Refleksi Fatalisme : Apakah Tuhan FBan?

Di dunia ini tidak ada tajkdir, melainkan hanya ada perbuatan kita yang dikendalikan dan ditetapkan Tuhan.

*Supaya tak salah paham, bacalah aba-aba saya ini. Tulisan ini hanya dalam kaca mata Filsafat, dan bukan Islam tulen.

 

“Dalam ketidakpastian tidak ada kepercayaan yang dapat muncul dari seseorang. Sebaliknya dalam kepastian akan selalu muncul kepercayaan dari seseorang. Kepastian adalah logika paling dasar manusia yang paling mudah itu dipahami, karena tidak ada kemungkinan munculnya suatu opsi atau pengecualian. Logikanya adalah jika suatu syarat dipenuhi maka akan terjadi suatu kondisi tertentu sebagai akibat telah dipenuhinya syarat tersebut. Mutlak; tidak mau tidak harus begitu. Tetapi, benarkah demikian kehidupan ini? ataukah logikanya mengandung opsi “dengan catatan”.

Logika seperti ini akan mempunyai cara panndang yang lain dalam melihat dunia. Dunia dilihat secara dikotomi yang ada di dunia ini, hanyalah hitam atau putih; Jahat atau baik;,benar atau salah. Tidak mungkin ada warna campuran; tidak jahat juga tidak baik atau ada sisi jahatnya ada sisi baiknya. Semua itu tidak ada, yang ada hanyalah pemutlakan. Sesuatu yang berbeda mutlak akan menghasilkan suatu hasil yang berbeda mutlak. Demikian juga yang sama mutlak akan menghasilkan yang sama mutlak juga. Embel-embel menjadi penting dalam logika ini walaupun hanya sekedar untuk pembeda sacara visual”.

Saya teringat sewaktu belajar Filsafat, banyak sedikit yang diketahui ialah manusia tidak mempunyai kemampuan dan kebebasan untuk melakukan sesuatu atau meninggalkan suatu perbuatan. Sebaliknya ia terpaksa melakukan kehendak atau perbuatannya sebagaimana telah ditetapkan Tuhan sejak zaman azali. Dalam filsafat Barat aliran ini disebut Fatalism atau Predestination.

Manusia hanya partikel kecil yang tidak mandiri, komponen yang menyatu dengan lingkungan yang heterogen, tanpa memiliki daya untuk menolak atau menyelamatkan diri. Itulah dokrin bisikan sang fatalis, yang mengajarkan bahwa hidup manusia tidak dapat menyimpang dari jalan nasib yang ditentukan. Upaya apapun tidak akan mampu untuk menghadang garis takdir. Jelasnya, manusia adalah sosok yang tidak berdaya menghadapi takdir.

Tuhan telah menetapkan segala sesuatu dengan keinginannya sendiri. Toh buktinya, manusia cacat sejak lahir di segenap penjuru dunia, itu bukan keinginan kita. Manusia terus sengsara walaupun sudah keluar keringat darah, masih tetap ditentukan, kita berkelamn wanita atau pria, bukan keinginan kita. Lantas, bagaimanakah dengan perbuatan kita?

Saya sudah menyebutkan, bahwa segala sesuatu itu ditentukan oleh Tuhan, termasuk prilaku manusia. Manusia hanyalah wayang, dan Tuhan adalah dalangnya. Kita tidak bisa melakukan apapun, karena telah dikendalikan oleh Tuhan. Manusia tidur itu dikendalikan Tuhan, manusia makan dikendalikan Tuhan, segala sesuatu itu dikendalikan oleh Tuhan. Saya menarik kesimpulan, apabila kita twitteran, emailan, dan Fban, itu Tuhan yang mengendalikan. Berarti Tuhan Fban donk. Hahahahaha

 

About Falah

Keepsmile and .... and... and....
This entry was posted in Filsafat. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s