Antologi Puisi-puisi Jerman Abad 20

oleh Absurditas Sabda Zarathustra pada 6 Januari 2012 pukul 22:46

Ini sebagian isi dari sebuah buku yang berjudul “Kau datang Padaku”. Cuman Hafal segini, matakan ditulis hanya segini. 1 jam ngapalinnya, lama akhh.

 

Friedrich Nietzsche

KESEPIAN

 

Burung-burung gagak berteriak

Dan berdengung terbang ke kota:

Salju akan turun segera –

Bahagialah dia yang kini masih – berkampung halaman!

Kini kau berdiri kaku,

Menengok ke belakang, ah! betapa lama sudah!

Mengapa kau yang tolol

Sewaktu musim dingin menjelang – larikan diri ke dunia?

Dunia itu pintu gerbang

Ke seribu gurun bisu dan dingin!

Yang kehilangan,

Yang kau kehilangan, takkan berhenti di mana pun jua.

Kini kau berdiri pucat,

Terkutuk untuk ngembarai musim salju,

Bagaikan asap,

Yang mencari langit yang lebih dingin selalu.

Terbanglah, burung, teriakkan

Lagumu dalam nada-burung-gurun! –

Umpetkanlah, kau yang tolol,

Hatimu yang berdarah di dalam es dan ejekan!

Burung-burung gagak berteriak

Dan berdengung terbang ke kota:

Salju akan turun segera,

Celakalah dia yang tak berkampung halaman!

 

MAX DAUTHENDAY (1867-1918)

 

KEPADA CIKURAI

O gunung, yang nyundul angkasa,

Puncakmu nyaksikan jaman segala,

Engkau yang abadi, yang tak dapat menjadi tua,

Tahun-tahun yang berlalu tak mengganggumu jua.

Dan abad-abad yang lewat tiada pula kaurasa

Bila kau sejukkan dahi di angkasa.

Kau telah hidup waktu lelaki pertama

Merebut hati wanita yang semula.

Kau tetap akan hidup bila pasangan penghabisan

Lenyap pada peradaban penutupan.

Betapa penting kuanggap kesusahanku.

Betapa penting hari kemarin, harini dan esok.

Kau mengajar melihat jauh di atas keseharian,

Kau mengajar untuk percaya pada Keabadian.

 

(Garut 1915)

 

DI BAWAH BERINGIN YANG AGUNG

Di bawah pohon beringin yang agung

Yang memikul ruangan malam,

Aku duduk di bawah taburan bintang

Seolah di bawah pelita kecil nan biru

Yang bermuat pikiran, diam sunyi,

Tentang harapan manusiawi.

Di dalam mesjid yang diterangi lampu,

Tak jauh dari dahan beringin yang menyuramkan,

Berdiri tiang-tiang, seolah dibuat dari salju.

Suara Imam menggema di antara jemaah yang sujud.

Burung memanggil di dahan beringin.

Barangkali mau ngingatkan dari sarangnya,

Supaya kita tidak inginkan yang tak terpenuhi,

Supaya jemaah yang sujud lupakan diri.

Aku merasa seperti dekat pada nenek moyangku,

Bila kunguping di tengah bintang-bintang dan jemaah yang sujud.

Tiap malam aku datang di pohon itu, diam,

Seolah tempat lain untukku di jagat tiada!

(Garut, 1915)

 

 

Rainer Maria Rilke (1875-1926)

 

 

Datanglah, engkau yang terakhir yang kuakui,

nyeri badani yang amat pahit:

seperti aku menyala dalam roh, lihatlah, aku menyala kini

dalam dirimu; kayu itu lama berenggan

setujui api yang kauhidupkan,

tapi kini aku ngobarkanmu dan nyala dalam dirimu.

Kelembutanku di dunia ini dalam amarahmu menjadi

keberangan neraka tak berasal dari sini.

