Sejarah Islamisasi Sains

Al Islam ya’lu wa la yu la alayhi “ (Islam adalah unggul dan tidak terungguli oleh yang lain) Itulah adagium dalam bahasa arab yang selama berabad-abad umat muslim betul-betul memahami secara taken for granted. Artinya sejak lahirnya Islam ditanah arab pada abad ke delapan dengan kekuatan yang luar biasa serta menakutkan sehingga menyapu bersih kepercayaan sebelummya yang kemudian terbukti suprioritasnya sampai abad modern sebagai pemegang supremasi dunia. Peradapan Islam sebagai zaman keemasan Islam yang muncul ada abad kedua belas tumbuh menjadi peradapan yang tidak tertandingi dan menjadi pusat kesejahteraan yang luar biasa.

Peradaban ini ditandai dengan kemajuan di segala bidang pengetahuan dan tehnologi, sains, kesusastraan dan filsafat, seperti abu bakar ar razi yang didunia barat dikenal dengan razes menulis sebuah eksklopedia tentang ilmu medis dan sebuah buku tentang ilmu kimia yang kemudian diterjemahkan kedalam bahasa latin, atau Ibnu sina atau Avecina pengarang buku medis yang kemudian dikenal oleh dokter-dokter Eropa hingga abad ketujuh belas atau juga Abu Raihan al-Biruni selaku tokoh yang mengembangkan metode luar biasa dalam menentukan posisi matahari dan bahkan menyempurnakan dasar-dasar pengetahuan tentang garis bujur serta garis lintang jauh sebelum sebagian besar penduduk dunia mengetahuinya dan masih banyak hal lagi yang dilahirkan oleh Islam walaupun masih belum begitu dinikmati oleh umat Islam atau non Islam secara global. Namun hal ini sudah menjadi nilai tersendiri. sehingga umat Islam menyakini itulah adi kuasanya. Subtansiasi ini terutama bisa dilihat dalam sejarah keilmuan Islam

Namun kegemilangan peradaban umat Islam kemudian hanya menjadi artefak yang menyimpan sejuta nostalgia keindahan sejarah. Peradaban yang gilang gemilang dengan segala kecanggihan keilmuannya terlelap dalam ayunan sejarah. Faktor yang menjadi musabab susutnya peradaban umat Islam bagai dua bilah pisau yang menyayat kokohnya peradaban. Pertama, kekalahan umat Islam dalam perang salib III sehingga konsekwensi yang harus diterima adalah hancur (dibumi hanguskan) dan hilangnya (dirampas) ruh peradaban (misalkan karaya-karya keilmuan). Kedua, Umat Islam yang terpesona oleh anggunnya pemikiran para intelektual mutahir pada waktu itu yang menyebabkan mandegnya dilektika nalar.

Revolusi industri di Inggris dan revolusi sosial politik di perancis pada paruh kedua abad delapan belas itu merupakan awal lahirnya zaman “modern’ yang juga seringakali disebut sebagai masa renaisance (pencerahan). Yang diikuti secara kontradiktif dalam perdaban (umat) Islam yang mengalami kemunduran-kemunduran sistemik dalam alur peradabannya. Barat seakan berlari dengan cepat meninggalkan waktu, sedangkan umat Islam mundur tearatur dan larut dalam kegetiran sejarah yang tak lagi bersahabat. Barat mencapai sukses luar biasa dengan tekhnologi masa depannya. Sedangkan umat Islam hanya menjadi penonton bahkan “terbuai” oleh kenikmatan semu yang disuguhkan oleh Barat dengan kecanggihan tekhnologinya.

Sejarah gemilang peradaban Islam pada zaman pra modern (yang juga dianggap sebagai pembuka gerbang zaman modern) tidak mampu membangkitkan hasrat dikalangan umat Islam untuk meretas sejarah melawan angkuhnya peradaban modern (barat). Keterputusan “masa” juga menjelma menjadi keterputusan “spirit” keilmuan dikalangan umat Islam. Eloknya sejarah hanya menciptakan pemuasan hasrat dalam ruang imaji yang tak mampu tersalurkan, terepresi oleh mesin-mesin produksi pengetahuan modern yang mampu menciptakan fantasi-fantasi kecil dalam akar kognisi umat Islam. Fantasi yang hanya membuat umat Islam berejakulasi dini.

