Teori Konstruk Ilmu

KONSTRUK TEORI (THEORITICAL CONSTRUCTION) ) DAN

PARADIGMA (PARADIGM)

Untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah penulisan karya ilmiah

 

Disusun oleh :

LUSSI MAELUSSIMAH

208100224

UNIVERSITAS ISLAM NEGRI SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

2010 M

 

PENDAHULUAN

  1. A. Latar Belakang

Pada dasarnya suatu teori dirumuskan untuk menjelaskan dan meramalkan fenomena yang ada. Bangunan suatu teori yang merupakan abstrak dari sejumlah konsep yang disepakatkan dalam definisi-definisi  akan mengalami perkembangan, dan perkembangan itu terjadi apabila teori sudah tidak relevan dan kurang berfungsi lagi untuk mengatasi masalah. Jika suatu teori ingin diakui sebagai ilmiah, teori ini haruslah cocok (compatible) dengan teori-teori lain yang telah diakui sebelumnya. Dan jika suatu teori memiliki kesimpulan prediktif yang berbeda dengan teori lainnya, salah satu di antara kedua teori tersebut salah.

Penerimaan suatu teori di dalam komunitas ilmiah, tidak berarti bahwa teori tersebut memiliki kebenaran mutlak. Setiap teori selalu sudah dipengaruhi oleh pengandaian-pengandaian dan metode dari ilmuwan yang merumuskannya. Kemampuan suatu teori untuk memprediksi apa yang akan terjadi  merupakan kriteria  bagi validitas teori tersebut. Semakin prediksi dari teori tersebut dapat dibuktikan, semakin besar pula teori tersebut akan diterima di dalam komunitas ilmiah[1] Ketika suatu bentuk teori telah dianggap mapan di dalam komunitas ilmiah, maka hampir semua ilmuwan dalam komunitas ilmiah tersebut menggunakan teori yang mapan itu didalam penelitian mereka. Teori yang mapan dan dominan itu disebut oleh Kuhn sebagai paradigma.[2]

Paradigma adalah cara pandang atau kerangka berfikir yang berdasarkannya fakta atau gejala diinterpretasi dan dipahami. Para ilmuwan bekerja dalam kerangka seperangkat aturan yang sudah dirumuskan secara jelas berdasarkan paradigma dalam bidang tertentu, sehingga pada dasarnya solusinya sudah dapat diantisipasi terlebih dahulu. Jika dalam perjalanan kegiatannya timbul hasil yang tidak diharapkan, atau penyimpangan dari paradigmanya yang oleh Kuhn disebut sebagai anomali[3], akan menyebabkan perubahan paradigma karena adanya anomaly itu kemudian menyebabkan sikap ilmuawan terhadap paradigma yang berlaku berubah, oleh karena itu sifat penelitian mereka juga berubah.

  1. B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut di atas pemakalah mengemukakan beberapa permasalahan sebagai berikut: (1).Bagaimana pengertian teori dan paradigma? (2). Bagaimana konstruk  teori? (3). Bagaimana Konstruk paradigma?

 

PEMBAHASAN

A. Pengertian  Teori dan Paradigma

Kata ‘teori” secara etimologi berasal dari bahasa Yunani yaitu theorea, yang berarti melihat, theoros yang berarti pengamatan[4].

Adapaun pengertian teori menurut terminologi memiliki beberapa pengertian seperti yang dikemukakan oleh ilmuwan sebagai berikut:

Kerlinger mengemukakan bahwa teori adalah suatu kumpulan variabel yang saling berhubungan, definisi-definisi, proposisi-proposisi yang memberikan pandangan yang sistematis tentang fenomena dengan mempesifikasikan relasi-relasi yang ada di antara beragam variabel, dengan tujuan untuk menjelaskan fenomena yang ada”[5].

Cooper and Schindler (2003), mengemukakan bahwa, A theory is a set systematically interrelated concepts, definition, and proposition that are advanced to explain and predict phenomena (fact). Teori adalah seperangkat konsep, defininisi dan proposisi yang tersusun secara sistematis sehingga dapat digunakan untuk menjelaskan dan meramalkan fenomena.

Dalam bidang Administrasi Hoy & Miskel (2001) mengemukakan defenisi bahwa teori adalah seperangkat konsep, asumsi, dan generalisasi yang dapat digunakan untuk mengungkapkan dan menjelaskan perilaku dalam berbagai organisasi.

Teori menurut Sugiyono adalah alur logika atau penalaran, yang merupakan seperangkat konsep, defenisi, dan proposisi yang disusun secara sistematis. Secara umum teori mempunyai tiga fungsi, yaitu untuk menjelaskan (explanation), meramalkan (prediction), dan pengendalian (control) suatu gejala[6].

Berdasarkan pengertian teori tersebut dapat kita mengemukakan bahwa teori memiliki komponen-komponen yang terdiri atas: Konsep, fakta, fenomena, defenisi, proposisi dan variabel.

  1. Kata “paradigma”  berasal dari bahasa Yunani yaitu paradeigma yang berarti contoh, tasrif, model[7]. Paradigma ini dapat pula berarti: 1. Cara memandang sesuatu, 2. Dalam ilmu pengetahuan berarti model, pola, ideal. Dari model-model ini fenomena yang dipandang, diperjelas, 3. Totalitas premis-premis teoritis dan metodologis yang menentukan atau mendefenisikan suatu studi ilmiah konkret.4 Dasar untuk menyeleksi problem-problem dan pola untuk memecahkan problem-problem riset[8].

Menurut Nasim Butt (1996) suatu paradigma merupakan teori-teori yang berhasil secara empiris yang pada mulanya diterima dan dikembangkan dalam sebuah tradisi penelitian sampai kemudian ditumbangkan oleh paradigma yang lebih progresif secara empiris[9].

Di dalam penelitian diartikan sebagai pola pikir yang menunjukkan hubungan antara variabel yang akan diteliti yang sekaligus mencerminkan jenis dan jumlah rumusan masalah yang perlu dijawab melalui penelitian, teori yang digunakan untuk merumuskan hipotesis, jenis dan jumlah hipotesis, dan teknik analisis statistik yang akan digunakan[10].

Menurut Husain Heriyanto paradigma adalah seperangkat asumsi-asumsi teoritis umum dan hukum-hukum serta teknik-teknik aplikasi yang dianut secara bersama oleh para anggota suatu komunitas ilmiah[11]. Thomas Kuhn dalam bukunya The Structure of Scientific Revolution (1972) menggunakan istilah paradigma dalam dimensi yang berbeda yaitu: 1. Paradigma berarti keseluruhan perangkat  – ‘kontelasi’ – keyakinan, nilai-nilai, teknik-teknik, dan selanjutnya yang dimiliki oleh para anggota suatu masyarakat. 2. Paradigma berarti unsur-unsur tertentu dalam perangkat tersebut, yakni cara-cara pemecahan atas suatu teka-teki, yang digunakan sebagai model atau contoh, yang dapat menggantikan model atau cara yang lain sebagai landasan bagi pemecahan atau teka-teki dalam ilmu pengetahuan normal.

Menurut AF. Saifuddin setiap paradigma mengandung teori-teori yang memiliki logika, prosedur metodologi dan implikasi teoritis sehingga tidak relevan bila suatu paradigma diperbandingkan apalagi dipertentangkan dengan paradigma yang lain (lihat Kuhn, 1978). Kritik terhadap suatu paradigma harus berlangsung dalam paradigma itu sendiri, tidak dari pandangan paradigma yang lain. Dalam bahasa awam, seekor ular tidak akan sama dengan seekor harimau, maka tidak beralasan untuk memperbandingkan keduanya apalagi mempertentangkan atau memperdebatkannya[12].

