Analisis “Tentang Fatia” Karya Hamdi Sign

Analisis “Tentang Fatia” Karya Hamdi Sign[1]

Oleh Falah Absurditas[2]

“My brother, when thou hast a virtue, and it is thine own virtue, thou hast it in common with no one. To be sure, thou wouldst call it by name and caress it; thou wouldst pull its ears and amuse thyself with it[3]”.

Perkembangan karya di UIN Sunan Gunung Djati Bandung saat ini mulai cukup dinamis. Hal tersebut terlihat dari semakin banyaknya karya sastra yang lahir dari para mahasiswa yang kreatif. Karya sastra ialah suatu objek yang menarik untuk dikaji. Banyak sekali hal yang bisa diungkapkan dari karya sastra tersebut. Walaupun terkadang banyak hal yang sengaja disembunyikan sang kreator di dalam karya terhadap pembacanya, sehingga perlu pengkajian yang mendalam untuk menemukan arti makna, walau kita hanya merabanya. Penulis karya tersebutlah yang benar-benar mengetahui, apa yang diungkapkan dalam karyanya itu[4].

Aminudin menyatakan bahwa, “Kajian sastra adalah sebuah kegiatan mempelajari unsur-unsur dan hubungan antar unsur dalam sebuah karya sastra yang bertolak dari pendekatan kerja tertentu”. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa kegiatan mengkaji karya sastra ialah sebuah kegiatan yang akan melibatkan teori dan cara kerja tertentu disertai dengan menggunakan sebuah pendekatan tertentu juga[5].

Dalam tulisan ini, saya mencoba menganalisis karya sastra karya Hamdi Sign yang berjudul “Tentang Fatia” yang akan dianlisias secara struktural semiotik. Menganalisis puisi ini bertujuan untuk memahami maknanya. Ini merupakan sebuah usaha menangkap dan memberi makna kepada teks puisi. Karya sastra merupakan struktur yang bermakna dan system tanda yang memiliki makna, yang menggunakan medium bahasa. Di sinilah merupakan ssistem semiotic yang mempunyai arti medium[6].

Teori yang digunakan dalam analisis tulisan ini menggunakan teori menurut Riffaterre[8]. Langkah-langkah dalam memahami sebuah teks dalam hal ini refleksi[7] menurut Michael Riffaterre ada 4, yaitu:

  1. Pembaca harus menemukan kata kunci atau matriks yang terdapat dalam sebuah sajak atau teks.
  2. Pembaca juga harus melakukan pembacaan secara heuristik, yaitu sesuai dengan kompetensi bahasa dan struktur kebahasaannya.
  3. Seorang pembaca dituntut untuk melakukan pembacaan hermeneutik yaitu pembacaan pada tingkat makna.
  4. Seorang pembaca harus menemukan hubungan intertekstualitas antara karya sastra tersebut. Seorang pembaca harus mencari sumber teks atau yang lazim disebut hipogram dan harus mencari model dan varian.

Pilihan Kata

Kata-kata di dalam puisi adalah kata-kata yang indah dan memiliki makna hasrat di balik makna kata yang dipakai. Kata-kata dalam tulisan memiliki peran sangat esensial karena ia tidak saja harus mampu menyampaikan gagasan, pesan, dan kejadian bahagia. Akan tetapi juga dituntut untuk mampu menggambarkan imaji sang penyair dan memberikan impresi ke dalam diri pembacanya, karena itu kata-kata dalam puisi lebih mengutamakan intuisi, imajinasi, dan sintesis. Pilihan kata yang tedadap dalam tulisan “Tentang Fatia” karya Hamdi Sign :

Tentang Fatia

Sosoknya memang unik, malam telah berjasa mempertemukanku dengan wanita itu. Masih teringat ketika kedua mataku membalas tatapannya. Senyumnya mampu menghentikan udara malam yang dingin. Rasa penasaran terus hinggap di hatiku. Aku masih memilih kata-kata yang tepat untuk diberikan kepadanya. Manis, periang, polos dan ramah. Nama wanita itu Fatia tanpa menggunakan huruf ‘h’ biasa dipanggil Tia.

Hujan sedang bermalas-malasan lain halnya dengan malam yang setia menggantikan tugas pagi. Aku berjalan menaiki tangga lalu bertemu dengan Alin, wanita bertubuh mungil dan berkacamata itu berdiri menahan langkahku. “Aa coba tebak ada siapa yang datang?” katanya.

