Analisis Puisi “Gelitik Hujan” Siti Mariam

Analisis puisi “Gelitik Hujan[1]

Oleh Falah Absurditas[2]

 

*Maaf apabila tulisannya kacau dan hanya analisis hermeneutika saja. Penulis membuat dengan keadaan subjektivitas amoral.

Perkembangan puisi di UIN Sunan Gunung Djati Bandung, ada beberapa pemikiran-pemikiran hasil kontemplasi, motif dan kreatifitas pun menggambarkan khazanah perpuisian di Kampus UIN. “kekuatan sebuah Puisi yang genuine terletak pada bangunan citra, baik citra yang leterlek maupun citra simboliknya, dan metafor”.

Banyak orang yang memandang bahawa, nilai guna puisi untuk memberikan pengajaran atau menyajikan tanggapan terhadap kenyataan, khususnya lingkungan sekitarnya. Orang yang beranggapan demikian, menjadikan suatu kata sebagai sarana atau medium pengungkapan dan pengekspresian realitas yang ada dalam masyarakat, dan menjadikan kata-kata untuk menyampaian pengajaran[3].

Berangkat dari uraian di atas, penulis akan menguraikan salah satu puisi yang bercorak sainstis dan resentimen “Gelitik Hujan” karya Siti Mariam. Analisis sajak ini nantinya berdasarkan konsep pembacaan hermeneutik. Diharapkan dengan adanya penafsiran dalam satu sajak ini diperoleh suatu kesimpulan atau benang merah pada Puisi “Gelitik Hujan” karya Siti Mariam ini.

Analisis Hermeneutika[4]

Interpretasi secara hermeneutika berarti cara melakukan pemaknaan dan pemahaman dengan  mengaitkan teks dalam sajak dengan wacana yang ada diluar teks yang berkaitan. Dengan cara ini diharapkan didapatkan makna atau arti sajak dengan menghubungkan rujukan atau reverensi yang relevan dengan wacana di luar sajak.

Sebagai salah satu wujud kreativitas bahasa, metafora banyak dijumpai dalam lingkungan sastra. Dalam ilmu retorika, metafora adalah semacam analogi yang memperbandingkan dua hal secara langsung. Metafora ini menyatakan sesuatu sebagai hal yang sama atau seharga dengan yang lain, yang sesungguhnya tidak sama. Dalam karya sastra, metafora biasanya bermakna figuratif yaitu sebuah bentuk kebahasaan yang maknanya sengaja disimpangkan kepada referen yang lain untuk berbagai tujuan, seperti tujuan estetis (keindahan), etis (Moral) dan insultif (penghinaan)[5].

Gelitik Hujan

Kala itu senja pernah menyapa

Dengan keanggunan yang mempesona

Benarkah pesona itu anggun?

 

Anehnya senja itu datang saat Hujan

Aku memarahi hujan,

 “pergi sana.

Jangan menghiburku atau membuat kekonyolan yang menggelitik”.

 

Lalu sepertinya hujan marah,

Dia menyerbu hingga senja itu tak terlihat

 

Ku bilang,

“Pergi sana hujan! Senja!

Konsep Hujan Perspektif Sains :

Hujan adalah peristiwa turunnya air dari langit ke bumi. Awalnya air hujan berasal dari air dari bumi seperti air laut, air sungai, air danau, air waduk, air rumpon, air sawah, air comberan, air susu, air jamban, air kolam, air ludah, dan lain sebagainya. Selain air yang berbentuk fisik, air yang menguap ke udara juga bisa berasal dari tubuh manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan, serta benda-benda lain yang mengandung air,Hujan merupakan satu bentuk presipitasi yang berwujud cairan. Presipitasi sendiri dapat berwujud padat (misalnya salju dan hujan es) atau aerosol (seperti embun dan kabut). Hujan terbentuk apabila titik air yang terpisah jatuh ke bumi dari awan. Tidak semua air hujan sampai ke permukaan bumi karena sebagian menguap ketika jatuh melalui udara kering. Hujan jenis ini disebut sebagai virga. Hujan memainkan peranan penting dalam siklus hidrologi. Lembaban dari laut menguap, berubah menjadi awan, terkumpul menjadi awan mendung, lalu turun kembali ke bumi, dan akhirnya kembali ke laut melalui sungai dan anak sungai untuk mengulangi daur ulang itu semula.

