Apakah Sains Dan Agama Bertentangan[1]?

Apakah Sains Dan Agama Bertentangan[1]?

Problematika yang dihadapi kini ialah ”banyak pemikir sangat yakin bahwa agama tidak akan pernah dapat didamainkan dengan sains, sebab menurut mereka, bahwa agama jelas-jelas tidak dapat membuktikan kebenaran ajaran-ajarannya dengan tegas, padahal sains melakukan hal itu.  Agama mencoba bersikap diam-diam dan tidak mau memberi pentunjuk konkret tentang kebenaran Tuhan, sementara dipihak lain, sains mau menguji semua hipotesis dan semua teorinya berdasarkan pengalaman. Sedangkan menurut kelompok saintis, agama tidak dapat melakukan hal tersebut dengan cara yang dapat memuaskan pihak yang nertal[2]”. Untuk itu, perlu mencari pola interaksi antara “sains” dan “agama”. Pola interaksi dialogis,  artinya “sains”  tidak mengarahkan “agama” kepada jalan yang dikehendakinya dan agama-pun tidak memaksanakan sains untuk tunduk pada kehendaknya. Agama harus membantu sains dengan memberikan perspektif yang berbeda.  Begitu juga sains harus membantu agama untuk melihat kehidupan yang berbasiskan pengalaman empiris[3].

Menurut teori Evolusi [yang sampai kini belum ada bukti-bukti utuh dan lengkap tentang kebenarannya], manusia modern atau homo sapiens ada karena suatu proses perkembangan yang panjang dan dalam rentang waktu lama. Proses panjang dan lama itu terjadi karena manusia berkembang dari organisme sederhana menjadi makhluk yang relatif sempurna; dan segala sesuatu yang bertalian dengan manusia serta kemanusiaannya juga berkembang karena adanya proses evolusi. [Dan dalam kenyataannya, evolusi hanya merupakan teori, tetapi diajarkan dan dijabarkan sebagai suatu peristiwa yang benar-benar terjadi atau dialami pada semua makhluk.

Sedangkan, menurut Kitab Suci Agama-agama, manusia, alam semesta, dan segala sesuatu adalah hasil ciptaan TUHAN Allah; hasil ciptaan yang penuh dengan kesempurnaan. Karena kesempurnaan itu, manusia mampu bertambah banyak karena di dalam diri mereka tertanam naluri bertahan hidup serta kemampuan reproduksi. Di samping itu, manusia juga dilengkapi dengan berbagai kemampuan serta kreativitas [penggagas Teori Evolusi pun, tidak pernah bisa menjawab siapa yang telah melengkapi manusia dengan berbagai kemampuan serta kreativitas tersebut], sehingga mampu beradaptasi dengan sikon hidup dan kehidupannya; bahkan menjadikan segala sesuatu di sekitarnya menjadi lebih baik serta memberi kenyamanan padanya.

Kemampuan dan kreativitas itu, menjadikan manusia mempunyai keinginan untuk meningkatkan kualitas hidup dan kehidupannya. Sehingga, yang tadinya mempunyai pola nomade, lambat laun menetap kemudian membangun komunitas pada suatu lokasi dengan batas-batas geografis tertentu. Dalam batas-batas geografis itu, mereka semakin bertambah banyak serta mampu membangun komunitas masyarakat dengan berbagai aspek yang bertalian dengannya. Sedangkan pengertian sains, telah saya jelaskan di beberapa tulisan saya dalam buletin ini.

Sains dan agama bukan merupakan isu baru dan bahkan banyak pemikir yang yakin bahwa agama tidak akan pernah dapat didamaikan dengan sains[4]. Pertarungan antara sains dan agama seolah-olah tak pernah berhenti. Katakan saja, di satu pihak ada kelompok saintis yang tak pernah dianggap sebagai intelektual. Tetapi kerjanya yang berpijak pada dunia empiris secara nyata telah mengubah  dunia seperti yang kita lihat sekarang ini. Sementara di sisi lain, para agamawan yang dikategori sebagai kelompok tradisional, mengklaim dan menyebut dirinya sebagai kaum yang berhak berbicara semua hal tentang kebenaran. Kedua kelompok tersebut seolah-olah tak pernah berhenti untuk saling klaim bahwa merekalah yang berhak menentukan kehidupan[5].

