Dari Iman Menuju Atheis Lalu Bertaubat

[Kisah Nyata Hidup Friedrich Fallah]

Saya  bernama  lengkap  Noor Fallah, suka di panggil  Fallah  oleh  teman, dan  Siluman Tengek oleh anak-anak LPIK. Saya  terlahir  dari  keluarga  Finansial yang bersuasana Agamis. Saya lahir pada tanggal 17 juli 1991 di Kampung Citarik Desa panenjoan Kec.Cicalengka Kab Bandung. Ayah saya bernama lengkap Kiai Haji Muhammad Musthofa, salah seorang pendiri pesantren di kampung tersebut. Ibu saya bernama Hj. Lia Mariani, anak kesayangan dari Kiai Haji sadili (Beliau adalah kake saya yang berjuluk Singa Pengetahuan).

Umur 3 tahun, saya dipesantrenkan oleh ayah ke kake saya di Pesantren Babussalam. Selama di sana saya dibimbing oleh kake saya. Kake mengajarkan saya paling awal yaitu membaca Al-quran dan doa-doa untuk ibadah untuk anak seumur saya.Setelah saya lancer membaca Al-quran, saya diajarkan membaca kitab kuning.Kitab yang pertama diajarkan kake ialah kitab Safinah karya imam Nawawi Al-bantani.Dalam   mengaji kitab tersebut, saya khatamkan dalam waktu 1 minggu.Waktu saya lalui di Pesantren itu, tak lama dari khatamnya kitab tersebut, saya diajarkan sebuah kitab kebahasaan, kitab itu berjudul Jurumiyyah karya Muhammad Shonhaji.Kitab tersebut saya khatamkan dalam waktu tiga hari.Setelah selesai khatam saya pun menghafalnya dalam waktu 3 hari juga.Setelah saya beres menghafalnya, saya pun diajarkan lagi kitab yang berjudul Kaelani.

Saya tak punya waktu untuk bermain sama teman-teman. Saya setiap hari terdiam dan terdiam di Kobong sambil menghafal semua yang diajarkan kake saya.Setelah saya beres mengkaji kitab kaelani, saya pun diajari sebuah kitab terusan itu, kitab itu berjudul Al-umriti dan kitab Al-maksud, sebuah syairan tentang tata bahasa Arab.Kedua kitab tersebut saya kaji selama 2 minggu dan saya hafal selama 5 hari. Mungkin saya termasuk anak yang khowarik saat itu, karena saya suka diberi amalan-amalan oleh kake saya, amalan-amalan itu diantaranya adalah hijib Ibnu hajar, hijib Sulaiman, hijib Magribi, Hijib Rifai, Solawat fawatih al-asror dan lain sebagainya.

Setelah saya beres mengkaji kitab itu semua, kake saya mengajari sebuah kitab tertinggi dalam kebahasaan. Yaitu, Al-fiyyah Ibnu MuthiAl-fiyyah Ibnu MalikJauhar Maknun, dan uqudul Zuman, tak tertinggalkan Al-fiyyah Sang Legenda, ia adalah Imam syibawaih. Semua kitab itu saya kaji selama 2 bulan, sekaligus menghafalnya.Akan tetapi sayang, kitab uqudul zuman saya tak sempat menghafal semuanya.

Saya pesantren di kake saya selama dua tahun.Sejak umur 5 tahun, saya di Pesantrenkan Oleh kake saya Ke pesantren Al-fiyyah sejawa Barat, pesantren itu adalah Pesantren Sadang yan berada di Garut. Saya di sana diajarkan oleh teman kake saya, ia bernama Kiai Haji Ceng iif. Tak lama saya di sana, saya di luluskan oleh Beliau, hanya 3 bulan. Saya di Sadang hanya di ijazah oleh Beliau.Setelah diijazah, saya pun di suruh untuk mengajar santri senior saya.Sesudah itu, saya diluluskan.

