita. Umat manusia berjalan dan terus berjalan menyusuri lorong kemungkinan yang bisa dikuakan, hingga melewati batas yang semestinya didapatkan, tanpa menemukan titik terang yang memberikan makna hakiki kehadirannya.

Nasib umat manusia masa kini persis seperti Musa a.s. dan Yusa ibn Nun ketika mengembara mencari tempat pertemuan dua samudra. Mereka mesti mengalami kebablasan terlebih dahulu sebelum akhirnya menarik mundur langkahnya.Penomina itu mengisyaratkan telah sampainya manusia modern pada puncak kesadaran mereka akan makna keberadaannya yang bukan anak struktur, melainkan sebagai subjek sejarah yang bertanggung jawab terhadap diri dan semestanya. Bukan sekedar makhluk bagian dari alam, mereka adalah wakil tuhan untuk mengelola alam yakni sebagai khalifah.[1]

Perspektif kekhalifahan inilah yang hampa dibenak bangsa-bangsa maju ketika mereka mencanangkan ide globalisme. Mereka terlalu dini mengklaim dirinya sebagai polisi yang berhak membatasi bangsa lain. Ambisinya untuk menjadi pihak penentu dan kebijakannya yang rendah didalam memperlakukan manusia sebagai benda mati yang dapat di proses secara kilat dengan sains dan teknologi, mengandalkan kementahan spiritual mereka sekaligus meramalkan kegagalannya dalam memandu umat manusia menuju masyarakat global yang diharapkan. Mereka dihadapkan pada masalah keutuhan umat manusia yang tak pernah tuntas (the unfinished universe) tanpa sistem yang memadai. Pada saat itulah kita perlu mengkaji ulang jalan sufi yang pernah berhasil melahirkan individu-individu besar yang berkualitas universal. Tak berlebihan jika kita mengatakan, merekalah yang sebenarnya lebih pantas disebut pionir globalisasi daripada manusia modern yang tak pernah menemukan hakikat dirinya. Ini berdasarkan kenyataan bahwa mereka lebih tulus dalam menyikapi sesama manusia, tanpa pamrih selain ridha Allah, dan tak mengenal putus asa didalam ibadahnya mengembangkan kualitas hidup untuk umat.

Kondisi pribadi yang demikian tak mungkin terwujud tanpa pendadaran internal yang matang dan tanpa sarana teknis yang memadai. Dan kita pun segera memaklumi setelah kita menelaah respons mereka yang brilian terhadap inpormasi Nabawi tentang nama-nama Allah. Pemandu mereka (Rosulullah saw.) telah mengajarkan 99 nama yang digunakan oleh Allah untuk mencipta, memelihara, dan mengembangkan semesta sampai mencapai kebulatan yang nyaris sempurna (unfinished; sifat bilangan 99). Tinggal satu nama lagi yang tidak diajarkan kepada mereka, yang harus mereka temukan sendiri lewat pengabdian sepanjang hidup. Itulah sebutir mata tasbih yang terlepas dari untaiannya. Itulah ism al-a’zham atau nama Tuhan yang keseratus, yang bila Allah dipanggil dengan nama tersebut, segala hajat akan ditunaikan.

Bila dalam mencari nama Allah yang keseratus kita bersikap seperti mencari informasi keilmuan maka dapat dipastikan kita akan gagal memperolehnya. Karena sebenarnya nama yang kita cari itu bukanlah sebuah objek diluar diri kita, melainkan subjek pencari itu sendiri.

Allah menjelaskan sifat-sifat manajerial-Nya (sifat-sifat kepengurusan-Nya) terhadap makhluk-makhluk-Nya sebanyak 99 nama.[2] Nama-nama yang dikenalkan itu merupakan aset bagi setiap mukmin dalam berkomunikasi dengan Rabbul-alamin tempat mengadu agar seseorang dikeluarkan dari situasi dan kondisi yang tidak diinginkannya, seseorang yang kekurangan rizki berkepentingan dengan sifat Allah ar-Razzaq, seseorang yang lemah berkepentingan dengan sifat Allah ya Qawiyyu, orang yang diperlakukan tiudak adil berkepentingan dengan sifat Allah al-Adl (yang maha adil). Apa yang dikehendaki manusia dalam situasi dan kondisi yang melibatkan dirinya, al-Quran menawarkan alternatif: panggilah Allah, tetapi dengan nama-nama Allah yang kontekstual dengan kebutuhan orang yang memanggil.