Air-air tersebut umumnya mengalami proses penguapan atau evaporasi akibat adanya bantuan panas matahari. Air yang menguap / menjadi uap melayang ke udara dan akhirnya terus bergerak menuju langit yang tinggi bersama uap-uap air yang lain. Di langit yang tinggi uap tersebut mengalami proses pemadatan atau kondensasi sehingga membentuk awan. Dengan bantuan angin awan-awan tersebut dapat bergerak kesana-kemari baik vertikal, horizontal dan diagonal, Akibat angin atau udara yang bergerak pula awan-awah saling bertemu dan membesar menuju langit / atmosfir bumi yang suhunya rendah atau dingin dan akhirnya membentuk butiran es dan air. Karena berat dan tidak mampu ditopang angin akhirnya butiran-butiran air atau es tersebut jatuh ke permukaan bumi (proses presipitasi). Karena semakin rendah suhu udara semakin tinggi maka es atau salju yang terbentuk mencair menjadi air, namun jika suhunya sangat rendah maka akan turun tetap sebagai salju.

Tahap-tahap pembentukan kumulonimbus, sejenis awan hujan, adalah sebagai berikut: 

TAHAP – 1

Pergerakan awan oleh angin: Awan-awan dibawa, dengan kata lain, ditiup oleh angin.

TAHAP – 2

Pembentukan awan yang lebih besar: Kemudian awan-awan kecil (awan kumulus) yang digerakkan angin, saling bergabung dan membentuk awan yang lebih besar.

TAHAP – 3

Pembentukan awan yang bertumpang tindih: Ketika awan-awan kecil saling bertemu dan bergabung membentuk awan yang lebih besar, gerakan udara vertikal ke atas terjadi di dalamnya meningkat. Gerakan udara vertikal ini lebih kuat di bagian tengah dibandingkan di bagian tepinya. Gerakan udara ini menyebabkan gumpalan awan tumbuh membesar secara vertikal, sehingga menyebabkan awan saling bertindih-tindih. Membesarnya awan secara vertikal ini menyebabkan gumpalan besar awan tersebut mencapai wilayah-wilayah atmosfir yang bersuhu lebih dingin, di mana butiran-butiran air dan es mulai terbentuk dan tumbuh semakin membesar. Ketika butiran air dan es ini telah menjadi berat sehingga tak lagi mampu ditopang oleh hembusan angin vertikal, mereka mulai lepas dari awan dan jatuh ke bawah sebagai hujan air, hujan es, dsb. Kita harus ingat bahwa para ahli meteorologi hanya baru-baru ini saja mengetahui proses pembentukan awan hujan ini secara rinci, beserta bentuk dan fungsinya, dengan menggunakan peralatan mutakhir seperti pesawat terbang, satelit, komputer, dsb. Sungguh jelas bahwa Allah telah memberitahu kita suatu informasi yang tak mungkin dapat diketahui 1400 tahun yang lalu.

 

Metafora dan Simbol dalam Sajak “Gelitik Hujan

Judul puisi “Gelitik Hujan” mengimajinasikan kita bahwa penulis bertemu dengan seseorang yang awal mulanya baik. Simbol “Hujan” secara harfiah berarti hukum alam yang tak bisa dielakan, dan senantiasa akan dirasakan umat manusia di sebagian belahan bumi ini. “Senja” yang bagi kita merupakan suatu keadaan dimana malam akan menjelang digambarkan sebagai sesuatu atau seseorang teman bincang Siti Maryam.

Disini Maryam menghubungkan Seseorang atau keadaan dengan Senja dan Hujan. Mari kita lihat kutipan bait pertama berikut ini :

(1)

Kala itu senja pernah menyapa

Dengan keanggunan yang mempesona

Benarkah pesona itu anggun?

