“Bersandar Pada Sebuah Pohon Di Pegunungan”

Terbaring sejenak sesudah kegelapan malam menyeru untuk solat subuh. Bisikan angin ku rasakan saat jendela kobong terbuka.  Di tanganku terdapat matan Uqudul zuman. Menunggu pagi dengan melantunkan syair-syairnya. Sambil terbaring, aku menghayati bait-bait yang rumit bagai hidup ditelah resah. Aku dikepung oleh Cicak dan Katak. Dengungan matan menari dalam satu kesatuan dengan cicak, dan mengahancurkan kegelisahan orang yang mendengar, bagaikan nuklir yang dijatuhkan di Hirosima dan Nagasaki oleh sekutu.

Aku terbangun dan  melangkahkan kaki menuju teras kobong. Angin berjalan dari sudut gelap dinginnya jiwaku, dan padi-padi di sawah menghampiriku saat katak melantunkan alfiyyah yang merdu. Lantunanku dan lantunan katak menjadi indah saat para santri mengkaji Al-quran. Padi-padi menari kala aku dan katak saling melantunkan syair. Lantunan syair kami adalah sprektum matahari yang menembus Black Holes. Hidrogen, Oksigen, Sulfat, Belerang, dan Sulfur menjadi penafsiran para santri terhadap Al-quran setelah mendengarkan lantunan kami.

Fajar sidik pun sayu dan mau dengan kedatangan mentari pagi. Cahayanya menusuk bilik kobongku yang kumuh. Ku rasakan hangatnya sinar mentari, dan rasanya bagaikan bom pemusnah masal berupa Uranium yang menari dengan mejiku hibiniu dalam sinar radiasi. Aku tersadarkan oleh itu, entah bagian tubuh mana yang harus ku korbankan?

Ketika mentari merayap ke atas, dan bumi berputar pada porosnya, aku pergi ke sebuah gunung. Berjalan melebihi kecepatan suara dan cahaya, menembus batas waktu untuk menuju pegunungan itu. Sesampainya di gunung, aku bersandar di sebuah pohon beringin. Menikmati pemandangan mimpi dan udara segar, aku pun tertidur dan bermimpi bertemu dengan Zarathustra.

Zarathustra melihat ku menghindarinya. Dan tatkala ia sedang berjalan sendirian di suatu malam melalui bebukitan di sekeliling kota yang bernama Lembu Belang, perhatikan! ia mendapatkan ku bersandar ke pohon dan memandang letih ke lembah. Lalu Zarathustra memegang pohon di sisi mana aku duduk, dan berseru: „Jika aku ingin mengguncangkan pohon ini dengan lenganku, tentu aku tidak bisa. Tetapi angin  yang tidak bisa kita lihat, akan menyiksanya dan membengkokkan ke arah mana saja yang dia inginkan. Lengan-lengan yang tidak kelihatanlah yang menyiksa dan membengkokkan kita!‟ Lalu aku berdiri kebingungan dan berkata: „Aku mendengar Zarathustra dan aku baru saja aku memikirkannya!‟ Zarathustra menjawab: „Mengapa kau takut akan ini? Tetapi manusia, hewan, dan pohon adalah serupa.

Bertambah kemauannya untuk naik ke ketinggian dan ke cahaya, bertambah semangat akar-akarnya menembus ke dalam tanah, ke bawah, ke gelap, ke kedalaman-kedalaman – ke dalam kejahatan.‟ „Ya, ke dalam kejahatan!‟ ku. „Bagaimana mungkin kau membuka jiwaku?‟ Zarathustra tersenyum, dan berkata: „Ada banyak jiwa yang tidak seorang pun akan pernah bisa dibuka, kecuali seseorang membuat-buatnya terlebih dahulu.‟ „Ya, ke dalam kejahatan!‟ teriakku sekali lagi. „Kau berseru kebenaran, Zarathustra. Aku tidak lagi mempercayai diriku sejak aku mau naik ke ketinggian, dan tidak seorang pun mempercayaiku lagi. Bagaimana ini bisa terjadi? Aku berubah terlalu cepat: keharinianku menyangkal kemarinanku. Ketika aku naik tangga, kerap kali aku melompat lampaui anak-anak tangga, tidak satu anak tangga pun memaafkanku.

Ketika aku ada di atas, aku selalu mendapatkan diriku seorang diri. Tidak ada seorang pun berbicara padaku, dingin beku penyendirian membuatku gemetaran. Apa yang aku cari di atas ketinggian? Kebencianku dan kerinduanku bertambah bersama: lebih tinggi aku mendaki, lebih pula aku membenci ia yang mendaki. Apa yang aku cari di di atas ketinggian? Betapa malunya aku akan pendakian dan ketersandunganku! Betapa aku mengumpat pada keberingasan suara keterengah-engahanku! Betapa aku benci ke seseorang yang bisa terbang!