110.  Katakanlah: “Serulah Allah atau Serulah Ar-Rahman. dengan nama yang mana saja kamu seru, dia mempunyai Al asmaaul husna (nama-nama yang terbaik) dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya[870] dan carilah jalan tengah di antara kedua itu”.(QS.ssal-Isra: 110).

[870]  maksudnya janganlah membaca ayat Al Quran dalam shalat terlalu keras atau terlalu perlahan tetapi cukuplah sekedar dapat didengar oleh ma’mum.[3]

Disamping itu, Asma Al-Husna juga menjadi acuan bagi setiap mukmin dalam menggarap diri sehingga sifat-sifat itu tertanam, dimiliki, dan dipergunakan dalam rangka ikut berperan dalam mengurus semesta alam. Dalam hal inilah dia menggunakan 99 nama Allah itu untuk menemukan nama Allah yang keseratus. Inilah nama Allah yang tertingi. Dengan aset 99 nama Allah kita akan menemukan nama Allah yang keseratus. Hanya saja, tidak sebagaimana ketika kita menemukan Asma al-Husna, dalam proses penemuan nama Allah yang keseratus kita tidak bisa mencarinya melalui referensi kitab-kitab, sebab nama Allah yang keseratus tidak bersifat informatif. Inilah kewajiban bagi setiap hamba untuk mendapatkannya, bukan dari kitab-kitab, melainkan dari pengabdian kita kepada Allah.

Setiap individu harus menemukan nama Allah yang keseratus sebagai mana Rasulullah saw. telah menemukan peran dirinya sebagai penggenap 99 nama Allah dengan hadirnya sebutan al-Amin. Begitu pula keempat sahabat Rasulullah saw. telah menemukan peran diri mereka dalam mengatur semesta ini sehingga mereka layak menyandang gelar yang senan tiasa melekat pada nama pribadi mereka: Abu Bakar al-Shiddiq, Umar ibn Khaththab al-Faruq, Utsman ibn Affan Dzu al-Nurayn, dan Ali ibn Abi Thalib al-Murthada. Merekalah saksi.

Setiap mukmin dituntut untuk menjadi saksi bahwa Allah itu ada. Maka jangan sampai kita mendengar ada orang sakit akhirnya meninggal sebelum terobati, ada orang lapar akhirnya harus mencuri, ada orang teraniaya meninggal sebelum tertolong. Kita berdosa. Sebab setiap orang yang sedang menderita sakit, lapar, atau teraniaya pasti dia berharap, berdoa, dan jika harapannya tidak terwujud, bisa jadi dia pun bersyak wasangka, “Tuhan itu ada apa tidak? Saya merintih, meminta, tapi Dia tidak mengutus siapa pun dari hamba-hamba-Nya untuk menyelamatkan saya. Saya sudah memohon kepada-Nya ribuan kali, tapi dia tidak menjawab. Apakah doa-doa saya tidak didengar Tuhan ataukah memang Tuhan itu tidak ada?”

Mengapa kita tidak menjadi saksi bahwa Tuhan itu ada; tandanya kita datang membelikan obat kepada orang yang sakit, memberikan makanan pada orang yang lapar, atau menolong orang yang teraniaya. Siapapun diantara kita yang mendengar penderitaan tentangga, hendaklah mengulurkan bantuan, memberikan solusi, merealisasikan harapan dan doa-doanya. Dengan demikian, kita telah dipakai Tuhan sebagai saksi bahwa Tuhan itu ada.

