Prihal Hamdan Sign

ABG Kelabing : “Prihal Hamdan Sign”

“No people could live without first valuing; if a people will maintain itself, however, it must not value as its neighbour valueth. Much that passed for good with one people was regarded with scorn and contempt by another: thus I found it. Much found I here called bad, which was there decked with purple honours Never did the one neighbour understand the other: ever did his soul marvel at his neighbour’s delusion and wickedness[1]”.

Tak seorangpun mampu hidup tanpa mencipta penilaian dulu : Tapi ia tak pantas menilai seperti hal tetangga menilai. Suatu tampak baik jikalau seseorang terjerumus malu dan merendahkan pada yang lainnya : maka ku temukan ini. Apa yang ku dapat ini sebuah kejahatan, namun di sana terhias kehormatan mulia. Takkan pernah tetangga seseorang mengerti orang lain. Jiwa selalu heran pada kegilaan dan kekejaman tetangganya. Tata nilai bergantung di atas setiap manusia. Lihatlah tata nilai berjaya dan suara berseru kekuatan.

Di dalam garis sore, ku bertemu sang teman. Ia bernama Hamdan Sign. Ia menyapa dengan muka datar dipenuhi libido yang sempat tercoret dalam sebuah karya “Tentang Fatia”. Di fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung lantai tiga kami saling mempertajam hasrat. Keadaan yang sayu seperti burung berkerumun dalam tornado hitam mencekam ia berkata, “Bray apa kabar?” tanya padaku. “Wess, sama seperti kemarin Coy”.

Mukanya tak kunjung rubah. Ia yang segala sesuatunya kreditan, termasuk nasibnya sendiri dengan percaya diri menanyakan beberapa hal padaku,

Bray, gimana tulisannya, bagus ya?

“Tulisanmu selalu bagus, karena kau lebih hebat dariku”.

Dalam waktu, ia selalu menunjukan semangat zaman yang paradoks, absurd, dan sia-sia. Pertanyaan demi pertanyaan yang dilontarkannya padaku, seolah mengajak gerimis dan awan hitam untuk bermalas-malasan dalam secangkir kopi. Upuk senja meruncing, mencabik-cabik asap rokok yang ku tata di depan muka kreditannya itu. Banyak tanya dan tawa dalam angin yang bertiup dari timur.

Sungguh ku kagum padanya karena dia menanyakan suatu hal yang sebenarnya ku lupakan di dasar tanah dan di atas langit mendung. Seorang yang meraih mimpi dengan memegang debu, tertidur dengan berbantal kebohongan ilmu, dan anak panah yang menjauhi busurnya itulah temanku, Hamdi. Ia ingin sekali menemukan tanda dalam barisan-barisan pemikiran kuno, mengurai tanda di setiap ukiran tawa dan canda. Alangkah bahagia aku mendengar semua pertanyaannya itu yang dua tahun kebelakang dilupakan demi sebuah akhir ilmu pengetahuan.

Aku tak ingin seperti mereka, yang hanya mengonsep tapi dalam praktik belepotan” kata Hamdi.

 “kau hebat sekali coy, asalkan ingat satu hal. Mengerti, berarti memaafkan segalanya. Hanya itu pesanku, kawan.”

Aku harus tahu, apa maksud semua itu. Supaya aku tak salah paham”.

“kebenaran ialah metonim, metafor, dan suatu bentuk manusiawi yang harus diterima secara paksa”.

Oh, Menurutmu gimana aku yang melupakan rumah?”

“Setiap petualangan pasti secara tak sadar lupa akan seuatu keadaan, dimana kau akan tersesat dalam keterpurukan rindu”.

“Hemmm…” (Sambil muka kreditan nampak kembali).

“janganlah kau buta akan pengetahuan sunyi, kesia-siaan bisu, dan jangan kau anggap dunia ini abadi”.

Apakah aku sudah terlambat?”.

“Walaupun air di sunyai tak pernah sama, angin senantiasa berganti di setiap penjuru, dan matahari takkan pernah berhenti dalam putaran bumi, tapi dimana ada suatu cita-cita, semua itu akan ikut menari dalam hati yang tak dapat difahami”.

Apa yang kau banggakan di dunia ini?”

“Ku takkan pernah bangga terhadap diri tak mengerti. Karena anggur akan berbuah anggur kala kita menghadapi ketiadaan mimpi”.

Angin timur menggelitiki pohon rindang di atas secangkir kopi. Obrolan fana akan tertulis dalam kitab omong kosong. Kami pun berpisah, dan ku pulang menulis inti dari perbincangan kami.

Untuk Hamdi,

Belajar diwaktu kecil seperti mengukur di atas batu.

Belajar diwaktu besar seperti mengukir di dunia tak abadi.

Akan tetapi, ku mengukir semua ilmu,

Dalam hati wanita yang tak pernah terfahami.

 

Tolong katakan bahwa aku benar-benar mengagumi dan menyukainya. Perlihatkanlah dalam tulisan ini yang takkan ku usaikan.

***

[20/04/2012]


[1]. Nietzsche : Also Sprach Zarathustra : THE THOUSAND AND ONE GOALS : Aforisme 2-4

About Falah

Keepsmile and .... and... and....
This entry was posted in Sastra. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s