Kelemahan Metode-metode Tafsir Sibromalisi Dalam Perspektif Al-suyuthi.

Kelemahan Metode-metode Tafsir Sibromalisi Dalam Perspektif Al-suyuthi.

 

Nama                           : Noor Falah

TTL                             : Bandung 17 Juli 1991

Jurusan/Fakultas          : Tafsir Hadits Fakultas Ushuluddin UIN SGD Bandung

Semester                      : 5/B

Email                           : —–

 

Postulat : diduga metode penafsiran untuk al-quran memiliki kekurangan, karena manhaj dan thariqah mempunyai arti yang sama yaitu metode yang digunakan untuk mufassir dalam memahami suatu ayat.

 

 

 

 

 

Bab I

Pendahuluan

 

  1. A.  Latar Belakang

Al-Qur ’an diturunkan Allah kepada ummat manusia dijadikan sebagai hudan, bayyinah, dan furqan. Al-Qur’an selalu dijadikan sebagai pedoman dalam setiap aspek kehidupan dan al-Qur’an merupakan kitab suci ummat Islam yang selalu relevan sepanjang masa. Relevansi kitab suci ini terlihat pada petunjuk-petunjuk yang diberikannya kepada umat manusia dalam aspek kehidupan. Inilah sebabnya untuk memahami alQur’an di kalangan ummat Islam selalu muncul di permukaan, selaras dengan kebutuhan dan tantangan yang mereka hadapi. Allah berfirman:

 

إِنَّ هَذَا الْقُرْآَنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا (9)

 Artinya :

9. Sesungguhnya Al Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu’min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar[1].

 

Agar fungsi al-Qur’an tersebut dapat terwujud, maka kita harus menemukan makna firman Allah SWT saat menafsirkan al-Qur’an. Upaya untuk menafsirkan ayat-ayat Qur’an untuk mencari dan menemukan maknamakna yang terkandung di dalamnya. Muhammad Arkon, seorang pemikir Aljazair kontemporer, menulis bahwa “al-Qur’an memberikan kemungkinan-kemungkinan arti yang tak terbatas. Kesan yang diberikan oleh ayat-ayatnya mengenai pemikiran dan penjelasan pada tingkat wujud adalah mutlak. Dengan demikian ayat selalu terbuka [untuk diinterpretasi] baru, tidak pernah pasti dan tertutup dalam interpretasi tunggal[2].

 

Tafsir sebagai usaha untuk memahami dan menerangkan maksud dan kandungan ayat-ayat suci mengalami perkembangan yang cukup bervariasi. Katakan saja, corak penafsiran al-Qur’an adalah hal yang tak dapat dihindari. M.Quraish Shihab, mengatakan bahwa corak penafsiran yang dikenal selama ini, antara lain : [a] corak sastra bahasa, [b] corak filsafat dan teologi, [c] corak penafsiran ilmiah, [d] corak fiqih atau hukum, [e] corak tasawuf, [f] bermula pada masa Syaikh Muhammad Abduh [1849-1905], corak-corak tersebut mulai berkembang dan perhatian banyak tertuju kepada corak satra budaya kemasyarakatan. Yakni suatu corak tafsir yang menjelaskan petunjukpetunjuk ayat-ayat al-Qur’an yang berkaitan langsung dengan kehidupan masyarakat dengan mengemukakan petunjuk-petunjuk tersebut dalam bahasa yang mudah dimengerti tapi indah didengar[3]. Sebagai bandingan, Ahmad As, Shouwy, dkk., menyatakan bahwa secara umum pendekatan yang sering dipakai oleh para mufassir adalah:

[a] Bahasa.

[b] Konteks.

[c] Antara ayat dan kata, dan

[d] Sifat penemuan ilmiah[4].

 

Corak penafsiran Qur’an tidak terlepas dari perbedaan, kecenderungan, inters, motivasi mufassir, perbedaan misi yang diemban, perbedaan ke dalaman [capacity] dan ragam ilmu yang dikuasai, perbedaan masa, lingkungan serta perbedaan situasi dan kondisi, dan sebagainya. Kesemuanya menimbulkan berbagai corak penafsiran yang berkembang menjadi aliran yang bermacam-macam dengan metode-metode yang berbeda-beda.

 

Dengan latar belakang pemikiran di atas, maka masalah pokok yang dibahas adalah menyangkut berbagai metode yang digunakan mufassir dalam menafsirkan ayat-ayat Qur’an. Pembahasan makalah ini, lebih ditekankan pada pengertian metode dengan kosakata yang berkaitan dengan metode tafsir seperti: metoda [جهنملا], aliran [بهذملا], cara [ةقيرطلا], orientasi [هاتجلاا], dan corak [نوللا]. Kemudian dilanjutkan dengan perkembangan metode tafsir, pembagian metode tafsir kelebihan dan kelemahannya dan terakhir pembahasan mengenai metode yang relevan untuk penafsiran masa kini[5]. Oleh sebab itu penulis mengangkat sebuah permasalahan yang berjudul “Kelemahan Metode-metode Tafsir”.

 

  1. B.  Perumusan Masalah

Metode digunakan untuk berbagai objek, baik berhubungan dengan  suatu pembahasan suatu masalah, berhubungan dengan pemikiran, maupun penalaran akal, atau pekerjaan fisikpun tidak terlepas dari suatu metode. Dengan demikian metode merupakan salah satu sarana untuk mencapai suatu tujuan yang telah direncanakan. “Dalam kaitan ini, studi tafsir al-Qur’an tidak lepas dari metode, yakni suatu cara yang teratur dan terpikir baik-baik untuk mencapai pemahaman yang benar tentang apa yang dimaksudkan Allah di dalam ayat-ayat al-Qur’an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw.

 

Metode tafsir Qur’an berisi seperangkat kaidah atau aturan yang harus diindahkan ketika menafsirkan ayat-ayat Qur’an. Maka, apabila seseorang menafsirkan ayat Qur’an tanpa menggunakan metode, tentu tidak mustahil ia akan keliru dalam penafsirannya. Tafsir serupa ini disebut tafsir bi al-ra’y al-mahdh [tafsir berdasarkan pikiran][6].

