“ Vita Karlita”

*Catatan Sewaktu ABG, [Catatan 1290]

Mentari menari mengiringi perjalanan seusai kuliah bersama Vita. Ombak berjalan saat waktu kami cukur di atas harapan dan impian kami masing-masing. Angin terasa syahdu sewaktu mengisyaratkan kayu melawan arus air yang sayu. Kami terduduk di antara Pohon nan rindang. Daun-daun berguguran menandakan mentari akan tertusuk ranting harapan. Senyum di bibir awal dari perbincangan yang menjepit hati.

Detik demi detik kami lalui dengan hampa dan tiada. Kesedihan melanda vita saat kulihat bayang-bayang harapan semu yang mondar-mandir di antara kedua mata Vita. Kulihat kedua pipinya yang menandakan dia hanya mencintai angan-angan dan bayangan. Entah sampai kapan dia akan menikmati rasa itu, tapi aku yakin, dengan harapan dan cintanya, mampu untuk bertahan walau mengiris hati.

Mata kopi susunya menandakan dia seorang yang polos dan selalu ceria. Akan tetapi, dalam hembusan nafasnya ini, matanya terbenam air bening dari hatinya. Matanya menunjukan sesuatu yang entah itu apa, dan dengan itu, kuteringat saat para samurai mempertahankan Jepang dari Amerika. Mereka mengganti surga itu dengan nyawanya, tanpa ada iringan penguasanya. Air matanya terhalang oleh Tembok Cina, yang menjaga dari para pengelana.

Aku mengajak Vita untuk diam dan berfikir, karena itu obat jiwa yang paling murah (F.Nietzsche). Desir pasir di Jalan Kampus membuat kami bernafas tak nyaman. Sepintas ku lihat bibirnya, mengingatkanku pada Syekh Jamal Sarri yang diserang oleh berbagai Ulama. Vita memberi senyum palsu kepada desir pasir itu secepat Burok yang dinaiki Muhammad ketika Isro Wa Miraj. Mentari malu tuk berwarna biru kala kami memulai perbincangan. Dia menanyakan kepadaku dengan kehendak hampanya.

 

“Apa itu Cinta?”

Yang dirasakan olehmu.”

“Bagaimana aku harus menjalaninya?”

apabila cinta memanggilmu ikutilah dia walau jalannya berliku-liku. Dan, apabila sayapnya merangkummu. pasrahlah serta menyerah, walau pedang tersembunyi di sela sayap itu melukaimu...” (Kahlil Gibran)

“Mengapa harus demikian.?”

Karena cintak tak selamanya indah, dan keindahan itu muncul karena ketidak indahan itu.”

“kuhancurkan tulang-tulangku, tetapi aku tidak membuangnya sampai aku mendengar suara cinta memanggilku dan melihat jiwaku siap untuk berpetualang” (Kahlil Gibran)

Dengarlah bisikan Tuhan dalam hatimu, dan ingat mudhof saat menyandar serta mudhof ilaih yang selalu disandari.”

“Tubuh mempunyai keinginan yang tidak kita ketahui. Mereka dipisahkan karena alasan duniawi dan dipisahkan di ujung bumi. Namun jiwa tetap ada di tangan cinta… terus hidup… sampai “kematian datang dan menyeret mereka kepada Tuhan” (Kahlil Gibran)

Jangan menangis, kawanku… Janganlah menangis dan berbahagialah, karena kita masing-masing diikat bersama  dalam cinta. Hanya dengan cinta yang indah, kita dapat bertahan terhadap derita jauh, pahitnya kesedihan, dan duka perpisahan (Kahlil Gibran)

“Aku ingin mencintainya dengan sederhana… seperti kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu… Aku ingin mencintainya dengan sederhana… seperti isyarat yang tak sempat dikirimkan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada…” (Kahlil Gibran)

Ingatlah kawan, kayu kepada api yang menjadikannya abu dan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada, itu bagaimana cara kita untuk menyampaikanya.”

“Jika cinta tidak dapat mengembalikan aku kepadanya dalam kehidupan ini… pastilah cinta akan menyatukan kami dalam kehidupan yang akan datang” (Kahlil Gibran)

Apa yang telah kau cintai laksana seorang anak kini tak henti-hentinya kau mencintai… Dan, apa yang kau cintai kini… akan kau cintai sampai akhir hidupnya, karena cinta ialah semua yang dapat kau capai… dan tak ada yang akan mencabut dirimu dari padanya” (Kahlil Gibran)

“Kemarin aku sendirian di dunia ini, kekasih; dan kesendirianku… sebengis kematian… Kemarin diriku adalah sepatah kata yang tak bersuara…, di dalam pikiran malam. Hari ini… aku menjelma menjadi sebuah nyanyian menyenangkan di atas lidah hari. Dan, ini berlangsung dalam semenit dari sang waktu yang melahirkan sekilasan pandang, sepatah kata, sebuah desakan dan… sekecup ciuman” (Kahlil Gibran)

“Ingatlah kawanku, cinta itu tak ada suara dan nada (Iwan Fals). Hanya ada keheningan yang bergemuruh (Budhisme).”

Vita pun tersenyum, dan senyumannya meniadakan Surga yang hancur serta menjadikan Neraka menjadi dingin seperti sudut hitam hatiku. Demikianlah curhatan antara Iblis Tafsir Hadits dan Wanita ceria dari pantura.

About Falah

Keepsmile and .... and... and....
This entry was posted in Sastra. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s