Saya setelah lulus di Sadang, saya di Pesantrenkan oleh Kiai Haji Ceng Iif ke miftahul ulum al-musri di cianjur. Di sana saya berkenalan dengan kitab falak yaitu kitab yang berjudul Sulam Munayiren dan Kitab Taqribul maqosid. Tak hanya itu, saya diajari oleh guru saya ilmu-ilmu yang lain, seperti Ushul Fiqih (kitabnya jamul jawami), Fiqih (Kitabnya fathul muin dan Hasiyyah Bajuri), Tafsir, Hadits, Mantiq, Balagoh, Nahwu, Shorof dll.

Saya menyelesaikan semua mata pelajaran hanya dalam waktu 1 tahun, karena sistim pengajaran di sana dulu saat saya pesantren seperti sistim gitulah sekolah mungkin. Setelah dari sana, saya di pesantrenkan si Fulo Limbangan (pesantren Tafsir), Gudang Garut (Pesantren Al-quran), Santiong Cicalengka (Pesantren Tafsir), Al-Syifa kebon kalapa (Pesantren Al-quran), Al-huriyyah Kebon Kalapa (Pesantren Fiqih dan Ushul Fiqih), Nurul Iman Jolok (Pesantren Al-quran), Manonjaya di tasik (Pesantren Tauhid), Haurkoneng (Pesantren kebahasaan), Riyadil Jannah Ranca Darah (Pesantren Al-fiyyah). Saya selesaikan dalam waktu 5 tahun.Saya pun tak lupa sekolah SD, walaupun berpindah-pindah.

Umur 13 tahun saya bersekolah SMP, saya sekolah di SMP PGRI parakanmuncang. Saya selama di sana pesantren pertama di Kalapa Dua, berguru ke al-marhum Mama Kiai Haji Raden Muhammad Ilyas, saya di sana diajarkan semua bidang ilmu (15 pan). Saya di sana menyelesaikan semua dalam waktu 2 tahun (diluluskan oleh Mama). Menginjak kelas tiga, saya pesantren di Cikalama, saya digurui oleh Kiai yang bernama Den Yuyu.Saya tak menyelesaikan ajarannya, karena saya kabur, takut dinikahkan dengan sodaranya.

Selama kelas tiga SMP, saya kembali pesantren di kake saya lagi selama 1 tahun.Setelah saya beres SMP, mengisi Liburan saya Pesantren di Cibenter pataruman Banjar.Di sana saya hanya 2 bulan, saya di sana belajar Fiqih dan ushul Fiqih. Kitab-kitab yang saya kaji selama di sana adalah Fathul muin, Fathul qorib, Hasiyyah Bajuri, Fathul wahhab, labul wushul, jamul jawami, badayatul mujtahid, kifayatul akhyar, riyadul badiah, al-kabair, al-umm, syarah ianatutholobin, badayatul bidayah, durotul ghowas dll. Itu semua dengan cara sorogan kalau dalam bahasa santri. Akan tetapi, hanya pengantar-pengatar yang saya sorogan.Tak semua sampai khatam.

Saat pembagian ijazah, saya meneruskan sekolah di SMA PGRI dengan jurusan Sains Dan Teknologi Nuklir.Di sini saya mulai berfikir nakal.Saya selama SMA sering membaca buku Einsten, Lebniz, dan lain-lain. Selama itu saya mempelajari Fisika Kuantum, Reaktor Nuklir, Fusi dingin, Reaksi Fui dan Fisi, Bilangan Oktop, Trigonometri, Kalkulus, Al-jabar, Black Holes, Logaritma, Geometri, himpunan semesta, bilangan AN, dan lain-lain. Sampai sampai saya membuat sesuatu yang membuat guru-guru saya tabu, sesuatu yang saya buat sejak SMA adalah Bom pemusnah masal. Sebuah cairan yang apabila dibukakan pemicunya dan materi atom bercampu engan udara akan menyebabkan jantung manusia terbakar. Salah satu materi atau bahab yang saya pakai saat itu adalah plutonium.Dan di sinilah keraguan saya dimulai. Saya berfikir agama tidak bisa menjawab semua apa yang ada di zaman sekarang, tapi agama hanya bisa menasihati, meredam kesedihan dan lain sebagainya tanpa memberi solusi, hanya alloh alloh  dan alloh yang dibicarakan, tak ada lagi apa?? Tapi kebimbangan dan kenakalan itu meredam sesaat, ketika saya mengaji seminggu sekali di pesantren al-ilham (Pesanten Tafsir dan Hadits). Saya mengaji di sana selama 3 tahun.

