Perceraian

Suatu ketika ku melihat saudaraku dalam sebuah keretakan. Di mana samudra keruh dengan keegoisan. Ikan ke sana ke mari tak menentu. Mereka ingin menenangkan keadaan mereka. Suatu detik kedamaian melintas di antara mereka. lau kuhampiri seorang dahulu.

“Apakah ciri-ciri munafik?” Kataku padanya.

Berdasarkan Al-quran dan Hadits?” Bertanya balik.

“Terserah, tapi yang kamu tahu saja”.

Iri hati, penipu, khianat, dan Ingkar“.

“Bisa disatukan ga?”

Maksudnya?

“Maksudnya bisa disatukan dalam satu kata ga?”

“Saya tidak mengerti”.

Boleh usul?”

“Silahkan”.

Jawabannya singkat,”Saya””.

“Kenapa saya”

Karena itu berada dalam “Saya”“.

Ia seolah diam dan merenung di dalam kebisuan yang amat luar biasa. Kejadian yang nampak dalam batu karang, ia ukir berdasar pada marah, egois, dan iri hati.

Setiap orang tak baik, tak sempurna, tak bijaksana, tapi selalu berusaha menyalahkan orang, memaksa orang sadar, dan merasa diri sendiri saleh?“.

“Aku tak tahu”.

Tuhan sesuatu yang takkan pernah terjangkau oleh kita. Maka sebab itu ku tak hiraukan dia, karena Tuhan ada di setiap mata manusia. Jikalau kita egois, keras kepala, ingin benar sendiri, secara tidak langsung kita telah mengafirkan diri kita sendiri“.

“Ya aku mengerti”.

Orang yang mengaku dirinya mengerti, berarti mebohongi dirinya sendiri. Orang yang tak mengerti berarti merendahkan dirinya yang terdapat citra Tuhan“.

“hemmmm”.

“Istrimu yang kau salahkan itu, secara tidak langsung kau Telah menyalahkan Tuhan. Adapun kenapa Tuhan berwujud nampak seperti yang kau tak inginkan. Itu menunjukan bahwa kita sedang diuji dengan jalan yang lain“.

“Hemmmmmmm”.

Janganlah kau topang hidupmu dengan konflik dan keterpisahan. Semuanya sama, kau, istrimu, dan aku. Semuanya sama, tak ada indentifikasi untuk memisahkan segalanya. Pertanggungjawabkanlah hidupmu, jikalau kau tak bisa, lebih baik mati dengan cara terhormat. Mengapa? karena kau terlalu banyak pemahaman orang tentang hidup, tapi sebenarnya kau tidak mampu apa-apa“.

“Heeemmmm”.

Muhammad ke gua hiro untuk apa bro, apakah untuk main, atau mempersiapkan?

“Mempersiapkan”.

Turutilah sehingga kau akan menjadi Nabi“.

“Aku berjanji akan menghilangkannya”.

Jangan dihilangkan, tapi lupakanlah“.

“Terima kasih”.

Jangan berterimakasih padaku, berterimakasihlah pada dirimu sendiri. Karena dengan ini kau mampu menjalani hidupmu sendiri“.

“owuch”.

Boleh saya bertanya Bro?

“Silahkan”

Apa ciri-ciri orang munafik bro?

“Saya”.

“Hem, kau gagal, susah payah ku berbincang denganmu”.

Dalam hati sambil pergi ku berkata, “Aku terus berusaha untuk tidak terjebur dalam dunia maya untuk yang kedua kalinya. Mimpi hanyalah ilusi, berfikir adalah ilusi emosional hati. Terkadang kita berfikir ke segala arah, namun ketidaksadaran dan diri sendiri mati“. Semoga dan hanya semoga ku takkan pernah hidup di dunia abadi, namun, di dunia yang tak kekal abadi. Mengerti berarti memaafkan segalanya.

“Lupakanlah semua perkataanku, jalani, dan bertanggungjawablah pada hidup tanpa kenal posisi”.

***

Banyak mengetahui, terbawa alur ketidakmengertian untuk menyelesaikan kehidupan. Seperti halnya sakit hati, galau, risau, dan lain sebagainya. Hati tak perlu difahami dengan alasan pasti, tapi jalanilah hidup [Pascal : dalam bukunya hati memiliki alasan-alasan yang tak dapat difahami (Yach, ku terjebak dech) hehe]

[Falah Absurditas]

About Falah

Keepsmile and .... and... and....
This entry was posted in Sastra. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s