Aku mengira Alin mengundang malaikat untuk bertamu sejenak sambil menikmati secangkir kopi. Namun, tiba-tiba dalam genangan malam ada suara yang memanggilku. Sepertinya aku mengenal suara itu, suara wanita periang pembawa aliran cinta. Dia Fatia

“A Hamdan kangen nggak sama Tia?”

Fatia duduk di kursi, aku masuk ke dalam ruangan mencari sudut yang kosong. Kegelisahan berubah menjadi ketenangan. Kegembiraan merasuk ke jasadku seperti roh. Fatia terus memanggil-manggil namaku dari luar jendela. Aku bangkit menghampirinya sejenak lalu masuk ke ruangan lain. Fatia kembali duduk lalu mengajak bintang untuk bermain-main.

Dalam keadaan sadar aku memanggil Fatia dari dalam ruangan. Fatia masuk dan menyuguhiku senyuman keabadian. Aku bertanya banyak hal begitu juga dengannya. Fatia ingin gaya bicaraku berubah, tidak datar dan ada polesan mimik muka. “Senyum itu bukan cuma sehat tapi juga ibadah”. Katanya.

Fatia seperti alat pengukur yang bisa mengukur tingkat kedataranku. Wajah datar ini telah terbentuk selama aku tinggal di bumi. Dari mulut manis Fatia terus keluar celoteh-celoteh, sampai aku sengaja mengajaknya untuk mempraktekan seperti apa caranya menahan teman yang ingin pulang. Untuk membuat teman nyaman kita harus menggunakan kata-kata dan bahasa tubuh. Dari sini, aku menyadari harus ada pengurangan tingkat kedataran wajahku. Upaya untuk itu yaitu dengan cara melatih mimik muka dan tersenyum. Tentu saja itu tidak mudah, karena bagi Fatia senyum dan ramah ke setiap orangn sudah menjadi kebiasaan. Aku percaya suatu hari nanti, wajahku bisa bergerak bebas membentuk senyum manis dan tertawa lepas.

Bahasa Kiasan

Pilihan kata yang digunakan seorang Hamdi Sign sangat indah, karena kata-kata yang digunakan menggunakan kata-kata yang mudah dipahami.

Repetisi[8]

Dalam tulisan terdapat dalam: malam, suara, dan senyum.

Pesonifikasi

Dalam tulisan terdapat dalam: “Senyumnya mampu menghentikan udara malam yang dingin”, “Hujan sedang bermalas-malasan lain halnya dengan malam yang setia menggantikan tugas pagi”, “Aku mengira Alin mengundang malaikat untuk bertamu sejenak sambil menikmati secangkir kopi. Namun, tiba-tiba dalam genangan malam ada suara yang memanggilku”, dan “Fatia masuk dan menyuguhiku senyuman keabadian”.

Citraan

Dalam tulisan “Tentang Fatia” citraan yang digunakan misalnya yaitu citraan penglihatan tedapat dalam” Senyumnya mampu menghentikan udara malam yang dingin”, “Fatia masuk dan menyuguhiku senyuman keabadian”, citraan suhu “Hujan sedang bermalas-malasan lain halnya dengan malam yang setia menggantikan tugas pagi”, citraan pendengaran dan pendengaran Aku mengira Alin mengundang malaikat untuk bertamu sejenak sambil menikmati secangkir kopi. Namun, tiba-tiba dalam genangan malam ada suara yang memanggilku”, dan lain-lain.

Sarana Retorika

Sarana retorik pada dasarnya merupakantipu muslihat pikiran yang mempergunakan susunan bahasa yang khas sehingga pendengar merasa dituntut untuk berpikir. Dalam menyampaikan sebuah ide atau gagasan Hamdi Sign cenderung pada aliran Romantisme dan Realisme[9].

Analisis Terhadap Isi

“Tis night: now do all gushing fountains speak louder. And my soul also is a gushing fountain. ‘Tis night: now only do all songs of the loving ones awake. And my soul also is the song of a loving one[10]”.

Sabda Zarathustra yang pantas  untuk menafsirkan teks ini. Dalam tulisan ini pengarah merasakan bahagia karena seseorang yang cantik dan lain sebagainya bias menyapanya. Hal ini bisa dilihat dengan sebuah paragraph berikut,

“Sosoknya memang unik, malam telah berjasa mempertemukanku dengan wanita itu. Masih teringat ketika kedua mataku membalas tatapannya. Senyumnya mampu menghentikan udara malam yang dingin. Rasa penasaran terus hinggap di hatiku. Aku masih memilih kata-kata yang tepat untuk diberikan kepadanya. Manis, periang, polos dan ramah. Nama wanita itu Fatia tanpa menggunakan huruf ‘h’ biasa dipanggil Tia”.

