Pi, Mimpi

Oleh Guruku, Muhammad Darussakau.

Mimpi konon hanya bunga tidur belaka tak menyimpan apapun selain peristiwa yang tak perlu diacuhkan. Tetapi  mimpi kadang bergadang menjadi soal peristiwa menjanjikan untuk bincang-bincang sambil mengelupas kacang saat ia berubah menjelma sesuatu untuk enak ditonton itulah what dream my come. Bahkan ada peringkat soal mimpi, peringkat mimpi yang penuh dengan ketegangan, namun  membuat urat terasa kerasan. Ada hikayat mimpi dalam mimpi bahkan mimpi ada dalamnya, mimpi cuma-cuma mimpinya mimpi tanpa menyimpan perhitungan dan pasti dibenci matematikawan, fisikawan, dan kimiawan. Yang terakhir mimpi antara melek mata dan meram. Yah, mimpi peringkat terakhir membuat  aku terbangun, kudengar nyaringnya  ayam berkokok petanda raja siang bangun dari rasa kantuknya walau ia tak harus marah-marah sebab kokok ayam  jadi peran pengganti. Antara peringkat mimpi-mimpi, hitungan terakhirlah yang memacu star waktu aku kembali nyata hidup, ia bukanlah mimpi biasa-biasa yang membias lantas harus dibius dan terpaksa harus mimpi dan tertidur, tanpa menyimpan tetesan bekas dalam angan. Nah, lihatlah disana ada sketsa wajah manusia, tentunya ia wanita. Antara  jaga dan tak jagaku potret wajah semesta merajah  muncul berjaga-jaga. Awalnya aku tak peduli, akhirnya kusimpan wajah  mimpi itu  dalam kurung.

Tak sangka mimpi itu bakal beranak-pinak kelak ketika kaki dapat menjejakannya ketanah nyata. Kutatap jam dan ia memberi isyarat tiba saatnya memberangkatkan diri untuk bermain-main ditempatku menuntut ilmu. Di mobil ada banyak manusia bercecer, dan yang menjadi menarik perhatian adalah orang yang tertidur pulas dipojok barisan terakhir bangku dengan badan menggempal seperti Brutus, mungkin ia terlalu banyak makan sebelum titik pijaknya dirumahnya sanah, terbayang makannya yang rakus, karbohidrat terlalu padat sampai membuat penat perutnya, telinga pendengaran mulai terasa membuyar,  mata sedikit demi sedikit mulai kalap lenyaplah sampai nyenyap  harus menghantarkan ia tertidur dikursi mobil. Tiba-tiba ada orang terperanjat dari kursi duduk sambil menodongkan pisau tepat diujung urat leherku.

Ia berkata, “kau yang telah merenggut belahan jiwaku, kan kukirim kau ke malaikat pencabut nyawa”. Kaget bergetar menyerang sekujur tubuhku, ada apa dengan orang ini? Gilakah ia, lantas tanpa sebab apapun ia menyambung lagi tidurnya.

Aku tak menghiraukannya walau membuat jantungku tersayat kaget. Kuhentikan mesin beroda empat itu, hingga saat sampai ke tempat yang tak diduga yang membuka kurung alam maya dan nyata, tempatnya sederhana hanya dipayungi dengan pepohonan besar serta berumur cukup tua beringin namanya, pohon ini konon pohon segi tiga bermuda karena tataletaknya berbentuk persegi tiga bahkan ada yang mengatakan lambang konspirasi iluminati dan premansonri dan apalah namanya. Diantara persegi itu duduklah aku di bawah kesejukannya, tak hanya sendiri tapi ada saudara-saudari disekitarnya di barat, timur, utara dan selatan. Dari semua posisi arah nama itu tak hanya diam, mereka menggunakan fungsi bibirnya untuk bercakap-cakap, aku pun demikian. Percakapan dari mulai asfaragus sebagai gurauan kuliner yang dialamatkan pada si kumis baplang dari Jerman dengan gaya rambut kalipso yang gak menarik. Hoi… suara nyaring diarah timur, mulut yang nyinyir dan lebam itu  bertuah.

“Seenaknya kau mengeraskan suaramu tuk menghinakan derajat nabiku”.  “Ooh… jadi itu sekarang yang menjadi nabi barumu, apa menariknya ia, hanya seorang kesepian dalam hidupnya dan heninglah temannya kasihan sekali dia itu”. Ucap dari arah barat.

Terjadilah perang urat saraf antara barat  dan timur, bersimbah darah kah? Tak masalah, yang masalah kalau merahnya darah berubah jadi hari libur yang berlarut-larut dan harus membuat keningku mengernyit.

Di pertengahan tengadah itu gurau tetaplah gurau, dan frase gurau itu akhirnya diramu menjadi sebuah kombinasi  “amorfati asfaragus” demikianlah  mengatakannya dengan gembira, cukup menggelitik untuk mengkuliti tawa. Terciptalah buah sadar dan kesasar  ke sens musik, seks, pernak-pernik khas dari wajah, sampai persoalan hal fundamental. Apakah itu? Itu adalah sejenis ramuan abadi bahkan lebih purba lagi, tapi bukan purba adisasmita. Orang-orang sekitar sebrang-sebreng  sering menyebutnya dengan kata cinta.