Agama dan sains, merupakan dua bagian penting dalam kehidupan sejarah umat manusia. Bahkan pertentangan antara agama dan sains tak perlu terjadi jika kita mau belajar mempertemukan ide-ide spiritualitas [agama] dengan sains yang sebenarnya sudah berlangsung lama. Kerinduan akan tersintesisnya agama dan sains pernah diurai Charles Percy Snow. dalam Ceramahnya di Universitas Cambridge yang dibukukan dengan judul The Two Cultures yang menyorot kesenjangan antar budaya, yaitu antara kelompok agamawan yang mewakili budaya literer dan kelompok saintis yang mewakili budaya ilmiah[6].

Pihak skeptis ilmiah selalu menuduh bahwa agama hanya bergantung pada asumsi-asumsi apriori atau sesuatu yang hanya didasarkan pada keyakinan.  Selain itu, kelompok sains, juga tidak dapat menerima begitu saja segala sesuatu sebagai kebenaran. Kaum teolog [agamawan] kemudian banyak menuai kritik karena terlalu bertumpu pada “imajinasi liar”, sementara para scientist harus berdasarkan fakta secara empiris.   Ini adalah tantangan yang dihadapi dan apabila “pemahaman yang kurang tepat mengenai persoalan ini dapat menjebak umat beragama pada upaya-upaya yang tak produktif atau bahkan kontra produktif[7]”.

Selain itu, beberapa kritik menunjukkan bahwa hubungan sains dengan agama terlalu komplek dan terlalu bebas-konteks untuk dihimpun di bawah skema klasifikasi mana-pun. Mereka mengklaim bahwa interaksi di antara keduanya sangatlah beragam di sepanjang periode sejarah yang berbeda dan disiplin ilmu yang berbeda untuk menunjukkan pola-pola umum mana-pun[8]. Kaum materialisme dan literalisme biblikal  sama-sama mengklaim bahwa “sains” dan “agama” memberikan pertanyaan yang berlawanan dalam domain yang sama sehingga orang harus memilih satu di antara dua. Mereka percaya bahwa orang tidak dapat mempercayai evolusi dan Tuhan sekaligus.  Memang perkembangan selama ini,  menunjukkan bahwa sains didominasi oleh aliran positivisme, sebuah aliran yang sangat menuhankan metode ilmiah dengan menempatkan asumsi-asumsi metafisis, aksiologis dan epistemologis.

Penganut  aliran ini, mengatakan bahwa sains mempunyai reputasi tinggi untuk menentukan kebenaran dan sains merupakan “dewa” dalam beragam tindakan [sosial, ekonomi, politik, dan lain-lain].  Sedangkan menurut mereka, agama hanyalah merupakan hiasan belaka ketika tidak sesuai dengan sains, begitu kira-kira kata kaum positivisme. Dengan demikian, upaya untuk menghubungan dan memadukan antara sains dan agama, tak harus berarti menyatukan atau bahkan mencapuradukkan, karena   identitas atau watak dari masing-masing kedua entitas itu tak mesti hilang, atau sebagian orang bahkan akan berkata, harus tetap dipertahankan.  Jika tidak, mungkin saja yang diperoleh dari hasil hubungan itu “bukan ini dan bukan itu”, dan tak jelas lagi apa fungsi dan manfaatnya.  Integrasi yang diinginkan adalah integrasi yang “konstruktif”,  hal ini dapat dimaknai sebagai suatu upaya integrasi yang menghasilkan konstribusi baru [untuk sains dan/atau agama], yang dapat diperoleh jika keduanya terpisahkan. Ian G. Barbour, membahas tentang hubungan sains dan agama. Menurut  fisikawan-cum-agamawan, dalam bukunya, Juru Bicara Tuhan antara Sains dan Agama [terj] dari judul asli When Science Meets Relegion: Enemies, Strangers, or Partuers?, bahwa perpaduan antara sains dan agama merupakan salah satu tipologi. Ian G. Barbour, mengusulkan empat  hubungan yaitu konflik [conflict], perpisahan [independence], dialog – perbincangan [dialogue], dan integrasi-perpaduan [integration.].   Pententangan antara saian dan agama menurut Ian G. Barbour,   adalah  hubunga yang bertelingkah [conflicting] dan dalam kasus yang ekstrim barangkai bahkan bermusuhan [hostile]. Perpisahan berarti ilmu dan agama berjalan sendiri-sendiri dengan bidang garapan, cara, dan tujuannya masingmasing tanpa saling mengganggu atau memperdulikan. Dialog atau perbincangan ialah hubungan yang saling terbuka dan saling menghormati, karena kedua belah pihak ingin memahami persamaan dan perbedaan mereka.

