PEMBENTUKAN DINASTI BANI UMAYYAH

Amin Prasojo

Pendahuluan

Pembicaraan tentang pembentukan dinasti Bani Umayyah berkaitan erat dengan percaturan persaingan antara dua klan dari suku Quraisy, yaitu Bani Hasyim dan Bani Umayyah sejak dari masa pra-Islam. Dalam persaingan itu Bani Umayyah lebih berpengaruh di kalangan masyarakat Makkah. Merekalah yang menguasai pemerintahan dan perdagangan yang banyak bergantung pada para pengunjung ka’bah, sementara Bani Hasyim adalah orang-orang yang berkehidupan ekonomi sederhana, tetapi taat menjalankan agama nenek moyang mereka.

Ketika Islam lahir, dan pada kenyataannya Nabi Muhammad adalah seorang Hasyimi, Bani Umayyah merasa bahwa kekuasaan dan perekonomiannya akan terancam. Oleh karena itu mereka menjadi penentang utama kerasulan Muhammad SAW., tetapi tidak pernah berhasil melumpuhkannya. Bahkan Abu Sufyan Ibn Harb, salah seorang pembesar klan Bani Umayyah sering sekali menjadi panglima dalam beberapa peperangan melawan Nabi SAW.

Setelah Islam berhasil membentuk pemerintahan yang kuat di Madinah dan akhirnya dapat merebut Makkah, Abu Sufyan ibn Harb ibn Umayyah menyerah, kemudian masuk Islam bersama  anggota-anggota Bani Umayyah lainnya, termasuk istrinya Hindun dan anaknya Mu’awiyah[i].

Di masa khalifah Abu Bakar Shiddiq, orang-orang Quraisy yang mayoritas dari klan Bani Umayyah menghadap kepadanya, dan menyatakan bahwa kelas mereka di bawah kaum muhajirin dan anshar. Abu Bakar berkata bahwa hal itu disebabkan keterlambatan meraka masuk Islam, dan untuk mengejar ketertinggalan tersebut mereka harus berjihad membela Islam. Anjuran tersebut segera mereka wujudkan dengan berpartisipasi aktif dalam perang riddah.

Ketika Umar ibn Khattab menjadi khalifah, mereka diikut sertakan memerangi orang-orang Bizantium, kemudian mereka ditempatkan di Syam, dan Yazid ibn Abi Sufyan diangkat menjadi gubernur di sana. Setelah Yazid wafat, Umar mengangkat Mu’awiyah, saudaranya untuk menggantikan kedudukannya.

Di masa khalifah Utsman ibn Affan yang merupakan salah seorang anggota klan Bani Umayyah, Mu’awiyah dikukuhkan menjadi Gubernur di Syiria, sehingga tercapailah kekuasaan Bani Umayyah atas orang-orang quraisy di zaman Islam, sebagaimana pernah mereka alami pada zaman jahiliyyah[ii].

Utsman ibn Affan mati terbunuh dalam satu huru-hara yang dilakukan oleh pihak yang merasa tidak puas terhadap kebijakan pemerintahnya. Sebagai penggantinya, Ali ibn Abi Thalib naik menjadi khalifah. Mu’awiyah menolak untuk mengakui khalifah Ali, karena Ali tidak memenuhi tuntutan mereka agar menyerahkan para pembunuh Utsman ke tangan meraka. Jelasnya mereka menuntut balas darah Utsman kepada Ali dan sekaligus menyatakan sebagai pewaris jabatannya. Sekali lagi terjadi persaingan antara Bani Hasyim dan Bani Umayyah.

Demikian sekilas gambaran latar belakang persaingan antara Bani Hasyim dan Bani Umayyah, diungkapkan dalam pendahuluan ini dengan maksud agar dapat memberikan pemahaman yang lebih tepat dalam pembaHasan topik makalah ini.

Riwayat Hidup Mu’awiyah ibn Abi Sufyan

Mu’awiyah ibn Abi Sufyan adalah pendiri dinasti Bani Umayyah di Damaskus, Syiria, yang memerintah dunia Islam selama 90 tahun (661-750 M). dia sebagai khalifah pertama yang berkuasa pada tahun (661-680 M)[iii]. dia lahir di Makkah pada tahun 607 M. atau lima belas tahun sebelum hijrah, meninggal di Damaskus pada awal bulan rajab tahun 60 H., bertepatan dengan tanggal 7 april 680 M[iv].