Setelah lulus SMA, saya beristirahat sejenak, tidak pesantren.Saya ingin dulu bersama keluarga.Saat itu, saya bersama ayah dan ibu berbincang di ruangan rumah yang sempit dan kumuh.Saya awalnya taka da niat untuk kuliah, saya disarankan oleh ibu supaya kuliah. Ya apa boleh buat, saya kuliah. Saya keterima di UIN Sunan Gunung Djati Bandung.Saya mengambil jurusan Tafsir Hadits.Saat masuk jurusan itu, saya berkenalan dengan beberapa yang memperkaya khazanah intelektual saya.Saya berkenalan dengan beberapa disiplin ilmu. Yaitu : ilmu jarh wa tadil, ilmu tabaqoh al-ruwah, ilmu ghorib al-hadits, mushtholahul hadits, ushul hadits, ilmu nasakh wa mansukh hadits, ilmu jawami al-kalam, ilmu muthlak wa muqoyyad fi tafsir wal hadits, ilmu asbabul wurud, ilmu asbabun nuzul, amtsal al-quran, munasyabah al-quran, metode tafsir (Tematik, matsur, maqul, muroron, tahlili, isyarah, dll), takhrij hadits, dakhil fi tafsir, metode kritik sanad, metode kritik matan, ilmu rijal hadits, akh dan lain sebagainya).

Saya saat itu, saya masih dalam keadaan sangat fundamen.Selama perkuliahan awal saya yang sering membuat pusing para dosen.Dosen selalu di bombardier oleh saya dengan beberapa teori dan referensi. Semester dua saya masuk organisasi ekstra, organisasi itu adalam Pergerakan Mahasiswa islam Indonesia atau PMII. Selama masuk PMII saya selalu Demo dan demo.Di sini saya belum sempurna menjadi atheis. Semester 3 saya masuk Lembaga Pengkajian Ilmu Keislaman atau LPIK, saya di sana berkenalan dengan hermeneutika, antropologi, sosiologi, semiotika, filologi, semantic, filsafat, sains, semiotika komunikasi, arkeologi, metamorfosa peradaban dan lain sebagainya.

Sejak saya masuk LPIK, saya sering membaca buku-buku.Saat itu juga saya keluar dari organisasi PMII.Saya berfikir mengapa kita harus selalu demo???Itu adalah jalan terakhir, ada berbagai jalan dulu. Dan saya selama di PMII selalu menjadi kambing, dalam artian saya selalu disuruh demo tanpa mengetahui apa yang mau diprotes???? Saya membaca buku, di sana ada sebuah tokoh yang menyatakan bahwa apabila kita menentang kekuasaan orang atau turun ke jalan alias demo, tanpa epistemology yang jelas dan gagasan yang kuat, itu semua adalah omong kosong. Hanya keletihan dan kecapean yang kita dapatkan. Apakah PMII sudah mempunyai episteme dan nilai gagasan yang kuat????. Saya juga berfikir, apabila kita menentang kekuasaan orang, apakah sejarah akan terbalik, saat kekuasaan itu ada di tangan kita??? Saya kira akan terbalik. Sejak itu juga saya keluar dari PMII dan bermeditasi di LPIK.Satu lagi kritik saya mungkin, kader selalu disuruh turun ke jalan, berpolitik, apakah mereka mempunyai bekal untuk berwacana??

