Ilmu Fiqih Dalam Pemikiran Ibnu Rusyd

Sekarang saya berada di pesantren, mengisi liburan dengan kegiatan mengaji dan mengaji. Saya pesantren di Babussalam citarik 03/05 kec. Cicalengka desa Panenjoan kab. Bandung.  Kitab yang pertama kali dikaji di pesantren ini adalah Bidayatul Mujtahid karya Ibny Rusyd. Tak lupa saya juga pesantren sambil membawa buku-buku filsafat. Seperti Arus Filsafat, Filsafat Islam, Pengantar Filsafat Islam, Trilogi Metafisika  Antara Imam Ghazali dan Imam Ibnu Rusyd, dan lain-lain.

hukum Islam atau Fiqh senantiasa selaras dalam perkembangannya, bahkan hingga saat ini. Para Imam mazhab pendahulu yang telah berijtihad keras dalam merumuskan aturan dasar-dasar dalam mengambil sebuah putusan hukum selain berpegang pada aturan pokok berupa al Quran dan hadist, juga senantiasa menyesuaikan dengan kondisi dan perkembangan masyarakat di sekitarnya [Taghoyyurul hukmi, bitaghoyuriz zaman wal makan]. Sehingga, tidak kaget dan heran apabila banyak ikhtilaf pendapat dari mereka. Namun hal ini tidak menjadi soal, bahkan mereka saling menghargai terhadap pendapat yang lainnya. Karena masing-masing mempunyai makan dan zaman yang berbeda, sesuai dengan kaidah Ushul fiqih tadi.

Pada masa Nabi, beliaulah yang menjadi satu-satunya sumber hukum. Segala ketentuan hukum yang dibuat Nabi itu sendiri bersumber pada wahyu dari Tuhan atau dengan kata lain Al-quran. Berbeda pada masa sahabat, wilayah yang dikuasai Islam bertambah luas dan termasuk ke dalamnya wilayah-wilayah di luar Semenanjung Arabia yang telah mempunyai sosio-cultural tinggi dan stratifikasi masyarakat yang tingi, diperbandingkan dengan masyarakat Arabia ketika itu. Dengan demikian, masalah-masalah kemasyarakatan yang timbul di wilayah-wilayah baru itu lebih sulit penyelesaiannya dari masalah-masalah yang timbul di masyarakat Semenanjung Arabia sendiri.

Melihat semua itu, untuk mencari penyelesaian bagi soal-soal baru itu, para Sahabat kembali kepada al Qur’an dan Sunnah. Tetapi, sebagaimana diketahui ayat ahkam berjumlah sedikit dan tidak semua persoalan yang timbul dapat dikembalikan kepada al Qur’an atau Sunnah Nabi, maka untuk itu Khalifah dan sahabat mengadakan ijtihad. Proses ijtihad pada aspek hukum ini semakin dibutuhkan dengan pada fase-fase selanjutnya. Seiring dengan banyaknya mujtahid [pelaku ijtihad], maka produk yang dihasilkannya pun sangat beragam.

Sejarah memperlihatkan bahwa natijah pemahaman dan pemikiran umat dalam bentuk fikih berhasil mengubah masyarakat Arab jahiliah menuju masyarakat Islami. Perubahan tersebut didasarkan atas rumusan prinsip umum tentang iman, ibadah, kidah dakwah, hukum keluarga, hukum muamalah, hukum pidana, dan sanksi sebagai berikut :

1.      keterikatan hakim untuk menetapkan kemaslahatan umum atas dasar teks suci, yaitu al Qur’an dan Sunnah;

2.      perintah melaksanakan keadilan, keihsanan, persamaan, dan ukhuwah insaniyah;

3.      larangan perang atas dasar ofensif dan kebolehan melakukan perang berdasarkan pertimbangan defensif serta

meningkatkan hak dan kehormatan wanita;

4.      terjaminnya hak milik pribadi, keharusan memenuhi janji dan perikatan serta larangan melakukan tipu daya;

5.      pembedaan hak adami dan hak Allah SWT, yakni hak pribadi dan hak Allah SWT dalam sanksi

Secara umum, dapat dijelaskan tahapan-tahapan perkembangan tersebut, adalah :

1.      pembentukan dimulai sejak kerasulan Muhammad AW masa al Khulafa ar Rasyidun, hingga paruh pertama abad ke-1 H, pada tahap ini sumber hukum meliputi wahyu serta akal, yaitu al Qur’an, sunnah, ijmak, dan ijtihad.

2.      Masa pembentukan fikih yang dimulai pada paruh pertama abad ke-1 hingga dekade awal abad ke-2 H. pada tahap ini, fikih telah terbentuk mazhab.

3.      Masa pematangan bentuk yang dimulai sejak dekade awal abad ke-2 H hingga pertengahan abad ke-4 H. Pada masa ini, ijtihad dalam bentuk fikih dikodifikasi dan dilengkapi dengan ilmu ushul fikih.  

4.      Masa kemunduran fikih yang ditandai oleh dua peristiwa penting, yakni jatuhnya Bagdad ke tangan tartar dan tertutupnya pintu ijtihad oleh para ulama. Pada masa ini fukaha hanya menemouh metode ai mutun [jamak dari al matan], syarah, alhawasyi [jamak dari al hasyiyyah] dan taqrirat [jamak dari taqrir] dalam penulisan kitab fikih.  

5.      Munculnya kesadaran akan pentingnya kitab hukum Islam yang mudah dioperasionalkan dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, dan Negara. Kesadaran ini dipelopori oleh pemerintahan Dinasti Usmani dengan terbitnya majalah al Ahkam al Adiliyyah. Pemikiran dalam hukum Islam dalam peraturan perundang-undangan itu pun kemudian berkembang di negeri Islam hingga kini.

About Falah

Keepsmile and .... and... and....
This entry was posted in Filsafat, Keagamaan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s