Mu’awiyah berasal dari keturunan bangsawan quraisy yang berkuasa sampai jatuhnya kota Makkah, Abu Sufyan Shahr ibn Harb ibn Umayyah ibn Abd Syams[v], ibunya bernama Hindun binti Uqbah ibn Rabi’ah ibn Abd Syams, yang dikenal sebagai pemimpin kaum wanita yang ikut mengobarkan semangat tentara quraisy Makkah pada perang uhud, dan berbuat di luar perikemanusiaan terhadap para syuhada, terutama terhadap jenazah Hamzah, paman Nabi[vi]. Dia mewarisi kepribadian dan kecerdasan orang tuanya, terlihat dalam usaha-usahanya mencapai puncak karir kepemimpinannya, walaupun melalui jalan yang kurang terpuji.

Mu’awiyah memeluk Islam bersama ayahnya Abu Sufyan pada fathu Makkah. Pada zaman rasul pernah ikut perang hunein. KeIslamannya terus dibina oleh rasulullah sehingga menjadi muslim yang baik, dia termasuk salah seorang sekretaris rasulullah SAW, al-Sayithi menyebutkan bahwa Mu’awiyah meriwayatkan 163 hadits, baik yang diterima langsung dari Nabi maupun  dari sahabat lain yang terkemuka seperti Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Ibnu Zubair dan lain-lain[vii]. Serta dari saudara perempuannya Habibah binti Abi Sufyan, Istri Rasulullah SAW.

Karir militer Mu’awiyah lebih berkembang pada zaman pemerintyahan khalifah Abu Bakar Shiddiq. Yazid ibn Abi Sufyan diangkat menjadi panglima untuk menaklukkan Syam. Kemudian Abu Bakar Shiddiq mengirimkan pasukan bantuan yang dipimpin oleh Mu’awiyah untuk membantu pasukan Yazid. Mu’awiyah bertempur di bwwah pimpinan saudaranya, dan ia memimpin tentara Islam yang menaklukkan kota Sidon, Beirut dan lain-lainnya yang terletak di pantai Damaskus.

Di zaman khalifah Umar ibn Khattab, Yazid ibn Abi Sufyan diangkat menjadi gubernur di Damaskus, dan Mu’awiyah menjadi gubernur Yordania. Yazid meninggal karena sakit di kota Amus, kemudian Umar menggAbungkan Damsyik ke dalam wilayah Mu’awiyah.

Pada zaman khalifah Utsman bin Affan, semua daerah Syam diserahkan kepada Mu’awiyah. Dia sendiri yang mengangkat dan memberhentikan pejabat-pejabat pemerintahannya, masa pemerintahan Utsman cukup panjang (644-656) ditambah kebijakan nepotisnya memungkinkan Mu’awiyah mempersiapkan dirinya dan meletakkan dasar-dasar untuk mendirikan kerajaannya, dan untuk menjadikan Syam menjadi daerah yang mutlak di bawah kekuasaannya[viii].

Usaha Merebut Kekuasaan

Setelah menempuh perjauangan berat di bidang kemiliteran akhirnya klan Bani Umayyah dapat ikut bersaing kembAli dalam percaturan politik dengan Bani Hasyim. Awal kebangkitan mereka dimulai dari diangkatnya Yazid ibn Abi Sufyan menjadi gubernutr damaskus, kemudian dilanjutkan oleh Mu’awiyah ibn Abi Sufyan. Sejak menjabat gubernur inilah ia mulai menyusun strategi politiknya ntuk mewujudkan ambisinya menjadi penguasa tunggal dari kalangan Bani Umayyah atas wilayah kekuasaan Islam.

Usaha-usaha yang ditempuh antara lain:

1. Memanfaatkan Masa Khilafah Utsman

Enam tahun diakhir periode kekhilafahan Utsman bin Affan yang berasal dari klan Bani Umayyah benar-benar dimanfaatkan oleh Mu’awiyah dengan dibantu oleh tokoh-tokoh lainnya untuk menggalang dominasi kekuasaan Bani Umayyah. Bahkan mulai Utsman naik tahta kekhalifahan Mu’awiyah sudah merasa menjadi penguasa seperti yang pernah mereka alami terhadap kaum quraisy dimasa jahiliyyah[ix]. Hal nilah yang memacu Mu’awiyah untuk mewujudkan ambisinya walaupun melalui cara yang tidak fair dan konfrontatif.