B. Konstruk Teori

Bangunan teori adalah abstrak dari sejumlah konsep yang disepakatkan dalam definisi-definisi. Konsep sebagai abstraksi dari banyak empiri yang telah ditemukan kesamaan umumnya dan kepilahannya dari yang lain atau abstraksi dengan cara menemukan sejumlah esensi pada suatu kasus, dan dilakukan berkelanjutan pada kasus-kasus lainnya, dapat dikonstruksikan lebih jauh menjadi proposisi atau pernyataan, dengan membuat kombinasi dari dua konsep atau lebih. Bangunan-bangunan teori tersebut antara lain:

1. Teori Ilmu

Teori ilmu memiliki dua kutub arti teori. Kutub pertama adalah teori sebagai hukum eksprimen muncul beragam, mulai dari hasil eksprimen tersebut meluas ke hasil observasi phisik seperti teori tentang panas bumi. Kutub kedua adalah hukum sebagai kalkulus formal dapat muncul beragam pula, mulai dari yang dekat dengan kutub pertama seperti teori sebagai eksplanasi phisik misalnya teori Galileo tentang peredaran planet pada porosnya, teori sinar memancar melengkung bila lewat medan gravitasi. Selanjutnya teori sebagai interpretasi terarah atas observasi seperti teori sosial statis dan sosial dinamis dari August Comte dan pada ujung kutub kedua adalah teori sebagai prediksi logik; dengan sifatnya berlaku umum dan diprediksikan berlaku kapan pun dahulu dan yang akan datang, seperti teori evolusi dari Darwin,  teori relativitas dari Einstein[13]yang memnberikan penjelasan alternatif tentang sumber energi yang memungkinkan matahari menghasilkan energi begitu besar dalam waktu begitu lama[14].

2. Temuan Substantif Mendasar

Temuan-temuan atas bukti empirik dapat dijadikan tesis substantif, dan diramu dengan konsep lain dapat dikonstruk menjadi teori substantif. Asumsi keberlakuan tesis substantif tersebut ada pada banyak kasus yang sama di tempat dan waktu berbeda[15]. Temuan huruf baca hirogliph Mesir, huruf baca kanji Jepang dan Cina adalah symbol-simbol untuk benda-benda Huruf baca lebih maju tampil sebagai simbol-simbol ucapan. Angka-angka Rumawi dan Latin adalah simbol-simbol, seperti X adalah simbol dari 10, L =50, M = 100,  dan seterusnya. Huruf tulis yang kita gunakan adalah huruf Latin. Jika angka ilmu pengetahuan yang kita gunakan  adalah angka latin, bagaimana matematika dan ilmu eksakta lain akan dapat dikembangkan dengan huruf-huruf simbol X,L,M, dan lainnya. Angka arab yang kita gunakan dalam  berilmu pengetahuan sekarang ini bukan representasi simbol, melainkan representasi placed value. Sama-sama angka 5 dengan letak berbeda, berbeda nilainya. Contoh: 5.555.55. Itu merupakan temuan  teori substantif mendasar.

Demikian pula persepsi ilmuwan tentang atom, berkembang. Dari partikel terkecil, ke ditemukannya unsur radioaktif pada atom, dan diketemukannya unsur-unsur electron yang berputar mengorbit pada proton yang mempunyai kekuatan magnetik. Kemudian pada tahun 1937 diketemukan neutron, semacam proton, tetapi tidak mempunyai kekuatan magnetik. Berat neutron beragam dan inilah yang menyebabkan atom satu beda beratnya dengan atom yang lain. Temuan teori atom ini merupakan temuan ilmiah substantif  mendasar[16].

3. Hukum-hukum Keteraturan

a. Hukum Keteraturan Alam

Alam semesta ini memiliki keteraturan yang determinate. Ilmu pengetahuan alam biasa disebut hard science, karena segala proses alam yang berupa benda anorganik sampai organik dan hubungan satu dengan lainnya dapat dieksplanasikan dan diprediksikan relatif tepat. Kata relatif  tepat momot dua makna: pertama, bila teori yang kita gunakan untuk membuat eksplanasi atau prediksi sudah sangat lebih baik, dan kedua, bila variabel yang ikut berperan lebih terpantau[17].

Menurut al-Kindi ketertiban alam ini, baik susunan, interaksi, relasi bagian dengan bagiannya, ketundukan suatu bagian pada bagian lainnya, dan kekukuhan strukturnya di atas landasan prinsip yang terbaik bagi proses penyatuan, perpisahan, dan muncul serta lenyapnya sesuatu dalam alam, mengindikasikan adanya pengaturan yang mantap dan kebijakan yang kukuh. Tentu ada Pengatur Yang Maha Bijaksana dibalik semua ini, yaitu Allah[18].

b. Hukum Keteraturan Hidup Manusia

Hidup manusia itu memiliki keragaman sangat luas. Ada yang lebih suka kerja keras dan yang lain menyukai hidup santai, ada yang tampil ulet meski selalu gagal, yang lain mudah putus asa, ada yang berteguh pada prinsip dan sukses dalam hidup, yang lain berteguh pada prinsip, dan tergilas habis. Kehidupan manusia mengikuti sunnatullah, mengikuti hukum yang sifatnya indeterminate. Mampu membaca kapan harus teguh pada prinsip, kapan diam dan kapan berbicara dalam nada bagaimana, dia akan sukses beramar ma’ruf nahi mungkar. Manusia mempunyai kemampuan untuk memilih yang baik, dan menghindari yang tidak baik. Dataran baik tersebut dapat berada pada dataran kehidupan pragmatik sampai pada dataran moral human ataupun moral religious. Memilih kerja yang mempunyai prospek untuk menghidupi keluarga, merupakan kebebasan memilih manusia dengan konsekuensi ditempuhnya keteraturan sunnatullah; harus tekun bekerja dan berupaya berprestasi di dunia kerjanya. Untuk diterima kepemimpinannya, seorang pemimpin perlu berupaya menjadi shiddiq, amanah, dan maksum. Kedaan demikian berkenan dengan pemikiran Ibnu Bajjah yang membagi perbuatan manusia kepada perbuatan manusiawi, yaitu perbuatan yang didorong oleh kehendak/kemauan yang dihasilkan oleh pertimbangan pemikiran, dan perbuatan hewani yaitu perbuatan instingtif sebagaimana terdapat pada hewan, muncul karena dorongan insting dan bukan dorongan pemikiran[19]

c. Hukum Keteraturan Rekayasa Teknologi

Keteraturan alam yang determinate, dapat dibedakan menjadi dua, yaitu keteraturan substantif dan ketraturan esensial. Seperti Pohon mangga golek akan berbuah mangga golek. Ketika ilmuwan berupaya menemukan esensi rasa enak pada mangga, menemukan esensi buah banyak pada mangga, dan menemukan esensi pohon mangga yang tahan penyakit, ilmuwan berupaya membuat rekayasa agar dapat diciptakan pohon mangga baru manalagi yang enak buahnya, banyak buahnya, dan pohonnya tahan penyakit, di sini nampak bahwa ilmuwan mencoba menemukan keteraturan esensial pada benda organik. Produk teknologi merupakan produk kombinasi antara pemahaman ilmuwan tentang keteraturan esensial yang determinate dengan upaya rekayasa kreatif manusia mengikuti hukum keteraturan sunnatullah[20]

4. Konstruk Teori Model Korespondensi

Konstruk berfikir korespondensi adalah bahwa kebenaran sesuatu dibuktikan dengan cara menemukan relasi relevan dengan sesuatu yang lain. Tampilan korespondensi tersebut beragam mulai dari korelasi, kausal, kontributif, sampai mutual. Konstruk berfikir statistik kuantitatif dan juga pendekatan positifistik menggunakan cara ini. (Menurut Bertand Russel suatu pernyataan benar jika materi pengetahuan yang dikandung oleh pernyataan itu berkorespondensi (berhubungan/cocok) dengan obyek yang dituju oleh pernyataan itu. Misalnya, jika ada seseorang yang mengatakan “ Ibu kota republik Indonesia adalah Jakarta” maka pernyataan itu benar sebab pernyataan itu sesuai dengan fakta objektif.