Barat dengan kuasa ilmu penegtahuanya mampu menjinakkan seluruh lapisan dunia dengan segala konteks peradaban yang menyertainya. Termasuk peradaban (umat) Islam. Umat islam hanya menjadi objek dari proyek moderinisasi. Dan naifnya umat Islam tidak sadar atau bisa dikatakan tertidur dalam menikmati kolonialisme itu. Hal ini akibat lemahnya pengetahuan dan pemahaman terhadap Islam sekaligus materialisme barat sehingga umat semakin tergantung pada barat. Mereka (baca umat Islam) mempelajari sains barat tanpa menyadari kaitan tali temali histories barat dan ilmu-ilmu barat, sehingga bangsa-bangsa Islam jatuh kedalam hegemoni barat dan proses ini mengakibatkan esensi peradapan Islam semain runtuh (tak berdaya). Imprealisme cultural barat berkembang menjadi apa yang disebut kolonialisme peradaban.

Kolonialisme merupakan kejahatan terbesar dalam sejarah kemanusiaan yang dilakukan barat pada non barat khusunyai Islam. Hal ini tidak bisa dibiarkan. Maka menurut Al Faruqi yang perlu dilakukan pertama adalah revitalisasi peradapan (pengetahuan) melalui Islamisasi pengetahuan (baca sains). Gagasan islamisasi pengetahuan akhirnya benar-benar lending dengan mendapatkan dukungan yang cukup luas dari kalangan intelektual Muslim seperti al-Attas, Sardar dan para intelektual Islam lainnya. Yang mana program Islamisasi pengetahuan ini dianggap mendapat tempat yang istimewa dalam gerakan kebangkitan Islam abad kelima belas Hijriyah.

Untuk mendukung proyek besar islamisasi pengetahuan, langkah awal yang dilakukan adalah dengan membentuk lembaga Pemikiran Islam (The International Institute of Islamic Thought or IIIT) yang berpusat di wangsington DC Amerika tahun 1981. Prof.Dr.Ismail Raji’ al-Faruq yang tak lain adalah direktur utama IIIT dimana dia adalah seorang yang berdimensi dua dunia. Barat dan timur. Ia mempunyai semangat Islam yang tinggi manakala ia mengamati dan membandingkan keadaan barat dengan masyarakat Islam. Bahkan ketika ia berdomisili di amerika akibat terusir dari Pakistan (ketika jatuh bangunnya perang salib) acapkali mengeluh amerika yang selalu berlaku tidak adil terhadap Islam, apalagi ketika ia melihat sifat sentimenya yang luar biasa dengan mengkampanyekan bahwa umat Islam adalah sekelompok makhluk liar yang hanya bisa melakukan kejahatan dan sebagai penghambat peradaban kristen, sedangkan orientalis menambahkan bahwa ajaran Islam tidak lain adalah serpihan-serpihan perjanjian lama. Sementara kondisi ilmu-ilmu sosial yang diajarkan di universitas hanya menjadikan dunia Islam sebagai obyek perencanaan kebijakan
Sebagai gebrakan awal setelah IIIT diresmikan pendiriannya pada tahun 1981, adalah dengan membuat pagelaran seminar tentang islamisasi penegtahuan bekerjasama dengan Universitas Islamabad Pakistan yang juga dikenal dengan The First International Conference Thought and Islamization of Knowle (1981). Forum tersebut dihadiri oleh kalangan intelektual muslim yang ada di berbagai penjuru dunia. Peserta seminar sepakat bahwa displin-displin ilmu penegtahuan modern pada prinsipnya berlandaskan pada pembawaan dan tabiat Barat. Ia berkembang dalam lingkungan kebudayaan barat dan ditujukan untuk memuaskan hasrat-hasrat, harapan, pikiran dan kehidupan barat. Dengan demikian pada dasarnya ilmu pengetahuan yang lahir di Barat bias idologis, tidak bebas nilai seperti yang diagung-agungkan.