Dalam bait di atas, penulis dapat tangkap bahwa, terjadi kejadian di waktu senja. Pengarang merasakan bahwa “itu” sangat anggun dan mempesona. Akan tetapi, pengarang merasa ragu akan hal itu, entah kenapa. Dari pembacaan penulis, pengarang mengalami konflik batin. Keadaan atau realitas yang pengarang lihat, tidak sesuai dengan hal biasanya, oleh sebab itu pengarang merasa ragu. Melihat kejadian itu, penulis teringat sabda Zarathustra sebagai berikut :

“Tenang adalah dasar samuderaku: siapa yang bisa menerka bahwa ini menyembunyikan monster- monster lucu! Tidak bergerak adalah kedalamanku: tetapi berkilauan dengan berbagai macam misteri dan tawa yang berenang kesana kemari.” 

 

(2)

Anehnya senja itu datang saat Hujan

Aku memarahi hujan,

“pergi sana.

Jangan menghiburku atau membuat kekonyolan yang menggelitik”.

Pengarang merasa heran dengan kedatangan senja. Lalu bersamaan dengan itu, pengarang memarahi hujan. Dalam artian pengarang hanya ingin keadaan tidak hujan, atau tidak kedatangan seseorang, karena ingin menyambut senja itu. Pengarang tidak suka atau tidak mau diganggu oleh hujan, yang selalu membuat kekonyolan yang menggelitik. Berkali-kali penulis mengutip sabda Zarathustra :

 

“Bagaimana ini bisa terjadi? Maka aku bertanya pada diriku. Apa yang membujuk segala mahluk hidup  untuk patuh dan memberi perintah, bahkan untuk patuh  ketika memberi perintah?”

(3)

Lalu sepertinya hujan marah,

Dia menyerbu hingga senja itu tak terlihat

 

Ku bilang,

“Pergi sana hujan! Senja!

Pengarang menyangka bahwa Hujan itu marah karena diperintahkan untuk pergi. Namun, hujan bersi keras ingin menemuinya. Dan pengarang sendiri menekankan untuk kedua kalinya untuk menyuruh hujan itu pergi, tapi pengarang penyuruh senja dan hujan untuk pergi. Ini menunjukan bahwa, pengarang hanya ingin ketenangan. Tak ada yang mengganggunya. Kutipan dari sabda Zarathustra :

“Terselubung oleh tanda-tanda masa lampau dan tanda-tanda ini terpulaskan oleh tanda-tanda baru: maka kau menyembunyikan diri kau dengan baik dari  segala penafsir tanda-tanda!”

Dan sedikit dialektik terhadap puisi Siti Maryam, penulis mengutip sebuah puisi dari buku yang berjudul, “Anthologie deutscher Lyrik des 20. Jahrhunderts in indonesischer Übersetzung” yang diedit oleh Herausgegeben und übersetzt von.

Gottfried Benn (1886 – 1956)

HANYA DUA HAL
Telah begitu banyak melewati bentuk wujud,
lewat Aku, Kau dan Kita,
tetapi toh segala itu tinggal terderitakan
melalui pertanyaan abadi: untuk apa?
Itu pertanyaan kanak-kanak.
Baru lambat engkau sadar
bahwa hanya ada satu: menerima
– biar arti, biar napsu, biar cerita –
Takdirmu dari jauh: Kau harus.
Biar salju, biar lautan, biar mawar,
semua yang telah berkembang memudar,
hanya ada dua hal: kehampaan
dan sang Aku yang ditandai derita.

Rujukan :

Istiyono, Wahyu OS, Y. 2006. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Batam Centre: Karisma

         Publishing Group.

Jabrohim. 2003. Metodologi Penelitian Sastra. Yogyakarta: Hanindita Graha Widya.