Suci sekali, tanpa rencana dan bebas dari masa depan kunaiki

tadi tempat pembakaran penderitaan yang berantakan,

begitu yakin untuk di mana pun

tak membeli sesuatu yang bakal datang

demi jiwa ini, tempat perbekalan membungkam.

Apa itu masih aku, yang tak dikenal berapi di situ?

Kenangan tak kuseret ke dalamnya.

O kehidupan, kehidupan: Berada di luar.

Dan aku sedang berapi. Yang ngenalku tiada.

 

Hermann Hesse (1877-1962)

 

PELAIANG

Malam benderang oleh cahaya kilat

Dan menggerenyet dalam sinar memutih

Dan berkedip ganas, goncang dan mencolok

Di atas hutan, sungai dan mukaku pucat.

Bersandar pada batang bambu yang sejuk

Aku berdiri dan menatap tiada henti,

Tanah pucat yang dicambuk hujan

Mendambakan ketenangan,

Dan dari masa muda yang jauh

Mendadak terdengar bagai kilat

Teriakan gembira lewat kesuraman mendung hujan,

Bahwa toh tidak semua hampa,

Bahwa toh tidak semua hambar dan gelap,

Bahwa petir masih memancar

Dan bahwa kebosanan hari-hari

Dilewati rahasia dan keajaiban buas yang membara.

Sambil menarik nafas dalam kudengarkan gema guruh

Dan kurasakan kelembaban badai di rambutku

Dan untuk sebentar aku jaga bak harimau

Dan gembira, seperti pada masa muda

Yang sejak masa itu sudah luput dariku.

 

 

DI KEPULAUAN MELAYU

Pada setiap malam kampung halaman berdiri dekatku,

Bak masih jadi milikku,

Di depan mataku yang dibahagiakan mimpi.

Tapi aku terpaksa masih lama mengembara

Dan di kepulauan nun jauh dibakar mentari

Ku harus menentramkan hatiku

Seperti pada anak yang membangkang

Mengayun dan meninabobokannya.

Dan selalu kembali tiada tenang,

Tiada mungkin ditentramkan,

Galak dan lemah seperti biasa anak seorang.

 

Gottfried Benn (1886 – 1956)

 

HANYA DUA HAL

Telah begitu banyak melewati bentuk wujud,

lewat Aku, Kau dan Kita,

tetapi toh segala itu tinggal terderitakan

melalui pertanyaan abadi: untuk apa?

Itu pertanyaan kanak-kanak.

Baru lambat engkau sadar

bahwa hanya ada satu: menerima

– biar arti, biar napsu, biar cerita –

Takdirmu dari jauh: Kau harus.

Biar salju, biar lautan, biar mawar,

semua yang telah berkembang memudar,

hanya ada dua hal: kehampaan

dan sang Aku yang ditandai derita.

 

Kurt Tucholsky (1890-1935)

 

SERBA MATA DI KOTA BESAR

Bila kamu pergi ke tempat kerja

pada pagi buta,

bila kamu berdiri di setasiun

dengan kesusahanmu:

lalu kota memperlihatkan

padamu rata seperti aspal

di dalam corong manusia

berjuta-juta muka:

Dua mata tak dikenal, pandangan singkat,

alis, manik, kelopak –

Apa itu tadi? bahagia hidupmu barangkali .

lewat, lepas lenyap, tak kembali.

Kautempuh sepanjang hidupmu

di atas ribuan jalanan;

kaulihat lewat lorongmu,

mereka yang sudah lupakan kamu.

Sebiji mata memberi isyarat,

jiwa bersuara;

kau telah temukan

hanya untuk sesaat .

Dua mata tak dikenal, pandangan singkat,

alis, manik, kelopak –

Apa itu tadi? tiada mnusia yang mampu memutar kembali sang waktu .

lewat, lepas lenyap, tak kembali.

Kau harus dalam perjalananmu

ngembarai kota-kota;

melihat sedetak jantung

manusia lain tak dikenal.