Pada akhir abad XIX dan permulaan abad XX, terobosan-terobosan dramatik telah dilakukan dalam logika formal. Secara khusus jelas dihargai bahwa hal dapat ditarik kesimpulan, dapat dikonstruksi sebagai sebuah relasi formal yang sepenuhnya indefenden dari maknanya. Misalnya, orang dapat menyimpulkan kalimat r dari kalimat-kalimat s dan “jika s maka r” tanpa mengetahui apapun tentang apa yang diklaim (dinyatakan) kalimat-kalimat s dan r. Para penstudi dan ahli logika menyelidiki kemungkinan pengkonstruksian (pembentukan) bahasa-bahasa formal yang di dalamnya relasi-relasi logikal akan menjadi persis (terumus secara cermat). Dari aksioma-aksioma teori itu semua teorema secara murni formal akan mengikuti ( seperti r mengikuti dari s dan “jika s maka r”) sebab teori itu mengatakan kepada kita tentang dunia, ia memerlukan sebuah ‘interpretasi”: Kita harus diberi tahu apa yang menjadi makna dari term-termnya dan pernyatan-pernyataan pendiriannya. “Correspondence rule” (aturan kores pondensi) adalah pernyataan-pernyataan yang sekaligus dimaksudkan untuk menyediakan interpretasi itu dan untuk memungkinkan klaim-klaim dari teori-teori yang sekarang sudah diinterpretasi dapat diuji.

5. Konstruk Teori Model Koherensi

Konstruk teori model koherensi merentang dari koheren dalam makna rasional sampai dalam makna moral. Konstruk koheren dalam makna rasional adalah kesesuaian sesuatu dengan skema rasional tertentu, termasuk juga kesesuaian sesuatu dengan kebenaran obyektif rasional.

Aristoteles dalam teori koherensi memberikan standar kebenaran dengan cara deduktif, yaitu kebenaran yang didasarkan pada kriteria koherensi yang dapat diungkap bahwa berdasarkan teori koherensi suatu pernyataan dianggap benar bila pernyataan itu bersifat koheren atau konsisten dengan pernyataan sebelumnya yang dianggap benar. Bila kita menganggap benar bahwa “semua manusia pasti mati” adalah pernyataan yang benar, maka pernyataan bahwa “si fulan adalah seorang manusia dan si Fulan pasti mati” adalah benar pula. Sebab pernyataan kedua adalah konsisten dengan pernyataan yang pertama.

Konstruk berfikir koherensi kedua adalah yang dilandaskan kepada kebenaran moral dan nilai. Sesuatu dipandang sebagai benar bila sesuai dengan moral tertentu. Moral dalam maknanya yang luas menyangkut masalah: right or wrong, truth or false, justice or unfair, human or inhuman dan lainnya. Hal ini terkait dengan kehidupan budi yang terjelma dalam proses penilaian itu merupakan ciri manusia yang terpenting dalam kehidupan individu, masyarakat dan kebudayaan, sebagai makhluk yang berkelakuan.

6. Konstruk Teori Model Pragmatis

Konstruk teori model Prgmatis berupaya mengkonstruk teorinya dari kosep-konsep, pernyataan-pernyataan yang bersifat fungsional dalam kehidupan praktis atau tidak. Kebenaran suatu pernyataan diukur dengan kriteria apakah pernyataan tersebut bersifat fungsional dalam kehidupan praktis atau tidak; Artinya suatu pernyataan adalah benar, jika pernyataan itu atau implikasinya mempunyai kegunaan praktis dalam kehidupan manusia. Kaum pragmatis berpaling pada metode ilmiah sebagai metode untuk mencari pengetahuan tentang alam ini yang dianggap fungsional dan berguna dalam menafsirkan gejala-gejala alamiah. Agama bisa dianggap benar karena memberikan ketenangan pada jiwa dan ketertiban dalam masyarakat. Para ilmuan yang menganut azas ini tetap menggunakan suatu teori tertentu selama teori itu mendatangkan manfaat.

 7. Konstruk Teori Iluminasi

Teori Iluminasi menurut Mehdi Ha’iri Yazdi adalah pengetahuan yang semua hubungannya berada dalam kerangka dirinya sendiri, sehingga seluruh anatomi gagasan tersebut bisa dipandang benar tanpa membutuhkan hubungan eksterior. Artinya hubungan mengetahui, dalam bentuk pengetahuan tersebut adalah hubungan swaobjek tanpa campur tangan koneksi dengan objek eksternal.

Selanjutnya Iluminasi oleh Yazdi disebut sebagai ilmu hudhuri yaitu pengetahuan dengan kehadiran karena ia ditandai oleh keadaan neotic dan memiliki objek imanen yang menjadikannya pengetahuan swaobjek. Ilmu hudhuri tidak memiliki objek diluar dirinya, tetapi objek itu sendiri ada adalah objek subjektif yang ada pada dirinya. Oleh sebagian sufi, iluminasi itu adalah pengetahuan diri tentang diri yang berasal dari penyinaran dan anugerah Tuhan yang digambarkan dengan berbagai ungkapan dan keadaan. Ada yang menyebutkannya dengan terbukanya hijab antara dirinya dengan Tuhan, sehingga pengatahuan dan rahasianya dapat diketahui. Ada yang mengungkapkan dengan rasa cinta yang sangat dalam sehingga antara dia dan Tuhan tidak ada rahasia lagi. Pengetahuan Tuhan adalah pengetahuannya. Dan ada yang menyatakan dengan kesatuan kesadaran (ittihd/hulûl)

C. Konstruk Paradigma

Para ilmuwan dalam kegiatan ilmiahnya membangun paradigma atas berbagai konsep, asumsi-asumsi teoritis umum dan hukum-hukum dalam tatanan tertentu, menyederhanakan yang kompleks yang dapat diterima umum. Di bawah ini dikemukakan beberapa paradigma antara lain:

1. Paradigma Cartesian- Newtonian

Paradigma ini dicanangkan oleh Rene Descartes (1596-1650) dan Isaak Newton (1642-1727). Penggunaan istilah paradigma dalam frase “paradigma Cartesian-Newtonian” mengacu kepada pengertian generik yang diturunkan oleh Thomas Kuhn, yang dalam masterpiece-nya The structure of Scientific Revolutinons (1970) Kuhn menggunakan istilah paradigma untuk banyak arti, seperti matriks disipliner, model, atau pola berpikir, dan pandangan-dunia kaum ilmuwan. Namun pengertian umum yang lebih banyak dipakai paradigma berarti seperangkat asumsi-asumsi teoritis umum dan hukum-hukum serta teknik-teknik aplikasi yang dianut secara bersama oleh para anggota suatu komunitas ilmiah

Istilah paradigma dalam frase paradigma Cartesian-Newtonian digunakan dalam makna yang lebih luas yang tidak hanya berlaku pada komunitas ilmiah melainkan bekerja pada masyarakat modern umumnya. Paradigma dalam hal berarti  suatu pandangan-dunia (world vieu) atau cara pandang yang dianut secara pervasif dan terkandung di dalamnya asumsi-asumsi ontologis dan epistemologis tertentu, visi realitas, dan sistem nilai.

