Pesan Untuk Mariam

*Seseorang yang memberiku nasihat hingga ku bisa sembuh seperti ini.

Banyak orang berpengetahuan seperti angin di sekeliling hidupku. Angin itu berputar di ruang yang sempit, tapi bisa menentukan cahaya hangat ke semua penjuru ruangan yang mereka tempati. Ada pula orang yang memantulkan perhatiannya ke segala arah, tanpa memantulkannya kembali pada diri mereka sendiri. Mereka merasa bangga dengan busur panah yang telah ditemukan oleh dunia sebelumnya, dan secara langsung pula mereka menampakkan ketidakmampuan dirinya untuk menjalani hidup.

Selain mereka, ada yang lebih parah, itu adalah aku. Aku senantiasa bangga dan merasa “The Madman” dengan apa yang mereka ketahui. Padahal aku selalu melihat dunia lalu, melihat masa lalu, membanggakan sesuatu, tanpa ku bisa melihat apa yang berada di depan. Pangetahuan adalah masa lalu, dunia senantiasa baru dan berubah, dan keberubahan ialah yang abadi. Sempat ku berfikir, “Bagaimanakah untuk melawan masa depan? Maka ku akan jawab Hari ini”.

Masa suram pernah ku lewati. Berawal dari sebuah pilu dalam hidup, dimana seorang kekasihku dinikahkan oleh orang tuanya karena melihat diriku yang belum cukup umur untuk menjaga sebuah pesantren. Tak ada pemberitahuan yang ku dapat dari risau burung pipit, hanya depan mata ku lihat kekasihku dinikahkan waktu itu. Kebencian mulai tumbuh waktu itu. Ku ingin mengalahkan semua ulama di daerahku, maka pada waktu itu pula ku belajar semuanya tanpa memikirkan yang lain.

Pada benci yang mendekapku di antara dinding bisu, ku pelajari mantiq, ushul fiqh, Fiqh, Hadits,  Tafsir, Falak, Faraid, Nahwu, Shorof, Balagoh, Hikmah, Tasawuf, dan lain sebagainya. Itu semua memekar dalam tanah benci. Hingga pada waktunya, ku tantang semua ulama yang ada di daerahku, dan semuanya bertekuk lutut pada kebencianku. Ku memandang mereka hanya orang yang mengafirkan diri sendiri (walaupun tak semuanya), termasuk diriku sendiri. Rasa lelah untuk hidup dalam keadaan benci tak pernah ku hiraukan, yang penting bagaimana cara ku bisa mengalahkan semuanya, sampai aku terus menembus langit.

Sempat semuanya reda dalam hidup, tapi kebencian itu tumbuh kembali kala seorang teman yang lebih tua dariku menendangku, dan menganggap aku bodoh dengan satu kaca mata yang dia anggap dia memumpuni dalam hal itu. Sakit hati, dendam, benci, marah membuatku kuat untuk melipat dunia dalam satu kata.

Beribu menit, berjuta sendiri, beratus benci, ku memaksa hidup adalah kebencian pada semua hal. Apalagi ku paling muak pada orang yang sanggup menguntai makna dalam serpihan tanda, yang seperti kertas putih.

Orang-orang yang tak mengerti seperti mereka berkata, “Buat apa belajar postmo. Toh dalam hidup itu tidak bisa diterima masyarakat luas”. Wah wah orang awam seperti dia menganggap dialah yang paling akan diterima masyarat luas. Kasihan sekali, Ia yang tak mengerti, terbelenggu oleh ketidaktahuannya sendiri. Sempat ia berkata untuk menilai diriku, “Orang yang mengaku tahu, sebenarnya tidak tahu”. Andai kata itu benar, toh lebih mendingan aku daripada dia yang mengicau, tapi tak tahu apa yang dia omongkan. Jikalau itu benar, lebih mendingan aku daripada dia, Toh dia kalau ditanya apa yang di luar sana tak bisa.

Ada ungkapan beo dan kertas putih yang menyatakan bahwa, “Kita untuk curhat tak perlu pemikiran”. Kunilai saja ia, tanpa mengetahui apa itu fikiran, apa itu berfikir, dan apa-apa bila ku pertanyakan tidak tahu. Aneh dunia ini, memang mereka untuk curhat tak perlu berfikir gitu? Dengan membuat metafora, sktruktur, logika tertentu? Dimanakah letak otak mereka? Di Pantat, atau di kaki? Sungguh dunia ini memang aneh.

