“Terbebas dari Masa Lalu”

Dulu aku Descartes yang mengeneralisir semua yang aku ketahui, dan mewakili kenyataan yang kulihat. Memang hidup butuh pengetahuan, oleh sebab itu kutafsir diriku lewat angka pasti dalam satuan semesta. Semua terhitung oleh batasan dalam ketidakterhingaan[1]. Ku selalu mengkategorisasi kehidupan yang begitu dipenuhi dengan pilihan. Selain daripada itu, ragaku terkendali oleh jiwa yang sulit kufahami selama ini[2].

Dulu aku Schopenhauer yang menganggap dunia ialah sebuah refresentatif dan ide. Kehendakku sering Bersure tanpa henti. Sempat kuberfikir untuk mengahiri kehendak butaku dengan cara kematian. Namun, dengan musik dan bela rasalah[3]. Entahlah, dunia memang selalu baru dan beruah.

Dulu aku adalah Plato, yang berusaha menjadi manusia baik dengan tertuju kepada sang baik itu sendiri[4]. Dan semua gerak gerik kita dikendalikan oleh sang baik itu sendiri. Dulu aku Mikail Bakhtim, yang selalu menafsir dan memahami kata lewat plagiasi kenyataan[5]. Dulu aku Aristo yang memahami hukum alam dengan kausa prima, dan apa yang kita rasakan dan lain sebagainya ialah pengetahuan asli. Dulu aku adalah Nietzsche, yang menganggap semua hal memudar tak pasti. Menganggap hal yang mapan terus dijinahi[7]. Dulu aku adalah para filsuf yang bijaksana dalam masa sekarang.

Dulu aku adalah matan hadits dan ayat suci Al-quran, yang menciptakan kesalahan dan kebenaran. Yang di luar diriku salah, aku lah yang benar. Semua yang aku baca, itulah kebenaran. Kalian semua harus sama. Waw goblok sekali aku dulu.

Pernah belajar, proses kreatif dengan memakai struktur yang ada dan yang telah dibakukan. Wah bukan proses kreatif juga itu[8]. Namun setelah ku bertemu “seseorang” di masa lalu, akhirnya terbebas juga dari semua itu. Kepalaku tak menamfik lagi, dan senantiasa melihat ke depan. Kuambil masa lalu, hanya sedikit, agar sekarang tidak sama dengan kemarin.

“Aku mempunyai sawah, nah sawah itu akan aku ratakan, tapi dengan pacul yang mana? Kan sawah harusnya menghasilkan padi. Namun, aku berfikir terus,,, yeaahhh terus berfikir, hingga apa yang di depan kita hilang. Hanya memikirkan saja terus, dan kepala menengok ke depan. huh cape dech. Aku baru tersadarkan bahwa jangan pernah berfikir bahwa dengan berfikir kita telah melakukan sesuatu. Dan apa yang kita ketahui, terkadang meniadakan kita. Masa lalu juga demikian”..

Maka Filsafat tertinggiku ialah “Tersenyum dan balas mereka dengan melupakan semuanya“.

_________________________________________________

1. Meditation (Rene Descartes). Kalkulus : geometri analitik dan Aljabar (Ian Egelthon), Hukum-hukum filsafat yang bersifat natural (Descartes), Analitis ekonomi dalam mematetis mekanik (S. Rahayu), The End Of Science (John Horgan), Being and Time (Heidegger).

2. Filsafat Modern : dari Machiavelli sampai Nietzsche (F. Budi Hardiman), Sari Sejarah Filsafat Barat (Harun Hadiwidjono), Pengantar Filsafat (Burhanuddin Salam), Pengantar Filsafat (Poesporerdjo).

3. The Wolrd Is representation and ide (Schopenhauer).

4. Plato (David Melling), 13 Tokoh Etika (Franz Magniz Suseno).

5. 50 Tokoh Filsuf Kontemporer, Einstein and religion, Einstein and His Violin, Einstein : relativity and The Madman.

6. Ethica Nechomandia.

7. Thus Spoke Zarathustra, Egoitism In german Phillosophy, The Dawn of day, The Anticrist, dll

8. Pidi BaiQ

About Falah

Keepsmile and .... and... and....
This entry was posted in Filsafat. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s