 

Ada dua istilah yang sering digunakan yaitu: metodologi tafsir dan  metode tafsir. Kita dapat membedakan antara dua istilah tersebut, yakni: “metode tafsir, yaitu cara-cara yang digunakan untuk menafsirkan al-Qur’an, sedangkan metodologi tafsir yaitu ilmu tentang cara tersebut. Katakan saja, pembahasan teoritis dan ilmiah mengenai metode muqarin [perbadingan], misalnya disebut analisis metodologis, sedangkan jika pembahasan itu berkaitan dengan cara penerapan metode terhadap ayat-ayat alQur’an, disebut pembahasan metodik. Sedangkan cara menyajikan atau memformulasikan tafsir tersebut dinamakan teknik atau seni penafisran”. Maka metode tafsir merupakan kerangka atau kaidah yang digunakan dalam menafsirkan ayat-ayat al-qur’an dan seni atau teknik ialah cara yang dipakai ketika menerapkan kaidah yang telah tertuang di dalam metode, sedangkan metodologi tafsir ialah pembahasan ilmiah tentang metode-metode penafsiran al-quran.

 

Dari perumusan masalah diatas, penulis membatasi permasalahan dengan pertanyaan Dimana letak kelemahan perumusan metode-metode tafsir Sibromalisi dalam perspektif Al-suyuthi?

 

 

  1. C.  Tujuan Penelitian

Dengan mempertanyakan suatu masalah, maka tujunnya adalah :

  1. Mengetahui dimana kelemahan setiap metode tafsir. Selain daripada itu, bisa mengetahui kelebihan dan metode mana yang relevan untuk zaman sekarang.
  2. Mengetahui dampak kelemahan, maupun kelebihan metode tafsir.

 

  1. D.    Kegunaan Penelitian

Kegunaan penelitian ini bisa dilihat dari dua aspek. Yaitu :

  1. Secara teoritis, penelitian ini dapat menambah dan memperkaya khazanah pemikiran islam, khususnya mengetahui yang manakah metode relevan untuk zaman sekarang.
  2. Secara praktis, penelitian ini turut memberikan sumbangan pemikiran yang ilmiah dalam memilih metode tafsir relevan untuk zaman sekarang yang sesuai dengan latar dan sosio-cultural mufassir.

 

  1. E.    Kerangka Berfikir

Secara umum terdapat empat macam metode tafsir, yaitu: [a] metode Ijmali [Global], [b] Metode Tahlili [analitis], [c] Metode Muqarin [perbandingan], dan [d] Metode Maudhu’i [tematik]. Maka untuk lebih jelasnya, penulis berusaha menguraikan secara singkat masing-masing metode tersebut, sebagai berikut:

 

 

 

  1. Metode Ijmali [Global]

Metode tafsir ijmali yaitu menafsirkan al-Qur’an dengan cara singkat dan global tanpa uraian panjang lebar. ”Metode Ijmali [global] menjelaskan ayat-ayat Qur’an secara ringkas tapi mencakup dengan bahasa yang populer, mudah dimengerti, dan enak dibaca. Sistimatika penulisannya mengikuti susunan ayat-ayat di dalam mushaf. Penyajiannya, tidak terlalu jauh dari gaya bahasa al-Qur’an[7]. Dengan demikian, ciri-ciri dan jenis tafsir Ijmali mengikuti urut-urutan ayat demi ayat menurut tertib mushaf, seperti halnya tafsir tahlili. Perbedaannya dengan tafsir tahlili adalah dalam tafsir ijmali makna ayatnya diungkapkan secara ringkas dan global tetapi cukup jelas, sedangkan tafsir tahlili makna ayat diuraikan secara terperinci dengan tinjauan berbagai segi dan aspek yang diulas secara panjang lebar.

 

Sebagai contoh: ”Penafsiran yang diberikan tafsir al-Jalalain terhadap 5 ayat pertama dari surat al-Baqarah, tampak tafsirnya sangat singkat dan global hingga tidak ditemui rincian atau penjelasan yang memadai. Penafsiran tentang [Alif Lam Mim], misalnya, dia hanya berkata: Allah Maha Tahu maksudnya. Dengan demikian pula penafsiran [Al-kitab], hanya dikatakan: Yang dibacakan oleh Muhammad. Begitu seterusnya, tanpa ada rincian sehingga penafsiran lima ayat itu hanya dalam beberapa baris saja. Sedangkan tafsir tahlili [analitis], al-Maraghi, misalnya, untuk menjelaskan lima ayat pertama itu ia membutuhkan 7 halaman[8]. Hal ini disebabkan uraiannya bersifat analitis dengan mengemukakan berbagai pendapat dan didukung oleh fakta-fakta dan argumen-argumen, baik berasal dari al-Qur’an atau hadis-hadis Nabi serta pendapat para sahabat dan tokoh ulama, juga tidak ketinggalan argumen semantik. Selanjutnya[9], metode ijmali dalam penafsiran ayat-ayat al-Qur’an juga memiliki kelebihan dan kelemahan di antaranya, sebagai berikut:

Kelebihan :

 

Kelebihan metode ijmali di antaranya, adalah: [1] Praktis dan mudah dipahami: Tafsir yang menggunakan metode ini terasa lebih praktis dan mudah dipahami. Tanpa berbelit-belit pemahaman al-Qur’an segera dapat diserap oleh pembacanya. Pola penafsiran serupa ini lebih cocok untuk para pemula. Tafsir dengan metode ini banyak disukai oleh ummat dari berbagai strata sosial dan lapisan masyakat. [2] Bebas dari penafsiran israiliah: Dikarenakan singkatnya penafsiran yang diberikan, maka tafsir ijmali relatif murni dan terbebas dari pemikiran-pemikiran Israiliat yang kadang-kadang tidak sejalan dengan martabat al-Qur’an sebagai kalam Allah yang Maha Suci. Selain pemikiran-pemikiran Israiliat, dengan metode ini dapat dibendung pemikiran-pemikiran yang kadang-kadang terlalu jauh dari pemahaman ayat-ayat al-Qur’an seperti pemikiran-pemikiran spekulatif yang dikembangkan oleh seorang teologi, sufi, dan lain-lain. [3] Akrab dengan bahasa al-Qur’an: Tafsir ijmali ini menggunakan bahasa yang singkat dan padat, sehingga pembaca tidak merasakan bahwa ia telah membaca kitab tafsir. Hal ini disebabkan, karena tafsir dengan metode global menggunakan bahasa yang singkat dan akrab dengan bahasa arab tersebut. Kondisi serupa ini tidak dijumpai pada tafisr yang menggunakan metode tahlili, muqarin, dan maudhu’i. Dengan demikian, pemahaman kosakata dari ayat-ayat suci lebih mudah didapatkan dari pada penafsiran yang menggunakan tiga metode lainnya.