Sejak keluar ari PMII, saya berkenalan dengan seseorang yang saya kagumi, dia adalah MuhammadRifki atau orang sering menyebutnya Kodum.Dia yang membimbing saya dalam hal membaca, berefleksi, menulis, dan berdiskusi.

Beliau mengajarkan kepada saya tentang filsafat.Dia mengajari saya bagaimana dan bagaimana hidup itu.Selain dari pada itu, dia juga mengajarkan saya tentang melawan kebodohan.Saat pertama dia menyuruh saya membaca buku, kami berada di KOPMA.

“mulailah membaca”

‘iya”

“Bertanggungjawablah terhadap hidupmu sendiri”

“iya”

“apa yang ingin kamu perdalam sekarang?”

“saya ingin belajat Filsafat, kira-kira apa yah yang mesti aku baca untuk pertama-tama”

“bacalah Pengantar Filsafat, buku apa saja yang kau punya?

“saya mempunyai buku Pengantar Filsafat karya Burhanuddin salam, Pohon filsafat, dan Louis O Kattsof”

“Ya sok baca buku-buku itu.”

“iya”

Saya membaca buku-buku pengantar itu dengan senang. Di sana mulai pertanyaan-pertanyaan ada dalam benak saya tentang alam semesta, Tuhan dan manusia. Saya berfikir, kok pendapat orang itu berbeda-beda mana yang benar ya??Saat itu mulai saya berfikir lagi, saat saya membaca dimana masa kegelapan, kaum gereja mengatas namakan Tuhan Tuhan dan Tuhan.Padahal mereka berkelakuan bejad.Contoh perawan diperkosa, seolah-olah yang menyetubuhi itu tuhan. Ah goblok dan anjing banget manusia yang beragama. Masa tuhan menyetubuhi wanita.Kalau gitu, bukin aza tuhan seorang wanita yangcantik sedunia yang ajib banget kalau mau menyetubuhi mah.Masa tuhan tolol gitu. Dan kaum agamawan sama tololnya, masa seolah-olah tuhan, kan itu kamu yang memperkosa. Semua itu sama di daerah saya, dimana kaum agamawan, khususnya islam, selalu menjual agama dan selalu hidupnya merasa paling benar. Dengan memakan uang kencleng dimesjid, bilang untuk beli karpet, eh si ustad goblok itu malah membelikan uang itu ke rokok dan beras untuk dia makan. Ga goblok gimana tuch ustad.?

Kebencian saya belum begitu tampak terhadap agama.buku demi buku saya baca, setelah membaca pengantar filsafat, saya langsung membaca sari sejarah filsafat barat. Sesudah itu, saya langsung membaca buku pertokoh. Tokoh demi tokoh say abaca dan fahami, saat berjalannya waktu membaca tokoh, atheispun berjalan dalam darah saya, banyak kebimbangan terhadap agama, dimana agama hanya candu bagi masyarakat dan sebagai pembunuh naluri manusia.

Saya membaca menginjar Nietzsche, di sanalah atheis telah murni dalam hidup saya.Saya membaca buku-buku tentang Nietzsche. Buku yang say abaca diantaranya adalah Nietzsche sudah mati, Gaya Filsafat Nietzsche, Generology moral, Epistemologi Nietzsche, Filsafat Nietzsche, Senjakala Para Berhala, Kehendak Untuk Berkuasa, The Gay Sciense, Ecce Homo, Kelahiran Tragedi, The Antichrist, Syahwat Keabadian, Pemikiran Nietzsche, Moral Menurut Nietzsche dan lain-lain.

Nietzsche pernah bicara, “jangan-jangan yang kita ketahui bukan Tuhan, tapi tentang Tuhan”. Saya pun setuju dengan perkataan itu, karena saya mengira yan kita ketahui itu tentang Alloh, nama, sifat, afalnya dan macem-macem.Ya memang benarkan yang kita ketahui tentang tuhan.Lebih ekstrimnya saya bertanya mengapa tuhan selalu pengen di puji??? Seperti anak kecil saja yang merenghek-renghek lemah tuan itu. Ini juga pernah dibincangkan oleh Nietzsche, bahwa “aku tidak mau iman terhadap tuhan yang seperti anak kecil.”Ya memang alloh gitu siech. Hahahahahahaha………………………………..!!!!