BarangkAli usaha-usaha inilah yang mendorong Utsman bin Affan melakukan kebijaksanaan nepotisme dalam pemerintahannya, sehingga dapat memberikan keluasan wilayah kekuasaan Mu’awiyah, yang semula hanya menjadi gubernur yang mewilayahi Damsyik dan Yordania, kemudian wilayahnya meliputi daerah syam (Syiria). Syiria adalah daerah yang subur, karena itu merupakan potensi pembangunan sektor ekonomi sementara penduduk Syiria telah berpadu dengan orang-orang arab, terutama dari kalangan klan Bani Umayyah, yang bertransmigrasi ke daerah tersebut, menjadi kekuatan militer yang tangguh yang siap mendukungnya.

Kerusuhan dan huru-hara yang terjadi pada masa akhir pemerintahan Utsman yang mengakibatkan terbunuhnya khalifah Utsman diakibatkan oleh nepotisme tersebut. Dia banyak memberikan kedudukan-kedudukan penting dalam pemerintahannya kepada keluarga Bani Umayyah, dan memberikan fasilitas-fasilitas material kepada mereka dengan mempergunakan uang negara. Hakam ayahnya Marwan memperoleh tanah Fadak, Mu’awiyah mengambil Alih tanah negara di Syiria dan Abdullah mengambil 1/5 dari harta rampasan perang Tripoli[x].

Diangkatnya Marwan bin Hakam sebagai sekretaris negara tambah membuat sakit hati umat Islam terutama kalangan Bani Hasyim, karena Marwan orang yang mementingkan diri sendiri dan suka intrik. Tujuan pengangkatan Marwan ternyata untuk meningkatkan dan mengkonsolidasikan kedudukan Bani Umayyah di dalam kekhalifahan[xi].

Tindakan Marwan ibn Hakam yang tidak terpuji itu jelas kalau dilihat dari kronologi terbunuhnya khalifah Utsman bin Affan. Terbunuhnya Utsman bin Affan berasal dari rasa tidak puas terhadap nepotismenya, terutama rakyat Mesir yang mayoritas pengikut-pengikutnya Ali bin Abi Thalib, dan rakyat Kufah dan Bashrah yang mayoritas pengikut Thalhah dan Zubair. Penduduk Mesir tidak senang terhadap tindakan-tindakan gubernurnya Abdullah ibn Abu Sarah yang berasal dari Bani Umayyah, dan menuntut keada khalifah agar diganti dengan Muhammad bin Abu Bakar. Setelah mengadakan loby dengan Ali bin Abi Thalib akhirnya Utsman mengAbulkan tuntutan mereka, mereka merasa puas, kemudian meninggalkan ibu kota Madinah, bersama Muhammad ibn Abu Bakar menuju Mesir. Setelah tiga hari perjalanan dari Madinah, di tengah perjalanan meraka mendapatkan seseorang yang mencurigakan. Kemudian ditangkaplah orang itu, setelah diinterogasi ternyata orang itu adalah pesuruh khalifah Utsman yang membawa surat perintah kepada gubernur Mesir Abdullah ibn Abi Sarah untuk membunuh Muhammad bin Abu Bakar dan tokoh-tokoh delegasi lainnya bila sudah tiba di Mesir. Penulis surat ini setelah dilacak di hadapan Utsman ternyata adalah Marwan bin Hakam. Akhirnya para pembangkang menuntut penyerahan Marwan keada mereka yang ditolak oleh khalifah, akibatnya mereka menyerbu ke rumah khalifah, dan dibunuhlah Utsman bin Affan ketika dia sedang membaca al qur’an[xii].

2. Pemanfaatan Tragedi Kematian Utsman

Tragedi kematian Utsman bin Affan, selanjutnya dijadikan dAlih untuk mewujudkan ambisinya, mereka menuntut kepada khalifah Ali, pengganti Utsman agar dapat menyerahkan para pembunuh Utsman kepada mereka[xiii]. Khalifah Ali bin Abi Thalib dalam kondisi dan situasi kenegaraan yang belum stabil, tidak memenuhi tuntutan mereka tersebut. Sedang di pihak Mu’awiyah menjadikannya sebagai alasan untuk tidak mengakui kekhalifahan Ali bin Abi Thalib dan memisahkan diri dari pemerintahan pusat.