 

Kekurangan :

 

Kelemahan dari metode ijmali antara lain: [1] Menjadikan petunjuk al-Qur’an bersifat parsial: al-Qur’an merupakan satu-kesatuan yang utuh, sehingga satu ayat dengan ayat yang lain membentuk satu pengertian yang utuh, tidak terpecah-pecah dan berarti, hal-hal yang global atau samar-samar di dalam suatu ayat, maka pada ayat yang lain ada penjelasan yang lebih rinci. Dengan menggabungkan kedua ayat tersebuat akan diperoleh suatu pemahaman yang utuh dan dapat terhindar dari kekeliruan[10]. [2] Tidak ada ruangan untuk mengemukakan analisis yang memadai: Tafsir yang memakai metode ijmali tidak menyediakan ruangan untuk memberikan uraian dan pembahasan yang memuaskan berkenaan dengan pemahaman suatu ayat. Oleh karenanya, jika menginginkan adanya analisis yang rinci, metode global tak dapat diandalkan. Ini disebut suatu kelemahan yang disadari oleh mufassir yang menggunakan metode ini. Namun tidak berarti kelemahan tersebut bersifat negatif, kondisi demikian amat positif sebagai ciri dari tafsir yang menggunakan metode global[11].

 

Di antara kitab-kitab tafsir dengan metode ijmali, yaitu tafsir al-Jalalain karya Jalal al-Din al-Suyuthy dan Jalal al-Din al-Mahally, Tafsir al-Qur’an al’Adhin olah Ustadz Muhammad Farid Wajdy, Shafwah al-Bayan li Ma’any al-Qur’an karangan Syaikh Husanain Muhammad Makhlut, al-Tafsir alMuyasasar karangan Syaikh Abdul al-Jalil Isa, dan sebagainya.

 

  1. Metode Tahlili [Analitis]

Yang dimaksud dengan metode analisis ialah menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an dengan memaparkan segala aspek yang terkandung di dalam ayatayat yang ditafsirkan itu serta menerangkan makna-makna yang tercakup di dalamnya sesuai dengan keahlian dan kecenderungan mufassir yang menafsirkan ayat-ayat tersebut[12]. Jadi, ”pendekatan analitis” yaitu mufassir membahas al-Qur’an ayat demi ayat, sesuai dengan rangkaian ayat yang tersusun di dalam al-Qur’an. Maka, tafsir yang memakai pendekatan ini mengikuti naskah al-Qur’an dan menjelaskannya dengan cara sedikit demi sedikit, dengan menggunakan alat-alat penafsiran yang ia yakini efektif [seperti mengandalkan pada arti-arti harfiah, hadis atau ayat-ayat lain yang mempunyai beberapa kata atau pengertian yang sama dengan ayat yang sedang dikaji], sebatas kemampuannya di dalam membantu menerangkan makna bagian yang sedang ditafsirkan, sambil memperhatikan konteks naskah tersebut[13].

 

Metode tahlili, adalah metode yang berusaha untuk menerangkan arti ayat-ayat al-Qur’an dari berbagai seginya, berdasarkan urutan-urutan ayat atau surah dalam mushaf, dengan menonjolkan kandungan lafadzlafadznya, hubungan ayat-ayatnya, hubungan surah-surahnya, sebab-sebab turunnya, hadis-hadis yang berhubungan dengannya, pendapat-pendapat para mufassir terdahulu dan mufassir itu sendiri diwarnai oleh latar belakang pendidikan dan keahliannya.

 

Ciri-ciri metode tahlili. Penafsiran yang mengikuti metode ini dapat mengambil bentuk ma’tsur [riwayat] atau ra’y [pemikiran]: [a] Di antara kitab tafsir tahlili yang mengambil bentuk al-ma’tsur adalah kitab tafsir Jami’ alBayan’an Ta’wil Ayi al-Qur’an karangan Ibn Jarir al-Thabari [w.310H], Ma’alim al-Tazil karangan al-Baghawi [w.516H], Tafsir al-Qur’an al-’Azhim [terkenal dengan tafsir Ibn Katsir] karangan Ibn Katsir [w.774H], dan al-Durr alMantsur fi al-tafsir bi al-Ma’tsur karangan al-Suyuthi [w.911H]. [b] Tafsir tahlili yang mengambil bentuk al-Ra’y banyak sekali, antara lain: Tafsir al-Khazin karangan al-Khazin [w.741H], Anwar al-Tanzil wa Asrar al-Ta’wil karangan al-Baydhawi [w.691H], al-Kasysyaf karangan al-Zamakhsyari [w.538H], ’Arais al-Bayan fi Haqaia al-Qur’an karangan al-Syirazi [w.606H], al-Tafsir al-Kabir wa Mafatih al-Ghaib karangan al-Fakhr al-Razi [w.606H], tafsir al-Jawahir fi Tafsir al-Qur’an karangan Thanthawi Jauhari, Tafsir al-Manar karangan Muhammad Rasyid Ridha [w.1935] dan lain-lain.

 

Jadi, pola penafsiran yang diterapkan oleh para pengarang kitabkitab tafsir yang dinukilkan di atas terlihat jelas, bahwa mereka berusaha menjelaskan makna yang terkandung di dalam ayat-ayat al-Qur’an secara komprehensif dan menyeluruh, baik yang berbentuk al-ma’tsur maupun al-ra’y[14]. Maka untuk lebih mudah mengenal metode tafsir analitis, berikut ini dikemukakan beberapa corak tafsir yang tercakup dalam tafsir tahlil, sebagai contoh, yaitu:

 

Tafsir al-Ma’tsur, yaitu cara menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an berdasarkan nash-nash, baik dengan ayat-ayat al-Qur’an sendiri, dengan hadis-hadis Nabi, dengan pendapat sahabat, maupun dengan pendapat tabiin. Pendapat [aqwal] tabiin masih kontraversi dimasukkan dalam tafsir bil ma’tsur sebab para tabiin dalam memberikan penafsiran ayat-ayat al-Qur’an tidak hanya berdasarkan riwayat yang mereka kutip dari Nabi, tetapi juga memasukkan ide-ide dan pemikiran mereka [melakukan ijtihad]. Tafsir ma’tsur yang paling tinggi peringkatnya adalah tafsir yang berdasarkan ayat al-Qur’an yang ditunjuk oleh Rasulullah. Peringkat kedua adalah tafsir dengan hadis. Di bawahnya adalah tafsir ayat dengan aqwal [pendapat] sahabat dan peringkat terakhir adalah tafsir ayat dengan aqwal tabiin[15].