Mungkin dia lawan,

mungkin dia teman,

mungkin dalam pertarungan

akan menjadi kawan.

Dia memandang ke dirimu

dan lewat sudah .

Dua mata tak dikenal, pandangan singkat,

– alis, manik, kelopak –

Apa itu tadi?

Dari gerombolan umat manusia sekerat!

Lewat, lepas lenyap, tak kembali.

 

 

Yvan Goll (1891- 1950)

Nukilan dari kumpulan sajak:

DENDANG CINTA MELAYU

 

 

I

Sepanjang tahun kau berdiri

Di sawah jauh di sana

Mengairinya dengan parit yang patuh

Membungkuk di atasnya bayangmu yang ramah

Kauikat semak-semaknya

Sebelum pisaumu memotongnya

Dan kauelus di musim panen

Butir-butir kecil berbisik

O, mengapa aku bukan batang itu

Yang perlahan dengan ribuan butir

Melalui jari-jarimu keemasan mengalir

 

 

II

Rebung biru pohon bambu

Lezat dinikmati zebu liar

Padi muda membungkuk hormat

Di muka sungai yang mulia

Aku siap sedia

Seperti kuntum-kuntum pohonan kopi:

Mampirlah – maka aku mekar

 

Bertolt Brecht

 

PEMBAKARAN BUKU

Waktu rezim itu mengeluarkan perintah

Untuk membakar di depan umum

Buku-buku dengan ilmu yang bahaya,

Dan ketika di mana pun

Lembu-lembu dipaksa

Menarik gerobak-gerobak penuh buku

Ke tempat pembakaran,

Maka ditemukan

Oleh penyair yang telah diusir,

– salah seorang dari yang terbaik -, sewaktu dia

Meneliti daftar mereka yang dibakar,

Terkejut, karena

Buku-bukunya sendiri terlupakan.

Dia lari ke meja tulis,

Terdorong oleh amarah, dan menulis

Sepucuk surat kepada para penguasa.

Bakarlah aku! Tulisnya dengan pena yang amarah,

Bakarlah aku!

Jangan lakukan ini terhadap saya!

Jangan nyisakan saya!

Bukankah saya

Selalu menceritakan kebenaran

di dalam buku-bukuku? Dan sekarang kalian

Perlakukan aku seolah aku pendusta!

Aku perintahkan kepada kalian:

Bakarlah aku!

 

Marie Luise Kaschnitz (1910 – 1974)

 

HIROSHIMA

Yang melemparkan maut di atas Hiroshima

Telah pindah ke biara, di situ membunyikan lonceng.

Yang melemparkan maut di atas Hiroshima

Loncat dari kursi ke dalam jerat, gantung diri.

Yang melemparkan maut di atas Hiroshima

Menjadi gila, melawan hantu-hantu

Ratusan ribu, yang tiap malam menyerangnya.

Mereka yang telah bangkit dari debu.

Semua itu tidak ada yang benar.

Belum lama selang kulihat dia

Di taman rumahnya di pinggir kota.

Pagar hidupnya masih muda, mungil belukar mawarnya.

Tidak cepat itu bertumbuh, hingga dapat menyembunyikan orang

Di dalam hutan kelupaan. Jelas terlihat

Rumah bersih yang di pinggiran kota dan wanita muda

Yang berdiri di sampingnya dalam baju berbunga-bunga

Si gadis kecil di tangannya

Anak laki duduk di atas punggungnya

Kipaskan cambuk di atas kepalanya.

Jelas sekali nampaklah dia

Berkaki empat di atas rumput, mukanya

Gerising oleh tawa, karena mat kodak

Berdiri di belakang pagar, sang mata dunia.

 

Kurt Leonhard (1910)

 

FILOSOFEM-FILOSOFEM

(pseudokartesianis)

Aku berpikir, maka aku ada.

Aku ada, karena aku berpikir, bahwa aku ada.

