Mengapa Sains Islam?

“Andaikan sains bukan bangunan intelekual unik, seperti diperankan dewasa ini. Andaikata sejarah sains itu bukan sejarah gerakan-gerakan yang berulang-ulang menuju kebenaran mengenai alam semesta, tapi lebih sebagai sejarah bangunan beraneka ragam realitas sosial disampaikan melalui sains, ilmuwan, dan masyarakat. Maka muncul kemungkinan adanya sains islam yang terdiri dari satu, atau mugkin lebih, rangkaian aspek-aspek alam semesta yang multimediasi dengan kesemuanya itu diilhami oleh esensi masyarakat”.

Glyn Ford, dalam sardar, The Touch Of Midas, hlm 34-35.

Jika sains memang sarat nilai dengan komponen penting yang subjektif (Juga objektif), maka tentunya ia bisa dikembangkan melalui selera dan penekanan kultural yang khas. Artinya, di dalam sebuah masyarakat islam, nilai membentuk upaya sais dan teknologi haruslah nilai islami dalam istilah singkatnya disebut sebagai konsep sains islam.

Erat kaitan ini penting untuk dipahami bahwa antara islam dan sains itu tidak ada dikotomi atau pertentangan konflik yang tercatat dalam dokumen sejarah antara umat Kristiani dengan lembaga sains tidak memiliki keterkaitan sama sekali dalam islam. Sains dan teknologi, ekonomi dan politik, semua itu terkacup dalam ajaran islam. Etika dan nilai-nilai Islam merupakan perpaduan yang meliputi seluruh aktivitas manusia. Pendek kata, Islam merupakan sebuah sistem yang menyentuh semua aspek perilaku manusia.

Konsep sains islam masih belum terjamah oleh sebagian besar ilmuan dan lingkungan intelektual Muslim. Sebagian dari mereka tidak melihat relevansinya karena pemikiran mereka terpusatkan pada lembaga Sains universal yang diyakini netral dan bebas nilai, yang lebih penting dari perbedaan sosio-cultural. Meskipun tidak mempu menyuarakan sains yang ahistoris dan universal, sehingga persoalan tentang sain barat atau oksidental menjaditak terwujud atau, paling banter, sekedar sebuah renungan persoalan filosofis yang tidak penting.

Sekalipun demikian, ada sebagian ilmuwan Muslim mengancam akan mengislamkan sains modern dengan mencocokkan kepada alquran. Mereka melakukan ini dengan menunjukan bahwa alquran memberi penekanan yang besar pada pencarian ilmu pengetahuan tentang alam, bahkan menghasilakn bukti-bukti statistik meyakinkan. Apabila pernyataan-pernyataan faktual disebutkan dalam alquran menyinggung fenomena alam, maka itu mereka bisa diselaraskan bersama sains modern, pengalaman perasaan-perasaan euforik. Sebagai akibatnya, kejujuran dan keaslian al-quran yang sesuai dengan kriteria empiris sains modern dianggap mempunyai tingkat validitas universal dan abadi.

Sikap intelektual yang menyimpang paling banyak disorot dalam karya-karya ahli bedah Prancis, Maurice Bucaille, menguraikan tesisnya secara fasih dalam bukunya yang banyak dibaca dan dikagumi, The Bible, the quran and Science. Dalam buku itu ia memberikan analisis mendalam tentang dokumen suci dalam sudut pandang Sains Modern dan sampai pada kesimpulan bahwa :

Alquran dengan sangat jelas tidak mengandung proposisi tunggal berbeda dengan pengetahuan paling modern sekalipun, atau tidak mengandung satu pun gagasan pengetahuan digambarkan oleh alquran pada suatu saat tertentu. Lagi pula, sebagian besar fakta tersebut dalam Al-quran baru berhasil ditemukan di zaman modern seperti sekarang ini. Kenyataan, pada tanggal 9 November 1976, pengarang masa kini mampu membacakan, di depan Akademika Kedokteran Prancis, sebuah karya ilmiah tentang data psikologi dan embriologis dalam Alquran. Data itu, sepertu juga disiplin ilmu lainna, benar-benar menjadi tantangan bagi manusia, di dalamnya dapat kita ketahui perihal sejarah bebagai macam Sains sepanjang  masa. Penemuam manusia moern perihal tidak adanya kesalahan sains, karenanya, sejajar dengan konsepsi “penafsiran Muslim” atas Alquran sebagai kitab wahyu. Ini sebagai pertimbangan yang menunjukan bahwa Tuhan tidak mungkin mengungkapkan ide yang salah.”