 

Tafsir al-Ra’y, yaitu tafsir ayat-ayat al-Qur’an yang didasarkan pada ijtihad mufasirnya dan menjadikan akal fikiran sebagai pendekatan utamanya. ”tafsir i al-ra’y yang menggunakan metode analitis ini, para mufassir memperoleh kebebasan, sehingga mereka agak lebih otonom [mandiri] berkreasi dalam memberikan interpretasi terhadap ayat-ayat al-Qur’an selama masih dalam batas-batas yang diizinkan oleh syara dan kaidah- kaidah penafsiran yang mu’tabar”. Itulah salah satu sebab yang membuat tafsir dalam bentuk al-ra’y dengan metode analitis dapat melahirkan corak penafsiran yang beragam sekali seperti tafsir fiqih, falsafi, sufi, ’ilmi, adabi ijtima’i, dan lain sebagainya[16]. Kebebasan serupa itu sulit sekali diterapkan di dalam tafsir yang memakai metode global [ijmali] sekalipun bentuknya al-ra’y. Dikarenakan adanya kebebasan serupa itulah, maka tafsir bi al-ra’y berkembang jauh lebih pesat meninggalkan tafsir bi al-ma’tsur, sebagaimana diakui oleh ulama tafsir semisal Manna’ al-Qhathathan[17].

 

Tetapi menurut Adz-Dzahaby, para ulama telah menetapkan syarat-syarat diterimanya tafsir ra’y yaitu, bahwa penafsirnya: [1] benar-benar menguasai bahasa Arab dengan segala seluk beluknya, [2] mengetahui asbabun nuzul, nasikh-mansukh, ilmu qiraat dan syarat-syarat keilmuan lain, [3] tidak menginterpretasikan hal-hal yang merupakan otoritas Tuhan untuk mengetahuinya, [4] tidak menafsirkan ayat-ayat berdasarkan hawa nafsu dan intres pribadi, [5] tidak menafsirkan ayat berdasarkan aliran atau paham yang jelas batil dengan maksud justifikasi terhadap paham tersebut, [6] tidak menganggap bahwa tafsirnya yang paling benar dan yang dikehendaki oleh Tuhan tanpa argumentasi yang pasti[18]. Maka, sebagaimana metode tafsir yang lain, metode tahlili [analitis] juga memiliki kelemahan dan kelebihan, diantarnya:

 

Kelebihan :

 

Kelebihan metode ini antara lain: [1] Ruang lingkup yang luas: Metode analisis mempunyai ruang lingkup yang termasuk luas. Metode ini dapat digunakan oleh mufassir dalam dua bentuknya; ma’tsur dan ra’y dapat dikembangkan dalam berbagai penafsiran sesuai dengan keahlian masingmasing mufassir. Sebagai contoh: ahli bahasa, misalnya, mendapat peluang yang luas untuk manfsirkan al-Qur’an dari pemahaman kebahasaan, seperti Tafsir al-Nasafi, karangan Abu al-Su’ud, ahli qiraat seperti Abu Hayyan, menjadikan qiraat sebagai titik tolak dalam penafsirannya. Demikian pula ahli fisafat, kitab tafsir yang dominasi oleh pemikiran-pemikiran filosofis seperti Kitab Tafsir al-Fakhr al-Razi. Mereka yang cenderung dengan sains dan teknologi menafsirkan al-Qur’an dari sudut teori-teori ilmiah atau sains seperti Kitab Tafsir al-Jawahir karangan al-Tanthawi al-Jauhari, dan seterusnya. [2] Memuat berbagai ide: metode analitis relatif memberikan kesempatan yang luas kepada mufassir untuk mencurahkan ide-ide dan gagasannya dalam menafsirkan al-Qur’an. Itu berarti, pola penafsiran metode ini dapat menampung berbagai ide yang terpendam dalam bentuk mufassir termasuk yang ekstrim dapat ditampungnya. Dengan terbukanya pintu selebarlebarnya bagi mufassir untuk mengemukakan pemikiran-pemikirannya dalam menafsirkan al-Qur’an, maka lahirlah kitab tafsir berjilid-jilid seperti kitab Tafsir al-Thabari [15 jilid], Tafsir Ruh al-Ma’ani [16 jilid], Tafsir al-Fakhr al-Razi [17 jilid], Tafsir al-Maraghi [10 jilid], dan lain-lain.

 

Kelemahan :

 

Kelemahan dari metode tafsir analitis adalah:

[1] Menjadikan petunjuk al-Qur’an parsial: metode analitis juga dapat membuat petunjuk al-Qur’an bersifat parsial atau terpecah-pecah, sehingga terasa seakan-akan alQur’an memberikan pedoman secara tidak utuh dan tidak konsisten karena penafsiran yang diberikan pada suatu ayat berbeda dari penafsiran yang diberikan pada ayat-ayat lain yang sama dengannya. Terjadinya perbedaan, karena kurang memperhatikan ayat-ayat lain yang mirip atau sama dengannya. Ayat [nafsin wahidah], misalnya, Ibn Katsir menafsirkan dengan Adam a.s. Konsekuensinya, ketika dia menafsirkan lanjutan ayat itu  [wakholaqo minha zaujaha] ia menulis: ”yaitu Siti Hawa diciptakan dari tulang  rusuk Adam yang kiri. Berarti, ungkapan [nafsin wahidah] menurut Ibn Katsir tidak lain maksudnya dari Adam di dalam ayat itu[19].

[2] Melahirkan penafsir subyektif: Metode analitis ini memberi peluang yang luas kepada mufassir untuk mengumukakan ide-ide dan pemikirannya. Sehingga, kadangkadang mufassir tidak sadar bahwa dia tidak menafsirkan al-Qur’an secara subyektif, dan tidak mustahil pula ada di antara mereka yang menafsirkan al-Qur’an sesuai dengan kemauan bahwa nafsunya tanpa mengindahkan kaidah-kaidah atau norma-norma yang berlaku.

[3] Masuk pemikiran Israiliat: Metode tahlili tidak membatasi mufassir dalam mengemukakan pemikiran-pemikiran tafsirnya, maka berbagai pemikiran dapat masuk ke dalamnya, tidak tercuali pemikiran Israiliat. Sepintas lalu, kisah-kisah Israiliat tidak ada persoalan, selama tidak dikaitkan dengan pemahaman al-Qur’an. Tetapi bila dihubungkan dengan pemahaman kitab suci, timbul problem karena akan terbentuk opini bahwa apa yang dikisahkan di dalam cerita itu merupakan maksud dari firman Allah, atau petunjuk Allah, padahal belum tentu cocok dengan yang dimaksud Allah di dalam firman-Nya tersebut.