Objektifitas, Universalitas dan Bebas nilai yang menjadi asas penegtauhan modern mengalami goncangan setelah sekian lama berada diatas singgasana kuasa pengetahuan. Positifistik yang menjadi satu-satunya oaradigma dalam ilmu pengetahuan mengalami krisis, tidak mampu lagi mempertahankan dominasi dalam jagat ilmu pengetahuan. Yang memunculkan berbagai paradigma yang saling bertarung dalam arena peperangan pardigma seperti yang digambarkan oleh Thomas Kuhn. Disinilah Islamisasi sains menggeliat untuk ikut berpartispasi dalam pertarungan paradigma. Tapi sayang masuknya islamisasi sains dalam arena perag paradigma hanya bersenjatakan romatisme sejarah masa lalu. Layaknya berjihad dengan bekal terikan “Allahu Akbar” sebagai simbol katauhidan.

Catatan Hitam Sejarah Sains dan Agama

Revolusi industri di Inggris dan revolusi sosila politik di Perancis sebagai momentum lahirnya zaman modern melahirkan babak baru dalam drama persinggungan antara agama dan pengetahuan (filsafat). Persinggungan yang cenderung dikotomik dan sulit untuk didamaikan dan selalu menampilkan kontradiksi-kontradiksi dalam menghadirkan nilai-nilai kebenaran dalam memahami kehidupan. Gereja yang sebelumnya merupakan otoritas yang fatwa-fatwanya tidak terbantahkan harus menghadapi pemberontakan-pemberontakan dari kalangan ilmuan seperti Copernicus dan Galileo yang merupakan ahli astronomi teori-teroinya menentang asumsi-asumsi tentang alam semesta yang dibuat oleh gereja yang didasarkan pada Alkitab. Dalam sebuah dialog yang paling terkenal menurut Wallace, antara Galileo dan Bellarmine dimulai bisasi-biasa saja pada tahuan 1615, tetapi berakhir dalam konflik pahit pada 1633, ketika Galileo dipaksa untuk menyerah pada Inkuisisi. Dengan teleskopnya yang baru disempurkan, Galileo menumukan hal-hal yang tampaknya bertentangan dengan Alkitab. Dan Galileo berucap “kebenaran tidak mungkin bertentangan dengan kebenaran untuk itulah tafsirkan kembali firman-firman dalam kitab suci sehingga sesuai dengan kitab suci”. Namun pada waktu itu sains yang diwakili Galileo harus menerima kekalahan dari agama, dan Galileopun diancam dengan siksaan dan hukuman mati.
Walupun Galileo mengalami kekalahan, bukan berarti menyurutkan nyali para ilmuwan untuk mengungkap segala misteri kehidupan. Dua ratus tahuan kemudian, Darwin menerbitkan The Origin of species pada tahuan 1859. Buku tersebut menguncang dunia ilmiah dan agama. Dalam buku tersebut Darwin menyatakan bahwa kehidupan berkembang tidak seperti yang diceritakan oleh para ruhaniawan di Gereja. Manusia bukan lagi keturunan nabi yang ditempatkan di surga. Ia tidak turun dari langit. Ia turun dari monyet. Walaupun Darwin ahirnya menjadi ateis dan tidak mau melakukan dialog terbuka dengan gereja, Huxley mewakilinya dan berhadapan dengan Wilberforce. Dialog tersebut membuat hadirin terkesima yang diwarnai dengan salah seorang perempuan terkemuka, Lady Browster yang jatuh pingsan. Sebagimana Galileo takluk di depan pengadilan gereja, Wilberforce tewas dihadapan pengadilan ilmiah. Sains menang dan agama kalah.
Sejak saat itu, sains dikenal sebagai pemberontak terhadap otoritas gereja. Berpikir bebas menjadi senjata ampuh untuk menolak berpikir apriori yang dikembangkan oleh gereja dengan Alkitab sebagai legitimasi otoritasnya. Perkembangan saians melaju cepat sehingga gerjapun tidak sanggup untuk menghentikannya. “Kebebasan berpikir” yang dikembangkan waktu itu melahirkan sejumlah filsafat sekuler. Yang mencapai puncaknya dengan lahirnya positfitik sebagai satu sistem filsafat ilmu yang melahirkan bangunan ilmu pengetahuan modern. Bahkan Comte memproklamasikan ilmu pengetahuan sebgai agama baru untuk menggantikan kedudukan gereja sebagai pemegang otoritas kebenaran. Yang disebutnya juga sebagai agama kemanusiaan dengan ilmuwan sebagai pendetanya.

