“Hadiah Kala Ajal Tiba”

Sutisna ialah orang yang tak bisa mengungkapkan isi hatinya kepada perempuan. Namun, hanya dengan melihat wajah perempuan yang ia suka, itu sudah cukup baginya.

Di sebuah toko, ada seorang pegawai yang selalu menuruti tuannya. Namua pegawai itu ialah Sutisna. Di Kala malam, ia sedang bersih-bersih di toko, atau lebih tepatnya kafe, ia di sapa oleh seorang temannya, ia bernama Melani. “Tring” (Suara lonceng pintu masuk).

“Hei, Sutisna, sedang apa?” tanya Melani

“Biasa, aku sedang tugas.” Jawabnya

“Oh, kirain,, ya sudah, aku ga jadi deh bicaranya.”

Melani pun pergi keluar kafe tempat Sutisna bekerja. “Tring” suara lonceng pintu  kembali berbunyi. Saat ia sedang beres-beres, datang seorang sahabatnya yang bernama Niken. sutisna asyik beres-beres, ketika melihat kebelakang, ia kaget dengan kedatangan Niken.

“Eh, ngagetin saja.” Kata Sutisna

“Maafin aku.”

“Oh, ya ga apa-apa. Silahkan duduk!”

“Iya.”

Dalam keadaan duduk, Niken Mengambil sesuatu di tasnya. Ternyata ia mengambil sebatang rokok Star Mild. Melihat Niken merokok, dengan reflek ia berkata,

“Kenapa kamu merokok, stress ya?”

Dengan ngotot dan sinis,

“Apa, memang ga boleh?”

“Oh, enggak.”

sutisna pun mengambilkan asbak untuknya.

“ada apa kamu Niken?”

“Sutisna, sudah beberapa kali aku putus dengan pacar-pacarku,,,,”

“Oh jadi sekarang kamu ingin aku anterin kembali ke seseorang?”

Sutisna berbicara demikian karena Niken adalah sahabat dekatnya. Ia selalu mengantar-ngantar Niken kemana pun Niken mau.

“Apa kamu bilang?” Kata Niken kepada Sutisna

“Ga Apa-apa.” Sutisna menjawab dengan keadaan lemas dan murung.

Melihat Sutisna demikian, Niken sedikit marah,

“Apa sebenarnya yang kamu fikirkan?” Tanya Niken sambil berteriak.

“Ga, aku jawab engga.”

“Sekarang, ambilkan aku makan.”

Bergegas, Sutisna pun pergi ke dapur untuk memasak. Karena dengan keadaan grogi, semua bahan-bahan ia tubruki hingga berantakan. “Breng bring bring” (Suara di dapur). Mendengar semua itu, bosnya pun ke dapur,

“apa-apaan ini?”

“Ini bu, ada yang pesen makanan.”

“Siapa?”

“Teman saya, yang di sana.”

“Mana tolol, ga ada seseorang.”

Sutisna pun kembali menghampiri Niken, tapi ia tak ada sewaktu Sutisna kembali. Ia mencari-cari Niken. Secara tiba-tiba, Nike nada dihadapannya.

“Ayo, antar aku pulang.”

“Kapan?”

“masa tahun depan? Dasar goblok kamu ya.”

Kala sedang berbincang, Bosnya dating ke tempat,

“Sutisna, cepet, beresin dapur.”

“nanti dulu bu, saya mau antarkan teman dulu.”

“Teman mana? Dasar orang sinting.”

Sutisna pun diam sejenak, ia bingung harus yang mana dulu ia lakukan. Dengan perlahan, ia meninggalkan Niken dan menatapnya.

“Oh, sekarang kamu sudah berani ya, sudah berani kasar?”

Sutisna pun menatap,

“Maaf, aku bukan orang yang harus di suruh-suruh olehmu.”

Niken pun diam, dan mulai mengeluarkan air mata.

“Aku suka nurut dengan paerintahmu karena aku sangat menyukaimu. Oleh sebab itu, apa yang disuruh olehmu, aku laksanakan. Aku tidak ingin mengatakan ini, karena aku tahu, apabila aku mengungkapkan ini, kau akan jauh dariku.”

Mendengar semua itu, Niken pun menangis, tak kuasa mendengar semua itu. Mereka lalu duduk di kursi.

“Aku tahu keadaanmu dengan jawaban dari bosmu itu.”

Seusai Niken bilang begitu, ada telepon.

“Kring Kring Kring”

“Halo, mau pesan apa?”

“Bu ada Sutisna?” Tanya penelepon.

“Sutisna tidak ada.” (Jawab sinis)

“Nah, di situlah aku tahu keadaan bahwa kamu bak-baik saja.”

Sutisna pun sedikit terkejut.

“Sekarang, siapa wanita yang kau sukai?”

“Kalau boleh jujur, aku saying dan suka sama kamu.”

Mendengar semua itu, Niken histeris menangis.

“Kenapa baru bilang sekarang?” Tanya Niken.

“Aku sudah jawab, aku takut kamu jauh dari aku. Oleh sebab itu aku pendam semuanya. Asalkan bisa melihat kamu, sudah cukup bagi aku.”

Niken memegang tangan Sutisna.

“Tis, walaupun dan sedikit apa pun apa yang ada di hatimu, jujurlah dan ungkapkanlah isi hatimu. Sekarang aku sudah sadar, bahwa kamu lelaki yang terbaik buat aku.”

“Kamu kan sudah tahu, aku tak bisa ungkapin hatiku sendiri.”

“Sutisna,,, Sutisna, ke sini.” Kata bosnya.

Sutisna pun bergegas menghampiri bosnya dan meninggalkan Niken.

“Ada apa bu?”

“Cepet bereskan ini.”

“Iya bu, nanti. Aku lagi ada teman.”

“Mana, dasar sinting.”

Sutisna pun bergegas kembali ke Niken, tapi kala ke sana, Niken sudah tidak ada. Ia pun mencarinya ke luar. Sutisna melihat kanan dan kiri, tapi Niken tidak ada. Sesaat itu, Melani dating dengan berlari menghampiri Sutisna dengan keadaan menangis.

“Sutisna ini ada kado dari Niken.”

Kado itu berwarna coklat muda, di balut dengan pita putih.

“Ada apa kamu menangis, Mel?”

“Niken, Niken,,,,”

“Iyya ada apa dengannya emang?”

“Tis, dia sudah meninggal, kecelakaan tadi pagi.”

Mendengar semua itu, Sutisna mengingat kejadian tadi, Niken dengan keadaan aneh, berada kadang di sisi kiri, mengetahui keadaannya dengan mendengar telepon, dicari-cari tidak ketemu, dan lain-lain. Sutisna pun meneteskan air mata, lalu ia melirik ke kiri, ia melihat arwah Niken. Arwah Niken sedang menangis sambil melihat Sutisna. Dalam sekejap, arwahnya hilang.

Setelah itu, Sutisna membuka kado yang diberikan Niken. Kado itu berisikan sebuah buku yang berjudul “CARA MENGUNGKAPKAN ISI HATI”.

 

 

About Falah

Keepsmile and .... and... and....
This entry was posted in Sastra. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s