Senjakala Tafsir Al-quran : Autobiografi Selama Kuliah Di Tatsir Hadits UIN SGD Bandung

Ini ku persembahkan untuk seseorang yang menyayangiku, dan ia teramat suka apabila aku berbicara dogma.

Saya sekarang semester 5 B, Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Selama kuliah di sana aku merasa banya ilmu yang aku dapatkan. Ilmu itu tak pernah saya dapat selama di pesantren-pesantren selama 15 tahun. Banyak kitab-kitab dibaca oleh saya selama di semester 1-3. Saya menelan mentah-mentah apa yang dikatakan para ulama, yang mungkin menurut saya pribadi itu sudah tidak relevan untuk zaman sekarang. Adapun yang relevan, itu faktor kebetulan. Dimana keadaan suatu tempat percis sama dengan salah satu kitab tafsir. Ini berbeda karena keadaan zaman dan tempat yang berbeda, Lebih jauh lagi sosio-cultural yang berbeda. Dengan tidak mengurangi rasa hormat saya kepada Ulama terdahulu yang mengarang kita tersebut.

Awalnya saya hanya menerima dan menghukumi keadaan di sekitarku dengan beberapa kitab tafsir yang telah dikarang para ulama. Akan tetapi, setelah saya masuk UKM LPIK (Lembaga Pengkajian Ilmu Keislaman), memiliki pandangan yang mungkin berbada karena banyak membaca buku-buku Filsafat, Sosial, Sains, Islam kekinian, dan masih banyak lagi. Di sanalah saya belajar mengkritisi segala sesuatu, walaupun tak sehebat senior-senior saya. Berawal dari sebuah kitab yang berjudul “Al-burhan Fi Ulum Al-quran” karya Badru Al-din Muhammad Bin Abdulloh Al-zarkasi, mengenai pengertian tafsir itu. Dalam kitab itu dijelaskan bahwa “tafsir ialah ilmu yang mempelajari pemahaman kitab-Nya yang diturunkan kepada Nabi SAW, menjelaskan ayat-ayatnya, menemukan atau mengeluarkan hukum-hukumnya, dan hikmah-hikmahnya. Dan pengambilan semua ini dari Ilmu Bahasa, Nahwu, Shorof, Ilmu Bayan, Ushul fiqh, dan Ilmu Qiroat. Dengan membutuhkan latar belakang turunnya alquran, Nasakh, dan Mansukh.”

Sumber penafsirannya menurut yang saya baca bisa diambil dari Al-matsur, dan Al-rayi. Dimana Al-matsur ialah menafsirkan al-quran dengan alquran, alquran dengan hadits nabawi, al-quran dengan kaul sahabat, dan terakhir dengan kaul tabiin, asal syaratnya kaul sahabat dan tabiin setara dengan hadits marfu (Dalam Dakhil Fi Tafsir : metode Kritik tafsir). Dan Al-rayi ialah alquran ditafsirkan menurut akalnya (bukan sebagai legitimasi). Seorang penafsir harus memiliki syarat-syarat diantaranya ialah menguasai ilmu fiqh, ushul fiqh, ilmu bahasa, nahwu, shorof, balagoh, tauhid, falak, dan mustholahul hadits (dalam Kitab “Al-ithqon Fi ulum Al-quran karya Zalaluddin Al-shuyuthi). Metode yang digunakan oleh seorang mufassir ialah tahlili, muqoron, ijmali, dan maudhui.

Metode tafsir ijmali yaitu menafsirkan al-Qur’an dengan cara singkat dan global tanpa uraian panjang lebar. ”Metode Ijmali [global] menjelaskan ayat-ayat Qur’an secara ringkas tapi mencakup dengan bahasa yang populer, mudah dimengerti, dan enak dibaca. Sistimatika penulisannya mengikuti susunan ayat-ayat di dalam mushaf. Penyajiannya, tidak terlalu jauh dari gaya bahasa al-Qur’an. Dengan demikian, ciri-ciri dan jenis tafsir Ijmali mengikuti urut-urutan ayat demi ayat menurut tertib mushaf, seperti halnya tafsir tahlili. Perbedaannya dengan tafsir tahlili adalah dalam tafsir ijmali makna ayatnya diungkapkan secara ringkas dan global tetapi cukup jelas, sedangkan tafsir tahlili makna ayat diuraikan secara terperinci dengan tinjauan berbagai segi dan aspek yang diulas secara panjang lebar.