Seiring dengan perjalanan waktu yang terus melaju dengan cepat, ilmu pengetahuan yang berpijak dari masa renaisance juga berkembang pesat. Kobaran api sekulerisasi menyebar tak terkendali ke seluruh dunia. Origin of Species-nya Darwin memberikan mekanisme keberadaan manusia tanpa sang Maha Pencipta. Psikoanlisinya Freud menghilangkan kredibilitas rasa keberagamaan, perasaan beragama hanya merupakan perasaan kenak-kanakan yang membutuhkan perlindungan dari seorang ayah. Marx yang dianggap ateis karena menbarkan statemen Tuhan adalah Candu. Serta banyak ilmuwan lainnya yang meragukan bahkan menolak Kuasa Tuhan (Agama) atas alam semesta. Positifisme dengan prinsip fisikalisme yang mencoba membersihkan semua rujukan kepada apapun yang tidak bersifat fisik dari kamus ilmu pengetahuan. Ahirnya ilmu pengetahuan benar-benar menyucikan diri dari agama yang dianggap tidak bisa dibuktikan secara rasional empirik.
Perkembangan pesat sain membuat masyrakat dunia terpesona dan tanap tersadari ilmu pengatahuan telah menjadi Tuhan baru bagi umat manusia. Dengan segala kecanggihan tekhnologinya sains mampu menampilkan pesona tersendiri dalam kehidupan masyarakat modern. Agama tradisonal yang dinaut berabad-abad oleh manusia hanya menjadi aksesoris dlam mesium kehidupan masyarakat modern. Agama tidak lagi menjadi satu-satunya otoritas dalam kehidupan. Bahakan tidak jarang juga agama dianggap sebgai penghalang atau hambatan kemajuan umat manusia.

Pertentangan-pertentangan antara agama dan ilmu penegtahuan dalam sejarah peradaban manusia telah melahirkan keprihatiana tersendiri, seperti yang dirasakan oleh kaum intelektual Islam. Sehingga digagsalah ide perpaduan agama dan sains yang kemudian dikenal dengan islamisasi sains. Dalam sejarah peradaban Islam (yang lebiah didominasi oleh peradaban Arab) perkembangan ilmu penegtahuan (filsafat) mencapai masa yang gilang gemilang dengan lahirnya sejumlah pemikir yang handal bahkan radikal. Perkembangan pemikiran dalam Islam tidak lepas dari perkawinan silang antara tradisi filsafat Yunani dengan tradisi pemikiran lokal. Hasil perkawainan silang tersebut mampu mereproduksi sistem pemikiran yang benar-benar orsinil sebagai sebuah karya agung yang juga dipercaya sebagai pembuka pintu gerbang pemikiran modern.

Layaknya sebuah sejarah pemikiran yang selalu menghadirkan aroma kontradiksi-kontradikasi yang tak pernah putus, dalam sejarah peradaban Islam juga terjadi pergolakan-pergolakan pemikiran yang melibatkan pemikiran (filsafat) dengan agama. Namun dalam pergolakan peikiran dalam peradaban Islam memiliki keberdaan dengan sejarah pemikiran yang muncul dibarat yang mengkerdilakan agama dalam sistem kehidupan. Para intelektual Islam, walaupun mampu menghasilkan pemikiran-pemikiran yang fenomenal dalam ranah keilmuan, tetapi tidak serta merta menolak agama. Bahkan dengan perangkat filsafat mereka mampu memodifikasi warisan ajaran keagamaan agar sesuai dengan perkembangan zaman yang juga diikuti oleh perkembangan nalar manusia yang bergerak dinamis.