Kegoblogan saya mulai lagi, ketika saya membaca The Gay Science yang di dalamnya Nietzsche berkata Tuhan Telah mati, Tuhan tetap mati dan Selamanya kan tetap mati, kita yang membunuhnya. Itu merupakan keritik sosial diantaranya, dimana agama hancur dengan orang beragama sendiri dan lain sebagainya.Banyak di sekitarku agamawan yang mengatasnamakan tuhan, tapi dia bajad, korupsi, di masjid ngomongin orang, nyakitin orang, tak menjaga kebersihan di masjid, suka selingkuh dan lain sebagainya. Apakah begitu islam mengajarkan?????

Saat saya gila seperti itu, saya tidak solat dan lain-lain.Toh orang yang suka solat juga gitu, lebih baik ga solat asalkan hidup baik kepada orang.Yang penting hidup jangan menyakiti orang dan harus membantu orang. Saat saya menutup mata kepada alloh SWT, saat saya berkenalan dengan filsafat islam dan aliran kalam atau teolog. Saya terkesan dengan mutazilah.Mereka bilang, apakah kita beridadah kepada alloh itu, ibadah kepada alloh yang mana??Yang ada dalam fikiran kita atau yang dimana??? Toh saya  juga masuk akal sekali ya??? Memang benar, kita kebanyakan ibadah pada alloh yang berada di dalam fikiran kita.Buktinya, setiap orang memiliki Tauhid yang berbeda-beda.

Hampir setahun saya tidak membicangkan siapa tuhan, apalagi solat.Saya anggap alloh sendiri tidak berguna bagi saya, karena yang penting hidup kita, kita yang bertanggung jawab dan menentukan semuanya.Seiring berjalannya waktu, saya membaca kitab-kitab bercorak filsafat, seperti hikmah mutaaliyyah fi asfar al-aqli al-arbaah, tahafut al-falasifah, tahafut al-tahafut, isaguzi, fushushul makiyyah, al-washoya libnil arobi, al-syifa dan lain-lain.Saat itu, teman saya mengajak saya mengerjakan tugas di masjid kifayatul akhyar.Saya duduk di tempat orang yang saya benci, yaitu kaum agamawan.Akan tetapi saya tak peduli.Karena saya ingat perkataan Spinoza Tuhan adalah Alam, Alam adalah kita jadi Tuhan adalah kita, di sini mungkin saya.Saat adzan berkumandang, saya terdiam sejenak, saya mendengarkan adzan dan melihat orang yang adzan.Entah angina dari mana, saya teringat saat saya pesantren dulu, saya suka adzan.Saya teringat masa lalu saya, tapi saya tak mau solat saat itu, cuman mengingat masa lalu saja.

Setelah semua orang selesai menunaikan ibada solat, saat idu ada anak UPTQ wanita dan pria yang melantunkan solawat sambil diiringi alan-alat yang gituan lah. Saya juga di sana terdiam dan mengingat masa lalu saya lagi. Di sana saya mulai meneteskan air mata yang sangat sakit. Saya bertanya kepada diri saya sendiri, dulu saya seperti mereka, tapi mengapa saya sekarang begini??? Saya saat itu tak masuk kuliah, pulang langsung ke kosan dan menangis di sana. Waktu pun terus belalu, saat saya membaca buku 13 tokoh etika karya Franz Magniz Suseno, Epistemologi karya Sudarminta dan Arus Filsafat, saya entah kenapa sesudah membaca buku 13 tokoh etika saya ma uterus membaca tentang plato. Saat itu waktu menunjukan pukul 2 pagi,saya membaca di dalam buku itu bahwa apabila kita sudah terarah kepada tatanan alam idea, kita ikut dalam keterarahan alam idea sendiri. Seperti alam indrawi terarah kepada alam idea-idea, begitu pula alam idea-idea terarah kepada  Idea Yang Tertinggi. Idea tertinggi itu adalah idea sang baik.