Kulihat selama ini toh mereka hanya mempelajari curhatan Amerika, Prancis, German dan lain sebagainya. Tanpa mengetahui jikalau ku tanya prihal sastra ketimuran seperti Mesir, Persia, Arab, India, Cina, dan lain sebagainya.

Mau bagaimana lagi, berhala mereka juga hanya lingkup sedemikian sempit, dan ku juga tak menafikan ada berhala mereka yang memang luar biasa, tapi jarang di kehidupan sekitarku ini. Lebih anehnya lagi, mereka seperti yang “AKU NIECKH”. Padahal mereka tak tahu apa saja yang ada di luar dirinya.

Ada pula orang katanya seorang ahli teori dan sebagainya. Itu pun hanya lingkup itu-itu saja. Lebih parah lagi, menafsirkan hasil tafsiran orang lain, memahami dari pemahaman orang lain terhadap kenyataan, di sini termasuk aku. Apabila dibincangkan sesuatu yang berada di luar dirinya, Yach memble dech. Namun, hebatnya bisa berapalozi atau beralibi supaya bagaimana saja supaya membela dirinya sendiri, termasuk aku lagi.

Melihat kemuakan itu, ku terus berjelajah di dunia ini. Ku mempelajari semuanya dan tidak untuk semuanya. Aku duduk di rumahku, membaca dan mempelajari filsafat, fisika, kimia, matematika, neuroscience, sastra timur, sastra barat (bahkan dunia), sibernetika, kriptografi, filologi, hermeneutika, semiotika, proyeksi matrik, geometri analitik, aritmatika sosial, ekonomi, perbankan, virologi, zoloogi, botami, genetika, geografi, geofisika, geoastrom, biofisika, biokimia, persamaan nuklir, alogaritma, Persamaan sistem satelit, optik, ilmu-ilmu alquran, ilmu-ilmu tafsir, ilmu jarh wa tadhil, logika scientifika, bahsu almufassirun, bahsu almuhaditsun, kritik matan dan sanad hadits, geologi, dan lain sebagainya.

Semua itu digerakan oleh kebencian terhadap apa yang ku rasakan selama ini. Pernah suatu hari ku tinggalkan semuanya untuk mendapat semua itu. Kurang makan, dan darah keluar dari hidungku kala aku bermain-main dengan dunia pengetahuan. Terbawa angin ku terus menerus, hingga pada akhirnya ku lupa akan satu pertanyaan yang mendasar, “Siapakah aku ini, dan dimanakah aku?” Namun, kala malam itu, ia sedang sendiri. Seorang yang telah menyelamatkan hidupku dan membawaku dari kebencian. Ia adalah “Amang F”.

Beliau (Bentuk khidmat dalam tradisi NU) memberi nasihat tentang bagaimana ku menyikapi kebencian dan orang lain. Satu ungkapan yang ku ingat selalu, “Jangan berterimakasih padaku, berterimakasihlah pada diri sendiri yang pernah memberi pelajaran padamu. Lupakanlah perkataan ini, tanggungjawablah serta jalanilah hidupmu”.

Terima kasih Amang, ^_^.

***

Untuk Siti Mariam

Ku selalu menunggumu lewat di DPR. Entah apa yang sedang melandaku sekarang. Setiap waktu, ku berharap kau lewat saja, tanpa ada perbincangan. Ada sebuah cerita, “Seorang dewa dikutuk oleh dewa yang lain agar mendorong batu ke atas gunung. Batu itu sesudah sampai, turun lagi ke bawah, begitupun seterusnya. Itu merupakan sebuah kesia-siaan. Akan tetapi, dewa itu senantiasa tersenyum, menikmati semua itu”. Mungkin ku juga sama seperti dewa itu, yang menunggu dirimu dan mengagumimu, tapi ku hanya bisa meleburkan rindu hanya dengan melihatmu saja. Tak apa ku seperti dewa itu, walau hidup adalah kutukan (Meminjam bahasa Albert Camus) dan penderitaan, ku akan tetap menikmatinya serta tidak akan menampiknya.

Semua yang pernah kubincang dan kushare, baik itu dalam tulisan dan cerita langsung padamu. Itu hanya dan agar kau tidak seperti diriku ini. Karena kau sama denganku (Perbincangan kala di zmz).

About Falah

Keepsmile and .... and... and....
This entry was posted in Filsafat. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s