Di sini letak negatifnya kisah-kisah Israiliat. Kisa-kisa itu dapat masuk ke dalam tafsir tahlili karena metodenya memang membuka pintu untuk itu. Sebagi contoh, seperti dalam penafsiran al-Qurthubi tentang penciptaan manusia pertama, termaktub di dalam ayat 30 surah al-Baqarah sebagai dikatakannya: ”Allah menciptakan Adam dengan tangan-Nya sendiri langsung dari tanah selama 40 hari. Setalah kerangka itu siap lewatlah para malaikat di depannya. Mereka terperanjat karena amat kagum melihat indahnya ciptaan Allah itu dan yang paling kagum ialah iblis, lalu dipukul-pukulnya kerangka Adam tersebut, lantas terdengar bunyi seperti peiuk belanga dipukul: seraya ia berucap: ”Untuk apa kau diciptakan [ li amrin maa kholaqoc][20]. Maka, apabila dicermati penafsiran al-Qurthubi itu, ada benarnya  penilaian yang diberikan kepada al-Khathib bahwa penafsiran tersebut masuk dalam kelompok tafsir Israiliat.

  1. Metode Muqarin [Komparatif]

Tafsir al-Muqarin adalah penafsiran sekolompok ayat al-Qur’an yang berbicara dalam suatu masalah dengan cara membandingkan antara ayat dengan ayat atau antaraa ayat dengan hadis baik dari segi isi maupun redaksi atau antara pendapat-pendapat para ulama tafsir dengan menonjolkan segisegi perbedaan tertentu dari obyek yang dibandingkan. Jadi yang dimaksud dengan metode komporatif ialah: [a] membandingkan teks [nash] ayat-ayat al-Qur’an yang memiliki persamaan atau kemiripan redaksi dalam dua kasus atau lebih, dan atau memiliki redaksi yang berbeda bagi suatu kasus yang sama, [b] membandingkan ayat al-Qur’an dengan hadis yang pada lahirnya terlihat bertentangan, dan [c] membandingkan berbagai pendapat ulama tafsir dalam menafsirkan al-Qur’an[21].

Tafsir al-Qur’an dengan menggunakan metode ini mempunyai cakupan yang teramat luas. Ruang lingkup kajian dari masing-masing aspek itu berbeda-beda. Ada yang berhubungan dengan kajian redaksi dan kaitannya dengan konotasi kata atau kalimat yang dikandungnya. Maka, M. Quraish Shihab, menyatakan bahwa ”dalam metode ini khususnya yang membandingkan antara ayat dengan ayat [juga ayat dengan hadis]… biasanya mufassirnya menejelaskan hal-hal yang berkaitan denagan perbedaan kandungan yang dimaksud oleh masing-masing ayat atau perbedaan kasus masalah itu sendiri[22].

Ciri utama metode ini adalah ”perbandingan” [komparatif]. Di sinilah letak salah satu perbedaan yang prinsipil antara metode ini dengan metodemetode yang lain. Hal ini disebabkan karena yang dijadikan bahan dalam memperbandingkan ayat dengan ayat atau dengan hadis, perbandingan dengan pendapat para ulama. Untuk lebih jelsnya, perlu mengkaji kelebihan dan kelemahan dari metode ini:

 

Kelebihan :

 

Kelebihan metode ini antara lain: [1] memberikan wawasan penafsiran yang relatif lebih luas kepada pada pembaca bila dibandingkan dengan metode-metode lain. Di dalam penafsiran ayat al-Qur’an dapat ditinjau dari berbagai disiplin ilmu pengetahuan sesuai dengan keahlian mufassirnya, [2] membuka pintu untuk selalu bersikap toleransi terhadap pendapat orang lain yang kadang-kadang jauh berbeda dari pendapat kita dan tak mustahil ada yang kontradiktif. Dapat mengurangi fanatisme yang berlebihan kepada suatu mazhab atau aliran tertentu, [3] tafsir dengan metode ini amat berguna bagi mereka yang ingin mengetahui berbagai pendapat tentang suatu ayat, [4] dengan menggunakan metode ini, mufassir didorong untuk mengkaji berbagai ayat dan hadis-hadis serta pendapat para mufassir yang lain.

 

Kekurangan :

 

Kelemahan metode ini antara lain: [1] penafsiran dengan memakai metode ini tidak dapat diberikan kepada pemula yang baru mempelajari tafsir, karena pembahasan yang dikemukakan di dalamnya terlalu luas dan kadangkadang ekstrim, [2] metode ini kurang dapat diandalkan untuk menjawab permasalahan sosial yang tumbuh di tengah masyarakat, karena metode ini lebih mengutamakan perbandingan dari pada pemecahan masalah, [3] metode ini terkesan lebih banyak menelusuri penafsiran-penafsiran yang pernah dilakukan oleh para ulama daripada mengemukakan penafsiranpenafsiran baru[23].

  1. Metode Maudhu’i [Tematik]

Metode tematik ialah metode yang membahas ayat-ayat al-Qur’an sesuai dengan tema atau judul yang telah ditetapkan. Semua ayat yang berkaitan dihimpun, kemudian dikaji secara mendalam dan tuntas dari berbagai aspek yang terkait dengannya, seperti asbab al-nuzul, kosakata, dan sebagainya. Semua dijelaskan dengan rinci dan tuntas, serta didukung oleh dalil-dalil atau fakta-fakta yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, baik argumen yang berasal dari al-Qur’an, hadis, maupun pemikiran rasional[24]. Jadi, dalam metode ini, tafsir al-Qur’an tidak dilakukan ayat demi ayat. Ia mencoba mengkaji al-Qur’an dengan mengambil sebuah tema khusus dari berbagai macam tema doktrinal, sosial, dan kosmologis yang dibahas oleh al-Qur’an. Misalnya ia mengkaji dan membahas dotrin Tauhid di dalam al-Qur’an, konsep nubuwwah di dalam al-Qur’an, pendekatan alQur’an terhadap ekonomi, dan sebagainya.

M. Quraish Shihab, mengatakan bahwa metode meudhu’i mempunyai dua pengertian. Pertama, penafsiran menyangkut satu surat dalam al-Qur’an dengan menjelaskan tujuan-tujuannya secara umum dan yang merupakan tema ragam dalam surat tersebut antara satu dengan lainnya dan juga dengan tema tersebut, sehingga satu surat tersebut dengan berbagai masalahnya merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Kedua, penafsiran yang bermula dari menghimpun ayat-ayat al-Qur’an yang dibahas satu masalah tertentu dari berbagai ayat atau surat al-Qur’an dan sedapat mungkin diurut sesuai dengan urutan turunnya, kemudian menjelaskan pengertian menyeluruh ayat-ayat tersebut, guna menarik petunjuk al-Qur’an secara utuh tentang masalah yang dibahas itu[25]. Lebih lanjut M. Quraish Shihab mengatakan bahwa, dalam perkembangan metode maudhu’i ada dua bentuk penyajian pertama menyajikan kotak berisi pesan-pesan alQur’an yang terdapat pada ayat-ayat yang terangkum pada satu surat saja. Biasanya kandungan pesan tersebut diisyaratkan oleh nama surat yang dirangkum padanya selama nama tersebut bersumber dari informasi rasul. Kedua, metode maudhu’i mulai berkembang tahun 60-an. Bentuk kedua ini menghimpun pesan-pesan al-Qur’an yang terdapat tidak hanya pada satu surah saja[26].

