TEORI KRITIK SASTRA STRUKTURALISME (AL-BINAIYYAH) MURNI DAN REVISI

 

  1. Sejarah kelahiran dan ontologi strukturalisme sebagai Teori Kritik Sastra Barat

Di Barat, kelahiran kritik sastra struktural berawal dari upaya yang dirintis oleh kaum formalis (Asy-Syakliyyah) Rusia yang ingin membebaskan karya sastra dari lingkungan ilmu-ilmu yang lain seperti Psikologi, Sejarah, atau Penelitian Kebudayaan. Menurut mereka, pendekatan sastra menurut ilmu-ilmu tersebut kurang meyakinkan. Sastra ingin dilihatnya sebagai tindak bahasa atau kata. Puisi misalnya di lihat sebagai bunyi, morfologi, sintaksis, dan semantik. Teori formalisme ini, sebagaimana telah di singgung di muka, menurut Luxembrug, melarupakan peletak dasar ilmu sastra modern.

Pendekatan yang di pakai kaum formalis itu kemudian berkembang di beberapa negara di Barat menjadi aliran kritik sastra baru yang kemudian di kenal dengan strukturalisme (Al-Binaiyyah). Di Francis berkenbang pada tahun 1965 di tangan Levi-Strauss dan Roland Barthes. Di Inggris berkembang di tangan TS. Eliot dan terutama di Amerika oleh aliran New Cristicism (Madrasah An-Naqd Al-Jadid) yang di pelopori oleh WK Wimsatt dan John Crow Ranshom.

Dalam garis besarnya, aliran struktularisme memandang bahwa kritik sastra harus berpusat pada karya sastra itu sendiri, tanpa memperhatikan sastrawan sebagai pencitra dan pembaca sebagai penikmat, hal-hal yang disebut ekstrinsip seperti biografi psikologi, sosiologi, dan sejarah. Aliran ini menandai di mulainya studi sastra yang bukan bersifat diakronis tetapi sinkronis. Karya sastra dalam hal ini merupakan karya otonom yang harus di teliti dari karya itu sendiri. Ide dasarnya adalah menolak teori mimetik (yang menganggap karya sastra sebagai tiruan masyarakat, teori expresif (yang melihat karya sastra sebagai ungkapan watak dan perasaan pengarang), dan pragmatik (yang memandang karya sastra sebagai media komunikasi antara pengarang dan pembaca).

Dengan begitu peneliti karya sastra tidak tergantung pada aspek diluar karya sastra, dan penelitian karya sastra menjadi positivistik karena berdasarkan teksnya bisa dibuktikan bisa di buktikan secara empirik dengan merujuk teks sastra yang di teliti. Teks sastra pun menjadi sebanding dengan tingkah laku sosial yang menjadi rujukan empiris ilmu politik, ekonomi, dan sosiologi.

Dilihat dari sisi bahwa karya sastra sebagai karya otonom, antara teori formalism dengan stukturalisme adalah sama, yaitu sama-sama berpusat pada teks sastra itu sendiri. Sedangkan stukturalisme membongkar dan memeaparkan secara secermat, seteliti, semendetail, dan semendala mungkin keterkaitan dan keterjalina semua anasir dan aspek-aspek karya sastra yang bersama-sam menghasilkan makna menyeluruh. Dalam strukturalisme, yng pening bukanlah penjumlahan anasir-anasir sastra, tetapi sumbangan yang diberikan semua anasir pada keseluruhan makna dalam kterkaitan dan keterjalinannya secara keseluruhan atau koherensinya. Hal ini karena menurut aliran structural, unsure teks hanya memperoleh arti penuh melali relasi, terutama dalam kontek sastra, relasi asosiasi. Karya sastra dilihat kaum stkturalis sebagai fenomena yang memilikistruktur(bangunan) yang saling terkait satu sama lain.