Perpaduan atau integrasi adalah hubungan yang bertumpu pada keyakinan bahwa pada dasarnya kawasan telaah, rancangan penghampiran, dan tujuan ilmu dan agama adalah sama dan satu. Perpaduan menurut  Ian G. Barbour,  dapat diusahakan dengan bertolak dari sisi ilmu [Natural Theology], atau dari sisi agama [Teology of Nature]. Alternatifnya adalah berupaya menyatukan keduanya di dalam bingkai suatu sistem kefilsafatan, misalnya Process Philosophy. Maka Barbour sendiri secara pribadi cenderung mendukung usaha penyatuan melalui Theology of Nature  yang digabungkan dengan penggunaan Process Philoshofy secara berhati-hati. Selain itu, Barbour,  juga sepakat dengan pendekatan dialog atau perbincangan. Akan tetapi tidak jelas apakah dukungannya terhadap perpaduan atau integrasi lebih kuat, atau apakah pandangannya justru lebih berat pada dialog atau perbincangan.

 

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, M. Amin,  2004, ”Etika Tauhidik Sebagai Dasar Kesatuan Epistemologi Keilmuan Umum dan Agama [Dari Paradigma PositivistikSekjularistik ke Arah Teoantroposentrik-Integralistik]”, dalam M.Amin Abdullah, dkk., Integrasi Sains Islam Mempertemukan Epistemologi Islam dan Sains [Pilar Relegia dan SUKA Press], Yogyakarta.

 

Al-Biruni, 1374 H, al-Jamahir fi al-Jawahir, Teheran: Syirkat al-Nasyr al-Ilm wa al-Tsaqafah.  Al-Qur’an, surat Yunus [10], terjemahan, ayat 101.

Bagis,  Zainal Abidin, et al, 2005, Integrasi Ilmu dan Agama Interpretasi dan Aksi, Mizan, Bandung.

Barbour, Ian G. 2000, When Science Meets Relegion: Enemies, Strangers, or Partuers?, terj. E.R. Muhammad, 2002, Juru Bicara Tuhan antara Sains dan Agama, Mizan, Bandung.

Bunyamin, Asep, Saling Hormat Agama dan Sains, From: http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/ 2005/0105/14/ renungan_jumat.htm, akses, sabtu 6/5/2006, jam.10.00.

Haught, John F., 1995, Sccience and Religion: From Conflict to Conversation,

Paulist Press, New York, Amerika, terj. Fransiskus Borgias, 2004, Perjumpaan Sains dan Agama, dari Konflik ke Dialog, Mizan, Bandung.

Golshani, Mehdi, 2004, Issues in Islam and Science, Institute for Humanities  and Cultural Studies [IHCS], Teheran, Iran, terj. Ahsin Muhammad, 2004, Melacak Jejak Tuhan dalam Sains, Tafsir Islami atas Sains, Mizan, Bandung.

Minhaji, Akh., 2004, ”Transformasi IAIN Menuju UIN, Sebuah Pengantar, dalam M.Amin Abdullah, dkk., Integrasi Sains Islam Mempertemukan Epistemologi Islam dan Sains , Pilar Relegia dan SUKA Press, Yogyakarta.