Langkah pertama yang diambil oleh khalifah Ali bin Abi Thalib dalam menghadapi pembangkangan Mu’awiyah adalah mengutus Abdullah al-Bajali kepada Mu’awiyah agar bersedia mengakui dan membalasnya seperti yang dilakukan oleh gubernmur-gubernur dan kaum muslimin lainnya dan tidak memisahkan diri dari pemerintahan pusat. Muawiyah tidak segera menjawab ajakan tersebut dengan maksud untuk memberi kesan tidak baik. Untuk menentukan sikap dalam neghadapi himbauan khalifah tersebut Mu’awiyah bermusyawarah dengan Amru bin Ash, hasilnya menolak ajakan damai, dan memilih mengangkat senjata memerangi pemerintah pusat[xiv]. Hasil putusan tersebut kemudian dikirimkan melalui jarir kepada khalifah Ali bin Abi Thalib.

3. Arbitrase Sebagai Tipu Muslihat Meraih Kemenangan Politik

Dengan jawaban tersebut sudah tidak ada alternatif lain bagi khalifah Ali untuk menghadapi Mu’awiyah kecuali dengan kekerasan. Karena itulah masing-masing mempersiapkan diri untuk terjun ke medan pertempuran.

Setelah selesai menghadapi pemberontakan Thalhah Zubair dan Aisyah ummul mu’minin pada perang jamal, pasukan Ali bin Abi Thalib segera bergegas menghadapi tentara Mu’awiyah. Dua pasukan itu bertemu di Siffin. Pertempuran terjadi, tentara Ali dapat mendesak tentara Mu’awiyah sehingga telah bersedia untuk lari. Tetapi tangan kanan Mu’awiyah, Amr ibn al-Ash yang terkenal licik minta perdamaian dengan mengangkat al-qur’an yang ditancapkan di ujung lembing ke atas sebagai isyarat bahwa masalah mereka harus diselesaikan sesuai dengan kitab Allah. Imam-imam di pihak Ali mendesak Ali supaya menerima tawaran itu dan dengan demikian dicarilah perdamaian dengan tahkim (arbitrase). Sebagai perantara diangkat dua orang: Amr bin Ash dari pihak Mu’awiyah dan Abu Musa al Asy’ari dari pihak Ali[xv].

Penunjukan Amr bin Ash sebagai juru runding dari pihak Mu’awiyah adalah tindakan yang tepat dilakukan olehnya, karena Amr bin Ash adalah orang yang kecakapan dan kelicikannya sebanding dengan Abu sufyan, karir militer dan diplomatiknya telah terbukti[xvi]. Sementara juru runding dari pihak Ali, Abu Musa al Asy’ari seorang tua yang tawadlu’ dan taqwa. Dilihat dari kapasitas dua orang juru runding tersebut sudah tampak tanda-tanda kemenangan dari pihak Mu’awiyah.

Al-Maududi mengutip pernyataan ibn Atsir sebagai berikut: Amr ibn Ash mengawali perundingannya dengan mengajukan pertanyaan kepada Abu Musa: bagaimana sebaiknya menurut anda dalam masalah ini? Abu Musa menjawab: sebaiknya kita pecat dua orang ini, dan urusan pengangkatan khalifah diserahkan kepada permusyawaratan kaum muslimin untuk memilih yang mereka sukai. Amr menjawab: pendapatmu itu baik sekali[xvii].

Selanjutnya Amr ibn Ash mempersilahkan Abu Musa al Asy’ari yang lebih tua untuk melaksanakan kesepakatan mereka, yakni memecat khalifah Ali dan Mu’awiyah sekaligus. Diikuti pidato Amr ibn Ash yang menyatakan pemecatan Mu’awiyah dan Ali, tetapi kemudian dia menambahkan bahwa dirinya sekaligus membai’at Mu’awiyah ibn abi sufyan.

Hal itu tentu saja tidak memuaskan fihak Ali bin Abi Thalib, namun apapun yang terjadi arbitrase (tahkim) ini secara de jure telah memberikan kedudukan Mu’awiyah, gubernur yang memberontak ini sama dengan kedudukan khalifah Ali.

Ketidakpuasan terhadap arbitrase ini mengakibatkan munculnya khawarij yang memusuhi Mu’awiyah dan Ali. Namun bagi Mu’awiyah karena adanya pengamanan yang ketat terhadap dirinya, kaum khawarij tidak mampu membunuhnya, sebaliknya bagi Ali bin Abi Thalib merupakan malapetaka besar dan mengakibatkan terbunuhnya.

Ali dibunuh oleh khawarij pada hari jum’at tanggal 17 ramadhan tahun 40 H[xviii].