Namun karena menggunakan metode filsafat dalam memahami ajaran agama, para ilmuwan (fiosof) tersebut mendapat tentangan-tentangan dari para ulama ortodoks. Bahkan mereka dinobatkan sebagai perusak akidah, bahkan kafir. Filsafat yang bersal dari Yunani dinaggap sebagai sistem pengetahuan yang menyesatkan dan bisa menjerumuskan umat islam pada kekafiran. Puncak penyingkiran pemikiran filsafat dalam masyarakat penetahuan Islam merupkan titik balik dari pesatnya perkembanga ilmu penegtahuan di dunia Islam pada wakt itu. Walupun tidak bisa dilihat secara semena-semena bahwa pelarangan terhadap filsafat merupakan satu-satunya penyebab kemunduran peradaban Islam. Namun pelarangan terhadap filsafat seakan menjadi konsensus bersama dikalangan ulama yang dominasinya yang hegemonik pada masyarakat Islam.

Setelah larut dalam keterpurukan peradaban yang begitu panjang, umat Islam (khusunya yang menobatkan/dinobatkan sebgai intelektual Islam) ingin membangun kembali reruntuhan peradaban yang salah satu idenya adalah islamisai pengetahuan. Tokoh-tokoh seprti al-Faruqi, Sardar dan masih banyak lagi, begitu antusias untuk untuk membangun kembali peradaban Islam dengan jalan mewujudkan islamisai sains sebagai pilarnya.

Maka dari sini bisa dikatakan bahwa gagasan ihkwal sains Islam mencoba untuk melihat sains dari versi Islam. Sehingga kita akan meletakkan posisi Islam dan melihat kinerjanya pada batas-batas Islam. Karena pada prinsipnya Islam dan semua agama menegaskan perlunya menafsirkan segenap aspek kehidupan selaras dengan keimanan. Tidak bisa orang membahas seakan-akan sains berdiri sendiri tanpa ada pertalian dengan agama. Artinya sains sekuler perlu disetarakan dengan agama, walaupun dari satu sisi bahwa sains bersifat berubah-ubah sedangkan agama ditafsirkan sebagai gudang kebenaran yang abadi. Begitu juga Al Attas menjelaskan seyogianya harus membersihkan unsur-unsur yang menyimpang, sehingga pengetahuan yang ada benar-benar Islami dengan kata lain perlu menghasilkan suatu sistem ilmu pengetahuan berbasis Islam

Isu yang dibangun dalam mewujudkan islamisasi pengetahuan adalah gerakan yang mereka kembangkan memiliki tujuan untuk menerapkan kembali semangat keislaman dalam ranah ilmu pengetahuan, yang memiliki orisinilitas dan mengakar pada teradisi Islam sendiri. Upaya ini diletakkan sebagai pra syarat menghadirkan kembali pada nilai-nilai dalam ilmu pengetahuan yang didasarkan pada al-Qur’an dan As Sunnah yang diyakini memilki kebenaran mutlak. Spirit islamisasi pengetahuan yang dibangun atas gemilangnya tradisi pemikiran Islam pada masa lalu yang juga sebenarnya dibangun diatas kontrdiksi-kontradiksi.

Diakui atau tidak dalam catatan secarah, yang seringkali disembunyikan, menggambarkan betapa sejarah pemikiran Islam seingkali tidak berpihak pada llmu pengetahuan. Persandingan filsafat dengan tradisi pemikiran lokal Umat Islam disngkirkan karena dianggap tidak sesuai dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Islam. Padahal bangunan superioritas peradaban beridri diatas pengaruh filsafat dalam tradisi pemikiran Islam yang berhasil melahirkan para Intelektual Muslim yang disegani hasil kreasi nalarnya. Namun para intelektual yang telah berhail membangun pilar-pilar peradaban harus tesingkir dengan perlarangan-pelarangan yang dilakukan oleh sebagian intlektual yang hanya tahunya dalam bidang ilmu keagamaan. Naifmya, kalmi-klaim pemurtadan dan pengkafiran sampai saat ini masih mengakar pada umat Islam. Sehingga menutup diri terhadap pemikiran-pemikiran yang dianggap menyesatkan.

About Falah

Keepsmile and .... and... and....
This entry was posted in Sains. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s