Dengarkanlah


biolaku bernyanyi mengembara

diantara batas suara angin

 

Yang terindah sepanjang untai cerita,

dan dari nafas usia,

dari kehalusan bumi,

dan damai senantiasa

kuhimpun dalma perantauan kelamku.

 

Yang terindah

kupakukan pada bibirku

dengan aforismaku:

kebebasan angin,

kedamaian mawar ditaman.

 

Tak berbeda.

 

Sekalian mata mencari jalan cahaya.

Sekalian mulut menyanyi lagu musim semi.

 

Ku lantunkan aforisma,

Padamu yang menepis kesendiranku

Maka dengarkanlah aku.

 

*Terinspirasi oleh puisi Pablo Neruda

About Falah

Keepsmile and .... and... and....
This entry was posted in Keagamaan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s