Terbentuknya Dinasti Bani Umayyah

Hasan ibn Ali dibai’at untuk menggantikan kedudukan ayahnya pada tahun 40 H. orang pertama yang membai’at Hasan adalah Qais ibn Sa’ad al Anshari, kemudian diikuti orang banyak[xix].

1. ‘Amu al-jama’ah: pengakuan Hasan ibn Ali terhadap Mu’awiyah

Hasan ibn Ali segera mempersiapkan diri dibantu oleh Qais ibn sa’ad ibn ubadah al anshari, dan Abdullah ibn abbas untuk menghadapi Mu’awiyah di kufah. Ketika Hasan tiba di Madain salah seorang anggota pasukannya berteriak bahwa Qais terbunuh. Teriakan itu mengakibatkan pasukan itu bercerai berai berlarian. Tiba-tiba sebagian orang-orang yang suka membuat kekacauan itu menyerbui masuk ke tempat persinggahan Hasan serta melanggar kehormatannya dan merampok habis harta bendanya, bahkan mereka berani merampas permadani yang sedang diduduki Hasan.

Menghadapi situasi yang demikian kacau, bagi Hasan ibn Ali tidak ada alternatif lain kecuali menempuh jalan perdamaian dengan Mu’awiyah, walaupun adiknya, Husain ibn Ali tidak menyetujuinya. Kemudian Hasan mengirim surat perdamaian kepada Mu’awiyah. Ketidak setujuan Husain ini tergambar pada komentarnya ketika Hasan menginformasikan pengiriman surat tersebut kepada dirinya dan Abdullah ibn Ja’far: “apakah engkau menyetujui Mu’awiyah?” Hasan menjawab:”diam kau ! aku lebih tahu masalah ini dibanding kau”[xx]. Sebelum surat tawaran perdamaian itu sampai, Mu’awiyah mengutus Abdullah ibn Amir dan Abd al Rahman ibn Samurah ibn Habib ibn Syams dengan membawa blangko kosong yang telah ditandatangani dan distempel, dengan pesan singkat: “ajukan persyaratan perdamaianmu dalam kertas ini sesuka hatimu, itu hakmu”.

Hasan menuliskan persyaratan yang berlipat ganda pada kertas kosong yang disediakan Mu’awiyah, walaupun yang terahir ini ditolak oleh Mu’awiyah, katanya: aku telah kabulkan persyaratan yang kau ajukan terdahulu. Adapun persyaratan yang diajukan Hasan adalah bahwa dia berjanji untuk mengundurkan diri bila Mu’awiyah menerima sebagai berikut: 1) agar Mu’awiyah menyerahkan apa yang ada di bait al maal kufah yang jumlahnya mencapai 5.000.000 dirham, 2) menyerahkan pajak negeri Ahwaz setiap tahun, 3) jangan mencaci Ali dihadapan dirinya.

Bagi Mu’awiyah persyaratan-persyaratan itu tidak perlu dipertimbangkan, asal Hasan bersedia mengundurkan diri[xxi].

Akhirnya tercapailah perdamaian dan tahun itu disebut tahun persatuan (‘amu al jama’ah), saat yang menentukan bahwa umat Islam hanya mempunyai satu pemerintahan, setelah Hasan membai’at Mu’awiyah ibn Abi Sufyan, dilanjutkan dengan bai’at massal. Bahkan Hasan selanjutnya mengirim surat kepada Qais ibn Sa’ad yang memimpin 12 ribu tentara untuk tunduk dan membai’at Mu’awiyah. Ketika itu Qais menyampaikan himbauan Hasan dalam pidatonya dihadapan tentaranya: “hai saudaraku, kalian boleh memilih, terus berperang tanpa imam atau taat kepada pemimpin yang sesat itu”. Ternyata sebagian tentara memilih untuk berbai’at kepada Mu’awiyah[xxii].

Tercapailah sudah ambisi Mu’awiyah untuk menjadi pemimpin umat, walaupun menempuh cara yang kotor dan licik.

2. Sistem Pemerintahan

Keberhasilan Mu’awiyah mencapai tampuk pemerintahan karena dalam dirinya tergabung sifat-sifat penguasa, politikus dan administrator. Dia dalah seorang peneliti sifat manusia yang tekun dan memiliki wawasan yang tajam tentang pikiran manusia. Dia berhasil memanfaatkan para pemimpin, administrator, dan politikus yang paling ahli pada saat itu. Ia adalah seorang orator yang ulung[xxiii].