Ciri metode ini ialah menonjolkan tema. Judul atau topik pembahasan, sehingga tidak salah jika dikatakan bahwa metode ini juga disebut metode topikal. Jadi, mufassir mencari tema-tema atau topik-topik yang ada di tengah masyarakat atau berasal dari al-Qur’an itu sendiri, atau dari lain-lain. Kemudian tema-tema yang sudah dipilih itu dikaji secara tuntas dan menyeluruh dari berbagai aspeknya sesuai dengan kapasitas atau petunjuk yang termuat di dalam ayat-ayat yang ditafsirkan tersebut. Jadi penafsiranyang diberikan tidak boleh jauh dari pemahaman ayat-ayat al-Qur’an agar tidak terkesan penafsiran tersebut berangkat dari pemikiran atau terkaan berkala [al-ra’y almahdh]. Oleh karena itu dalam pemakainnya, metode ini tetap menggunakan kaidah-kaidah yang berlaku secara umum di dalam ilmu tafsir[27]. Kelebihan dan kekurangan metode maudhu’i ini adalah:

 

Kelebihan :

 

Kelebihan metode ini antara lain: [1] Menjawab tantangan zaman: Permasalahan dalam kehidupan selalu tumbuh dan berkembang sesuai dengan perkembangan kehidupan itu sendiri. Maka metode maudhu’i sebagai upaya metode penafsiran untuk menjawab tantangan tersebut. Untuk kajian tematik ini diupayakan untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapi masyarakat. [2] Praktis dan sistematis: Tafsir dengan metode tematik disusun secara praktis dan sistematis dalam usaha memecahkan permasalahan yang timbul. [3] Dinamis: Metode tematik membuat tafsir alQur’an selalu dinamis sesuai dengan tuntutan zaman sehingga menimbulkan image di dalam pikiran pembaca dan pendengarnya bahwa al-Qur’an senantiasa mengayomi dan membimbing kehidupan di muka bumi ini pada semua lapisan dan starata sosial. [4] Membuat pemahaman menjadi utuh: Dengan ditetapkannya judul-judul yang akan dibahas, maka pemahaman ayat-ayat al-Qur’an dapat diserap secara utuh. Pemahaman semacam ini sulit ditemukan dalam metode tafsir yang dikemukakan di muka. Maka metode tematik ini dapat diandalkan untuk pemecahan suatu permasalahan secara lebih baik dan tuntas.

 

Kekurangan :

Kekurangan metode ini antara lain: [1] Memenggal ayat al-Qur’anYang dimaksud memenggal ayat al-Qur’an ialah suatu kasus yang terdapat di dalam suatu ayat atau lebih mengandung banyak permasalahan yang berbeda. Misalnya, petunjuk tentang shalat dan zakat. Biasanya keduibadah itu diungkapkan bersama dalam satu ayat. Apabila ingin membahas kajian tentang zakat misalnya, maka mau tidak mau ayat tentang shalat harudi tinggalkan ketika menukilkannya dari mushaf agar tidak mengganggu pada waktu melakukan analisis. [2] Membatasi pemahaman ayat: Dengan diterapkannya judul penafsiran, maka pemahaman suatu ayat menjadterbatas pada permasalahan yang dibahas tersebut. Akibatnya mufassterikat oleh judul itu. Padahal tidak mustahil satu ayat itu dapat ditinjadari berbagai aspek, karena dinyatakan Darraz bahwa, ayat al-Qur’an itu bagaikan permata yang setiap sudutnya memantulkan cahaya. Jadi, dengaditerapkannya judul pembahasan, berarti yang akan dikaji hanya satu sudut dari permata tersebut[28].

 

  1. F.   angkah-langkah Penelitian
  2. Metode Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah study pustaka, dimana penulis membaca. Dimana penulis sendiri yang membaca dan menganalisis definisi yang definitif dan definisi praktif.

  1. Sumber Data

Sumber data yang penulis gunakan dalam penelitian ini terbagi menjadi dua katagori.

  1. Sumber Data Primerialah Kitab-kitab Tafsir, Ulumu Al-tafsir, dan Ulum Al-quran.
  2. Sumber Data Sekunder, yaitu diambil dari :
    1. Ahmad As. Shouwy. 1995. Mukjizat al-Qur’an dan as-Sunnah tentang IPTEK. Jakarta: Gema Insani Press.
    2. Ahmad Warson Munawwir. 1984. Al-Munawwir Kamus Arab-Indonesia, Yogyakarta: Unit Pengadaan Buku-buku Ilmiah Keagamaan PP.”AlMunawwir” Krapyak.
    3. Bustami A.Gani. 1986. Beberapa Aspek Ilmiah Tentang Al-Qur’an. Cet. Ke-I. Jakarta: Perguruan Tinggi Ilmu al-Qur’an.
    4. Koentjaraningrat. 1977. Metode-metode Penelitian Masyarakat. Jakarta: Gramedia.
    5. M. Quraish Shihab. 1992. Membumikan al-Qur’an. Bandung: Mizan.
    6. _______.1997. Wawasan al-Qur’an, Tafsir Mauthu’i atas Perbagai Persoalan. Bandung: Mizan.
    7.  _______.1991. “Metode Tafsir Tidak Ada Yang Terbaik”, Pesantren, No.I/ Vol.VIII, 1991. Muhammad Baqi r al -Sadar. 1990. Pendekatan Temati k Terhadap Tafsir al-Qur’an, Ulumul Qur’an, Jurnal Ilmu dan Kebudayaa, No.4.Vol.I/1990M/1410H.
    8. Muqowin. 1997. Metode Tafsir, Makalah Seminar, Program Pasca Sarjana [S-2] IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
    9. Nashruddin Baidan. 1998. Metodologi Penafsiran al-Qur’an. Jakarta: Pustaka Pelajar.
    10. Tim Penyusun. 1988. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Cet. Ke-I. Jakarta: Balai Pustaka.
    11. Teknik Pengumpulan Data

Data yang diperlukan penulis semuanya akan diperoleh melalui membaca, mempelajari dan meneliti sumber data yang primer dan sekunder.