Selanjutnya Paradigma Cartesian-Newtonian mengandung dua komponen utama, yaitu prinsip-prinsip dasar dan kesadaran intersubjektif. Prinsip-prinsip dasar itu adalah asumsi-asumsi teoritis yang mengacu kepada sistem metafisis, ontologis, dan epistemologis tertentu. Sedang kesadaran intersubjektif adalah kesadaran kolektif terhadap prinsip-prinsip dasar itu yang dianut secara bersama sedemikian sehingga dapat melangsungkan komunikasi yang memiliki frame of reference yang sama. Misalnya, konsep ‘maju’ (progress) yang sesuai dengan paradigma Cartesian-Newtonian adalah bertambahnya kepemilikan dan pengusaan manusia terhadap alam. Pengertian konsep ‘maju’ seperti itu telah menjadi kesadaran kolektif yang memungkinkannya komunikasi berlangsung antar manusia modern sedemikian, sehingga bangsa yang mampu mengeksploitasi alam melalui industri disepakati untuk digolongkan sebagai bangsa maju atau Dunia Pertama

Adapun asumsi-asumsi paradigma Cartesian-Newtonian antara lain:

a. Subjektivisme-antroposentristik

Pada asumsi ini mempresentasikan modus khas kesadaran modernisme bahwa manusia merupakan pusat dunia. Kesadaran subjektivisme ini dicanangkan oleh bapak filsafat modern, Rene Descartes. Prinsip pertamanya yaitu Cogito ergo sum ( Aku berpikir, maka aku ada) merupakan bentuk kesadaran subjek yang terarah kepada dirinya sendiri, dan hal itu merupakan basis ontologis terhadap eksistensi realitas eksternal di luar diri sang subjek. Descartes berpendirian bahwa kita pertama kali harus memutuskan apa yang dapat kita ketahui tentang yang riil, dan harus tetap skeptis terhadap realitas sampai kita telah menemukan apa yang dapat kita ketahui. Pendekatan ini disebut Keith Lehrer sebagai epistemologi skeptis. Menurut Gallagher, sejak itu filsafat beralih dari kekaguman terhadap kenyataan kepada kekaguman terhadap pengetahuan kekaguman itu sendiri. Pertanyaan manusia kembali  kepada dirinya sendiri. Descartes menjadikan usahanya untuk mengetahui diri sendiri sebagai objek penyelidikan: Bagaimana saya tahu bahwa saya dapat tahu?. Kesadaran cogito merupakan kesadaran subjek yang terarah kepada diri sendiri.

 b. Dualisme

Penganut paradigma Cartesian-Newtonian membagi realitas menjadi subjek dan objek, manusia dan alam, dengan menempatkan superioritas subjek atas objek. Keterpilahan yang dikotomis ini adalah konsekuensi alamiah dari prinsip Descartes untuk menemukan kebenaran objektif dan universal, yaitu prinsip clearly (jelas) dan  distinctly (terpilah). Paradigma ini menganggap bahwa manusia (subjek) dapat memahami dan mengupas realitas yang terbebas dari konstruksi mental manusia; bahwa subjek dapat mengukur objek tanpa mempengaruhinya, dan sebaliknya tanpa dipengaruhi oleh objek.

Selain itu dualisme meliputi pemisahan yang nyata dan mendasar antara kesadaran dan materi, antara pikiran dan tubuh, antara jiwa cogitans dan benda extensa; serta antara nilai dan fakta. Descartes berkata:” Tidak ada yang tercakup di dalam konsep tubuh menjadi milik akal; dan tidak ada yang tercakup di dalam konsep akal menjadi milik tubuh”. Pemisahan antara akal dan tubuh atau antara kesadaran subjek  dan realitas eksternal telah menimbulkan pengaruh yang luar biasa pada pemikiran Barat yang pada gilirannya juga terhadap pemikiran dunia modern.

 c. Mekanistik- Deterministik

Paradigma Cartesian-Newtonian ditegakkan atas dasar asumsi kosmologis bahwa alam raya merupakan sebuah mesin raksasa yang mati, tidak bernyawa dan statis. Bahkan bukan alam saja, segala sesuatu yang di luar kesadaran subjek dianggap sebagai mesin yang bekerja menurut hukum-hukum matematika yang kuantitatif, termasuk tubuh manusia. Ini merupakan konsekuensi alamiah dari paham dualisme yang seolah-olah menghidupkan subjek dan mematikan objek. Karena subjek hidup dan sadar, sedangkan objek berbeda secara diametral dengan subjek, maka objek haruslah mati dan tidak berkesadaran. Dengan demikian paradigma Cartesian-Newtonian menganggap bahwa  realitas dapat dipahami dengan menganalisis dan memecahnya menjadi bagian-bagian kecil, lalu dijelaskan dengan pengukuran kuantitatif. Hasil penyelidikan dari bagian-bagian kecil itu lalu digeneralisir untuk keseluruhan. Alam semesta,  manusia, dipandang sebagai mesin besar yang dapat dipahami dengan menganalisis bagian-bagiannya. Jadi, dalam pandangan mekanistik, keseluruhan adalah identik dengan bagian-bagiannya, persis sama dengan perhitungan kuantitatif dalam matematika; bahwa empat (4) itu identik dengan jumlah bagian-bagiannya (2+2 atau 1+3). Tidak ada sesuatu yang lebih dalam keseluruhan kecuali dalam jumlah dari bagian-bagiannya yang digabungkan menurut tatanan atau urutan tertentu. Sejalan dengan itu paradigma ini bersifat deterministik yang memandang alam sepenuhnya yang dapat dijelaskan, diramal dan dikontrol berdasarkan hukum-hukum yang deterministik (pasti, niscaya) sedemikian rupa sehingga memperoleh kepastian yang setara dengan kepastian matematis

d. Materialime-Saintisme

Paradigma Cartesian-Newtonian menganut paham Materialisme-saintisme (materialsme ilmiah). Pandangan epistemologi dan kosmologinya berwatak materialistik. Tuhan bagi Descartes, lebih bersifat instrumental untuk penjamin kesahihan pengetahuan subjek terhadap realitas eksternal. Newton mempunyai pandangan bahwa Tuhan pertama-tama menciptakan partikel-partikel benda, kekuatan-kekuatan antar partikel, dan  hukum gerak dasar. Setelah tercipta alam semesta terus bergerak seperti sebuah mesin yang diatur oleh hukum-hukum deterministik, dan Tuhan tidak diperlukan lagi kehadiran-Nya dalam kosmos ini.

 2. Paradigma Holistik-Dialogis

Paradigma holistik-dialogis adalah merupakan paradigma alternatif karena tuntutan pandangan dunia baru  dalam upaya memahami fenomena-fenamena global secara lebih baik, tepat dan sesuai. Pandangan dunia baru itu merupakan paradigma alternatif terhadap paradigma Cartesian-Newtonian yang dualisme yang lebih menguasai kesadaran manusia modern dalam kurun waktu tiga ratus tahun terakhir.