 

Bucaiille, hlm 7

Ada kesalahan dalam pemikiran di atas yang cukup jelas, kebenarab sebuag gagasan bergantung pada apakah gagasan itu sejalan dengan penemuan-penemuan sains modern. Oleh karena itu, aturan mainnya dibawa oleh sains  pada tiap tahap, disertai kemungkinan terjadinya kegagalan yang tak mempu dihindarkan. Apabila al-qurana di zamannya sekarang ini sepenuhnya sejalan dengan penemuan modern, sebagaimana dinyatakan Bucaille, maka ia harus dalam keadaan tidak bertentangan jika ia ingin mempertahankan keasliannya sesuai  dengan krieria. Padahal, terlepas dari status sains sebagai penentu intelekual yang terhormat, argumentasinya sendiri merupakan induksi yang naif, bersandar pada landasan yang rapuh dan kurangnya kecermatan intelektual. Sedangkan bagi seorang Muslim, Alquran tidak membutuhkan pembenaran dari sains modern : ia selamanya sidah shahih sebagai sumber petunjuk universal.

Ada pula sebagian Muslim di satu sisi masih mempertahankan kayakinan universalitas, netralitas, dan sain modern bebas nilai, menyatakan bahwa fungsi sains modern dapat dimodifikasi guna menyesuaikan tujuan Islam dan masyarakat Muslim. Dengan kata lain, mereka tidak memandang sains sebagai perpanjangan tangan dari ideologi kapitalis. Dengan sangat naifnya mereka ingin mengambil sains Barat apa adanya dan mencangkoknya ke dalam peradaban Islam. Setelah menghilangkan kecendrungan-kecendrungan intelektual semacam ini dengan tolak ukur kesadaran Islami diharapkan mampu membawanya pada kebangkitan Sains ulmat Islam.

Jika dihadapkan paa nilai, gagasan Sains dalam konteks islam memang soelah-olah merupakan tuntutan. Hal itu membuat sains tundak pada tujuan dan nilai-nilai masyarakat Muslim, berjalan di atas tolak ukur etika Islami. Namun demikian, terdapat sebuah cacat yang sangat mendasar dalam gagasan ini secara keseluruhan. Inilah cacatnya sains modern, seperti yang ada di Barat, dikembangkan atas kerjasama dengan ideologi kapitalis. Pemisahan agama dan negara telah menjadi ajaran inti ideologi ini, yang membawanya pada pencabangan dan sikap konfrotatif antara agama dan sains yang tidak dapat. Permusuhan lama antara sains Barat dan Kristen, karenanya bukan peristiwa historis. Nilai-nilai  ideologi kapitalis menjadi sumber sains modern, benar-benar bertentangan dengan ajaran Kristen. Lembaga kependetaan tidak mampu memahami hal ini. Apa yang mereka saksikan secara nyata adalah penemuan-penemuan sains modern yang tidak bisa diterima, dan bukan ideologi yang mereka pahami.

 

Hal ini berarti bahwa sluruh sistem sains yang ada sekarang ini sudah angat berurat ke dalam nilai-nilai peradaban Barat dan berasal dari ideologi kapitalis. Para penulis semisal Ravetz dan Mitroff bahkan berpendapat bahwa tehnik eksperimental dan kuantitatif sains modern tidak bisa lolosdari serangan-serangan nilai-nilai ini. Jangankan menjadi aset umat islam, konsep sains dalam konteks Islam” saja pada kenyataannya merusak perkembangan masyarakat muslim itu sendiri.

Oleh karena itu, kita membutuhkan sains yang disusun dari kandungan yang memiliki proses dari metodologi yang mampu bekerja sama dengan semangat nilai-nilai Islami dan yang dilaksanakan semata-mata untuk mendapat keridhaan dari Allah. Sains semacam ini akan mempu memenuhi kebutuhan masyarakat Muslim dan bekerja sama dalam konteks etika Islam. Sifat dasar dan jenis Sains ini harus jauh berbeda dari sains Barat. Karena ia merupakan produk peradaban islam, usaha atau lembaga semacam ini selayaknya melambangkan sains Islam.

 

Referensi :

  1. Sains Dan Masyarakat Islam karya Nasim Butt
  2. The End Of Science karya John Horgen

About Falah

Keepsmile and .... and... and....
This entry was posted in Keagamaan, Sains. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s