  1. Analisa Data

Definisi-definisi dan corak yang telah terkumpul sesuai dengan tema penelitian kemudian dianalisa dengan cara pemahaman teks dan parakteknya.

 

 


[1]. QS. Al-isra : 9

[2]. M. Quraish Shihab. 1992. Membumikan al-Qur’an. Bandung: Mizan. hlm. 72

[3]. Ibid. hlm. 72-73. [Penjelasan: [a] Corak sastra bahasa, yang timbul akibat banyaknya orang-orang non-Arab yang memeluk agama Islam, serta akibat kelemahan-kelemahan orang Arab sendiri di bidang sastra, sehingga dirasakan kebutuhan untuk menjelaskan kepada mereka tentang keinstimewaan dan kedalaman arti kandungan al-Qur’an. [b] Corak filsafat dan teologi, akibatnya penerjemahan kitab filsafat yang mempengaruhi sementara pihak, serta akibat masuknya penganut agama-agama lain ke dalam Islam yang dengan sadar atau tanpa sadar masih mempercayai beberapa hal dari kepercayaan lama mereka. Kesemuanya menimbulkan pendapat setuju atau tidak setuju yang tercermin dalam penafsiran mereka. [c] Corak penafsiran ilmiah: akibat kemajuan ilmu pengetahuan dan usaha penafsiran untuk memahami ayat-ayat al-Qur’an sejalan dengan perkembangan ilmu. [d] Corak fiqih atau hukum: akibat berkembangnya ilmu fiqih, dan terbentuknya mazhab-mazhab fiqih, yang setiap golongan berusaha membuktikan kebenaran pendapatnya berdasarkan penafsiaran-penafsiran mereka terhadap ayat-ayat hukum. [e] Corak tasawuf: akibat timbulnya gerakangerakan sufi sebagai reaksi dari kecenderungan berbagai pihak terhadap materi, atau sebagai kompensasi terhadap kelemahan yang dirasakan. [f] Bermula pada masa Syaikh Muhammad ‘Abduh [1849-1905], corak-corak tersebut mulai berkurang dan perhatian lebih banyak tertuju kepada corak sastra budaya kemasyarakatan [Quraish Shihab. Ibid. hlm. 72-73].

[4]. Penjelasan: [a] Bahasa: dipakai oleh semua pihak bahwa untuk memahami kandungan al-Qur’an diperlukan pengetahuan bahasa Arab. Maka untuk memahami arti suatu kata dalam rangkaian redaksi suatu ayat, terlebih dahulu harus meneliti apa saja pengertian yang terkandung oleh kata tersebut. Kemudian menetapkan arti yang paling tepat setelah memperhatikan segala aspek yang berhubungan dengan ayat tadi. [b] Konteks antara kata dan ayat: untuk memahami pengertian suatu kata dalam rangkaian suatu ayat tidak dapat dilelpaskan dari konteks kata tersebut dengen keseluruhan kata dalam redaksi ayat tadi. Seseorang yang tidak memperhatikan hubungan antara arsalna al-ariyah lawaqi, dengan “mengawinkan [tumbuh-tumbuhan]”.

Namun apabila diperhatikan kata tersebut berhubungan dengan kalimat berikutnya, maka hubungan sebab akibat atau hubungan kronologi yang dipahami dari huruf fa dan anzalna tentunya pengertian “mengawinkan tumbuh-tumbuhan”, melalui argumentasi tersebut, tidak akan dibenarkan karena tidak ada sebab akibat antara perkawinan tumbuh-tumbuhan dan turunya hujan. “Jika pengertian itu yang dikandung oleh arti faanzalna min al-sama’I ma’a”. Maka tentunya lanjutan ayat tadi adalah “maka tumbuhlah tumbuh-tumbuhan dan siaplah buahnya untuk dimakan manusia. [c] Sifat Penemuan Ilmiah: hasil pemikiran seseorang dipengaruhi oleh banyak factor, antara lain – perkembangan ilmu pengetahuan dan pengalaman-pengalaman.

Perkembangan ilmu pengatahuan telah sedemikian pesatnya, sehingga dari factor ini saja pemahaman terhadap redaksi al-Qur’an dapat berbeda-beda. Namun apa yang dipersembahkan oleh para ahli dari berbagai disiplin ilmu, sangat bervariasi dari segi kebenarannya. Maka, bertitik tolak dari prinsip “Larangan penafsiran al-Qur’an secara spekulatif”, maka penemuan-penemuan ilmiah yang belum mapan tidak dapat dijadikan dasar dalam penafsiran al-Qur’an [Ahmad As. Shouwy, dkk. 1995. Mukjizat al-Qur’an dan as-Sunnah tentang IPTEK. Jakarta: Gema Insani Press. hlm.27].

[6]Tafsir bi al-ra’y al-mahdh [tafsir berdasarkan pemikiran] yang dilarang oleh Nabi, bahkan Ibnu Taymiyah menegaskan bahwa penafsiran serupa itu haram [Ibnu Taymiyah. 1971/1391. Muqaddimat fi Ushul al-Tafsir. Kuwait: Dar al-Qur’an al-Karim, cet.ke-I. hlm. 105.

[7]. Nashruddin Baidan. Metodologi Penafsiran Al-quran (Jakarta : 1998).Hlm. 13.

[8]. Nashruddin Baidan. Ibid. hlm. 13.

[9]. Baca Tafsir al-Maraghi, juz I, jilid I, cet. Ke-3, Dar al-Fikr, 1989, hlm.39-45, dan dalam Nashruddin Baidan, hlm. 17.

[10]. Sebagai contoh: perhatikan firman Allah dalam ayat 11 surah ar-Ra’du dan ayat 53 surat al-Anfal sebagai berikut:

لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِقَوْمٍ سُوءًا فَلَا مَرَدَّ لَهُ وَمَا لَهُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَالٍ (11)

ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ لَمْ يَكُ مُغَيِّرًا نِعْمَةً أَنْعَمَهَا عَلَى قَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ وَأَنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ (53)

 

Kedua ayat tersebut ditafsirkan sebagai berikut :

“لَهُ” لِلْإِنْسَانِ “مُعَقِّبَات” مَلَائِكَة تَتَعَقَّبهُ “مِنْ بَيْن يَدَيْهِ” قُدَّامه “وَمِنْ خَلْفه” وَرَائِهِ “يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْر اللَّه” أَيْ بِأَمْرِهِ مِنْ الْجِنّ وَغَيْرهمْ “إنَّ اللَّه لَا يُغَيِّر مَا بِقَوْمٍ” لَا يَسْلُبهُمْ نِعْمَته “حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ” مِنْ الْحَالَة الْجَمِيلَة بِالْمَعْصِيَةِ “وَإِذَا أَرَادَ اللَّه بِقَوْمٍ سُوءًا” عَذَابًا “فَلَا مَرَدَّ لَهُ” مِنْ الْمُعَقِّبَات وَلَا غَيْرهَا “وَمَا لَهُمْ” لِمَنْ أَرَادَ اللَّه بِهِمْ سُوءًا “مِنْ دُونه” أَيْ غَيْر اللَّه “مِنْ” زَائِدَة “وَالٍ” يَمْنَعهُ عَنْهُمْ.