Dengan munculnya gagasan orisinal dari Shadr al-Din al-Shirazi yang lebih popular dengan nama Mulla Shadra (1572-1641), filsuf Persia yang hidup sezaman dengan Descartes yaitu gerak trans-substansial (trans-substansial motion, harakat al-jawhariyyah). Gagasan ini dicetuskan setelah melalui analisis ontologis-metafisis yang  mendalam terhadap eksistensial dan realitas. Ontologis Mulla Shadra memiliki banyak kesamaan dengan Filsafat proses atau filsafat organisme Alfred North Whitehead (1815-1974), dapat dianggap sebagai upaya transformasi gerak trans-substansial kedalam sistim kosmologi yang dinamis. Whitehead telah mengintroduksi data-data perkembangan sains modern sebagai bagian yang integral dalam sistem filsafatnya, khususnya pandanagan kosmologisnya, sehingga lebih memperkaya pemahaman terhadap dinamika realitas

Adapun sistem ontologis Shadra didasarkan atas tiga prinsip yaitu:

a. Prinsip Primasi Eksistensi (ahslat al-wujud) .

Prinsip primasi eksistensi merupakan landasan utama filsafat Shadra. Shadra memprioritaskan eksistensi atas semua konsep dan esensi, serta memandang eksistensi sebagai satu-satunya realitas substantif. Ia menolak dualisme eksistensi-esensi dalam realitas, karena esensi muncul sebagai penyangkalan atau batasan terhadap eksistensi. Menurutnya, Penyebab semua akibat dan akibat-akibat dari suatu sebab merupakan eksistensi yang sebenarnya (real existence). Eksistensi sebagai konsep dan atau esesnsi tidak memiliki realitas. Eksistensi bukanlah sesuatu (something) yang memiliki realitas; eksistensi adalah realitas itu sendiri. Oleh karena itu  eksistensi bukanlah atribut suatu entitas seperti yang terdapat dalam kalimat:”Manusia ada”, dan lebih tepat dikatakan dengan kalimat “ini manusia”. Karena esensi adalah tidak ada (nothing) dalam dirinya sendiri. Apapun yang dimiliki oleh suatu maujud (being) diperoleh dari “hubungan” maujud itu dengan eksistensi, sedangkan eksistensi adalah self real (nyata pada dirinya), berkat manifestasi dan hubungannya dengan wujud mutlak atau wujud murni

b. Gradasi eksistensi ( tasykik al-wujud)

Gradasi eksistensi disebut juga sebagai systematic ambiguity of existence (ambiguitas sistematis eksistensi). Dikatakan bahwa eksistensi adalah satu realitas yang mengambil bagian dalam gradasi intensitas dan kesempurnaan. Semakin banyak esensi yang dikandung satu maujud, semakin rendah tingkat intensitas dan kesempurnaannya. Sebaliknya semakin sedikit esesnsi yang dikandung, semakin tinggi tingkat gradasi suatu maujud. Hubungan kesatuan wujud dengan multiplisitas eksistensi seperti hubungan matahari dengan cahaya matahari. Cahaya matahari bukanlah matahari dan pada waktu yang sama bukanlah apa-apa kecuali matahari. Jadi multiplisitas muncul dari gradasi eksistensi tersebut, dan menurutnya pluralitas itu lahir dari unitas. Prinsip gradasi  eksistensi Shadra berarti sebagai keragaman dalam kesatuan, bukan kesatuan dalam keragaman.

Selanjutnya prinsip ambiguitas sistematis eksistensi selain bersifat ambigu juga sistematik; dengan kata lain ambiguitas itu bersifat sistematis. Hal ini disebabkan oleh kenyataan bahwa eksistensi itu tidak statis tetapi bergerak terus-menerus . Gerak itu dari yang kurang sempurna ke yang lebih sempurna, dan bersifat satu arah dan tidak dapat dibalik karena eksistensi tidak perna bergerak ke belakang.

c. Gerak trans-substansial (al-harakat al-jauhariyyah)

Prinsip gerak trans-substansial ini adalah sebuah temuan filosofis shadra yang sangat orisinal dan cemerlang serta memberikan kontribusi besar bagi penyelasaian persoalan-persoalan abadi filosofis, termasuk persoalan dualisme jiwa-tubuh yang menjadi fokus diskusi dunia modern. Shadra menyatakan bahwa karena gerak (motion) itu berarti perpindahan (moving) sebagai kata kerja, yakni suatu “kebaruan dan kemenjadian yang kontinu”, dari bagian-bagian gerak maka adalah tidak mungkin bahwa sebabnya yang langsung harus sesuatu yang tetap atau wujud yang abadi. Karena, suatu entitas yang tetap atau abadi mengandung dalam dirinya fase-fase gerak yang dilalui sebagai kenyataan saat ini (as a present fact), dan kebersamaan melewati fase-fase itu sama dengan stabilitas, bukan gerak. Oleh karena itu, gerak tidak dapat dibangun atas dasar entitas yang tetap. Entitas seperti itu dapat memiliki esensi yang tetap, tetapi bukan  eksistensi yang tetap yang sama sekali terdiri dari perubahan dan mutasi. Jadi di bawah perubahan aksiden–aksiden, terdapat suatu perubahan yang lebih fundamental, yaitu perubahan dalam substansi (change in substance), yang melalui perubahan pada forma-forma material, maka semua perubahan dalam aksiden pada akhirnya dapat dilacak. Semua badan, baik langit (celestial) ataupun material (dunia sublunar), merupakan subjek perubahan substansial ini dalam wujud mereka. Hal ini membuktikan bahwa seluruh dunia ruang-waktu secara temporal berawal sejauh eksistensinya terus diperbarui setiap saat

Selanjutnya  dalam kosmologi, Whitehead berpendapat bahwa materialisme ilmiah berakar kuat pada kosmologi modern yang dibangun Descartes Newtonian. Oleh karena itu sebagai alternatif terhadap kosmologi tersebut Whitehead mengajukan kosmologi baru dengan basis pemikiran filosofis dan ilmiah yang sesuai.

Pandangan organisme dalam kosmologi Whitehead didasarkan pada beberapa konsep dasar, yaitu:

  1.  Satuan-satuan aktual (actual entities,actual occasions). Satuan ini merupakan kategori eksistensi primer yang membentuk segala sesuatu yang ada. Menurut Whitehead tidak ada sesuatu pun yang lebih nyata dan primer daripada satuan-satuan aktual; ia juga menyebutnya sebagai final realties. Upaya pemahaman terhadap realitas didasarkan atas satuan-satuan aktual. Whitehead menyebutnya sebagai prinsip ontologis, bahwa segala sesuatu  merupakan satuan-satuan aktual atau derivasi dari satuan-satuan aktual; bahwa satuan-satuan aktual adalah satu-satunya alasan, sebab, penjelasan sehingga setiap mencari sebuah penjelasan adalah mencari satu atau lebih satuan aktual. Satuan aktual disebut juga sebagai peristiwa aktual, karena setiap satuan aktual merupakan suatu peristiwa pengalaman, suatu proses perwujudan diri menjadi satu individu. Menurut Whitehead, istilah peristiwa aktual atau actual occasions ini digunakan untuk menunjukkan karakter ekstensifnya satuan aktual. Dia mengatakan bahwa dunia aktual adalah suatu proses, dan proses tersebut adalah proses menjadinya satuan-satuan aktual. Oleh karena itu satuan-satuan aktual adalah pengada-pengada kreasi; meraka juga disebut sebagai peristiwa-peristiwa actual
  2. Proses organis. Prinsip “proses” ini ditekankan oleh Whitehead dalam menggambarkan realitas yang dinamis. Prinsip ini mengatakan bahwa setiap pengada ditentukan oleh bagaimana ia menciptakan diri dalam proses menjadi dirinya. Dalam hal ini Whitehead mengatakan bahwa, bagaimana sebuah satuan aktual yang menjadi (becoming) mengkonstitusi satuan aktual apa yang ada (being); sehingga dua deskripsi sebuah satuan aktual tidak terpisah. Ke-pengada-annya dikonstitusi oleh ke-menjadi-annya
  3. Prinsip “relativitas” Whitehead dalam menggambarkan kondisi umum yang mengaitkan segala sesuatu dalam kontinum ruang-waktu, mengacu kepada gagasan sentral yang dicetuskan oleh Teori Relativitas dan mekanika kuantum ia mengemukakan “prinsip relativitas” (principle of relativity). Dengan semangat yang sama dengan fisika modern itu, bahwa “Prinsip relativitas universal secara langsung bersebrangan dengan diktum Aristoteles: Sebuah substansi tidak hadir dalam sebuah subjek, sebaliknya menurut prinsip relativitas, setiap satuan aktual hadir dalam satuan-satuan actual yang lain. Pada dasarnya jika kita memperhitungkan tingkat-tingkat relevansi, dan relevansi itu dapat diabaikan, kita dapat mengatakan bahwa setiap entitas aktual hadir dalam setiap satuan aktual yang lain. Adalah tugas utama filsafat organisme untuk mencurahkan perhatiannya kepada penjelasan tentang gagasan bahwa ‘pengada hadir dalam entitas lain’.
  1. “Kreativitas” adalah prinsip kebaruan, suatu daya dinamis alam semesta yang memungkinkan terjadinya proses perubahan terus-menerus yang memunculkan satuan-satuan aktual baru. Whitehead menjelaskan bahwa, “kreativitas” adalah prinsip kebaruan. Peristiwa aktual adalah sebuah satuan baru yang diturunkan dari pelbagai satuan tempat ‘yang banyak’ menyatu. Karena itu kreativitas mengintroduksi kebaruan ke dalam kandungan ‘yang banyak’, yang adalah alam semesta secara disjungtif. “Kemajuan kreatif” adalah aplikasi dari prinsip dasar kreativitas ini terhadap setiap situasi baru yang darinya ia berasal. Konsep kreativitas tidak mempunyai karakter tersendiri lepas dari satuan aktual oleh karena itu kreativitas hanya bisa dikenal dan dipahami dalam proses terjadinya suatu satuan aktual.
  1. Pansubjektivisme. Dalam sistim kosmologi Whitehead terdapat sebuah prinsip yang diintroduksinya yang disebut pansubjektivitas (pansubjektivity). Menurut Whitehead, prinsip subjektivitas berlaku untuk semua satuan aktual, mulai dari Tuhan, manusia, hewan, tumbuhan, mineral, sampai benda-benda mati. Maksudnya adalah segenap pengada di alam raya ini harus dipahami dan diperlakukan sebagai subjek. Dengan demikian prinsip pansubjektivitas ini dapat dianggap sebagai implikasi alamiah dari prinsip-prinsip primer seperti prinsip kemenjadian yang mengkonstitusi pengada, prinsip proses sebagai realitas primer, prinsip relativitas prinsip jaringan yang mengkaitkan segala sesuatu dalam suatu hubungan organis dan prinsip kreativitas. Dengan prinsip ini ia meneguhkan pemikirannya yang memandang seluruh alam semesta sebagai suatu ekosistem yang dinamis dan berevolusi. Dan menempatkan manusia sebagai bagian dari alam semesta tidak mengkontraskan manusia dengan alam

3. Positivisme dalam Paradigma IPA

Istilah Positivisme digunakan pertama kali oleh Saint Simon (1825). Positivisme berakar pada empirisme. Prinsip Filosofik tentang positifisme dikembangkan pertama kali oleh empirist Inggris Francis Bacon (sekitar 1600). Tesis positivisme adalah bahwa ilmu satu-satunya pengetahuan yang valid, dan fakta-fakta sajalah yang mungkin dapat menjadi obyek pengetahuan. Mengembangkan pemikiran tentang ilmu universal bagi kehidupan manusia, sehingga berkembang ethika, politik dan agama sebagai disiplin ilmu yang positivistik.

Pelopor filsafat positivisme ialah August Comte (1798-1857). Dikatakan Positivisme, karena mereka beranggapan bahwa yang dapat kita selidiki, dapat kita pelajari hanyalah yang berdasarkan fakta-fakta, yang berdasarkan data-data yang nyata, yaitu yang mereka namakan positif. Positivisme membatasi penyelidikan studinya hanya kepada bidang gejala-gejala saja. Apa yang kita ketahui secara positif adalah segala yang tampak, dan semua gejala.

Pandangan tersebut didasarkan atas hukum evolusi sejarah manusia yang menurut Comte mengalami tiga tingkatan, yaitu: Tingkatan teologis yang dikuasai oleh tahayul dan prasangka, meningkat ke tingkatan metafisik, yang sebetulnya masih abstrak; dan yang terakhir adalah tingkatan positif, yaitu tingkatan ilmu pengetahuan (science), di mana pandangan dogmatis diganti oleh pengetahuan faktual. Pada priode terakhir ini manusia membatasi dan mendasarkan pengetahuannya kepada apa yang dapat dilihat, yang dapat diukur, dan dapat dibuktikan. Comte sependapat dengan Descartes dan Newton, di mana ilmu pasti dijadikan dasar segala filsafat, karena ilmu pasti memiliki dalil-dalil yang bersifat umum.

Pada abad XIX ilmu sosial dipengaruhi oleh ilmu pengetahuan alam (IPA)  yang berkembang marak sejak abad XVIII. Problem sosial dan problema kehidupan manusia dianalisis dengan menggunakan logika induktif, sebagaimana digunakan oleh IPA berupaya mencari kesamaan, keteraturan dan konformitas agar dapat dibuat hukum dan prediksi yang berlaku umum, kapanpun dan di manapun. Perilaku manusia dan proses perubahan individual dicari pula kesamaan, keteraturan, dan konformitas antar individu sebagaimana gejala alam, agar dapat dibuat hukum dan prediksi yang berlaku umum bagi siapapun, kapanpun, dan di manapun. Ada upaya untuk menyatukan semua ilmu dalam paradigm IPA.

Problem sosial dan problem moral manusia dicoba dijelaskan dengan cara yang sama. Model pembuktian untuk ilmu sosial juga menggunakan model pembuktian matematik sebagaimana digunakan oleh IPA. Sejak abad XIX sampai medio abad XX terjadi unifikasi ilmu dalam positivisme dengan paradigma IPA matematik

4. Phenomenologi.

Istilah phenomenologi telah digunakan sejak Lambert yang sezaman dengan Kant, Hegel, sampai ke Peirce dengan arti yang berbeda-beda. Pada era Lambert diartikan sebagai ilusi atas pengalaman.. Pada medio abad Sembilan belas arti phenomenologi menjadi sinonim dengan fakta. Sejak Edmund Husserl (1859-1938) arti phenomenology telah menjadi filsafat dan metodologi berfikir. Phenomenon bukan sekedar pengalaman lansung melainkan pengalaman yang telah menginplisitkan penafsiran dan klasifikasi. Mulai tahun 1970-an phenomenologi mulai banyak digunakan oleh berbagai disiplin ilmu sebagai pendekatan metodologik, dan mengundang kegiatan menterjemahkan karya –karya utamanya maupun artikel-artikel yang ditulisnya, dan pendekatan phenomenologi menjadi acuan utamanya.