Dengan demikian, kritik sastra stuktural adalh kritik objektif yang menekankan aspek intrinsik karya sastra, dimana yang menentukan estetikanya tidak saja estetika bahasa yang digunakan, tetapi juga relasi antar unsure. Unsure-unsur itu dilihat sebagai artefak : (benda seni) yang terdiri dari berbagai unsure. Pentinya relasi antar unsure sastra dan pandangan bahwa karya sastra harus dipandang sebagai karya yang otonom dalam teri strukturalisme tentu saja bias difahami. Alasannya karena sebagaimana dikatakan Jean Piaget struktur apapun, baik politik, psikologis, maupu sastra, mempunyai 3 sifat : totalitas (wholeness), perubahan bentuk (transformation), dan mengatur dirinya sendiri (self regulation). Kendati, sebuah struktur terdiri dari berbaga unsure, tetapi sebagai totalitas (keseluruhan), semua unsure-unsur itu berkaitan satu sama lain dan unsure-unsr itulah yang membentuk struktur. Sebuah stuktur harus terdiri dari substruktur-substuktur yang terikat oleh struktur yang lebih besar. Namun, konsep  struktur bukan berarti terstruktur, tetapi juga menstruktur. Sebuah struktur pun aka mengaami perubahan yang dinamis (transformasi). Sebagai sebuah stuktu yang terkait, perubahan yang terjadi pada sebuah unsurnya akan mengakibatkan perubahan unsure-unsur lainnya. Denga demikian unsu-unsur juga mengatur dirinya sendiri.

Meskipun teori ini lahirdimasa modern, tetapi dilihat dari pertumbuhannya lebih awal sesungguhnya gagasan srtukturalisme telah dimulai sejak masa yunani. Yaitu ketika Aristoteles menulis Poetika pada tahun 340 SM yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa arab. Menurutnya, untuk menghasilkan efek yang baik , plot harus memiliki wholeness (keseluruhan) dengan cara memenuhi 4 syarat : order (urutan dan aturan), yaitu urutan aksi yang teratur harus menunjukan konsisitensi yang masuk akal; amplitude yaitu luasnya ruang lingkup dan kompleksitas karya harus cukup untuk memungkinkan perkembangan peristiwa yang masuk akal; unity, yaaitu unsure dalam plot harus ada dan tidak bias bertukar tempat; dan koneksion yaitu sastrawan tidak bertiugas untuk menyebutkan hal-hal yang sungguh-sungguh terjadi.[1]

  1. Plus minus strukturalisme dan lahirnya teori strukturalisme revisi.

Kelebihan strukturalisme antara lain adalah menjadikan studi karya sastra mendekati positivism, sebagaimana ilmu social. Selain itu, dalam strukturalisme juga akan terlihat totalitas antar unsur yang membentuk keindahan struktur luar dan dalam sebuah karya sastra. Strukturalisme juga tidak mensyaratkan seorang pengkaji sastra memiliki pengetahuan yang luas mengenai latar belakang sejarah, kebudayaan, psikologi, filsafat, dll. Strukturalisme hanya mensyaratkan kemampuan bahasa kepekaan sastra dan minat yang intensif.

Namun kekurangannya mengabaikan latar belakang sejarah sastrawan, latar belakang karya-karya sastra yang lahir sebelumnya, dan analisis suatu karya sastra menjadi miskin atau kering. Bahkan teori strukturalisme tampaknya juga bias berbahaya dan menyesatkan. Teori strukturalisme tidak sejalan dengan teori sastra interdisipliner atau teori sastra banding yang di definisikan oleh Henry Rymak pada tahun 1961. Ia mendefinisikan sastra banding sebagai studi sastra, kaitannya dengan kepercayaan dan disiplin ilmu lain seperti filsafat, sejarah, ilmu social, agama, dan lain-lain.[2]

Karena itulah dalam sejarah barat lahirlah teori strukturalisme revisi dan teori pasca strukturalalisme lainnya yang di latari oleh kekurangan teori strukturalisme murni. Revisi.

Lucie Goldmann seorang sosiolog mengembangkan teori strukturalisme genetic, yaitu strukturalisme yang mementingkan unsur genetic sebuah karya. Bagi Goldmann sastra di samping memiliki unsure intrinsic juga mempunyai unsure extrinsic. Karya sastra merupakan struktur bermakna yang mewakili pandangan dunia penulis, tidak sebagai individu tetapi sebagai anggota masyarakat. Karenanya strukturalisme genetic merupakan sebuah teori kritik yang menghubungkan antara struktur sastra dengan struktur masyarakat melalui pandangan dunia atau ideology yang di ekspresikannya. Jadi strukturalisme genetic bermaksud menerangkan karya sastra dari sisi homologi dari struktur sosialnya.