 

[Sesungguhnya Allah tidak  mengubah apa yang ada pada suatu kaum] tidak mencabut dari mereka amanatnya [kecuali mereka mengubah apaa yang ada pada diri mereka], dari sifat-sifat yang bagus dan terpuji menjadi perbuatan maksiat [al-Mahalli dan al-Suyuthi [pada pinggir]. Kitab tafsir al-hawi ala al-Jalalain, karangan Ahmad al-Shawi, Mesir: “isa al-Bab al-Halabi.II, hlm. 225-226., dalam Nashruddin Baidan, hlm. 25]:

 

“ذَلِكَ” أَيْ تَعْذِيب الْكَفَرَة “بِأَنْ” أَيْ بِسَبَبِ أَنَّ “اللَّه لَمْ يَكُ مُغَيِّرًا نِعْمَة أَنْعَمَهَا عَلَى قَوْم” مُبَدِّلًا لَهَا بِالنِّقْمَةِ “حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ” يُبَدِّلُوا نِعْمَتهمْ كُفْرًا كَتَبْدِيلِ كُفَّار مَكَّة إطْعَامهمْ مِنْ جُوع وَأَمْنهمْ مِنْ خَوْف وَبَعْث النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إلَيْهِمْ بِالْكُفْرِ وَالصَّدّ عَنْ سَبِيل اللَّه وَقِتَال الْمُؤْمِنِينَ.


[Yang demikian itu] yakni menyiksa orang-orang kafir [dikarenakan] sesungguhnya [Allah selamanya tak pernah mengubah nikmat yang telah dianugrahkan-Nya kepada suatu kaum] dengan menggantikannya dengan kutukan [kecuali merekaa mengubah apa yang ada pada diri mereka], yakni mereka mengganti nikmat itu dengan kufur seperti perbuatan para kafir Mekkah yang menukar anugerah makanan, kemanan dan kebangkitan Nabi dengan bersikap ingkar, menghalang-halangi agama Allah, dan memerangi umat Islam [ibid, hlm. 112, dalam Nashruddin Baidan, hlm. 26]. Kedua penafsiran yang diberikan itu tampaak tidak sinkron. Di dalam ayat pertaama ia [al-Suyuthi] menafsirkan [حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ] itu dengan: mengubah  sifat-sifat yang baik dengan perbuatan maksiat. Sementara padaa ayat kedua untuk ungkapan yang sama dia memebrikan penafsiran yang berbeda seperti dikatakannya: “menggaanti nikmat itu dengan kufur”. Jadi penaafsiran yang pertama bersifat abstrak dan yang kedua bersifat konkret [Nashruddin Baidan. Ibid. hlm. 22-27].

[11] . Nashruddin Baidan. Loc. Cit. hlm. 22-27.

[12] . ‘Abd al-Hayy Al-Farmawi. 1977. al-Bidayah fi al-tafsir al-Maudhu’i. Mathba’at alHidharat al-‘Arabiyah. cet., ke-2., hlm. 24. M. Quraish Shihab. 1986. Tafsir al-Qur’an dengan Metode Maudhu’i, di dalam Bustami A. Gani [ed], Beberapa Aspek Ilmiah tentang al-Qur’an, Jakarta, Perguruan Tinggi Ilmu al-Qur’an. cet. ke-I, hlm. 37.

[13]. Muhammad Baqir al-Sadr. 1990. Pendekatan Tematik terhadap Tafsir al-Qur’an, Ulumul Qur’an, Jurnal Ilmu dan Kebudayaan, No.4, Vol.1, 1990/1410H, hlm. 28.

[14]. Nashruddin Baidan. Loc. Cit. hlm. 32.

[15] . Manna’ al-Qattan. 1973. Mabahits fy Ulmum al-Qur’an, Riyadh: Mansyurat al-Ashr al-Hadis. hlm. 182-183., dalam Muqowin. 1997. Metode Tafsir, Makalah Seminar al-Qur’an Program Pasca [S-2] IAIN Sunan Kalija Yogyakarta, 1997, hlm.7

[16]. Nashruddin Baidan. Loc. Cit. hlm. 50.

[17] . Manna’ al-Qattan. 1973. Mabahits fi ‘Ulum al-Qur’an, Mansyurat al-‘Ashr al-Hadis, ttp. hlm. 342, dalam Nashruddin Baidan. Ibid.

[18]. Muhammad Husain Adz-Dzahabi. Tafsir wa al-Mufassiran. hlm. 48.

[19]. Abual-Fida al-Hafizh ibn al-Katsir. 1992. Tafsir al-Qur’an al-Azhim [disebut Tafsir ibn al-Katsir]. Beirut: Dar al-Fikr. I-553, dalam Nashruddin Baidan. Loc. Cit. hlm. 55

[20].  al-Qurthubi, al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an [Tafsir al-Qurthubi]. Juz. I. lt.th., hlm. 280., dalam Nashruddin Baidan. Ibid. hlm. 60

[21]. Nashruddin Baidan. Ibid. hlm. 65.

[22]. M. Quraish Shihab. Loc. Cit.

[23]. Nashruddin Baidan. Loc. Cit. hlm. 143-144.

[24]. Al-Farmawi, hlm. 52., dalam Nashruddin Baidan. Ibid. hlm. 151.

[25]. M. Quraish Shihab. 1992. Membumikan al-Qur’an. Bandung: Mizan. hlm. 74.

[26].  M. Quraish Shihab. 1997. Wawasan al-Qur’an, Tafsir Mau atas Perbagai Persoalan Umat. Bandung: Mizan. hlm. xiii.

[27]. Nashruddin Baidan. Loc. Cit. hlm. 152.

[28]. Nashruddin Baidan. Loc. Cit. hlm. 165-168.

About Falah

Keepsmile and .... and... and....
This entry was posted in Keagamaan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s