The Shvetashvatara Upanishad dalam Perspektif

Ketika aku membaca Bhagavad-Gita dan merenung tentang bagaimana Tuhan menciptakan alam semesta ini yang lainnya nampak begitu tidak bermakna. Kita berhutang banyak pada orang India yang mengajarkan kita bagaimana menghitung, tanpa itu penemuan yang bermanfaat ilmiah tidak mungkin dilakukan.”

~ Albert Einstein

Tulisan ini dibuat penulis tanpa aturan baku bahasa indonesia. Eyd bahasa indonesia bagi penulis hanyalah sebuah dogma-dogma yang tidak jauh mengekang seperti halnya pengetahuan-pengetahuan yang sudah melekat di otak manusia. Benar atau salah tidak bisa diberikan kepada seorang penafsir, tapi objek penelitian sangat terbuka luas untuk dimasuki beberapa perspektif lain jika memang pantas. Dalam tulisan ini, penulis akan seperti biasanya akan menggunakan deskriptif analisis dengan pendekatan komparasi dan aspek hermeunetis. Tentu saja penulis mengambil pandangan Jacques Derrida yang kiranya cukup relevan terhadap pembacaan berbagai text.

Tentang Shvetashatara Upanishad

Max Muller telah membersihkan kesalahpahaman berbagai kajian akademik tentang upanishad. Beliau menemukan cara bahwa ini merupakan Upanishad Modern dan itu merupakan Upanishad sektarian. Upanishad dari Sankhya, Bakti, dan sebagainya menyimpulkan bahwa “tidak ada alasan nyata yang pernah dibawa untuk membatalkan sebuah tradisi milik Taittriya atau Yajur Veda“, dan Muller menunjukan bahwa ini memiliki kedudukan tinggi diantara Upanishad dan pergeserannya sama dengan ajaran Vendata.

Membincang Jejak Metodologi

Nietzsche menyatakan, “There are no facts in themselves for a sense must always be projected into them before there can be facts”. Maka bagi Jeques Derrida, “Tidak ada kenyataan yang bukan merupakan tulisan yang menyajikan perbedaan”. Pada awalnya gramatologi ialah sebuah deklarasi kemenangan tulisan atas tuturan melalui pembalikan hierarki struktur dalam teks. Dengan kata lain, “Grammatology is a method of investigating the origin of language that enables our concepts of writing to become as comprehensive as our concepts of speech“. Dalam pembahasan Grammatologi terdapat Defferance. Pembahasan tentang Difference dibahas dalam sebuah “Deconstructions: a User’s Guide”  sebagai berikut :

Difference has the sense of difference (S) as well as delay and deferral (detainment, hold up, wait). It seems the word difference were a fusion of difference and the French verb differ which can mean to differ as well as to defer and delay. Derrida accepts the sussurean idea of language as a system of difference but extends the principal to its ultimate consequences. It there is only difference then meaning is only produced in the relation among signifiers not through the signified that is for instance the sign “cat” will have sense only by its difference “not cat”. But language and meanings do not work just that way. He says that the signified is endlessly deferred and delayed through the differential network. Delay in meaning takes, what Derrida calls escapement or spacing, in temporalization and specialization. The term has proven very useful in literary theory. In the idea of the textual productiveness delayed and ever-deferred resolution are used in many recent approaches to narrative and temporal structures in epic, romances and the novel.Difference is not ‘capable of being something, a force, a state or power in the world to which we could give all kinds of names. It is neither existence nor essence. It belongs to no category of being, present or absent. It is neither word nor a concept. The motto-non-motto is: Nothing can escape Difference“.

Difference adalah sebuah penekanan untuk memperjelas kesulitan menamakan yang pertama. Difference sendiri ialah syarat kemungkinan untuk timbulnya konsep dan kata. Derrida ingin menunjukan bahwa struktur penulisan serta gamatologinya memiliki posisi penting dari ada apa yang sebagai struktur “Presence to self“. Selain daripada itu, sebagai cara kerja dekontruksi yang ditunjukan pada struktur dalam teks tulisan itu sendiri. Bagi gramatologi, teks ialah suatu tanda yang berkontradiksi antara penanda dan petandanya, yang menghilangkan pusat teks melalui trace makna.

