“Hiasan Mata yang Lain”

Manusia senantiasa mengamati sesuatu sesuai keadaan psikologis tertentu dan pengetahuan yang ada disekitarnya. Ketika manusia meneliti tentang sesuatu itu, sebenarnya ia sedang membuat alasan, penafsiran, dan penjelasan terhadap apa yang sebenarnya ia yakini. Secara tidak langsung, manusia itu sendiri sedang melakukan sebuah pemaksaan. Memang, kita tidak bisa melihat sesuatu itu sesuai sesuatu itu sendiri mau, tapi, manusia selalu mencoba untuk mengetahui. Adanya suatu yang dianggap benar, itu sebenarnya sebuah kepercayaan yang mesti dijelaskan ulang. Seperti halnya begini, ketika kita meneliti A, maka sebenarnya kita sedang mengamati bukan dari kebenaran A itu sendiri, tapi keadaan psikologislah yang sedang bermain. Sewaktu keadaan psikologis itu bermain, kita membuat penjelasan mengenai A (Apa yang diyakini).

Seperti contoh jika kita melihat karya filsuf besar abad Modern yang bernama Rene Descrtes dalam bukunya yang berjudul, “Discourse De La Method” itu meneliti kosmologi sesuai apa yang ia yakini. Lalu ia memberi sebuah penjelasan-penjelasan dan disepakati usai ia rumuskan pada beberapa yang dianggap ahli dan mumpuni di bidang itu.

Je serais bien aise de poursuivre, et de faire voir ici toute la chaîne des autres vérités que j’ai déduites de ces premières. Mais, à cause que, pour cet effet, il serait maintenant besoin que je  parlasse de plusieurs questions, qui sont en controverse entre les doctes, avec lesquels je ne désire point me brouiller, je crois qu’il sera mieux que je m’en abstienne, et que je dise seulement en général quelles elles sont, afin de laisser juger aux plus sages s’il serait utile que le public en fût plus particulièrement informé.

 Je suis toujours demeuré ferme en la résolution que j’avais prise, de ne supposer aucun autre principe que celui dont je viens de me servir pour démontrer l’existence de Dieu et de l’âme, et de ne recevoir aucune chose pour vraie, qui ne me semblât plus claire et plus certaine que n’avaient fait auparavant les démonstrations des géomètres.

Klaim dan kebenaran itu sendiri bukanlah suatu hal yang berbeda, tapi merupakan suatu yang utuh dan tetap menyatu antara satu dengan yang lainnya. Kembali ke pembahasan awal. Ketika kita meneliti A, kita tidak hanya berhadapan dengan keadaan psikologis dan pengetahuan yang ada disekitar kita, tetapi kita juga berhadapan dengan sebuah asumsi kita bahwa benda A tersebut berhubungan antara satu dengan yang lainnya. Pada hal tertentu, kita membahasakan kebenaran itu dalam sebuah teks (Teks atau Wacana : Meminjam bahasa Pak Bambang Q Annes), padahal makna eksistensial (Petanda) itu sendiri tidaklah sama dengan Makna Subtansial yang ada dalam A tersebut. Lagi-lagi kita melakukan sebuah pemaksaan dalam tektualisasi A tersebut. Mungkin tulisan ini juga sesuai apa yang dibahas di atas, Marilah kita tersenyum dan melupakan apa yang kita ketahui.

Nietzsche mengatakan, “Truth is the kind of error without which a certain aspecies life could not live. The value of life is ultimately desicive”, tapi bagi saya sendiri, “Hiasan Mata yang Lain”.

 

*Reflektif dari buku “Discourse De La Method” . jika ada kesamaan, jawabannya di atas.

About Falah

Keepsmile and .... and... and....
This entry was posted in Filsafat. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s