Sang baik itu oleh plato kadang-kadang juga disebut sang ilahi. Karena itu, manusia menurut plato akan mencapai puncak eksistensinya apabila iya terarah pada yang ilahi. Dan hidup etis menurut plato, apabila seseorang telah bersatu secara total antara kebaikan onjektif, cinta, dan kebahagiaan. Saya di sana sadar akan keberadaan saya yang sementara itu.

Malam itu, entah apa yang membawa saya untuk berfikir sang ilahi, tapi yang pasti Alloh SWT sangat menyayangi saya. Saya mulai membaca al-quran saat itu, pas saya membaca surat al-fatihah, saya meneteskan air mata saya. Saya sadar hidup saya murtad dan hina.Saat itu juga saya mulai membaca kepasrahan (syahadat).Saya ke kamar mandi dan menganbil air wudhu, saya saat itu mulai solat taubat dan membaca istigfar dan meminta ampunan dari alloh SWT.Saya yaqin Alloh SWT menyayangi saya, oleh sebab itu Alloh memalingkan hati saya dari yang gelap ke yang terang.Saat itu juga saya merasakan ketenangan yang tak saya rasakan selama hidup saya.Saya berterimakasih kepada alloh SWT yang telah mengenbalikan saya pada jalan yang benar.Saya teringan buku Filsafat Umum karya Mulyadhi Kartanegara, ia memberi nasihat dalam prolognya “Selamat berpetualang dan jangan lupa kembali”.Sekarang saya sudah kembali dengan warna yang berbeda, mungkin saya termasuk orang yang beruntung dalam khazanah intelektual.Kenapa?Saat saya kembali saya di sambut oleh dan sekaligus di Tuntun (dalam bahasa sunda) Alloh SWT. Alhamdulillah ya alloh terima kasih banyak….!!

Mungkin cukup sekian ya cerita dari kehidupan saya.Saya hanya memberikan sesuatu yang harus kalian fahami.Maaf bila carita saya aga kurang nyambung antara perparagraf, karena saya belum waktunya belajar menulis yang baik dan benar.Tapi saya yaqin, kalian membacanya tahu cerita hidup saya.Kata guru saya, Muhammad Rifki, 3 minggu lagi beliau akan ajari saya tentang menulis yang baik, sastra, wacana dan lain-lain. Eh dah dulu yach? Saya mau beres-beres kamar dulu, tadi saya beli buku 42 biji.Jadi saya harus beresin. Yaaaaaaaaaaa kasur saya yang jadi tempatnya, semakin ga bisa tidur dech di kasur karena lomari, dinding, kasur sudah dipenuhi buku, yaaa huft sampai-sampai ga keliatan temboknya………..hehehehe wasalamualaikum………!!!!!.

Catatan :

  1. Kepada PMII maaf saya bukan bermaksud menjelekan anda, dan maaf saya keluar dari PMII, mungkin saya mengkritik itu ada masalah personal dengan beberapa orang dari rayon ushuluddin, yang menurut saya mereka membabi buta dalam kebersamaan.
  2. LPIK tidak membuat saya atheis, namanya juga lembaga pengkajian ilmu kesilaman, masa membuat orang tak solat, itu ga mungkin sekali. Justru penilaian orang salah terhadap LPIK, LPIK suasananya agamis. Walaupun gandrung dalam filsafat dan sosial, tapi saya yang jurusan Tafsir Hadits akan mengimbangi itu semua.
  3. Kalau ada yang mau nyumbang buku ke saya, saya terima……….maklum saya mustadafin. Hehehehehe buku apa saja.

About Falah

Keepsmile and .... and... and....
This entry was posted in Keagamaan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s