Strukturalisme genetic hampir sama dengan kritik sastra sosiologis. Selain strukturalisme genetic, pasca strukturalisme murni juga lahir teori strukturalisme semiotic dan dinamik yang menolak otonomi karya sastra.

Strukturalisme dinamik adalah teori yang mengkaji karya sastra berdasarkan unsure-unsur yang membentuknya, menghubungkannya dengan pengarang. Aliran yang di pelopori oleh Mukarovsky ini memandang karya sastra sebagai proses komunikasi, fakta semiotic, dan nilai-nilai. Aliran yang hingga sekarang masih berkembang ini ingin menggabungkan berbagai teori yang ada. Tetapi strukturalisme dinamik tidak mementingkan analisis keseluruhan unsure-unsur karya sastra sebab struktur global menurut para penggagas teori strukturalisme dinamik tidak terbatas.[3]

Kekurangan yang melekat pada strukturalisme murni yang menekankan otonomi karya sastra mengakibatkan juga munculnya teori-teori postrukturalis. Metode ini menekankan cara memandang karya sastra yang harus di baca dengan latar belakang teks-teks yang lain, dalam arti penciptaannya dan pembacaannya dapat di lakukan adanya tanpa teks lain sebagai pijakan bagi terjadi transformasi teks.

Teori posstrukturalisme lainnya adalah teori dekontruksi (at-tafkikiyah) yang di gagas pertama kali oleh Jacues Derrida tahun 1976. Dalam teorinya ia menolak interpretasi tunggal dan keharusan di bukanya peluang makna lain lewat penolakannya terhadap logosentrisme dan fonosentrisme karya sastra. Logo sentrisme berarti keinginan akan suatu pusat. Jika strukturalisme meniscayakan adanya hubungan pusat dengan substruktur-substrukturnya dalam relasi hirarakis, maka dalam dekontruksi hal ini di tolak. Dalam dekontruksi juga di mungkinkan untuk mengobrak-ngabrik teks. Demi mencoba keluar dari struktur dan menghubungkan teks dengan teks yang lain dan juga konteksnya.[4]

  1. Spintas kilas strukturalisme dalam tradisi kritik sastra Arab

Dalam kritik prosa Arab modern, kritikku seperti Muhammad zaglul salam, Mahmud zihni, dan susan rajab bisa dimasukan sebagai strukturalis. Mereka mengakui keberadaan strukturalisme atau seseorang yang berperan dalam menjelaskan teori kritik ini. Alasannya karena mereka mengakui unsure-unsur prosa sastra yang harus ada yaitu tokoh dengan karakternya (asy-syhahsiyyat), plot atau alur (al-habakah), seeting (al-bi’ah), tema (al-fikrh), gaya bahasa (ushlub). Yang tampak sebagai seorangt struktruralis semiotic arab kontemperer, karena telah menulis teori strukturalis murni dan strukturalis semiotic—adalah Salah Fadal, Abd. Rahman Bu’ali dan Gharib Iskandar.

Dalam khazanah teori kritik sastra arab terdapat tokoh ahli sastra bernama abdul Qahir al-Jurjani (400-471 H) sebagai struturalis semiotic klasik Arab.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


[1] A. Teeuw, sastra dan ilmu sastra, Jakarta: pustaka jaya, 2003 hlm. 100-119

[2] Henry H. Remak, sastra bandingan, takrif dan definisi, kualalumpur: dewan bahasa dan pustaka, 1990, hal 1-14

[3] Zainudin fananie, telaah sastra, solo: muhammadiyyah university press, 2000, H. 116-123

[4] A. Teeuw, sastra dan ilmu sastra, Jakarta: pustaka jaya, 2003 hlm. 100-119

 

About Falah

Keepsmile and .... and... and....
This entry was posted in Filsafat. Bookmark the permalink.

3 Responses to TEORI KRITIK SASTRA STRUKTURALISME (AL-BINAIYYAH) MURNI DAN REVISI

  1. DM Asmed says:

    Ditunggu kritik sastranya…….🙂

  2. ^_^

    iya hanya sejarah saja ya itu?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s