Ramuan purba itu harus menyudutkan keadaan, mau tak mau semua terlena dalam kata purba. Semua raut wajah menggelepar agak gak kontrol, dengan teratur sejenak gurau mundur  dan tutur purba meramu suasana tertata ngelantur. Seorang dari arah utara berkata.

“Yah kadang apa yang kita sebut dengan cinta itu, terkadang sering membuat kita merona dan tenggelam dalam mabuk kegilaan” kemuadian kawan dari arah selatan bertutur ucap “hei, ada pengalaman ku tentang itu. “Ada tiga wanita yang rela mati dalam hidupku sampai saat ini, wanita pertama ketika aku membludakan isi hatiku padanya lantas ia berkata “kalau kau menginginkanku, maka tunggu di kehidupan yang akan datang. Wanita kedua sama saatku mengatakannya, ia menjawab “awas, kalau kau terus mengejar-ngejar aku maka aku akan menyabut nyawaku. Wanita ketiga, ia menimpal “kalau kau tak membayar hutangku sekarang, maka aku akan terbang dari gedung tinggi ini bersamamu.” Itulah ketiga wanita yang rela mati untukku. Suara tawa nyaring dari semua arah penjuru dan keadaan mencair kembali.

Saat aku mengarahkan sorot bola mataku ke arah lain, ada kelainan dalam mataku, ia membelalak sampai batas tak terduga, ketika arah itu memunculkan seseorang dengan kerudung coklat, tas coklat dan sepatu coklat. Hatiku menyimpan tanya, dan tanda kurung pun mulai menyingkap benang merahnya. Bukankah dia wanita yang muncul di alam mimpi peringkat terakhir. Gumamku dalam hati. Langkahnya terhenti ditempat pemberhentiannya, lantas duduk  sambil membuka mainannya, bermain-mainlah dia dengan memainkan mainannya. Tatap ku tak terpejam sesenti pun terus terpusat pada wajahnya. Aduhai aurat wajahnya yang terawat itu, sungguh menggawat seperti membuat ulu hatiku terlilit kawat. Keanehan menerkaku kembali, sang estetikus  yang awalnya maya ternyata berubah nyata ada di depan indra. Atau buatan belaka dari potret semesta yang tak sengaja, tapi semua kejadian bukan hanya unsur dari ketidak sengajaan. Akh… aku tak peduli dan masa bodoh mana yang benar!

Keanehanku yang menegang  merangsang roda waktu tak terasa bergulir cepat, walau ia bukan lagi tanda kurung, mungkin keberanianku belum cukup usia untuk meranggaskan hatinya.   dan akhirnya sampai dimana ia harus singgah dari tempat mainnya, dimasukan kembali mainannya  ke tas. Dilangkahkan kakinya yang anggun itu ketempat persinggahannya entah dimana?  Saat tubuhnya segaris lurus dengan tubuhku tepat akurat dihadapan wajahku, tak mau kubuat sia-sia kepergiannya. Nah, ku buat dia risau dengan menodongkan ketaknyamanan padanya. Lantas dia memalingkan mukanya serta tatapnya menatap tatapanku, keterpusatan itu membuatnya  mengernyitkan keningnya. Apa yang terjadi? Kernyitannya membuat aku tertawa, berbeda dengan yang lain, kernyitan itu begitu seksi dan menggoda, buatku sungguh kernyitan kening yang mengesankan.

Akhirnya pergilah dia setelah jeda goda, sampai dimakan oleh garis jarak yang tak dapat kulihat lagi. Tapi tak lantas membuat kernyit kening pergi dari batinku, kernyit itu seolah telah merenggut antara momen dan nyawaku.  Aku seperti diburu oleh dingding-dingding realitas yang dipenuhi oleh kernyit kening itu. Setelahnya, kemudian aku pegang kemudi tuk meranggaskan waktu dengan main-main yang tak khusu,  tapi tetap kernyit itu terus menadahku, saatku terdiam ia menodongku.  Ingatan mengenai seorang wanita dengan kerudung, kantong, dan sepatu coklat  tertinggal padaku di sepanjang waktu, aku tidak memilikinya, tetapi bayangan tipisnya seolah-olah bersemayam di dalam lubuk jiwa aku menggerayang gentayangan. Perasaan yang paling tak bisa di bantah mengaliri kecantikan yang mengesankan dan biji mata yang lembut dan manis serta kernyitan kening membuat aku berpeluk dalam gumam dan terus bergumam dalam peluk sebab kernyit kening itu menjelma tawa gelisah.

Mungkin “maya dan inception” dapat bersekutu membuat sebuah dunia yang terlipat, kan kubuat sebuah lipatan dunia penuh cemas-cemas harap. Sebab mimpi bukan sekedar mimpi tanda kurung, aku dituntut harap tuk terus merayap-rayap. Seperti rayap, kernyit kening itu terus melangkah-langkah serta menggerogoti hati.  Suatu kelak, kan kutulis surat dan ku alamatkan kemimpinya.

 

About Falah

Keepsmile and .... and... and....
This entry was posted in Sastra. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s