“Senjakala Matematika : Autobiografiku Selama Sekolah Di SMA Sains Dan Teknologi Nuklir”

Selama aku duduk dibangku SMA, sering ku menerima teori-teori dari para Matematikawan. Di sini aku akan tuliskan Kesenjakalaan Matematika lewat aforisma-aforismaku yang Merujuk pada Tuhanku, Friedrich Nietzsche.

Aforisma 1 :

Dalam segitiga Pitaghoras, misalnya. Jumlah sudut dalam segitiha berjumlah 180 derajat. sudut 30 dan 60 bisa dicari sinus, cosinus, dan tangen dengan melihat gambar dimana hipotenusa, garis pertikal, dan garis horizontal bisa dibagi dan dikali dengan saling berhadapan dan terpinggirkan. Namun, bagaimanakah dengan sudut 90 derajat??

Oh keabadianku, kenapa dulu kau biarkan aku bermain dengan ketololan dan absurditas?

Aforisma 2 :

Mengenai limit, apabila limit ditentukan x-> c, maka yang berpariabel x menjadi c. tanda “->” berarti “=”. Di sini bisa terlihat bahwa ada kejanggalan terhadap bilangan pariabel. Toh x bisa jadi c, tapi mengapa pariabel c tidak bisa menjadi x? Para matematikawan berhasil menipu kita dengan tidak memberikan argumentasi logis.

Oh Ibu dari anak-anakku, kenapa para matematikawan tak menuliskan latar belakang teorinya yang memaksakan manusia supaya itut mematuhinya? Apa bedanya dengan dogma agama yang selalu kita benci?

Aforisma 3 :

Bilangan yang memiliki “,”, dibelangkang terdapat bilangan kurang dan lebih dari 5. Aku bingung, kenapa Matematikawan tidak memberikan kembali alasan logis. Apabila ku tarik pada kehidupan real, apakah barang yang setengah bisa menjadi satu? Aku rasa tidak, lantas mengapa harus demikian? Walaupun aku tak menafikan ada sebuah teori yang tidak setuju dengan prnyataan itu. Al-hasil, itu menurutku salah kaprah.

Gulitas ketololan menelanku dibawah kasih sayang kekasihku yang selalu menemaniku dalam membongkar makna dari sebuah teori.

Aforisma 4 :

Aku bingung, kenapa angka atau bilangan, atau pariabel yang dibagi dengan “0” hasilnya tidak terdefinisikan. Banyak orang yang mengatakan ya mau dibagi dengan apa? Huh dengan bilangan yang 0 berarti mau dibagi dengan apa? Menurutku itu pernyataan tak logis, dan tak pantas bagi seorang ahli matematika. Mengapa tak logis dan tak pantas? Karena matematika dibuktikan dengan hitungan, bukan omong kosong akbar yang membodohkan umat manusia. Apakah hanya cukup diberi simbol saja?

Sungguh ku kasihan pada orang tuaku, ternyata selama ini aku hanya dibodohi, sedangkan ibuku mencari uang supaya aku pintar seperti Muhammad SAW.

Aforisma 5 :

Aku bingung, kenapa bilangan yang berakar harus memiliki perkalian yang sama dengan angka itu sendiri? Dan hasilnya pun angka itu, seperti halnya akar 9 ialah 3. Sedangkan dalam pengelesaian yang lain lagi, bentuk akar sama dengan 1/2. toh pada kenyataan dalam perhitungan 9/2 tidak sama dengan 3, malah 4,5? Dimanakah kerasionalannya? apabila ada seseorang yang mengerti dan tahu alasannya silahkan nasihatilah aku dengan litelatur-litelatur yang jelas. Apabila nanti kubertanya puaskanlah aku dengan jawabanmu.

Inilah arti dari kebencian yang senantiasa menjadikan manusia kuat dan akan melakukan segala hal.

Mungkin hanya segitu yang baru aku teliti semenjak berada di UKM LPIK UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Suatu saat nanti aku bisa membongkar semuanya, ditemani dengan kagalauan kekal dan abadi.

About Falah

Keepsmile and .... and... and....
This entry was posted in Keagamaan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s