“Dalam Memoar Biru”

ketika kesendirian tak merangkul dalam sunyi abadi, ku tetap menghujani dunia pesan bersama rintik hujan. Harapan ku lempar bersama dadu ke meja penuh sandiwara. Di meja itu, banyak domba-domba bersuka ria di bawah lekukan lereng Zahra. Harapan dan dadu itu berbaur dan melebur bersama rumput yang menari dan dicicipi oleh domba-domba.

Usai ku lempar harapan, terngiang sebuah kata dalam benak bahwa harapan adalah sebuah siasat kemungkinan menuju ko eksistensi sunyi. Dimana ku sering merangkai kehidupan, yang tak pernah  tertunggangi selama-lamanya. Hanya membuat kehidupan dan keluar dari kehidupan, lalu masuk lagi pada suatu kehidupan, sampai pada suatu masa, aku harus mati dengan tenang.

Entah kenyataan apa yang sedang ku alami. Gunung Zahra berwujud dalam indah tubuhmu. Riuh angin seruling, mendengung di untaian maknamu. Kabut biru terjamah oleh alun tutur katamu, itu. Anggur dan kunang-kunang malam tak seindah perbincangan kita di serambi suci tak termaknai. Di tempat itu, awal mula sebuah perbincangan gembala dan tutur kata gerimis selalu rindu untuk benar-benar mambuatku rindu akan merindu.

Kau pernah bilang  hanya suka sosok yang memberi inspirasi. Dan sosok itu ialah Soe Hok Gie. Sebenarnya, ku banyak tahu tentang dirinya kala ko eksistensi sunyi belum merangkulnya di ketenangan abadi. Aku hanya bias diam, karena malu olah mata indah dan tawa birumu.

Sedikit akan ku riwayatkan dalam tulisan berbentuk aforisma ini :

“Saat Gie pandai bermain kata, ia sering menulis banyak kritik dan ide briliannya di Koran dan majalah, sebuah awal pada periode presiden pertama ini ditumbangkan oleh pergerakan mahasiswa. Membaca catatan kehidupan Soe Hok Gie, tak demikian terasa menyegarkan intelektualitas. Di beberapa buku yang saya jumpai, Soe Hok Gie amat totalitas dan peduli terhadap rakyat tertindas. Ia bukan hanya mengkritik, tapi pantang mundur melawan kepalsuan dan ketidakadilan. Tak hanya menolak  dengan serangan kata, juga memberontak dengan melawan kaki tangan penguasa lapangan.

Nama Soe Hok Gie akan kembali memiliki tempat di hati yang memiliki kebenaran dan moralitas. Gie tak pelak lagi adalah icon bagi mereka yang berani melakukan perubahan demi keadilan, demontrasi, dan kemanusiaan. Kaka Soe Hok Gie, Arief Budiman, menyatakan dalam buku “Catatan Harian Demonstran”. Ia menulis, “Ketidakadilan bisa mengelola, tapi bagi seorang yang secara jujur dan berani berusaha melawan semua ini, dia akan mendapat dukungan tanpa suara dari banyak orang. Mereka takut membuka mulutnya, karena kekuasaan membungkamnya. Namun, kekuasaan tidak bisa menghilangkan dukungan itu sendiri, karena betapa kuatpun kekuasaan, seseorang tetap memiliki kemerdekaan untuk berkata “Ya” atau “Tidak” , meskipun di dalam hatinya.”

Sayangnya, Gie terlalu singkat melintas di dunia tak abadi ini. Jurnal kehidupan Gie yang singkat adalah peristiwa yang penuh dinamika. Ada kemarahan yang meneteskan air matanya, ada kesepian dalam kesendiriannya, ada wujud perjuangan dalam kehidupan yang pesimis. Ia adalah potret manusia yang hidup dengan segenap penolakan terhadap kekuasaan. Gie menolak, menolak, dan terus menolak kekuasaan. Namun, begitu malang ketika cinta dan kebencian diri membuatnya tertolak. Ia seorang humanis, hingga kepedihannya terasing dalam kesendirian hingga puncak Mahameru merangkulnya dalam kesepian abadi. Sepatah kata darinya sejak ia lahir untuk rakyat tertindas ialah, “Aku besertamu, wahai orang-orang malang!” Gie sepintas.”

________

Tidaklah kau berikan aku api yang berjalan saat ini, dan tak pula ku bisa mengetahui jalannya. Hanya pada nista, ku bias melihatmu di pinggriran angin. Secerca hal yang ku tangkap ini, bukan apa-apa di rinai matamu, tapi ku hanya ingin membuatmu tersenyum. Semoga, memoar biru tak sepintas menjelma di alam ini.

Ku harap, waktu kemarin-kemarin menunggu kita di esok hari. Masih banyak hal yang ingin ku ceritakan prihal Soe Hok Gie padamu, Siti Maryam. Kau teman berbincang paling menyenangkan. “Ya” walaupun kau bersama tawa dan kegilaan bilang aku seorang autis. Tapi biarlah, biarlah suasana tawa selalu tersisip dalam kata-kata kita. Ini bukanlah apa-apa, hanya rasa rindu temanmu ini yang berkehendak untuk membuat tulisan sirna.

“Dunia ini kekal abadi karena kita hidup bukan untuk seorang diri. Dan kita adalah satu, semesta adalah Rahim ilahi (Kho dan Al-adawiyyah)”.

Friedrich Falah_14/03/2012

About Falah

Keepsmile and .... and... and....
This entry was posted in Sastra. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s