Apa Keheningan Itu?

Seketika sesuai kau menyendiri sungguh-sungguh, engkau bersama Tuhan. Sebagian Orang hidup demi tuhan, sebagian orang hidup dengan Tuhan, sebagian hidup di dalam tuhan. Yang hidup untuk Tuhan, hidup dengan orang lain dan hidup dalam komunitas mereka. kehidupan mereka ialah apa yang diperbuat mereka.

Dengan duduk di bawah pohon ini, aku bisa aku bisa hidup demi tuhan, atau dengan Tuhan, atau dalam Tuhan. Kehidupan menyepi –pada dasarnya yang paling sederhana. kehidupan bersama menyiapkan selama kita dapati di dalam kehidupan sederhana bersama— maka carilah dia lagi dan lebih baik dapati dia dalam kesederhanaan yang lebih bersahaja dengan kesendirian.

Akan tetapi, jika kehidupan golongan kita sangat rumit —- (melalui kesalahan kita)— kita bahkan mungkin menjadi rumit di dalam kesendirian. Jangan menyendiri jauh-jauh dari suatu golongan. Temukan Tuhan mula-mula di golongan, lalau ia akan mengajakmu ke sendiri.

Manusia tak mungkin memahami nilai sejati keheningan, kecuali bila ia menaruh penghormatan nyata kepada kemurnian bahasa : karena kenyataan yang terungkap dalam bahasa terdapat, langsung dan tanpa pelantara, dalam keheningan. Takkan kita dapati kenyataan itu di dalam lubuknya, yang berarti di dalam keheningan sendiri, kecuali bila kita mula-mula membawa ke sana dengan bahasa.

Penyendirian supi pada akhirnya timbul keheningan semu…………….

 

Rujukan :

1. syahwat keabadian : Nietzsche

2. Pohon Filsafat : Sthepen Palmquis [thomas Merton]

About Falah

Keepsmile and .... and... and....
This entry was posted in Filsafat. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s