Tuhan telah menciptakan makhluknya yang melek buat yang buta, yang pintar buat yang bodoh, demikian pula yang kaya diciptakan-Nya buat yang miskin dan yang perkasa diciptakan-Nya untuk yang lemah. Jadi melalui hambanya juga allah menolong hamba-Nya yang lain, bukan Dia sendiri yang datang untuk menangani. Itulah manajerial Tuhan.[4] Hamba tuhan yang dipakai untuk menangani manajerial Tuhan itulah hamba yang syahid, sebab dia telah sanggup merealisasikan syahadat yang telah diucapkan bibirnya. Dia telah berkondisi syahadat bersaksi bahwa Tuhan itu ada dengan cara “mengabulkan” permohonan doa orang yang sedang sakit, lapar, atau teraniaya. Tentu hal tersebut dilakukan atas kekuatan dan kehendak Tuhan, berarti dia telah memanifestasikan kehendak Tuhan. Dia telah merealisasikan kemauan Tuhan di muka bumi. Dia “orangnya” Tuhan. Dia ahlullah (keluarga Allah). Maka, dia telah menjadi nama Allah yang keseratus.

Demikianlah kesadaran akan struktur ciptaan Tuhan yang ada sejak Adam a.s. sampai kiamat bahwa struktur ciptaan itu ada dalam kondisi nyaris selesai (unfinished) hal itu sama di setiap agama. Semesta alam ditemukan oleh seorang individu dalam kondisi nyaris selesai (diibaratkan angka 99, yang belum genap) sebelum kita menerjunkan diri menjadi yang keseratus; menjadi keluarga Tuhan (pelaku rububiyyah atau kepelayanan Tuhan dimuka bumi).

13.  Hai manusia, Sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal  )saling mengerti,saling terlibat,saling mengurus,saling menopang). Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu (yang lebih berperan mewakili rububiyah Tuhan di mukia bumi). Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.(QS.al-Hujurat: 13).

Pandangan bahwa semesta alam hadir disetiap kesadaran individu dalam kondisi unfinished (belum selesai) menuntut diri ini untuk ikut serta menyelesaikannya. Tidak boleh seseorang menunggu orang lain, sebab orang lain akan menyempurnakan semesta alam ini menurut cara dan kemampuannya sendiri. Diri ini belum merasa genap, masih ada ganjalan, masih ada duka jika belum terlibat dalam manajerial Tuhan. Belum sanggup menjadi saksi bahwa allah itu ada. Oleh karena itu, setiap orang yang mengaku beriman harus menghilangkan rasa duka, kesendirian (sepi), atau takut mati dengan cara melibatkan diri menjadi nama Allah yang keseratus, menggenapi 99 nama Allah yang telah diajarkan lewat al-Quran.[5]

Demikianlah syahadat yang berawal dari kesaksian kata-kata harus dibuktikan dengan suatu tindakan. Allah-lah sembahanku. Maka jika seluruh potensi yang kumiliki dari pemberian-Nya ini diminta, pasti akan kuberikan. Orang yang demikian telah menjadi syuhada meskipun dia tidak maju kemedan perang. Medan kita adalah orang-orang yang berada di bawah garis kondisi kita; kepandaiannya, kekayaannya, kekuatan fisiknya, keluasan persepsinya terhadap kenyataan. Merekalah sajadah kita. Oleh karena itu, sifat air yang senantiasa turun kebawah menghidupi tanaman menjadi lambang bagi orang-orang beriman.

7.  Dan Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan adalah singgasana-Nya (sebelum itu) di atas air, agar dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya[711], dan jika kamu Berkata (kepada penduduk Mekah): “Sesungguhnya kamu akan dibangkitkan sesudah mati”, niscaya orang-orang yang kafir itu akan berkata: “Ini[712] tidak lain hanyalah sihir yang nyata”.)QS.Hud:7)

[711]  Maksudnya: Allah menjadikan langit dan bumi untuk tempat berdiam makhluk-Nya serta tempat berusaha dan beramal, agar nyata di antara mereka siapa yang taat dan patuh kepada Allah.

[712]  maksud mereka mengatakan bahwa kebangkitan nanti sama dengan sihir ialah kebangkitan itu tidak ada sebagaimana sihir itu adalah khayalan belaka. menurut sebagian ahli tafsir yang dimaksud dengan kata Ini ialah Al Quran ada pula yang menafsirkan dengan hari berbangkit.

 

Demikianlah peran diri kita diciptakan Tuhan di muka bumi ini, tidak lain untuk menyempurnakan struktur ciptaan-Nya yang kondisinya nyaris selesai (diibaratkan angka 99), dan kita berkewajiban menyelesaikannya (menggenapi menjadi 100). Kita mesti menerjunkan diri membantu mereka keluar dari penderitaan, turun kebawah sebagaimana sifat air yang senantiasa turun kebawah menyuburkan tanah dan menghidupi tanaman. Selebihnya, air akan mengalir menuju ke samudra menciptakan sebuah keagungan.

