Cinta dan Ruangwaktu tiada

“Shrouded in thick melancholy, and eager for the little casualties that bring death: thus do they wait, and clench their teeth[1]”.

Terselimuti kesedihan tebal, rindu akan bencana kecil yang membawa kematian. Oleh sebab itulah mereka selalu menggeram. Aku selalu takut akan adanya mati. Rasa takut akan kehilangan selalu melanda setiap ayun langkahku. Ku teringat apa yang dikatan Nietzsche,

Yonder is the grave-island, the silent isle; yonder also are the graves of my youth. Thither will I carry an evergreen wreath of life[2].

Jauh di sana terhampar pulau suram, pulau bisu : Nun jauh disana, terhampar pula hamparan abadi keremajaankku. Aku akan pergi ke sana, membawa serangkaian dedaunan hijau kehidupan. Aku terjebak pada keadaan esok hari, dimana apa yang tak berubah, apa yang berubah menjadi warna dalam satu kehidupan. Masa laluku semuanya pudar. Oleh karena itu, ruangwaktu senantiasa berusaha untuk menghapus jejak langkah impian ini.

Di kemudian hari rasa yang sama, mimpi yang berbeda, dan aku yang bermain-main dengan kesia-sian mewarnai. Sempat melintas dalam benak, “Dimana ada kehidupan, disanalah ada harapan”. Tak ku pungkiri, harapan demi harapan silih berganti bagai barisan air di sungai yang mengalir dari ketinggian mimpi sampai perwujudan sunyi. Nietzsche bersabda,

“Resolving thus in my heart, did I sail o’er the sea.– Oh, ye sights and scenes of my youth! Oh, all ye gleams of love, ye divine fleeting gleams! How could ye perish so soon for me! I think of you to- day as my dead ones[3]”.

Persemayaman di hatiku, lalu mengarungi samudra. Oh, Engkau pemandang dan tujuan masa mudaku! Oh, semua ratapan cinta yang seakan agung! Mengapa kau tiada terlalu dini? Hari ini ku mengenangmu sebagai yang tiada. Ruangwaktu akan senantiasa meruncing dan menjahit langit sayu di batasan malam. Sekarang bintang menjelang, malam menerangi kenangan dan harapanku yang takkan pernah abadi.

Sebuah sabda Nietzsche manutup semua ini,

“Still am I the richest and most to be envied–I, the lonesomest one! For I HAVE POSSESSED you, and ye possess me still. Tell me: to whom hath there ever fallen such rosy apples from the tree as have fallen unto me?[4]

Masihkah ku manusia terkaya, dan teramat musti didengki? Aku, sang Mahapenyendiri! Sebab kau pernah menjadi milikku, dan mesih memilikiku. Bisikanlah padaku, pada siapa sajakah apel-apel merah kau jatuhkan sebagaimana dijatuhkan padaku?


[1]. Friedrich Wilhelm Nietzsche. Also Sprach Zarathustra : The Preachers of Death  : Part 1 : Aforisma 10. Teks asli,

Eingehüllt in dicke Schwermuth und begierig auf die kleinen Zufälle, welche den Tod bringen: so warten sie und beissen die Zähne auf einander”.

[2]. Ibid :  The Grave-Song : Part 2 : Aforisma 1. Teks asli,

“Dort ist die Gräberinsel, die schweigsame; dort sind auch die Gräber meiner Jugend. Dahin will ich einen immergrünen Kranz des Lebens tragen.”

[3]. Ibid :  The Grave-Song : Part 2 : Aforisma 2-3. Teks asli,

Also im Herzen beschliessend fuhr ich über das Meer. – Oh ihr, meiner Jugend Gesichte und Erscheinungen! Oh, ihr Blicke der Liebe alle, ihr göttlichen Augenblicke! Wie starbt ihr mir so schnell! Ich gedenke eurer heute wie meiner Todten”.

[4]. Ibid :  The Grave-Song : Part 2 : Aforisma 5. Teks asli,

“Immer noch bin ich der Reichste und Bestzubeneidende – ich der Einsamste! Denn ich hatte euch doch, und ihr habt mich noch: sagt, wem fielen, wie mir, solche Rosenäpfel vom Baume?”

About Falah

Keepsmile and .... and... and....
This entry was posted in Sastra. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s