Aku berpikir, bahwa aku ada, karena aku berpikir.

Aku ada, karena aku berpikir, bahwa aku tidak ada.

Aku berpikir, bahwa aku ada, karena aku tidak berpikir, bahwa aku tidak ada.

Aku ada, karena aku tidak berpikir.

Aku berpikir, maka aku tidak ada.

 

Karl Krolow (1915)

ROBINSON

 

 

I

Berulangkali kuulurkan tangan

Menggamit sebuah kapal.

Dengan kepalan telanjang aku mencoba

Meraih layarnya.

Mula-mula aku menangkap

Aneka ragam kendaraan

Yang nampakkan diri di kaki langit.

Begitulah ku nangkap ikan forel.

Akan tetapi angin musim

Ngawasi aku

Dan biarkan mereka larikan diri,

Atau kompas dan kemudi

Patah. Kita harus

Bersopan terhadap kapal.

Sebab itu kuseru mereka dengan gelar.

Gelar mereka selalu

Serupa dengan namaku.

Kini hidupku hanya tinggal

Di pergaulan dengan ketidakpatuhan

Beberapa kata.

 

 

II

Aku telah berhenti menghitung,

Meskipun aku tetap punya jari,

Yang satu demi satu dapat kubenamkan

Ke dalam air asin.

Serangga dan daun tembakau

Tak mengenal waktu

Yang dulu kuhamburkan.

Tetanggaku yang terakhir

Yang niupkan sangkakala

(Dulu dia secara licik

Mencurinya dari sebuah lagu rakyat),

Tewas di lautan.

Sewaktu-waktu sekilat cahaya surya

Jatuh di atas meja, di bawahnya

Kurentangkan kakiku.

Rasa rindu tak lagi

Kuperlukan.

 

 

III

Kebiasaan ini, duduk di mana pun lama sekali

Di atas sebuah kursi,

Dan memasang telinga untuk mendengar

Apakah dalam diriku turun hujan

Ataukah dalam ati

Kalajengking masih bergerak!

Telah dihitung semua kilat,

Semua korek api yang tersisa.

Sampai jemu bosan

Dan membenamkan panji penghabisan

Ke dalam lautan.

 

Paul Celan (1920-1970)

KORONA

 

Dari tanganku musim gugur makan daunnya: kami bersahabat.

Kami mengupas sang waktu dari kacang dan mengajarnya berjalan:

sang waktu kembali ke dalam kulit.

Dalam cermin harinya Minggu,

dalam mimpi orang tidur,

mulut bicara benar.

Mataku turun ke kelamin kekasih:

kami saling memandang,

kami saling mengatakan yang gelap-gelap,

kami saling mencinta bagaikan bunga madat dan peringatan,

kami tidur bagaikan anggur dalam kerang-kerangan,

bagaikan laut dalam sinar darah rembulan.

Kami berdiri berpelukan di jendela, disaksikan mereka dari jalanan:

sudah waktunya, bahwa orang tahu!

Sudah waktunya, bahwa batu akhirnya juga sedia berbunga,

bahwa untuk kegelisahan ada jantung yang berdetak.

Sudah waktunya, tiba sudah waktunya.

Sudah waktunya.

 

Helmut Heissenbüttel (1921)

 