Sebuah kalimat yang memang indah ketika kebahagiaan mengahampiri dimana Pengarang berusaha memberi untuk sebuah kesenangan. “Aku masih memilih kata-kata yang tepat untuk diberikan kepadanya”. Sebuah kutipan yang pantas untuk menafsirkan kalimat tersebut ialah “They take from me: but do I yet touch their soul? There is a gap ‘twixt giving and receiving; and the smallest gap hath finally to be bridged over[11]”. Namun, disini bukanlah apa yang diluar diri pengarang, tapi pengaranglah yang berusaha memberikan sebuah kata. Dengan berusaha memikirkan apa yang ia usahakan, terdapat kebingungan dalam diri pengarang untuk memilah dan menguntai kata.

Pengarang merasakan sebuah ketenangan, dimana keadaannya yang terasa tak menentu berubah menjadi bahagia oleh senyuman seorang wanita canti yang bernama Fatia. Sebuah sabda yang dapat menunjukan rasa hatinya ialah, “Something unappeased, unappeasable, is within me; it longeth to find expression. A craving for love is within me, which speaketh itself the language of love[12].

Pengaran merasakan puncak kesenangan ketika ia bertemu dengan wanita yang bernama Fatia. Dapat terlihat dari paragraph berikut, “Aku mengira Alin mengundang malaikat untuk bertamu sejenak sambil menikmati secangkir kopi. Namun, tiba-tiba dalam genangan malam ada suara yang memanggilku. Sepertinya aku mengenal suara itu, suara wanita periang pembawa aliran cinta. Dia Fatia.

“And I answered: “Ah, is it MY word? Who am_I_? I await the worthier one; I am not worthy even to succumb by it. Then was there again spoken unto me without voice: “What matter about thyself? Thou art not yet humble enough for me. Humility hath the hardest skin[13]“.

Wajah Fatia tidak bias dilupakan oleh pengarang ketika ia melihat senyumnya yang manis. Ini dapat digambarkan oleh sebuah kalimat, “Fatia masuk dan menyuguhiku senyuman keabadian”. Namun, di sini ada pembunuhan karakter dalam seketika, dimana Fatia meminta pengarang agar tidak berbicara dengan keadaan muka datar. Bisa dilihat dari kalimat, “Fatia ingin gaya bicaraku berubah, tidak datar dan ada polesan mimik muka. “Senyum itu bukan cuma sehat tapi juga ibadah”. Katanya”.

Penulis sendiri berasumsi bahwa pengarang dengan keadaan wajah datar itu dikarenakan oleh rasa malu terhadap seseorang yang disukainya. Padahal dalam kenyataan kepada siapapun pengarang yang penulis tahu tidak demikian. Mengapa demikian? Jawaban yang akan dilontarkan pertama ialah malu, dan kedua “Hati memiliki alasan-alasan yang tak dapat difahami”. Ini sebuah ungkapan Pascal dan sekaligus judul bukunya.

Dalam kalimat berikutnya ialah pengarang menggunakan suatu metaphor (dalam kajian Nietzsche) untuk menggambarkan sebagian prilaku Fatia kepadanya. Hal ini bisa dijumpai dalam kalimat, “Fatia seperti alat pengukur yang bisa mengukur tingkat kedataranku. Wajah datar ini telah terbentuk selama aku tinggal di bumi”.

Selain daripada itu, pengarang berinteraksi dengan Fatia dengan keadaan “Hasrat yang berseru” dimana dalam kalimat dijumpai, “Dari mulut manis Fatia terus keluar celoteh-celoteh, sampai aku sengaja mengajaknya untuk mempraktekan seperti apa caranya menahan teman yang ingin pulang”. Kata kucinya ialah “Mulut Manis”. Penulis menafsirkan untaian kata tersebut secara leterlek. Hal ini dikarenakan penulis sendiri tahu bagaimana pengarang. Libido (Hasrat Seksual) ialah istilah yang digunakan oleh Freud untuk menamakan sebuah hasrat atau dorongan seksual (Dalam arti posotif). Freud menyatakan bahwa dorongan ini dikarakteristikan terhadap pertumbuhan secara bertahap menuju puncak intensitas, diikuti dengan penurunan tiba-tiba dari rangsangan. Begitupun pengarang yang melihat senyum manis seorang wanita cantik yang bernama Fatia. Pengarang secara tidak langsung melihat senyum manis dan jatuh ke hati singga hatinya bergejolak tak menentu, sampai-sampai ia selalu ingat terhadap senyuman itu.