 

   DAFTAR PUSTAKA 

Amruhi Hasan, 2009 Mencontoh Para Wali, al-Huda. Jakarta

Mustofa, 1997 Akhlak Tasawuf, Pustaka Setia. Bandung

Zuhri Muhammad, 2007 Menjadi Teman Dialog Tuhan, Serambi. Jakarta

Shihab Quraish, 2002 Hidup Bersama al-Quran, Mizan. Bandung

Hamka,1983 Tasawuf Modern, pustaka Panji Mas. Jakarta

 

KESIMPULAN 

Pada era modern seperti saat ini manusia lebih mengedepankan sain, teknologi dan globalisasi. Mereka lupa akan hakikat dirinya sebagai khalifah dan wakil Tuhan yang mengelola dunia ini, sehingga mereka mengklaim dirinya sebagai polisi yang mengatur dan menentukan hukum dunia ini. Sebenarnya yang lebih pantas dikatakan sebagai pionir zaman modenisasi adalah para sufi yang telah berhasil membimbing umat manusia kejalan yang mengajarkan hakikat dan tujuan manusia di alam dunia ini. Maka dari itu kita perlu mengkaji ulang ajaran-ajaran para sufi yang telah berhasil membimbing umat kearah mendekatkan diri kepada Allah.

Allah berfirman dalam al-Quran “serulah Allah atau ar-Rahman dengan nama-nama mana saja yang kamu sukai karena Allah memiliki nama-nama yang paling baik”. Dengan ayat ini manusia memiliki hajat sesuai dengan kepentingannya masing-masing. Orang yang miskin berkepentingan dengan nama Allah “ar-Razak” yang teraniyaya berkepentingan dengan nama “ya adl”, yang lemah berkepentingan dengan nama “ya Qawiyyu” dan lain sebagainya mereka akan menyeru nama Allah yang 99 sesuai dengan yang ia butuhkan. Namaun disini nama Allah yang 99 itu belum sempurna maka kita harus menemukan 1 nama lagi agar nama-nama itu menjadi genap 100.

Dalam mencari nama Allah yang ke 100 tidak seperti mencari bahan-bahan atau referen seperti disiplin ilmu yang lain, Mencari nama Allah yang ke 100 ini tidak bersifat informatif karena nama allah yang ke 100 itu bukan objek dari pencarian itu melainkan subjek pencari itu sendiri. Artinya nama Allah yang keseratus adalah diri kita yang memposisikan diri kita sebagai nama Allah yang keseratus,karena nama-nama allah yang 99 itu tidak akan hidup jika tidak ada yang menghidupkan, begitu juga dengan al-Quran dan hadits. Dalam manajerialnya di alam dunia Allah tidak terjun langsung ke dunia tapi melalui kita sebagai khalifah dan wakilnya di dunia. Setelah kita menemukan nama Allah yang keseratus maka kita akan memahami dan menemukan hakikat syahadat, yang mana kita tidak cukup bersaksi bahwa Allah itu ada tapi harus ikut menjadi saksi membuktikan bahwa allah itu ada.


[1] Hasan Amruhi, 2009 Mencontoh Para Wali, Al-Huda, Jakarta

[2] Hamka, 1983 Tasawuf Modern, Pustaka Panjimas, Jakarta

[3] Al-Quran terjemah, Departemen RI

[4] Musa Kazhim, 2007 The Secret of Your Spiritual DNA, Mizan, Bandung

[5] Qurais Shihab,2002 Hidup Bersama al-Quran, Mizan, Bandung

About Falah

Keepsmile and .... and... and....
This entry was posted in Keagamaan. Bookmark the permalink.

3 Responses to MENCARI NAMA ALLAH YANG KESERATUS

  1. Semoga yg punya web site ini di limpahkn rezkinya,,,,krena telah meluangkn waktunya untuk mengkaji nama Allah yg ke 100 ””

  2. amiin amiin amiin,,,, ^_^

  3. amiin ya allah ya rabbal alamin, ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s