Bisik Dalam Pelukan

“„Hidup adalah penderitaan belaka‟ – maka yang lainnya dari mereka berkata, dan mereka tidak berdusta: maka buktikan bahwa kau berhenti hidup!

               Maka buktikanlah bahwa hidup yang penuh penderitaan belaka ini berhenti!

               Dan biarkan ajaran kebajikan kau itu menjadi: „Kau musti membunuh diri kau sendiri! Maka kau musti menipu diri sendiri”

__Friedrich Nietzsche

Terkadang aku merasakan derita yang tak pernah disadari oleh diri. Dunia ini menjadikanku sebagai manusia yang musti sendiri dan membenci. Ku lakukan ini semua demi ketenangan dan akhir sebuah penderitaan hidup. Nama “SESUATU” terus aku lantunkan, dikala derita, Waktu sunyi, dan di gerbang kematian yang terkadang menorehku dalam pelukan abadi kekasihku. 

Aku selalu menantimu, di batas mega-mega. Terbaring ku di sini, selalu memanggil namamu yang tlah pergi dalam dekapan Bumi yang terhampar. Ku rindu waktu dulu, dimana kau mengajarkan “Wujudu Al-adamiyyah” padaku. Bersama tangis darah, kau selalu menasehatiku untuk menghadap “SESUATU” itu yang menjadi praduga hidupku. Entahlah, kenapa sekarang aku ingat kau kembali. Padahal, kau memintaku untuk melupakanmu bila mati.

Ku di sini amat merindukanmu, bersama angan dan tangisan. Hati ini tak bisa menyangsikan bahwa aku benar-benar rindu kepadamu. Walaupun rentang Ruangwaktu amat jauh, namun itu semua tidak bisa menghapus indah senyumu yang ku gambar di bawah relung pelangi. Wajahmu ku ukir dengan pena bulan yang berisikan kenangan dimana waktu dulu, kau peluk aku dibawah cemara. Lalu kau berbisik, “Langitku tak akan pernah sayu bersamamu walau malam tlah diujung waktu. Dengarlah kasihku, bencilah hidupmu, dirimu, dan cintai kembali bila kau telah terpuruk di titik nadir kejenuhan. Semua yang ku ajarkan padamu, semata untuk membuatmu tersenyum dan terang dalam tiada”.

Kala itu jua, ku pegang tanganmu, sambil ku balas ujarmu, “Aku akan berjalan untuk berpetualang. Namun, apabila ku tak kembali, ingatkan aku, disini. Banyak pembicaraan yang harus ku capai. Aku tidak akan menutup mata. Aku akan tetap berdiri untuk sebuah misteri eksistensi“.Spontan Kau berkata,

“I teach you the overman. Man is something that shall be overcome. What have you done to overcome him?… All beings so far have created something beyond themselves; and do you want to be the ebb of this great flood, and even go back to the beasts rather than overcome man? What is ape to man? A laughing stock or painful embarrassment. And man shall be that to overman: a laughingstock or painful embarrassment. You have made your way from worm to man, and much in you is still worm. Once you were apes, and even now, too, man is more ape than any ape… The overman is the meaning of the earth. Let your will say: the overman shall be the meaning of the earth… Man is a rope, tied between beast and overman—a rope over an abyss … what is great in man is that he is a bridge and not an end. itulah Ujar Nietzsche dalam karnyanya Also Sprach Zarathustra”.

Kau ajari aku sebuah pengendalian diri, pengatasan diri, dan bagaimana cara memandang sesuatu. Sungguh aku bisa tersenyum untukmu sekarang. Namun, bersamaan dengan itu, kau telah berhasil terlepas dari penderitaan yang sekarang melandaku. Selama membaca, memahami, dan lain sebagainya, aku tak bisa mengenali diriku sendiri. Aku ingin pulang kembali dan dipeluk bumi yang terhampar seusai aku memberi sebuah senyuman kepada orang tuaku sendiri. Aku haus belayanmu, kau dekap aku dan mengecup keningku dan berbisik, “Aku akan meninggalkanmu selamanya. Aku akan merindukan waktu ini, di dunia berbeda. Dan kau harus tetap hidup untuk diriku. dan berilah bunga di peristirahatan abadiku nanti”.

Kenapa aku harus sendiri sekarang? bermimpi tiada arti bila kau tak mengajariku kembali prihal ketidaktahuanku di batas daun. Titik angin tak bisa lain merendam rinduku. Semoga saja, haus belaimu takkan pernah tiada. Raga adalam samudra, dan beribu belaianmu bermuara di samudra ini. Aku merasakan perasaan yang teramat dalam, terpuruk dalam jurang rindu, dan berlari untuk mengenali diri. Semua itu sungguh tak bisa, tak bisa ku ulang kembali.

Darimana aku berasal? Untuk apa aku di sini? Kemanakan aku harus pergi, bila semuanya dalam cengkraman, Seperti halnya Bumi yang menenangkan langkah manusia di muka bumi? Memang ragamu telah tiada dalam bait-bait kenangan. Namun, nama dan pemberiamu selalu hadir dienakku sampai hampir saja aku meninggalkan keyakinanku. Tapi itu tak apa, karena semua itu warisanmu, yang takkan pernah aku lupakan. Setiap aku pejamkan mata, ku berharap kau datang menemuiku.

Kematianmu adalah belayan sekaligus pukulan keras terhadap hidupku seusai kau menulis dalam sebuah secewir tulisan, “Biarlah bumi memanggilku untuk sesaat, tapi bumi tak bisa memanggil kenangan kita. Ingatlah, jangan pernah kau menangis dan percaya pada orang lain, termasuk diri sendiri. Biarlah sekarang berbagai pengetahuanmu menjauhkanmu dari pengenalan diri. Namun, kau harus tetap percaya bahwa, kematian bukanlah akhir dari penderitaan. Kematian ialah kekasihku dikemudian hari, sebelum kau datang menjemputku”.

About Falah

Keepsmile and .... and... and....
This entry was posted in Sastra. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s