Kurniawan, Heru.2009.Mistisisme Cahaya.Yogyakarta: Grafindo Litera Media

Poerwadarminto, W.J.S.2005.Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka

Pradopo, Rachmat Djoko.1987.Pengkajian Puisi.Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Wachid B.S., Abdul.2009.Analisis Struktural Semiotik Puisi Surealistis Religius D. Zawawi

          Imron.Yogyakarta: Cinta Buku.

Anonim.2000. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Abidin, Zainal. 2002. Kamus Melayu. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.

Budianta, Melani. 1993. Teori Kesusastraan.(Wellek, Rene dan Austin Werren). Jakarta: Gramedia.

_____, Jawa Baru, (1 Januari 2603/1943) Jakarta.

Eneste, Pamasuk. 1982. Leksikon Kesustraan Indonesia Modren. Jakarta: Gramedia.

____, 1986.Tema Cerita Pendek Indonesia Tahun 1950 – 1960. Jakarta: PPPB. Greibstein, Sheldom Norman (peyt). 1968. Pecspectives in Contemporary Criticiasm (A Collection of Precent Essays by American, English and Evredean Literar).

Hudson, William Henry. 1963. An Introduction to The Study of Literary. London: George G. Harrap 7 Co.Ltd. Kebudayaan Timur, (no. 7, 1944). Jakarta.

Rosidi, Ajib. 1969. Ikhtisar Sejarah Sastra Indonesia. Bandung: Bina Cipta.

Pradopo, Rahmat Djoko. Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik, dan Penerapannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005.

Pradopo,Rachmat Djoko. Pengkajian Puisi. Yogyakarta : Gajah Mada University Press, 2009.

Sayuti.Suminto A. Perkenalan dengan Puisi. Yogyakarta:Gama Media, 2002.

Wachid BS, Abdul. Analisis Struktural Semiotik. Yogyakarta : Cinta Buku, 2009.

Al-Ma’ruf, Ali Imron. 2009. Stilistika: Teori, Metode, dan Aplikasi Pengkajian Estetika Bahasa. Surakarta: Cakra Books Solo

Nurgiyantoro, Burhan. 2007. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Pradopo, Rachmad Djoko. 2008. Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik, dan Penerapannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Sastrowardoyo, Subagio. 1982. Daerah Perbatasan. Jakarta: Balai Pustaka

Poespoprodjo,Hermeneutika, Penerbit Pustaka Setia, Bandung, 2004.8.

Palmer, E. Richard. Hermeneutika, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2005.9.

Ritzer, George & Douglas J. Goodman, Teori Sosiologi, Kreasi Wacana,Yogyakarta,2008,1.

Ricouer,Pau,Hermeneutika Ilmu Sosial, Kreasi Wacana, Yogyakarta, 2008.11. Rahardja,Mudjia, Dasar-Dasar Hermeneutika Antara Intensionalisme danGadamerian , Arr-Ruzz MediaGroup,Yogyakarta, 2008.12.

Sumaryono,Hermeneutika: Sebuah Metode Filsafat , Penerbit Kanisius,Yogyakarta, 1999..13. West,

Richard & Lynn H. Turner, Teori Komunikasi, Analisis Dan Aplikasi, Salemba Humanika, Jakarta, 2009


[1].              Tulisan ini dibuat hanya untuk mengisi kekosongan saja. Puisi ini karya teman share, Siti Mariam. Mahasiswi dan Wanita karir dari jurusan Bahasa dan Sastra Arab Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Bentuk atau struktur tulisan masih tahap belajar dan mencontoh makalah yang ada.

[2].              Seorang yang dituduh jurusan Tafsir Hadits Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Aktif di UKM Lembaga Pengkajian Ilmu Keislaman UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

[3].              Dikutip dari Makalah yang dibacakan pada Acara: “Aruh Sastra Kalsel”, Desember 2009, di Batola Marabahan, Kalimantan. Dan tanggapannya dipublish di blog teman saya. Sejak tiga dasawarsa terakhir telah banyak muncul karya penulis Muslim yang bukan saja signifikan serta mendapat penerimaan luas di kalangan pembaca tua dan muda, tetapi tidak sedikit dari karya-karya tersebut benar-benar didasarkan wawasan estetika dan pandangan dunia (worldview) yang berkembang dalam tradisi panjang intelektual Islam. Khususnya karya-karya bercorak sufistik dan sosial-keagamaan sebagai nampak dalam karya-karya yang ditulis oleh Emha Ainun Najib yang akrab dipanggil Cak Nun.