Core pandangan Husserl yang paling mendasar yaitu Intensionalitas atau keterarahan dan logika transendentalnya. Menurut Husserl kesadaran berilmu pengetahuan yang pertama-tama adalah kesadaran manusia tentang obyek-obyek intensional. Intensional memiliki arti semantik dan ontologik. Arti semantik adalah sesuatu bahasa dan logikanya, sesuatu dikatakan ekstensional bila dapat ditampilkan rumusan equivalennya. Dikatakan intensional bila tidak dapat ditampilkan rumusan equivalennya. Bahasa atau logika intensional menampilkan bahasa modalitas atau probabilitas, dengan penjelasan. Ontologik berarti sesuatu dikatakan ekstensional bila kesamaan identitas antara dua sesuatu dapat dinyatakan sebagai dua yang equivalen, dua yang identik. Sedangkan sesuatu dikatakan intensional, bila kesamaan identitas tidak menjamin untuk dikatakan equivalen atau identik.

Husserl menjadikan intensionalitas sebagai pusat telaah tentang kesadaran manusia. Dalam bukunya Logische Untersuchungen Huseerl mengatakan bahwa pengalaman dalam bentuk intuisi orang mungkin menemukan obyek aktual yang berkorespondensi dengan noema ( sebagai nama dari obyek intended), tetapi mungkin juga tidak menemukan. Namun bagaimanapun perlu ada keparalelan antara noesis (pemberian deskripsi subyektif atas sesuatu obyek) dengan noema. Karena itu analisis tentang struktur esensial noetik dari kesadaran manusia dapat pula mengungkap struktur noematik ataupun struktur ontologiknya. Kesadaran intensional manusia lebih bersifat aktif, memiliki telos, memiliki rasionalitas, dan mencari evidensi lebih mendasar.

Sentral pandangan Husserl yang kedua adalah logika transendentalnya. Dalam bukunya Formal and Transendental logic mengetengahkan tentang hubungan antara penelitian kita dengan keputusan kita. Bagaimanapun keputusan kita momot fungsi normatif. Dalam logika transendental peran aktif pengambilan keputusan penting. Bukan keputusan dalam bentuk keabadian, melainkan didasarkan pengalaman intersubyektif. Husserl mengakui bahwa, setiap orang itu merupakan subyek dengan pengalaman-pengalamannya sendiri. Tetapi orang juga menyadari tentang adanya perilaku dan pernyataan eksternal. Pengalaman orang lain menjadi landasan dan pengalaman sendiri akan membangun landasan intersubyektif, dan menjadi basis untuk saling mengurun (sharing) dalam membangun dunia nilai dan budaya.

5. Paradigma Islam tentang Transformasi Sosial

Salah satu kepentingan terbesar Islam sebagai sebuah ideologi sosial adalah bagaimana mengubah masyarakat sesuai dengan cita-cita dan visinya mengenai transformasi sosial. Semua ideologi atau filsafat sosial menghadapi suatu pertanyaan pokok, yakni bagaimana mengubah masyarakat dari kondisinya yang sekarang menuju kepada keadaan yang lebih dekat dengan tatanan idealnya. Elaborasi terhadap pertanyaan pokok semacam itu menghasilkan teori-teori sosial yang berfungsi untuk menjelaskan kondisi masyarakat yang empiris pada masa kini dan sekaligus memberikan insight mengenai perubahan dan transformasinya. Karena teori-teori yang diderivasi dari ideologi-ideologi sosial sangat berkepentingan terhadap terjadinya transformasi sosial, maka dapat dikatakan bahwa hampir semua teori sosial tersebut bersifat transformatif.

Sebagai sebuah ideologi sosial, Islam juga menderivasi teori-teori sosialnya sesuai dengan paradigmanya untuk transformasi sosial menuju tatanan masyarakat yang sesuai dengan cita-citanya. Oleh karena itu jelas bahwa Islam sangat berkepentingan pada realitas sosial, bukan hanya untuk dipahami, tapi diubah dan dikendalikan. Tidaklah islami misalnya, jika kaum muslim bersikap tak acuh terhadap kondisi struktural masyarakatnya, sementara tahu bahwa kondisi tersebut bersifat munkar. Sikap etis seperti ini mungkin akan menghasilkan bias dalam paradigma teori sosial Islam, sebagaimana teori-teori sosial lain juga mengidap bias normatif, ideologis dan filosofisnya sendiri.

Bahwa Islam memiliki dinamika-dalam untuk timbulnya desakan pada adanya transformasi sosial secara terus menerus, ternyata berakar pada misi ideologisnya yakni cita-cita untuk menegakkan amr ma’ruf dan nahiy munkar dalam masyarakat di dalam rangka keimanan kepada Tuhan. Sementara amr ma’ruf berarti humanisasi dan emansipasi, nahiy munkar merupakan upaya untuk liberasi. Dan karena kedua tugas itu berada dalam kerangka keimanan, maka humanisasai dan liberasi merupakan dua sisi yang tidak dapat dipisahkan dari transendensi. Disetiap masyarakat, dengan struktur dan sistem apapun, dan dalam tahap historis yang mana pun, cita-cita untuk humanisasi, emansipasi, liberasi dan transendensi akan selalu memotivasikan gerakan transformasi Islam. Cita-cita ini pulalah yang akan menjadi tema transformasi Islam, suatu tema yang dipenuhi dengan pandangan profetik tertentu mengenai perubahan. Bahwa cita-cita ini akan mengkarakterisasikan paradigma Islam mengenai transformasi sosial, itu sudah menjadi jelas dengan sendirinya.

KESIMPULAN

Berdasarkan uraian pembahasan di atas maka pemakalah mengemukakan  kesimpulan –kesimpulan sebagai berikut:

Teori adalah seperangkat konsep, definisi dan proposisi yang disusun secara sistematis untuk menjelaskan dan meramalkan fenomena. Suatu teori akan mengalami perkembangan apabila teori tersebut sudah tidak relevan dan kurang berfungsi lagi untuk mengatasi masalah.

Penerimaan suatu teori dalam komunitas ilmiah, tidak berarti bahwa teori tersebut memiliki kebenaran mutlak.Teori yang telah mapan dan digunakan oleh mayoritas ilmuwan dalam komunitas ilmiah dalam penelitian selanjutnya disebut sebagai paradigma.

Paradigma dibangun oleh para ilmuwan dalam kegiatan ilmiahnya atas berbagai konsep, asumsi-asumsi teoritis umum dalam tatanan tertentu, menyederhanakan yang kompleks yang dapat diterima umum.