Metode analisis ialah menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an dengan memaparkan segala aspek yang terkandung di dalam ayatayat yang ditafsirkan itu serta menerangkan makna-makna yang tercakup di dalamnya sesuai dengan keahlian dan kecenderungan mufassir yang menafsirkan ayat-ayat tersebut. Jadi, ”pendekatan analitis” yaitu mufassir membahas al-Qur’an ayat demi ayat, sesuai dengan rangkaian ayat yang tersusun di dalam al-Qur’an. Maka, tafsir yang memakai pendekatan ini mengikuti naskah al-Qur’an dan menjelaskannya dengan cara sedikit demi sedikit, dengan menggunakan alat-alat penafsiran yang ia yakini efektif [seperti mengandalkan pada arti-arti harfiah, hadis atau ayat-ayat lain yang mempunyai beberapa kata atau pengertian yang sama dengan ayat yang sedang dikaji], sebatas kemampuannya di dalam membantu menerangkan makna bagian yang sedang ditafsirkan, sambil memperhatikan konteks naskah tersebut

Tafsir al-Muqarin adalah penafsiran sekolompok ayat al-Qur’an yang berbicara dalam suatu masalah dengan cara membandingkan antara ayat dengan ayat atau antaraa ayat dengan hadis baik dari segi isi maupun redaksi atau antara pendapat-pendapat para ulama tafsir dengan menonjolkan segisegi perbedaan tertentu dari obyek yang dibandingkan. Jadi yang dimaksud dengan metode komporatif ialah: [a] membandingkan teks [nash] ayat-ayat al-Qur’an yang memiliki persamaan atau kemiripan redaksi dalam dua kasus atau lebih, dan atau memiliki redaksi yang berbeda bagi suatu kasus yang sama, [b] membandingkan ayat al-Qur’an dengan hadis yang pada lahirnya terlihat bertentangan, dan [c] membandingkan berbagai pendapat ulama tafsir dalam menafsirkan al-Qur’an.

Metode tematik ialah metode yang membahas ayat-ayat al-Qur’an sesuai dengan tema atau judul yang telah ditetapkan. Semua ayat yang berkaitan dihimpun, kemudian dikaji secara mendalam dan tuntas dari berbagai aspek yang terkait dengannya, seperti asbab al-nuzul, kosakata, dan sebagainya. Semua dijelaskan dengan rinci dan tuntas, serta didukung oleh dalil-dalil atau fakta-fakta yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, baik argumen yang berasal dari al-Qur’an, hadis, maupun pemikiran rasional. Jadi, dalam metode ini, tafsir al-Qur’an tidak dilakukan ayat demi ayat. Ia mencoba mengkaji al-Qur’an dengan mengambil sebuah tema khusus dari berbagai macam tema doktrinal, sosial, dan kosmologis yang dibahas oleh al-Qur’an. Misalnya ia mengkaji dan membahas dotrin Tauhid di dalam al-Qur’an, konsep nubuwwah di dalam al-Qur’an, pendekatan alQur’an terhadap ekonomi, dan sebagainya.

Mungkin itulah yang saya bisa cernah dari berpuluh-puluh referensi mengenai pengertian tafsir dan lain-lain. Metode-metode yang saya paparkan berdasarkan buku tadi, banyak memiliki kekurangan yang sudah saya buat tulisannya di Bebasmelangkah25.wordpress.com dan di friedrichfallah.com. Dari penjelasan di atas, munculah subjektivitas tafsir. Muncullah di sini ketidakrelevan, karena beberapa faktor yang saya akan sebutkan sedikit. Diantaranya ialah Mufassir menafsir al-quran melihat keadaan setempat, pemahaman yang dimiliki, psikis penafsir, dan lain sebagainya. Selain daripada itu, ada pembahasan yang untuk masa lalu, sekarang, dan masa depan itu sama-sama saja itu, tak berubah-berubah. Seolah-olah hanya itu yang dibahas untuk selamanya. Walaupun baru, itu hanya wajahnya saja yang baru, tapi sebenarnya itu tetap saja sama.

Mungkin cukup sekian tulisan ini, hanya sedikit di sini yang aku ceritakan karena banyak hal dari ketidaksamaan untuk zaman berikutnya. Saya menulis ini supaya bisa menambah khazanah pemikiran saja bagi pembaca, meskipun banyak kekurangan. Alasan menulis tema ini ialah “Al-muhafadzotu Ala qodimi sholih Wa Al-akhdu Bi tazdidi Ashlah”, dan saya terispirasi oleh sebuah buku yang berjudul “The End Of Science” karya Jhon Horgan.

About Falah

Keepsmile and .... and... and....
This entry was posted in Keagamaan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s