[4].              Sudah terlalu sering penulis menuliskan pengertian yang digunakan untuk menganalisis segala sesuatu lewat Hermeneutika. Namun tak apa, penulis akan urai kembali prihal hermeneutika secara singkat. Secara etimologis Hermeneutika berasal dari hermeneuein yang berarti menafsirkan atau interpretasi. Hermeneutika adalah teori tentang bekerjanya pemahaman dalam menafsirkan teks. Pemaknaan atau pemahaman teks dalam konsep ini lebih kompleks karena mengaitkan teks dengan dunia luar teks. Teks baru akan mendapatkan arti jika sudah dikaitkan dengan rujukan dan konvensi sastra yang bersangkutan. Dalam pembacaan hermeneutik ini sajak dibaca berdasarkan konvensi-konvensi sastra menurut sistem semiotik tingkat kedua. Dapat dikatakan pula sebagai intepretasi atau pemahaman lewat penafsiran atau pentakwilan suatu karya sastra, baik dari dalam teks (Sense) itu sendiri maupun dari luar teks (Reference). Sehingga, sajak dapat dimaknai dengan melihat arti bahasa dan suasana, perasaan, intensitas arti, konotasi, dan daya liris.

Arti sastra itu merupakan arti dari arti (meaning of meaning), Untuk membedakannya (dari arti bahasa), arti sastra itu disebut makna (significance) (Pradopo: 1987: 122). Makna merupakan konotasi yang dihasilkan dari pemakaian bahasa yang tidak pada umumnya. karena puisi itu adalah ekspresi tidak langsung, menya­takan suatu hal dengan arti yang lain. ketaklangsungan ekspresi itu terjadi, karena adanya penggantian, penyimpangan, dan penciptaan arti oleh penulisnya sendiri. Dalam menganalisis Puisi ini, penulis menggunakan pemikiran Friedrich Schleiermacher. Ia mengatakan bahwa, ada dua tugas hermeneutik yang hakikatnya identik antara satu dengan yang lain. Yaitu : interpretasi gramatikal dan Interpretasi Psikologis. E. Sumaryono. Hermeneutika : Sebuah Metode Filsafat (Yogyakarta : 2003). Hal 38.

[5].              Selanjutnya fungsi metafora biasanya untuk menamai suatu benda yang sebelumnya tidak ada namanya, untuk memperjelas informasi, untuk memperoleh efek seni dan menghindari kemonotonan berbahasa. Metafora dalam suatu sajak sebagai sarana puitik metafora bisa mempengaruhi kedalaman makna suatu sajak. Imajinasi yang ditimbulkan metafora ini membuat makna harfiah berkonotasi luas dan menjadi lebih hidup. Dari beberapa pendapat yang membicarakan teori simbol, maka di sini penuis mengambil kesimpulan bahwa simbol merupakan tanda yang di situ pengertiannya tergantung dari konvensi masyarakat atau artinya tergantung dari persetujuan masyarakat tertentu. Simbol (tanda yang sesuai) adalah hubungan antara penanda dengan petanda yang tidak bersifat alamiah melainkan merupakan kesepakatan masyarakat semata-mata. Pradopo mencontohkan, misalnya kata ibu berarti “orang yang melahirkan kita” itu terjadinya atas konvensi atau perjanjian masyarakat bahasa Indonesia, sedang masyarakat bahasa inggris menyebutya mother, prancis: Ia mere. Thomas James. Hermeneutic And Poerty (London : 2007). Hal 57

About Falah

Keepsmile and .... and... and....
This entry was posted in Sastra. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s