Potongan Senja

Tak kunjung jua masa lalu. Entah mengapa camai tiada mengusik hati di pesisir samudra ini. Hanya percikan pasir dan gelembung air membuih di utara sana. Berjalan ku terus berjalan demi sebuah ratapan di garis-garis Andromega. Tapak-tapak semesta ku ukir di pasir bersama gertakan air yang seolah mengajakku pulang. Namun, ukiran semesta itu pupus oleh rayapan selimut kehidupan.

Bersama langkah kaki, ku untai biasan makna dari sanubari hati ;

Daun-daun menari berpendaran dihembus nafas angin senja

Halnya lampu yang dibawa petualang kata

Menuju tempat teduh di balik tatap senja

Dinama air mata sajak menetes ke dalam kata

Kata makna yang tak terisayaratkan tiada

Sampai ku pungut kata,

Dengan segala tawa lama

Tawa lama ditiru lembayung di pelataran angkasa

Menari dan melengkung-lengkung di bias mata

Mengabarkan sunyi kala malam menjelma

Bersama malam dihiasi serangga

Dan terbang membawakan rembulan untukku pada Asa

Usai tersisipkan Asa pada aforisma tak bermakna, ku sampai di sebuah dermaga. Menyalahakan cahaya rindu, di ujung tambang lilin ku duduk merangkul kaki manisku. Tertuang sebuah kata dalam benak, “Berikanlah aku sebait senja dan  menyampaikannya padamu. Melalui jiwaku biarlah angin berhembus padamu : melodi makna akan tertap melantun, dan aku senantiasa menikmati yang tak pernah abadi.”

Di senja ini, tari semesta akan tetap berdetak, segala sesuatu yang di luarnya akan tetap lenyap. Suara ratapan senja akan menyuarakan kepedihanku yang terjebak dalam ruang dan waktu. Detik ketiadaan senja akan tetap abadi. Biarlah, biarlah, dan tetaplah senja ini dihargai dalam tuanya waktu, dan kepedihan manusia khususnya aku yang akan segera tiada.

Pada detik ruang dan waktu, ku menyadari diri di tepi samudra, memandang dunia semesta yang terdiri dari mimpi. Memandang ruang dan waktu bersekutu untuk menutupi rinduku yang selalu disampaikan lewat jendela dan menjelmakan dunia semesta itu untuk mataku. Di dermaga ini, pada tepian bumi, senja adalah sapuan warna keemasan dan hamparan semudara adalah cairan logam meski buih pada rayapan ombak yang menghepas tetap saja putih seperti kapas serta langit biru tetap saja berkedip kala tubuhku selalu menyebut namamu.

Ku lihat, burung  gagak mengitari matahari yang malu, berteriak, dan terbang ke balik awan kelam dengan mengumbang. Malam akan turun segera, bahagialah aku karena selalu menjadi sang pemimpi. Kini ku sendiri kaku, menengok ke masa tawa nan betapa lama sudah “Perbincangan Gerimis” pergi. Mengapa aku tiada? Karena musim mimpi hampa ke dunia ini. Ku hanya menikmati senja yang dingin selalu. Ingin sekali terbang bersama gagak. Berkoak, lagunya dalam nada burung ketiadaan.

Terasa oleh ragaku, senja dan oleh jiwaku cahaya gemetar. Indahnya senja berkutat melawan ruang diri dan waktu teringat padamu. “Barangkali senja ini indah di matamu,” pikirku. Maka akan ku potong senja itu sebelum ia tidur di balik samudra ini. Ku masukan senja itu ke kantong bajuku. Dengan itu, keindahan akan tetap abadi dan aku bisa memberikannya padamu. Karena yang ku tahu, “ketidakabadian itulah yang abadi”.

kukirimkan padamu sepotong senja dengan angin, debur ombak, matahari yang malu, dan cahaya keemasan, tarian gagak mengitar matahari, dan ketidakpastian diri. Apakah kamu menerimanya dalam keadaan lengkap?

About Falah

Keepsmile and .... and... and....
This entry was posted in Sastra. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s