Sekularisme

Oleh

Eka pratama

Sekularisme bisa bermakna ambigu dalam kita memahaminya. Artinya sekularisme ini bermakna ganda dalam kita mengartikannya. Sekularisme dalam pemahamannya ibarat dua sisi mata uang yang tak bisa untuk dipisahkan. Ada orang yang menganggap sekularisme ini positif, dan banyak pula orang yang mengangap bahwa sekularisme ini sesuatu hal yang negatif, bahkan lebih parah ada yang menganggap sekularisme ini sesuatu hal yang haram.

Sesungguhnya apa yang disebut sekularisme itu? Apa latarbelakang terjadinya sekularisme? Dan bagaimana perkembangan sekularisme itu?

Berangkat dari tiga pertanyaan diatas, saya akan mencoba menjelaskan sedikit tentang sekularisme yang saya pahami. Yang pertama apa sih sekularisme itu? Jika melihat dari suku katanya, sekularisme berasal dari bahasa latin yaitu saeculum yang artinya zaman ini atau masa kini. Istilah ini digunakan untuk menunjukan suatu kondisi ideal dimana masyarakat terbebas dari pengaturan pengendalian religius dan pandangan-pandangan dunia metafisis.[1]. Penafsiran tentang sekularisme bisa dibagi menjadi dua bagian. Yang pertama sekularisme politik dan yang kedua tentang sekularisme agama. Sekularisme politik adalah pegerakan menuju pemisahan antara agama dan pemerintahan. Hal ini dapat berupa hal seperti mengurangi kererikatan antara pemerintahan dan agama negara, menggantikan hukum keagamaan dengan hukum sipil, dan menghilangkan pembedaan yang tidak adil dengan dasar agama.[2] Bila melihat definisi tentang sekularisme politik tadi, saya pikir tidak ada salahnya kita mengganggap baik pada paham sekularisme. Pasalnya, sekularisme politik ini ingin memisahkan agama dan negara. Ini menjadikan bahwa agama dan negara hidup masing-masing tanpa saling mencampuri satu sama lainnya. Jadi dalam hal keagamaan manusia berhak memilih agama atau hal yang diyakininya sendiri tanpa ada intervensi dari negara. Begitupun sebaliknya, negara bisa membuat aturan yang murni tentang negara tanpa intervensi dari agama manapun, dan hal ini bisa menumbuhkan rasa toleransi antar umat beragama. Contoh konkrit dari sekularisme politik ini adalah pembentukan negara Indonesia. Indonesia pada dasarnya adalah negara sekuler. Karena waktu awal pendirian negara Indonesia, Sukarno selaku presiden pertama Indonesia mencoba memisahkan antara agama dan negara. Dalam hal ini Sukarno menyatakan “Jangan marah, kita bukan melempar agama kita, kita cuma menyerahkan agama kembali ke tangan rakyat kembali, lepas dari urusan negara supaya agama dapat menjadi subur”. Artinya Sukarno mencoba membedakan urusan dunia dan urusan agama. Urusan agama adalah urusan pribadi masing-masing, yang orientasinya akhirat. Sedangkan negara berhubungan dengan sesuatu yang real, yang bersifat duniawi, dan harus diselesaikan bersama-sama.[3] Dan menurut saya Sukarno lebih bersifat moderat, dalam arti lebih menghargai akan kemajemukan agama yang dianut warga negara Indonesia.

Yang kedua yaitu tentang sekularisme agama. Dalam Webster Dictionary sekularisme diartikan sebagai “sebuah sistem doktrin dan praktik yang menolak bentuk apapun dari keimanan dan upacara rital keagamaan”, ini definisi tentang sekularisme agama. Selain itu dalam ensiklopedia Inggris, definisi mengenai sekularisme agama adalah suatu pergerakan sosial yang bertujuan mengalihkan aktifitas manusia dari orientasi kehidupan akhirat kepada orientasi duniawi semata. Dalam sekularisme agama ini, jelaslah jika seorang yang beriman sangat mengecam bahkan mengharamkan paham sekularisme ini. Karena paham sekularisme ini telah menggangu akan kepercayaan mereka terhadap sesuatu yang bersifat kehidupan akhirat kelak.

Pertanyaan yang kedua, apa latar belakang terjadinya sekularisme?. Pada tahun 1507, Copernicus (1473-1543) dalam bukunya De Revolutionibus, mengemukakan bahwa sebenarnya matahari-lah yang merupakan pusat tata surya, bukan bumi. Menyadari bahwa pendapatnya akan bertentangan dengan Injil dan menghindar dari hukuman yang akan diberikan oleh Gereja, Copernicus mengemukakan argumentasinya dengan sangat hati-hati sekali dan sangat apologitik. Disebabkan kuatnya otoritas Gereja, Copernicus tidak menerbitkan karyanya sampai 36 tahun. Pada tahun 1543 M, buku itu baru bisa diterbitkan. Salinan dari buku ini diberi kepadanya ketika dia menemui ajal di atas katil tidurnya. Seperti diduga, setelah buku ini terbit, Inkuisisi menuduhnya sebagai bid’ah. Gereja melarangnya karena bertentangan dengan ajaran Injil.

Nasib yang sama juga dialami oleh Galileo Galilei (1546-1642) yang dituduh murtad, bid’ah dan atheis karena berpendapat bahwa bumi mengelilingi matahari. Galileo diperintah supaya menghentikan kuliahnya yang membela Copernicus. Setelah 16 tahun Galileo berdiam diri, akhirnya pada tahun 1632 M, dia bersikukuh mempublikasikan bukunya berjudul The System of the World. Ini menyebabkan dia dipanggil kembali oleh Inkuisisi di Roma. Dia dipaksa untuk meninggalkan pendapatnya, jika tidak, akan diancam dengan hukuman mati. Akhirnya, Galileo dikurung. Selama sepuluh tahun di akhir hidupnya, dia mendapat layanan yang sangat buruk.

