Takaran Berbeda Tapi Satu Itulah Vedanta

Oleh Muhammad Darussakau

saat sesudah membaca tatapku kososng tapi meniba rasa ingin kencing  terasa amat sangat, kekosongan itu ranggas seketika sekujur tubuhku respek bangun dari kediamannya. seketika aku melangkahkan kakiku ada botol aqua dihadapan indraku, aku menegaknya terlebih dahulu agar air seninya  banyak tuk dienyahkan. botol itu pun aku simpan dan aku mengurungkan niat semula yaitu membuang beban dunia, tibalah aku ditempat tujuan dia bernama wc aku masuki dia dengan menbuka pintunya. ku tutup kembali pintunya lantas kubuka seleting celanaku begitupun kolorku agar anuku dapat dengan leluasa memuntahkan air seninya.

seni pun mengalir dengan teramat hening sebab seni itu ku jorokkan ketembok, putaran pertama keluarlah seni itu tapi ada putaran ketiga diantara putaran kesatu dan ketiga putaran kedualah yang berbeda karena ada getaran tubuh merinding, satu dan tiga tak ada hentakan samasekali meniba aku teringat vedanta, apakah ini yang dia maksud “segala sesuatu adalah satu” !

kututup celana dalamku begitu juga seleting celanaku kubuka pintu wc lantas kututup, kulihat orang mengantri mungkin banyak kemungkinan diantara pengantri wc itu. mungkin ada yang membuang air kecil saja atau buang air besar ples mandinya atau hanya untuk membersihkan giginya saja atau sekedar berwudzu itulah lautan kemungkinan orang ke wc, tapi dari para pengantri wc itu tujuannya sama, sama-sama mau ke wc entah apa saja yang mereka lakukan di wc intinya sama, disini kudapatkan lagi dari ajaran vedanta tentang kesatuan.

ada cerita lain menyelinap kita anggap saja dia sebagai jelangkung karana tidak diundang, tapi tak mengapa mungkin dia ingin diakui keberadaan eksistensinya. “ada sebuah sungai sebagai sumber mata air di sebuah desa langit-langit, setiap harinya banyak warga desa langit-langit mengambil air disungai kehidupan diantara mereka ada yang mengambil air hanya dengan gelas sebatas untuk diminum langsung, ada yang membawa kendi, sejenis ember, ada yang membawa bejana, dan ada-ada saja sejenis wadah untuk menampung air. disudut sungai ada seorang mengambil hikmah dari para pengambil air disungai kehidupan “tujuan merka sama hanya untuk mengambil air untuk kebutuhan hidup, tapi hanya masalah takarannya saja yang berbeda itulah sebuah kesatuan dari keberbedaan dari takaran, di dalamnya sama-sama air yang mereka butuhkan”. ternyata cerita jelangkung benar-benar membuktikan kredebilitasnya sebagai tamu tak diundang, aku tersenyum vedanta akan menjelma disetiap kesadaran seseorang yang menyadarinya dan cahanya itu akan membuat manusia terjaga diantara ketakjagaan berada.

About Falah

Keepsmile and .... and... and....
This entry was posted in Sastra. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s