Bersamaan dengan guncangan hati tersebut, hasrat irrasional tumbuh dan membelenggu prilaku-nya sampai pengarang sendiri menuliskan kisahnya dalam tulisan yang berjudul “Tentang Fatia”. Freud beranggapan bahwa pembentukan masyarakat tidak disebabkan oleh adanya satu atau dua objek (orang) yang mempunyai kekuatan luar biasa, tetapi disebabkan oleh sublimasi (peralihan) dan seksualisasi libido ke dorongan persahabatan. Itulah yang sekarang dirasakan oleh pengarang yang sekaligus teman curhat penulis. Kho Ping Kho dalam untaian kata yang indah, “Dunia ini kekal abadi karena kita tidak hidup untuk seorang diri”. Bahwkan Nietzsche mengatakan, “Semua prilaku kita dan penggerak dunia ini ialah mesin purba yang kuat. Itu ialah Kehendak”.

Paragraph berikutnya :

Dari sini, aku menyadari harus ada pengurangan tingkat kedataran wajahku. Upaya untuk itu yaitu dengan cara melatih mimik muka dan tersenyum. Tentu saja itu tidak mudah, karena bagi Fatia senyum dan ramah ke setiap orangn sudah menjadi kebiasaan. Aku percaya suatu hari nanti, wajahku bisa bergerak bebas membentuk senyum manis dan tertawa lepas”.

Pengarang berusaha merubah karakternya, dan untuk mengakhiri tulisan ini. Paragraph tersebut penulis akan hubungkan sengan sebuah teks atau perkataan indah Gibran. Yaitu, “apabila cinta memberi isyarat kepadamu, ikutilah dia. Walaupun jalannya sukar dan curam. Apabila sayapnya memelukmu menyerahlah padanya. Walau pedang tersembunyi diantara ujung-ujung sayapnya bias melukaimu. Dan jikalau itu berbisik padamu, maka dengarkanlah”. Dan sebuah syair dari Muhammad Iqbal yaitu, “Cinta bias menjadikan pahit menjadi manis, sedih menjadi senang, sunyi menjadi ramai……”. Serta pesan dari penulis (sebagai teman), “Dengan cinta manusia mampu untuk bertahan dan berubah”.

*****


[1]. Tulisan ini dibuat dalam rangka iseng dan kebahagiaan semata. Tulisan ini dibuat oleh Hamdan seorang ABG tua dan Mahasiswa PBI semester 14 Tarbiyyah dan Keguruan UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Beliau aktif di UKM SUAKA. Dalam menulis tulisan ini, penulis mengikuti beberapa tulisan, atau bahkan meniru dalam sebuah blog yang ada. Hal ini dikarenakan kekurangan penulis sendiri dalam mensistematiskan suatu tulisan.

[2]. Mahasiswa Tafsir Hadits semester 6 Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Aktif di berbagai lembaga. Sebagiannya di UKM Lembaga Pengkajian Ilmu Keislaman UIN SGD Bandung, Lembaga Penelitian Ausiensi Sisa Pengerasan Baja, dan lain-lain.

[3]. Also Sprach Zarathusta : JOYS AND PASSIONS : Aforisma 1-2. Teks Asli,

Mein Bruder, wenn du eine Tugend hast, und es deine Tugend ist, so hast du sie mit Niemandem gemeinsam. Freilich, du willst sie bei Namen nennen und liebkosen; du willst sie am Ohre zupfen und Kurzweil mit ihr treiben”.

[4]. Perkataan muncul karena ada beberapa UKM, Komunitas, dan lain sebagainya berdiskusi prihal sastra di UIN SGD Bandung. Seperti halnya, Komunitas Kabel Data, Verstehn, SASAKA, dan lain-lain. Diskusi yang dipandu oleh beberapa senior (Bisa dikatakan) yang hebat dan memiliki imajinasi yang luar biasa. Seperti, Pak Bambang Q Aness, Beni Silaru, dan Kang Atep.