Giordano Bruno (1548-1600) mengalami nasib yang lebih buruk. Disebabkan karya ilmiahnya dalam bidang Astronomi, Bruno dibunuh oleh Inkuisisi di Italia. Bruno menyembunyikan dirinya di berbagai Negara Eropa. Setelah memburunya terus-menerus, Inkuisisi menangkapnya di Venice, Italia. Dia dikurung selama 6 tahun, tanpa buku, kertas dan teman. Pihak otoritas spiritual Gereja memindahkan Bruno dari Venice ke Roma. Dia dituduh murtad dan menulis yang bertentangan dengan ajaran Gereja. Tuduhan khusus kepadanya adalah dia telah mengajarkan terdapat pluralitas dunia. Setelah dipenjara selama 2 tahun, dia dituduh bersalah dan dibakar hidup-hidup.

Jadi, dominasi Gereja menunjukkan bahwa penelitian ilmiah akan terhambat dan penelitian ilmiah akan dihukum. Karena itu, orang Barat modern ingin lepas bebas dari dominasi institusi Gereja. Orang Barat menanamkan sejarah peradaban Eropa pada abad ke-15 dan 16 sebagai zaman kelahiran kembali (renaissance), karena akal lahir kembali setelah dikontrol oleh Gereja. Mereka juga kemudian menyebut abad ke-17 sampai abad ke-19 sebagai zaman pencerahan Eropa. Periode ini ditandai dengan semaraknya semangat rasionalisasi oleh Barat. Para filosof, teolog, sosiolog, psikolog, sejarawan, politikus, dan lain-lainnya menulis tentang berbagai karya yang menitikberatkan aspek kemanusiaan, kebebasan dan keadilan.[4] Jadi jelaslah pada dasarnya sekularisme berangkat dari kekecewaan masyarakat barat pada kesewenang-wenangan gereja yang sangat otoriter terhadap kehidupan rakyatnya. Masyarakat barat sangatlah jelas mereka menghendaki kebebasan dirinya tanpa terkurung oleh doktrin-doktrin agama yang dianggap membelenggu mereka. Senada dengan hal kebebasan tadi, Jean Paul Sartre (19051980) dalam filsafat eksistensialismenya pernah menyatakan “human is condemned to be free” artinya “manusia dikutuk untuk bebas, maka dengan kebebasanya itulah manusia bertindak”.

Beranjak kepertanyaan yang ketiga mengenai bagaimana perkembangan sekularisme itu?. Sekularisme pada perkembangannya memang terus berkembang. Peter.L.Berger mengidentifikasi tiga dimensi sekularisasi di Barat[5], yakni (1) struktural-sosial yang ditandai oleh pengalihan fungsi-fungsi dari gereja ke pelayanan kesejahteraan yang didanai masyarakat; (2) kultral, yang terlihat dari meningkatnya ilmu pengetahuan sekuler dan menurunnya muatan agama dalam seni, musik, literatur, dan filsafat; (3) individual, ditandai dengan semakin sedikitnya orang yang berfikir mengenai agama.

Dari definisi, latarbelakang atau sejarah, dan perkembangan sekularisme, saya menanggapi bahwa pada dasarnya sekularisme lahir dari ketidakpuasan masyarakat Barat terhadap intervensi gereja (instansi keagamaan) yang sangat mendominasi dalam kehidupan mereka. Perkembangan selanjutnya, manusia bukan berarti tidak memerlukan agama, hanya saja dalam hal ini agama (khususnya instansi keagamaan) jangan terlalu mengintervensi masalah masyaraktnya. Agama sangat penting sebagai kontrol sosial, artinya tingkah laku manusia dibatasi pada hal-hal yang positif saja, dan sebisa mungkin menghindari hal yang negatif. Dan agama juga bisa sebagai alat yang bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Menurut Durkheim (1858-1917), pada dasarnya manusia lahir dalam sebuah sistem yang sudah ada, manusia secara tidak langsung terbentuk oleh sistem tersebut, dan bertindak sesuai dengan sistem tersebut. Dan hal ini sangat kontradiksi dengan filsafat eksistensialisme yang mengaggap bahwa pada dasarnya manusia itu dalam keadaan bebas, keberadaannya selalu ditentukan oleh dirinya, manusia sadar akan dirinya dan tahu bagaimana cara menempatkan dirinya.

Daftar Pustaka

http://hartakaruna/mengenal sekularisme/.html  diakses pada 3 Januari 2012.

http://wikipedia/sekularisme/.html diakses pada tanggal 3 januari 2012.

http://Syamsudin Kadir/Sekulerisme:Paham Berkelamin Ganda.html/diakses pada 3 Januari 2012.

Jhon Scott, Sosiologi the Key Concept, Rajawali pers, 2011.

Materi kuliah sistem politik Indonesia. Semester 5 fak. Ushuluddin. UIN Bandung.


[1] http://hartakaruna/mengenal sekularisme/.html  diakses pada 3 Januari 2012.

[2] http://wikipedia/sekularisme/.html diakses pada tanggal 3 januari 2012.

[3] Materi kuliah sistem politik Indonesia. Semester 5 fak. Ushuluddin. UIN Bandung.

[4] http://Syamsudin Kadir/Sekulerisme: Paham Berkelamin Ganda.html/ diakses pada 3 Januari 2012.

[5] Jhon Scott, Sosiologi the Key Concept, Rajawali pers, 2011, hlm 225.

 

About Falah

Keepsmile and .... and... and....
This entry was posted in Filsafat. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s