Diam, Tak Nampak Sebagai Taring Ilusi.

Kuselalu merasakan sendiri dikeramaian, dan kepedihan hati selalu menemani. Ku tak percaya diri untuk menyampaikan apa yang kuketahui hanya lewat tulisan, bisa untuk menyampakan apa yang kufikirkan“.

Semua berpandangan dan bertujuan sama untuk menggapai hal. Dunia memang tak sama dengan masa lalu. Namun, banyak orang yang menyandarkan dirinya pada pengetahuan-pengetahuan yang menari di singga sana kemarin. Jika memangbenar semua itu melanda manusia di jurang kehampaan, lantas kenapa manusia tidak menjadi pesulap saja? Yang memasukan apel dan keluarlah madu.

Masa sekarang akan sama dengan yang kemarin dengan kelemahan manusia untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi. Masa lalu akan bermakna jikalau itu bisa dimanfaatkan hanya sedikit saja.Akan tetapi, mengapa mereka yang tak mau menjadi pesulap menutup akan apa yang mereka lihat? Mereka hanya ingin melihat dengan sebuah persamaan dan menunjukan kesamaan lain dengan yang lain lagi.

Alkisan, Capra pernah bertemu dengan seseorang. Dia adalah Krishnamurti. Capra amat bangga dengan apa yang ia ketahui. Mukti hanya bisa tersenyum saja, dan berkata “Jika kau tak bisa menjadi pesulap, lantas dimanakah dirimu, apakah sudah mati?”[1]

Mestinya, masa lalu menjadikan manusia lebih manusiawi. Akan tetapi, entah kenapa mereka bersandar pada masa lalu yang menyamakan dunia ini. Mengkritik hasil kritikan orang lain, tanpa pernah mengerti apa yang sebernarnya yang ia keritik. Dalam tetes air mataku, ku selalu merasa sendiri di keramaian. Mencoba tuk menyapa, tetap saja sendiri. Terkadang hatiku berbicara lain, biarlah. Biarlah ini semua terjadi padaku, namun yang pasti akan sebuah keyakinanku bahwa mereka akan membutuhkanku suatu saat nanti. Orang yang hebat selalu berbuat makan jika ia lapar, dan tidur kala ia ngantuk.

Di hari itu, ingin sekali kubertanya akan satu hal dalam sebuah diskusi “Eksistensi Musik di Era Budaya Pop” dan “Spiritualitas Musik dalam budaya”. Dengan sebuah pertanyaan, “Bagaimanakah Parameter dan proses musik sebagai penyucian diri?”[2] Namun, ku tak mempunyai kepercayaan terhadap diri sendiri. Malu dan lain sebagainya melandaku dalam setiap pemikiran yang selama ini kudapati. Oleh sebab itu, ku hanya bisa menulis apa yang kufikirkan dan ku temukan di berjuta literatur dan perenungan.

Ku hanya bisa tersenyum, kala semua orang tak melihatku karena selalu ada diam di setiap ayun langkahku. Awalnya ku mempelajari apa yang berada di luar kebiasaan orang di sekelilingku hanya untuk membuktikan bahwa ada sesuatu yang berada di luar diri mereka yang sebenarnya mereka tidak ketahui dan fahami. Namun, seusai ku bertemu seseorang yang takkan pernah ku katakan ia siapa, mengajariku tentang apa artinya hidup ini.

Ya Tuhan, yang berada di balik setiap mata manusia, ku tak bisa untuk membiacarakan apa yang kuketahui. ku hanya bisa menulisnya, dan mengabarkan ini dalam bayang-banyang semu. Biarlah ku berada dalam kenyataan ini. Ku akan menerimanya dengan senang hati. Menjalankan, mensyukuri, dan menerima apa yang terjadi, itulah kebahagiaanku. Ku tidak akan pernah mati ketika dihina, ku takkan pernah jaya ketika dipuja.

Kumalu dan tak percaya diri untuk membicarakan apa yang kuketahui apa yang ada di langit dan di bumi. Tapi, ku hanya bisa menulisnya dalam beberapa kertas, dan kusimpan untuk anak dan cucuku nanti. Mereka yang akan meneruskan ambisiku untuk menembus Galaksi Andromega. Ku hanya ingin menjadi diriku, dengan sedikit masa lalu. Walaupun hati ini sedikit perih untuk menerima dunia baru. Terima kasih, ku akan menjalaninya.

[17/05/2012]

___________________________

1. Dari Sebuah pembicaraan ketika Milangkala LPIK yang ke 16. Bersama teman saya yang bernama Apuy ketika menyinggung buku yang berjudul Freedom from Known karya Krishnamurti.

2. Dalam “The World Is Representation and Idea” karya Schophenhauer penyucian kehendak buta ialah dengan musik dan bela rasa terhadap manusia. Dalam “The Brith Of Tragedy” karya Nietzsche terdapat sebuah aforisma, “AKu hanya ingin Tuhan yang menari dan mengerti“. Dalam “Philosophical Aforism” karya Daniel Riddel ada sebuah tafsiran bahwa musik mampu menggerakan manusia melalui hasrat, dan mampu untuk mengenali dirinya. Dalam “Muqodimmah Ibnu Kholdun” karya Ibnu Kholdun, “Manusia sama seperti halnya bintang jikalau diberi lantunan musik akan merasa bahagia“. Penjelasan jauh tentang ini, kutuliskan dibuku harian.

About Falah

Keepsmile and .... and... and....
This entry was posted in Filsafat, Keagamaan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s