Amru ibn al ash seorang politikus ulung mantan gubernur Mesir setelah dipecat oleh Utsman bin Affan, segera dia rangkul. Zaid ibn abihi yang pada mulanya termasuk diantara pembela Ali yang setia dapat ia tundukkan dengan cara menasabkan dirinya kepada Abu Sufyan dan diangkat menjadi gubernur Bashrah, dan bertugas khusus untuk mengamankan Persia bagian selatan. Al Mughirah ibn Syu’bah diangkat menjadi gubernur di Kufah, setelah dia kenal ketrampilannya di bidang politik, dengan tujuan mengamankan Kufah yang mayoritas penduduknya pendukung Ali[xxiv].

Setelah memperhatikan uraian-uraian diatas dapat disimpulkan bahwa dinasti umayyah didirikan atas dasar kekerasan dan kelihaian berpolitik. Dan bai’ah terhadap khalifah dilakukan dalam keadaan terpaksa.

Mu’awiyah yang memiliki rasa kesukuan yang kuat dan fanatisme klan yang hebat akhirnya memilih sistem pemerintahan Monarchi untuk mempertahankan dominasi dan kelangsungannya dalam khilafah. Hal ini ia buktikan dengan mengangkat Yazid, anaknya untuk menggantikan kedudukannya sebelum ia meninggal dunia.

Jalal Syaraf dalam bukunya al fikru al siyasi fi al Islam mengemukakan bahwa sistem pemerintah dinasti Bani Umayyah sangat dipengaruhi oleh Persia dan Bizantium, yakni sistem pemerintahan monarchi. Dia tinggalkan sistem pemerintahan yang dijalankan khalifah empat, yakni musyawarah. Penunjukan yazid sebagai penggantinya menunjukkan pelimpahan kekuasaan secara turun-temurun (pewarisan)[xxv].


[i] Jurji Zaidan, Tarikh Tamaddun al Islami, TT, Dar al Maktabah al Hayat, Beirut, hal 332-334

[ii] ibid, hal 338

[iii] Joesouf Sou’yb, Sejarah Daulah Umawiyah di Damaskus, I, Bulan Bintang, Jakarta, 1997, hal 13

[iv] Khudhari Bik, Tarikh al Umam al Islamiyah, II, maktabah al Islamiyah, Cairo, hal 99

[v] Al Suyuthi, Tarikh al Khulafa, Dar al Nahdlah Mishr, Cairo, hal 308

[vi] Haikal, Sejarah Hidup Muhammad, Tinta Mas, Jakarta, 1984, hal 311-334

[vii] Al Suyuthi, op cit, hal 308

[viii] Khudlari Bik, op cit, hal 180

[ix] Jurji Zaidan, loc cit,

[x] Mahmud al Nashir, Islam Konsepsi dan Sejarahnya, terjemah Drs. Adang Affandi, Rosda, Bandung, 1988, hal 189

[xi] ibid, hal 190

[xii] Al Suyuthi, op cit, hal 254

[xiii] Al Thabari, Tarikh al Umam wa al Mulk, IV, al Istiqamah, Mesir, 1939, hal 3

[xiv] Ibnu Atsir, al Kamil fi al Tarikh, IV, Dar Shadir, Beirut, hal 253

[xv] Harun Nasution, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, UI Press, Jakarta, 1979, hal 94

[xvi] W.Montgomeri Watt, Kerajaan Islam, Tiara Wacana, Yogyakarta, 1990, hal 19

[xvii] Abu al A’la al Maududi, Khilafah dan Kerajaan, terjemah M. Bagir, Mizan, Bandung, 1984, hal 181

[xviii] Ibnu Atsir, op cit, hal 387

[xix] Ibid, hal 405

[xx] ibid, hal 405

[xxi] Dr. Jamaluddin Surur, Al Hayat al Siyasiyah fi al Islamiyah,Darul Fikri, Cairo, 1975, hal 91

[xxii] Ibnu Atsir, op cit, hal 406-407

[xxiii] Syed Mahmud al Nasir, op cit, hal 203

[xxiv] W. Montgomeri Watt, op cit, hal 19

[xxv] Jalal Syaraf, Al Fikru al Siyasi fi al Islam, Daru al Jami’at al Mishriyah, 1973, hal 124

 

About Falah

Keepsmile and .... and... and....
This entry was posted in Keagamaan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s