SO WHAT

orang jujur ternyata korup

orang baik budi ternyata pembual besar

vitalitas ternyata impotensi

kesucian ternyata nafsu berlebihan

yang tak mabuk ternyata kecanduan

yang bertanggung jawab ternyata takut bertanggung jawab

keluhuran budi ternyata kepicikan

disiplin ternyata kebingungan

cinta akan kebenaran ternyata berdusta

keberanian ternyata kekecutan hati

keadilan ternyata kekejaman

yang mengiyakan kehidupan ternyata bajingan

hanya orang korup yang jujur

hanya pembual yang baik budi

hanya impotensi yang vital

nafsu berlebihan adalah satu-satunya macam kesucian

hanya kecanduan yang tidak mabuk

yang takut bertanggung jawab satu-satunya yang bertanggung jawab

orang picik satu-satunya yang luhur budi

hanya kebingungan yang berdisiplin

dusta merupakan satu-satunya kebenaran

hanya pengecut yang tidak takut

hanya orang kejam yang adil

hanya penjahat yang mengiyakan kehidupan

yang jujur itu orang korup

yang ingin dianggap orang baik budi membual

yang ingin dianggap vital nimbulkan impotensi

yang ingin dianggap suci bernafsu berlebihan

yang tidak mabuk kecanduan

yang ingin memikul tanggung jawab takut bertanggung jawab

yang ingin dianggap luhur budi seharusnya picik

yang mementingkan disiplin bingung

yang mengatakan kebenaran berdusta

yang tidak takut pengecut

yang ingin adil kejam

yang mengiyakan kehidupan termasuk penjahat

korup secara jujur atau jujur secara korup

pembualan yang baik budi atau kebaik-budian yang membual

impotensi yang vital atau vitalitas yang impoten

kesucian yang bernafsu berlebihan atau nafsu berlebihan yang suci

kecanduan karena ketakmabukan atau kecanduan secara tak mabuk

rasa takut bertanggungjawab yang sadar akan tanggungjawab atau

kesadaran akan tanggung jawab yang takut bertanggungjawab

picik secara luhur budi atau keluhuran budi yang picik

kebingunan yang berdisiplin atau disiplin yang bingung

dusta yang benar atau kebenaran yang berdusta

kecut secara berani atau keberanian yang kecut

kekejaman yang adil atau adil secara kejam

pengiyaan kehidupan yang jahat atau

jahat secara mengiyakan kehidupan

so what

 

Ingeborg Bachmann (1926 – 1973)

 

WAKTU YANG DITANGGUHKAN

Akan tiba hari-hari yang lebih payah.

Waktu yang ditangguhkan tapi bisa dibatalkan

Segera kamu harus ngikat tali sepatu

dan halau kembali anjing-anjing ke dangau di tepi laut.

Karena jeroan ikan

telah menjadi dingin dalam angin.

Serba miskin sinar bunga Lupine menyala.

Pandangmu berjejak di kabut:

waktu yang ditangguhkan tapi bisa dibatalkan

mulai tampak di kaki langit.

Di s’belah sana kekasihmu tenggelam di dalam pasir,

yang naik menutupi rambutnya yang ditiup angin,

memutuskan kata-katanya,

menyuruhnya diam,

menemukannya fana belaka

dan sedia untuk berpisah

setelah setiap pelukan.

Jangan menoleh ke belakang.

Ikatlah tali sepatumu.

Halaulah kembali anjing-anjing itu.

Lemparkanlah ikan-ikan ke laut.

Padamkanlah bunga Lupine!

Akan tiba hari yang lebih payah.

 

Günter Grass (1927)

 

DI DALAM TELUR

Kita hidup di dalam telur.

Sebelah dalam dari kulitnya

kita coreti dengan gambar-gambar cabul

dan nama depan musuh-musuh kita.

Kita sedang dikeram.

Siapa pun yang mengeram kita,

pinsil kita pun dikeram olehnya.

Nanti kalau suatu hari kita menetas,

kita langsung akan mereka

gambaran si pengeram.

Kita menduga, kita sedang dikeram.

Kita membayangkan seekor unggas yang ramah

dan menulis karangan sekolah

tentang warna dan jenis

ayam betina yang sedang mengeram kita.

Kapan kita akan menetas?

Nabi-nabi kita dalam telur

bertengkar dengan mendapat upah yang sedangan

tentang lamanya waktu pengeraman.

Mereka menduga adanya satu hari X.

Karena bosan dan karena keperluan yang sungguh

kita nemukan kotak pengeraman.

Kita berusaha sungguh untuk generasi penerus dalam telur.