Paradigma adalah cara pandang atau kerangka berfikir yang mempu menjadi wacana temuan ilmiah dan dianut secara bersama oleh para anggota suatu komunitas ilmiah dan atau masyarakat. Sikap para ilmuwan terhadap  paradigma yang berlaku dapat saja berubah jika dalam perjalanan kegiatan ilmiahnya atau penelitiannya terdapat anomali. Dengan demikian dapat menyebabkan perubahan paradigma karena adanya anomali itu, selanjutnya menyebabkan sikap para  ilmuwan terhadap paradigma yang berlaku berubah, oleh karena itu sifat penelitian mereka juga berubah. Hal itu membuat para ilmuwan berusaha untuk menciptakan paradigma baru, dalam rangka memberikan penyelesaian terhadap anomali yang ditemukan. Jika paradigma baru itu diterima  oleh komunitas ilmiah maka paradigma terdahulu ditolak dan ditinggalkan. Paradigma yang baru  akan diterima sebagai pengganti paradigma yang lama.

 

DAFTAR PUSTAKA

Achmad Sanusi (1998), Filsafat Ilmu, Teori Keilmuan dan Metode Penelitian, Bandung: Program Pasca Sarjana IKIP Bandung.

——————-(1999), Titik Balik Paradigma Ilmu : Implikasinya Bagi Pendidikan, Orasi limiah Pada Wisuda UHAMKA tanggal 31 Juli 1999,Jakarta: Majelis Pendidikan Tinggi Muhammadiyah UHAMKA.

Branner, Julia. (2002), Memadu Met ode Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif, Samarinda: Pustaka Pelajar.

Capra, Fritjop, (1998), Titik Balik Peradaban: Sains Masyarakat dan Kebangkitan .Kebudayaan, Terjemahan M. Thoyibi, Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya.

Conny R. Semiawan, dkk. (1988), Dimensi Kreatif dalam Filsafat Ilmu, Bandung: Remadja karya.

Endang Saefuddin Anshari, (1982), Ilmu, Filsafat dan Agama, Surabaya: Bina Ilmu.

Himsworth, Harold (1997), Pengetahuan Keilmuan dan Pemikiran Filosofi, (Terjemahan Achmad Bimadja, Ph.D),Bandung: ITB Bandung.

Ismaun, (2002), Filsafat Ilmu, Materi Kuliah, Bandung (Terbitan Khusus).

Jammer, Max (1999), Einsten and Religion: Physics and Theology, New Jersey: Princeton University, Press.

Kuhn, Thomas S, (2000), The Structure of Scientific Revolution: Peran Paradigma dalam Revolusi Sains, Terjemahan Tjun Surjaman, Bandung: Rosda).

Noeng Muhadjir, (1996), Metodologi Penelitian Kualitatif, Edisi Iii, Yogyakarta. Rake Sarasin.

——————–, (1998), Filsafat Ilmu: Telaah Sistematis, Fungsional Komparatif, Yogyakarta: Rake Sarasin.

Redja Mudyahardjo, (2001), Filsafat Ilmu Pendidikan: Suatu Pengantar, Bandung: Rosda.

Sidi Gazalba, (1973), Sistematika Filsafat, Jakarta: Bulan Bintang.

Sudarto (1997), Metodologi Penelitian Filsafat, Jakarta: Raja Grafindo Persada. Tibawi, AL, (1972), Islamic Education, London: Luzak & Company Ltd.

Titus, Harold. H, (1959), Living Issues in Philosophy: An Introductory Book of Readings, New York: The Mac Millan Company.

Zuhairini dkk. (1995), Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara.

Bagus, Lorens , Kamus Filsafat, Ed. I. ( Cet.III; Jakarta: Gramedia, 2002)

Bakhtiar, Amsal,  Filsafat Agama 1, Jil.I. ( Cet. I; Pamulang Timur, Ciputat: Lolos Wacana Ilmu, 1997)

Drajat,  Amroeni, Filsafat Islam Buat yang Pengen Tahu, ( Jakarta: Erlangga, 2006)

Heriyanto,  Husain, ,  Paradigma Holistik Dialog Filsafat, Sains,dan Kehidupan Menurut Shadra dan Whitehead, (Cet; Jakarta Selatan: Teraju, 2003)

Http//SahluluFuad. 6te. Net/?pilih=news & aksi=lihat &

Komaruddin,  Yooke Tjuparmah S. Komaruddin, Kamus Istilah Karya Tulis Ilmiah, Ed. I, (Cet.II; Jakarta: Bumi Aksara , 2002)

Kuntowijoyo,   Paradigma Islam Interpretasi untuk Aksi, (Cet. VIII; Bandung: Mizan, 1998)

Muhadjir,  H. Noeng,  Filsafat Ilmu: Positivisme,Post positivism, dan Post Modernisme, Ed.II. (Cet.I; Yogyakarta: Rake Sarasin, 2001)

Patrick, G.T.W, C.A. van Peursen, Ayn Rand, et al., Apakah Filsafat dan Filsafat Ilmu itu?, (Cet.I; Bandung: Pustaka Sutra, 2008)

Soetrisno dan SRDm Rita Hanafie, Filsafat Ilmu dan metodologi Penelitian, Ed.I.(Yogyakarta: Cv. Andi offset, 2007)

Sugiyono, Prof. Dr. Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D, (Cet.III; Bandung: Alfabeta, 2007)

Wattimena, Reza  A.A , Filsafat dan Sains Sebuah Pengantar, ( Jakarta: PT. Grasindo, 2008)


[1] . Reza A.A Wattimena,  Filsafat dan Sains Sebuah Pengantar, (Jakarta: PT. Grasindo, 2008), h. 95

[2] Ibid. h. 187

[3] G.T.W Patrick, C.A. van Peursen, Ayn Rand, et al., Apakah Filsafat dan Filsafat Ilmu itu?, (Cet.I; Bandung: Pustaka Sutra, 2008), h. 95

 

[4] Lorens Bagus, Kamus Filsafat, Ed. I. ( Cet.III; Jakarta: Gramedia, 2002), h. 1097

[5] Reza A.A Wattimena, Op. Cit. h. 257

[6] Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D, (Cet.III; Bandung: Alfabeta, 2007), h. 52-54

[7] Komaruddin, Yooke Tjuparmah S. Komaruddin, Kamus Istilah Karya Tulis Ilmiah, Ed. I, (Cet.II; Jakarta: Bumi Aksara , 2002), 173

[8] Lorens Bagus, Op. Cit. h. 779

[9] Soetrisno dan SRDm Rita Hanafie, Filsafat Ilmu dan metodologi Penelitian, Ed.I.9Yogyakarta: Cv. Andi offset, 2007). h. 32

[10] Sugiyono, Op. Cit., h. 42

[11] Husain Heriyanto, M. Hum,  Paradigma Holistik Dialog Filsafat, Sains,dan Kehidupan Menurut Shadra dan Whitehead, (Cet; Jakarta Selatan: Teraju, 2003), h. 28.

[12] Http//SahluluFuad. 6te. Net/?pilih=news & aksi=lihat &

[13] H. Noeng Muhadjir,  Filsafat Ilmu: Positivisme,Post positivism, dan Post Modernisme, Ed.II. (Cet.I; Yogyakarta: Rake Sarasin, 2001). h. 39-40

[14] Reza A.A Wattimena, Op. Cit. h. 193

[15] Noeng Muhadjir,  Op. Cit. h. 8-9

[16] Ibid. h. 41.

[17] Ibid.

[18] Amroeni Drajat, Filsafat Islam Buat yang Pengen Tahu, ( Jakarta: Erlangga, 2006), h. 16-17

[19]Ibid. h. 64-65

[20] H. Noeng Muhadjir,  Op. Cit.. h. 43.

 

About Falah

Keepsmile and .... and... and....
This entry was posted in Filsafat. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s