Betapa letihnya aku di atas ketinggian!‟ Di sini aku terdiam. Dan Zarathustra mengamati pohon di sisi mana mereka berdiri, lalu berseru demikian: „Di sini pohon ini berdiri sendirian di atas bukit; dia tumbuh tinggi di atas manusia dan binatang. Dan jika dia mau berbicara, dia akan mendapatkan bahwa tidak ada seorang pun yang akan mengertinya: sangat tinggi dia telah tumbuh. Sekarang dia menunggu dan menunggu – namun menunggu apa?

Dia hidup sangat dekat dengan mendung-mendung: apakah dia menunggu, mungkin bagi kilat pertama?‟ Setelah Zarathustra berkata demikian, aku berteriak dengan gerak-gerik yang beringas: „Ya, Zarathustra, kau berseru kebenaran.

Aku rindu pada kehancuranku, tatkala aku berhasrat untuk berada diatas ketinggian, dan kau adalah kilat yang aku tunggu-tunggu itu! Perhatikan, seperti apa aku selama ini sejak kau muncul di sekeliling kami? Itu adalah kedengkian terhadap kau yang telah menghancurkanku!‟ aku sambil menangis tersedu. Namun, Zarathustra merangkulnya dan mengajaknya untuk berjalan bersamanya. Dan setelah kami berjalan beberapa lamanya, Zarathustra mulai berseru demikian:

Ini mematahkan hatiku. Mata kau berbicara dengan lebih terus terang daripada kata-kata kau, akan semua marabahaya kau. Kau namun belum lagi bebas, kau masih mencar-carii kebebasan. Pencarianan kau itu melelahkan kau dan membuat kau sangat berjaga-jaga. Kau rindu untuk berada di atas ketinggian yang terbuka, spirit kau haus bagi bintang-bintang. Tetapi naluri-naluri buruk kau pula haus bagi kebebasan.

Anjing-anjing ganas kau rindu bagi kebebasan; mereka menggonggong bersuka ria di dalam gudang bawah tanah mereka ketika spirit kau bercita-cita untuk membuka semua pintu penjara-penjara. Bagiku, kau tetap saja seperti nara pidana yang berkhayal kebebasan: ah, spirit nara pidana seperti ini akan menjadi cerdik, tetapi juga akan menjadi penipu dan jahat. Harus tetap mensucikan diri, ini penting bagi manusia spirit bebas.

Banyak yang seperti penjara dan karat besi masih ada dalam dirinya: matanya harus tetap menjadi murni. Ya, aku tahu marabahaya kau. Tetapi, dengan cinta dan harapanku aku mohon kau: jangan menolak cinta dan harapan kau sendiri! Kau tetap merasakan diri kau mulia, dan yang lainnya pun tetap merasakan kau mulia, walau pun mereka tidak senang dengan kau dan membuat pandangan jahatnya pada kau.

Ketahuilah ini, bahwa setiap manusia mendapatkan bahwa manusia mulia itu penghalang jalan. Begitu pula si baik, mendapatkan manusia mulia itu penghalang jalan: bahkan ketika mereka menamakan manusia mulia itu orang baik, mereka melakukan ini untuk menyingkirkannya.

Manusia mulia ingin mencipta sesuatu yang baru dan kebajikan baru. Si manusia baik ingin sesuatu yang lama dan sesuatu yang lama harus dilestarikan. Tetapi ini bukanlah bahayanya manusia mulia – bahwa ia akan menjadi manusia baik – tetapi takut jika ia akan menjadi lancang, pencemooh, perusak. Duh, aku tahu para manusia mulia yang telah kehilangan harapan-harapan tertingginya.

Selanjutnya mereka mengumpat segala harapan-harapan tinggi. Lalu mereka hidup tanpa malu dalam kenikmatan-kenikmatan sesaat, dan mereka nyaris tidak punya tujuan hidup melebihi tujuan sehari-hari. „Spirit adalah kenikmatan sensual pula‟ – maka mereka berseru. Lalu sayap-sayap spirit mereka patah: sekarang merangkak di sekeliling dan membuat kotor tempat dimana ia makan makannya. Sekala mereka berpikir akan menjadi pahlawan: sekarang mereka menjadi sensualis. Sang pahlawan bagi mereka adalah sesuatu yang menakutkan dan menyusahkan. Tetapi, bersama dengan cintaku dan harapanku aku mohon kau: jangan menolak sang pahlawan di dalam jiwa kau! Tetap sucikan harapan tertinggi kau. Aku pun terbangun seusai bermimpi bertemu dengan Zarathustra, dan pulang bersuka hati kala surya terbenam merah.

 

About Falah

Keepsmile and .... and... and....
This entry was posted in Sastra. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s