Polanyi, Michael, 1964, Personal Knowledge: Towards a Post-Critical

Philosophy, New York: Harper Torchbooks.  Rakhmat, Jalaluddin, 2005, Psikologi Agama, Sebuah Pengantar, Mizan, Cet. III, Bandung.

Smith, Huston, 2001, Why Religion Matters, terj. Ajal Agama di Tengah  Kedigdayaan Sains?, 2003, Mizan Pustaka. Bandung.

Yumi, Resensi “Bertanding dan Bersanding”, Judul Buku : Psikologi Agama, Sebuah Pengantar, Penulis : Djalaluddin Rakhmat Penerbit, Mizan, From:http://www. penulislepas. com/more.php?id=213010M6


[1]. Sains dan agama” jelas bukan merupakan isu baru. Demikian pula, “sains dan Islam” bukanlah isi baru di dunia Islam. Sejak setidak-tidaknya dua  abad silam, ketika perkembangan ilmu-ilmu modern terasa makin “mengancam” kehidupan beragama, kaum agamawan maupun ilmuwan telah dengan intensif mendiskusikannya. Jika mau ditarik lebih jauh, kita akan melihat bahwa jauh sebelumnya, benih-benih isu ini telah pula muncul dalam bentuk wacana tentang “man [atau wahyu] dan akal. Katakan saja, dalam sejarah Kristen periode awal hingga abad pertengahan, maupun dalam sejarah tradisi intelektual Islam sejak masa paling awalnya, wacana ini berkembang pesat dan mampu menghidupkan dimensi intelektual perdaban-peradasan keagamaan [Zainal Abidin Bagir, Pengantar : Program Studi Agama dan Lintas Budaya, Program Pascasarjana, Universitas Gadjah Mada, dalam Mehdi Golshani, 2004, Issues in Islam and Science, Institute for Humanities and Cultural Studies [IHCS], Teheran, Iran, terj. Ahsin Muhammad, 2004, Melacak Jejak Tuhan dalam Sains, Tafsir Islami atas Sains, Mizan, Bandung, hlm.xi

[2]. ohn F.Haught, 1995, Sccience and Religion: From Conflict to Conversation, Paulist Press, New York, Amerika, terj. Fransiskus Borgias, 2004, Perjumpaan Sains dan Agama, dari Konflik ke Dialog, Mizan, Bandung, hlm.2.

[3].  INTEGRASI ANTARA  SAINS DAN AGAMA  [Kajian Tentang Konflik, Integrasi, dan Pandangan Islam Terhadap Hubungan Sains dan Agama]  Oleh : Hujair Sanaky

[4]. Zainal Abidin Bagir, Pengantar : Program Studi Agama dan Lintas Budaya, Program Pascasarjana, Universitas Gadjah Mada, dalam Mehdi Golshani, 2004, Issues in Islam and Science, Institute for Humanities and Cultural Studies [IHCS], Teheran, Iran, terj. Ahsin Muhammad, 2004, Melacak Jejak Tuhan dalam Sains, Tafsir Islami atas Sains, Mizan, Bandung, hlm.xi.

[5]. Asep Bunyamin, Saling Hormat Agama dan Sains, From: http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/ 2005/0105/14/ renungan_jumat.htm, akses, sabtu 6/5/2006, jam.10.00.

[6]. Baca: Asep Bunyamin, Saling Hormat Agama dan Sains, From: http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/ 2005/0105/14/renungan_jumat.htm, akses, sabtu 6/5/2006, jam.10.00.

[7]. Mehdi Golshani, 2004, Issues in Islam and Science, Institute for Humanities and Cultural Studies [IHCS], Teheran, Iran. Terj. Ahsin Muhammad, 2004, Melacak Jejak Tuhan dalam Sains Tafsir Islam atas Sains, Mizan, Bandung, hlm.xii.

[8]. Ian Barbour, 2000, When Science Meets Relegion: Enemies, Strangers, or Partuers?, terj. E.R. Muhammad, 2002, Juru Bicara Tuhan antara Sains dan Agama, Mizan, Bandung, hlm. 44.

About Falah

Keepsmile and .... and... and....
This entry was posted in Sains. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s