Rasa Getir Di Ingatan

tersentak ku dalam kelamnya kata nyawa tuk rehat sejenak jadi manusia, saat mata sasar tertatih-tatih merayap menyingkap walau kalap menyusuri nyeri. aah… basah berdarah, ternyata tindakku tak berdarah! tak mengisahkan senandung bingung berkelindan, yang ada hanya secercah rasa dan tanya dari sebuah keluh gumam jenaka. terlahir dari pertarungan jurus tak berbebntuk antara keberuntungan dan gigil asa, mungkin dengan itu langkah tanya dan rasa dapat bergerak kemuka walau teronta-ronta. lantas apa yang kumekarkan? menatah luka dengan dosa seperti halnya cinta anjing dari neraka, heu..ini hanya sebuh alternatif dari kemungkinan-kemungkinan banyolan teutonik. sadar ku berkelit dari asumsi-asumsi ramalan bersisipkan bias dan kebohongan yang a’rif. memusatkan diri, mengobjekan pikiran rasa asa sendiri, namun ini adalah tindakan lumrah sehari-hari, dan suka menamainya dosa asa. menyimpul rasa getir dalam ingat menggawat meraba-raba mencari tempat berpijak dari kenyamanan menuju keterasingan manja menggombal binal dan menjadikannya gagasan serta monumen tak lupa juga aftertase dan ekstasenya serupa megalomania archa.
ha..ha.. hanya berkubang dalam mimpi goblok, seuntai cerca memburu, meramu, menyatu menjelma peluru. duwar buyar sasar terlempar terkapar menggelepar ditampar lantas sadar. ini aku bahagia menatap diriku sendiri mengelupas ganas, (kataku adalah kata satu-satunya yang aku lucuti, dan tubuhku satu-satunya yang aku cemeti) kah harus ku membicarakan niin disembarang tempat sampah dan di sepanjang waktu berlabuh. kalau tak tubuh ku kan ditumbuhi hewan menjijikan berupa belatung yang lahir dari rahim jiwa, tapi mengapa ku harus rigid dengannya, dia sketsa rupa bagian dari ongokan daging hayatku, kentut pun mengiau bau kenapa ku harus meracau mencercanya, ngiau bau yang menyisakan wangi busuk itu bagian dari kemenubuhan ku juga, ini bisa sebentuk pengkhianatan pada tubuhnya sendiri. di caci tapi tak dikunci sehingga mengiau bau sendu nan merdu, ya.. seperti anjing neraka. ah, siapa peduli gumam legam tunggal berlarung kambali.
lantas getir hari terus teriak pekak, teriak itu teriak kehidupan tunggal namun berwarna-warni, segala pertentangan tindak tak di tutup-tutupi lagi, ketika engkau menyangkal serta menghunjam aku maka aku akan kembali dari keterpurukan mu. menjatuhkan sekuncup melati mekar kedasar jurang jiwa dan menunggu gaung debum jatuhnya ku kedasar akar sasar, bukanlah sebuah kesia-siaan pembenaran. ini hanya sebentuk redemtion rasa getir ingatan. tapi tetap disela pongah tengadah menyematkan asa keramat menyanyat-nyayat.

About Falah

Keepsmile and .... and... and....
This entry was posted in Sastra. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s