[5]. Ada sebagian kreator di UIN Sunan Gunung Djati Bandung melupakan hal isi. Dalam artian “Sang Kreator” mau memberikan pesan dan pelajaran apa yang ada dalam karyanya itu. Mereka hanya terlalu memainkan kata dan bahasa sehingga bentuk metafor itu indah. Maka di sinilah kritikus dan lain sebagainya menggunakan beberapa perspektif, metode, dan lain sebagainya. Dengan menggunakan optik pemikiran seseorang dalam kajian hermeneutika, semiotika, filologi, dan lain sebagainya. Mengapa hermeneutika, semiotika, dan filologi? Karena disiplin ilmu tersebut konsentrasi dalam pengkajian dan penelitian “Teks”.

[7]. Penulis sendiri mengatakan bahwa ini adalah tulisan refleksi karena dalam pembacaan terhadap tulisannya penulis menemukan sebuah hasrat atau ketenangan tertentu ketika melihat seorang wanita yang bernama Fatia. Teori yang digunakan dalam menganalisis bahwa tulisan ini adalah sebuah refleksi ialah optic Frued dan Nietzsche. Mungkin saja pengarang tulisan tersebut mengetahui akan hal itu.

[8]. Repetisi adalah pengulangan bunyi, suku kata, kata, atau bagian kalimat yang dianggap penting untuk memberi tekanan dalam sebuah konteks yang sesuai. Lihat : https://bebasmelangkah25.wordpress.com/2012/03/16/analisis-puisi-ku-lihat-ada-tuhan-dimatanya/.

[9].P ersonifikasi adalah semacam gaya bahasa kiasan yang menggambarkan benda mati seolah-olah hidup. Citraan adalah satuan ungkapan yang dapat menimbulkan hadirnya kesan keindrawian atau kesan mental tertentu.Unsur citraan dalam sebuah puisi merupakan unsur yang sangat penting dalam mengembangkan keutuhan puisi, sebab melaluinya kita menemukan atau dihadapkan pada sesuatu yang tampak konkret yang dapat membantu kita dalam menginterpretasikan dan menghayati sebuah puisi secara menyeluruh dan tuntas. Citraan dalam puisi terdapat 7 jenis citraan, yaitu citraan penglihatan, citraan pendengaran, citraan gerak, citraan perabaan, citraan penciuman, citraan pencecapan, dan citraan suhu. Penggunaan citraan dalam puisi melibatkan hampir semua anggota tubuh kita, baik alat indra maupun anggota tubuh, seperti kepala, tangan, dan kaki. Untuk dapat menemukan sumber citraan yang terdapat dalam puisi, pembaca harus memahami puisi dengan melibatkan alat indra dan anggota tubuh untuk dapat menemukan kata-kata yang berkaitan dengan citraan.

Studi sastra bersifat semiotik adalah usaha untuk menganalisis sastra sebagai suatu sistem tanda-tanda dan menentukan konvensi-konvensi apa yang memungkinkan karya sastra mempunyai arti. Dengan melihat variasi-variasi di dalam struktur dalam atau hubungan dalamnya, akan dihasilkan bermacam-macam arti. Analisis semiotik itu tidak dapat dipisahkan dari analisis struktural, dan sebaliknya.Tugas semiotik puisi adalah membuat eksplisit asumsi-asumsi implisit yang menguasai produksi arti dalam puisi. Ibid.

[10]. Teks Asli, “Nacht ist es: nun reden lauter alle springenden Brunnen. Und auch meine Seele ist ein springender Brunnen. Nacht ist es: nun erst erwachen alle Lieder der Liebenden. Und auch meine Seele ist das Lied eines Liebenden”. Aforisma 1-2 : Friedrich Nietzsche : Tarian Malam.

[11]. Idid : Aforisme 11, Teks Asli, Sie nehmen von mir: aber rühre ich noch an ihre

Seele? Eine Kluft ist zwischen Geben und Nehmen; und die kleinste Kluft ist am letzten zu überbrücken”.

[12]. Teks Asli, “Ein Ungestilltes, Unstillbares ist in mir; das will laut werden. Eine Begierde nach Liebe ist in mir, die redet selber die Sprache der Liebe.

[13]. Teks Asli, “Und ich antwortete: “Ach, ist es mein Wort? Wer bin ich? Ich warte des Würdigeren; ich bin nicht werth, an ihm auch nur zu zerbrechen. Da sprach es wieder ohne Stimme zu mir: “Was liegt an dir? Du bist mir noch nicht demüthig genug. Die Demuth hat das härteste Fell.” Ibid : THE STILLEST HOUR : Aforisme 11-13.

About Falah

Keepsmile and .... and... and....
This entry was posted in Sastra. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s