Atheis Atau Iman? : Catatan Kelam Masa laluku [Febuari 2011 dan Kembali Menjadi Muslim Dengan Warna Yang Baru]

Sudah diceritakan beberapa alasan saya keluar dari islam di beberapa catatan saya. 3 bulan saya menjadi orang yang tak mempunyai agama. Bertuhan tanpa agama, pernah saya alami dulu. Ini sebagian tulisan saya selama menjadi Atheis.

Siapakah aku ini?

dari mana aku ini?

Apakah aku dicipitakan untuk menjadi wayang?

 

Semua yang ku perbuat ditentukan olek SESUATU,

Siapakah SESUATU itu?

Mengapa kita percaya pada SESUATU itu?

 

Ku terlahir bukan keinginanku

Ku terlahir bukan pada pilihanku

 

Dari mana kita datang,

dan akan ke mana kita pulang?

Siapakah diri kita sebenarnya?

Yang punya raga inikah?

Yang punya jiwa inikah?

Ternyata jawabannya bukan.

Banyak orang Mensesuatukan kitab suci

Menyatakan cinta atas Nama SESUATU

Menumpahkan darah atas Nama SESUATU

Mengafirkan Orang atas Nama SESUATU

 

Mereka memekanismekan dzikir

Mereka mensesuatukan kitab lama

Mereka menyaingi SESUATU

 

Apakah mereka tidak membaca,

dalam sesuatu itu tidak ada paksaan untuk memeluk keyakinan?

Namun,

ku tak bisa menafikan SESUATU itu telah menunjukan jalan Yang benar.

 

Apakah mereka sudah mengikuti perintah SESUATU?

 

Kenapa mereka menilai aku kafir karena pemikiranku yang LIBERAL?

Kenapa mereka memponis aku atheis karena menata ulang tentang SESUATU?

Apakah Sesuatu itu mengajarkan mereka demikian?

Sungguh Hina diri mereka dibanding aku.

 

Aku tinggalkan Agama SESUATU karena kekecewaanku

AKu keluar dari Agama SESUATU karena kebencianku

Beribu alasan ku sebutkan

Berjuta kebencian ku ungkapkan

Bereatus Kenistaan ku beberkan.

Apakah mereka sadar dengan prilakunya?

Apakah mereka tahu bahwa hidupnya sangatlah nista dibanding aku?

 

mengatas namakan Tuhan, Tuhan, dan Tuhan demi ambisinya.

membunuh atas nama Tuhan, Tuhan, dan Tuhan

mengafirkan atas nama Tuhan, Tuhan, dan Tuhan.

 

Siapakah Tuhan itu?

Dimanakah Tuhan itu?

dari manakah Tuhan itu?

Siapakah yang menciptakan Tuhan itu?

Siapakah yang melahirkan Tuhan itu?

Dan, ketika aku berfikir, Tuhan tertawa.

 

Dulu aku amat takut dengan kematian

Dulu aku segan dengan Neraka

Menghujat Tuhan adalah pekerjaan yang durhaka,

tapi bagiku sekarang, menghujat Tuhan ialah Hal biasa

Agama Hanya membunuh naluri setiap manusia

Agama mengajarkan Homo sosiall

Agama mengajarkan Lesbi sosial

 

Ku yakin Tuhanku tidak bisa menjawabnya, karena yang ku tahu,

TUHANKU TELAH MATI.

 

Berawal dari membaca buku, saya meninggalkan islam. Lalu kembali lagi ke islam dengan dua alasan. Pertama, membaca buku 13 Tokoh Etika : Sejak Zaman Yunani Sampai Abad ke-19 karya Franz Magniz-Suseno. Awalnya saya membaca buku tentang Nietzsche dan Sains Modern. Selama membaca buku Nietzsche saya merasa banyak kesamaan dengannya, dan memutuskan diri untuk keluar dari islam. Selama berpetualang, banyak hal-hal yang irrasional dijadikan rasional. Akan tetapi, hati saya sendiri tidaklah tenang. Saya mendapat buku “Pengantar Filsafat” karya Burhanuddin Salam yang benyatakan bahwa, “Suatu saat nanti banyak orang yang akan mendekati ilmu pengetahuan dan meninggalkan agama, karena agama tidak bisa menjawab permasalahan. Sekarang yang menjadi pertanyaan, apakah sains dan filsafat bisa memberikan kedamaian hati dan menjelaskan apa itu sedih, senang, bahagia, galau, gundah?” Dari kalimat itulah saya mulai membuka mata.

Berikuatnya, membaca buku Franz Magniz-Suseno dalam bahasan seorang filsuf yang bernama Plato. “Cinta Kepada Sang Baik” dan “Sang Baik, Cinta, dan Kebahagiaan”. Dalam buku itu dijelaskan orang itu baik apabila ia dikuasai oleh akal budi, buruk apabila ia dikuasai oleh keinginan dan hawa nafsu. Karena selama kita dikuasai oleh nafsu dan emosi, kita dikuasai oleh sesuatu yang diluar dirinya. Itu berarti, kita tidak teratur, kita ditarik ke sana ke mari, dan menjadi kacau balau.

Melalui akal budi, kita menyesuaikan diri dengan keselarasan alam semesta, dengan alam idea-idea. Akal budi ialah pandangan tentang itu. Kita sendiri menjadi tertata. Apabila kita sudah tertata terhadap alam idea, kita ikut dalam keterarahan alam idea sendiri. Seperti alam indrawi terarah kepada alam idea-idea, begitu pula alam idea-idea terarah kepada idea tertinggi. Idea tertinggi ialah sang baik. Sang baik adalah dasar segala-galanya. Segala sesuatu tertuju kepadanya, tertarik olehnya. Manusia yang baik pada dasarnya adalah manusia yang seluruhnya terarah kepada sang baik. Sang baik adalah dasar segala-galanya. Dan menurutku sekarang, sang baik ialah Alloh SWT.

Kedua, ada teman saya yang mengajak ke mesjid untuk mengerjakan Tugas. Awalnya saya tak mau, tapi dengan segala desakan keadaan saya akhirnya mau juga. Nah sewaktu di mesjid, saya melihat anak kecil yang solawatan. Tak tahu apa yang terjadi, saya meneteskan air mata, karena ingat masa lalu dulu, dimana dipesantren selama 25 tahun, selalu solawatan. Tak banyak tingkah, saya langsung ngambil air wudhu dan di sana langsung solat taubat. Mungkin Alloh SWT menyayangi saya, bukan mungkin juga kali, kepastian yang mutlak.

Akhir dari tulisan ini saya akan kutip perkataan Nietzsche yang menghanyutkan saya kepada pemikirannya. Membaca Nietzsche saya gila, dan kutipannya saya akan ambil. Yaitu,

“Jika kau ingin kedamaian hati dan ketenangan jiwa, maka percayalah. Dan apabila kau ingin menjadi anak kebenaran, maka carilah.

[Bersambung]

About Falah

Keepsmile and .... and... and....
This entry was posted in Sastra. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s