Dengan senang hati kita akan nawarkan paten kita itu

kepada dia yang ngawasi kita.

Tapi kita miliki atap di atas kepala.

Kita – anak unggas yang pikun,

embrio-embrio dengan pengetahuan bahasa

yang berbicara sepanjang hari

dan bahkan bicarakan mimpi-mimpinya.

Dan seandainya kita tidak dikeram?

Seandainya kulit ini takkan pecah?

Seandainya horison kita hanya horison

coretan kita dan keadaan itu tetap sama?

Kita mengharap bahwa kita dikeram.

Walaupun kita bicara tentang pengeraman itu saja,

toh patut ditakuti, bahwa seorang

di luar kulit telur kita merasa lapar,

memasukkan kita dalam panci dan menambah garam.-

Apa yang lalu akan kita lakukan, saudara-saudara dalam telur?

 

 

Peter Härtling (1933)

 

 

TAK PERNAH ADA SEPERTI DIA

tak pernah seorang pun berangkat berlayar seperti dia

tangan yang terpetik tergantung pada layar

bila menengadah

mereka melihat surya

yang memerangi laut

datanglah pusaran air mengganas untuk memburu laut

datanglah badai menghanguskan untuk meminum laut

dan di tempat itu pula, di bawah awan yang berbisa,

semua kemudian saling melihat kembali

tiba-tiba dan tak buta lagi

tapi dia yang telah berangkat berlayar

melekapkan tangannya yang sobek pada dada

dan mengutuk laut

matahari dipadamkannya

dengan air mata

 

Sarah Kirsch (1935)

 

MAKA KITA TAKKAN MERLUKAN API

Maka kita takkan merlukan api

bumi akan penuh dengan kehangatan

hutan harus menguap, laut-laut

melompat – awan-awan, binatang seakan susu

berdesakkan: pohon awan yang dahsyat

Matahari memucat dalam semua kilauan itu

udara dapat diraih dan kupegangnya teguh

angin yang bernada tinggi

mendesak ke dalam mata tapi aku tak nangis

Kita berjalan telanjang

lewat rumah tak berpintu tak berbayang

kita sendirian karena yang nyusul tiada, tak ada

yang melarang istirah di sini: bisulah

anjing-anjing, mereka tak mencegah

aku melangkah ke samping: lidah-lidahnya

bengkak, tanpa suara dan pekak

Di keliling kita hanya langit dan hujan berbusa, kedinginan

tak akan ada lagi, batu-batu, bunga-bunga yang berkulit itu,

– di antaranya badan-badan kita bagaikan sutera -ì

memantulkan panas, kecerahan

ada dalam diri kita yang berbadan perak

Besoklah kau bersamaku akan berada dalam surga

 

Hans Magnus Enzensberger (1929)

 

UNTUK BUKU BACAAN TINGKAT ATAS

Jangan membaca madah, anakku, bacalah jadwal perjalanan:

catatannya lebih tepat. Bukalah peta laut,

sebelum terlambat. Waspadalah, jangan bernyanyi.

Hari akan tiba, saat mereka akan lagi memasang daftar

pada pintu dan melukis kode pada dada mereka

yang selalu mengatakan “tidak”.

Belajarlah jalan tanpa dikenali, belajarlah lebih daripadaku:

mengganti tempat tinggal, paspor, muka.

Pandailah melakukan penkhianatan yang kecil,

penyelamatan sehari-hari yang hina. Yang bermanfaat

untuk menyalakan api ialah ensiklika-ensiklika,

manifes-manifes: untuk membungkus garam dan mentega

bagi mereka yang tak berdaya. Amarah dan kesabaran perlu

untuk meniupkan ke dalam paru-paru kekuasaan

debu yang halus dan membawa maut, yang digiling

oleh mereka yang teliti dan yang telah

belajar banyak, darimu.

About Falah

Keepsmile and .... and... and....
This entry was posted in Sastra. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s