Don’t Cry (By Mydarling, Hannah Arendt)

Bersama gemuruh dan kembang api yang menyenangkan, ku harus berbicara pada perasaan-perasaan yang lamban dan seketika mata selalu terpejam. Suara indah berseru halus : Ia masuk menyelinap hanya ke dalam para jiwa yang tergugah. Lembut cerminku bergetar dan tersenyum padaku kali ini. Ini adalah tawa dan getaran sucinya “Sang Keindahan“.

Ku Ayunkan langkah kaki, pulang ke rumah. Di hidangi senyum Hannah Arendt yang duduk di kursi tempatku digerakkan oleh benci dan dendam cakrawala. Melihat wajah Hannah Arendt, ku terpaku dalam sebuah ketidakmengertian. Aku yang rindu akan bincangan dan suara indahnya, terasa cukup diberi pulau indah, tempat Burung Nuri hinggap.

Ku lepas semesta dan sedikit menghampirinya, lalu ku cium pipi indahnya itu. Duduk berdua bersamanya, isyarat surga dan penghuninya yang menikmati keabadian.

Ich verwandele mich zu schnell: mein Heute widerlegt mein Gestern. Ich überspringe oft die Stufen, wenn ich steige, – das verzeiht mir keine Stufe“, kataku pada Arendt sambil bersandar di pundaknya.

“What happened?” Wajah cantik menoreh padaku.

Bin ich oben, so finde ich mich immer allein. Niemand redet mit mir, der Frost der Einsamkeit macht mich zittern. Was will ich doch in der Höhe?

“What? When aloft, You find yourself always alone. No one speaketh unto you; the frost of solitude maketh you tremble. you seek on the height?”

Yeah“.

“Ingatkah kau dengan sebuah lagu yang berbunyi, “They say Life is too short. The here and the now. And You’re only given one shot. But could there be more. Have I lived before Or could this be all that we’ve got?”

Yeah, I ‘ve remembered. Meine Verachtung und meine Sehnsucht wachsen mit einander; je höher ich steige, um so mehr verachte ich Den, der steigt. Was will er doch in der Höhe?

“How ashamed you are of your clambering and stumbling! How you mock at your violent panting! How you hate him who flieth! How tired you am on the height!”.

Arendt memelukku dan sekidit memberi air mata rindu. “Ku memang merindukan kau yang dulu, Falah. Ku amat menyayangimu di balik jeruji besi”. Ia seolah tak mau melepaskan pelukannya itu, kubiarkan dia melepas rindunya karena kedatangan sosokku yang dulu. “Janganlah kau menangis, Falah. Semua yang terjadi padamu itu hanyalah sebagian dari jalan hidupmu”.

Kami pergi ke ranjang kehidupan, ia memelukku sampai pagi. Di mana Mentari malu untuk membangunkan kami. Keindahan berada di Ujung sadar, kami tidur untuk menjemput esok.

About Falah

Keepsmile and .... and... and....
This entry was posted in Sastra. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s