Ketika pusat tersecabut dari akarnya, maka yang terjadi ialah ketidakstabilan, yang nantinya akan menunjuk kebebasan dalam bahasa. kontradiksi antara penanda dan petanda bukanlah sebuah metode untuk menguasai antara satu dengan yang lainnya melalui Trace. Sehingga runtuhnya oposisi biner menempatkan teks menjadi polisemi dalam permainan ketidak tertangkapan makna secara diseminasi. Dalam beberapa referensi yang saya baca, Gramatologi merupakan sesuatu yang ada di payung dekontruksi. Oleh sebab itu, dekontruksi ala Derrida mempertanyakan segala sesuatu, dan tidak akan pernah selesai. Dalam tulisan ini memakai sebuah analisis untuk berbagai permasalahan bertitik tolak pada pendapat Nietzsche dalam The Will To Power. Pendapatmya berbunyi sebagai berikut :

“What is the truth? A mobile army of metaphors, metonymies, anthropomorphism in short, a sum human relations which, poetically and rhetoritrically intensified, became transposed and adorned, and which after long usage by a people seem fixed, canonical and binding on them. Truths are illusions which one has forgotten are illusions“.

St. Sunardi berpendapat bahwa Derrida dipengaruhi oleh Nietzsche. Konsef dekontruksi termuat berbagai interpretasi. Sri Rahayu Wilujeng dalam catatannya yang berjudul “The Meaning Of Truth in Friedrich Wilhelm Nietzsche ‘s Epistemology” menafsirkan bahwa setiap golongan mempunyai kriteria kebenaran masing-masing. Maka tidak dipungkiri bahwa kritik Nietzsche kepada Kant menyatakan kebenaran adalah sebuah putusan dibantah oleh Nietzsche bahwa kebenaran ialah kesalahan-kesalahan yang dibenarkan dalam suatu interpretasi dan persepsi. Lebih jauh lagi kebenaran ialah sebuah keyakikan. Jika kita yakin, maka itu benar dengan dasar rasionalitas yang disusun oleh mentalitas.

Prihal dekonstruksi yang terpengaruhi Nietzsche, Derrida tidak menyatakan definisi dekontruksi dalam sebuah buku Deconstructions: a User’s Guide” menyatakan sebagai berikut :

Each time that I say ‘deconstruction and X (regardless of the concept or the theme),’ this is the prelude to a very singular division that turns this X into, or rather makes appear in this X, an impossibility that becomes its proper and sole possibility, with the result that between the X as possible and the ‘same’ X as impossible, there is nothing but a relation of homonymy, a relation for which we have to provide an account (From Santanford Encyclopedia Of Philosopy).

Gramatologi sedikit dari beberapa hal, menjauhkan diri dari pertanyaan tentang esensi dari sebuah objek. Dalam beberapa buku persi indonesia, menjauhi hal yang berbau metafisika, atau meminjam bahasa Gayatri Chakravorty Spivak dalam essaynya yang berjudul “Linguistict and Grammatology” sebagai “Historico-Metaphysical” dalam bentuk sebuah pertanyaan “What is writting?”, dalam artian “Where and when does writing begin?” Di mana menjadi respon secara keseluruhan dengan cepat. Sebagaimana dalam karya Derrida, De La Grammatologie sebagai berikut :

“Moins qu’un autre, le grammatologue peut eviter de s’interroger sur l’essence de son objet sous la forme d’une question d’origine : veut dire Les reponses viennent en general tres vite”.

Pada penganalisaan The Shvetashvarata Upanishad ini memiliki keterbatasan yang sangat mendasar. Dimana penulis sendiri tidak mengetahui susunan gramatologi dari setiap katanya. Hanya mengetahui arti secara utuh dalam textnya sendiri.

The Shvetashvatara Upanishad

“Satyam Guanam, Anantam Brahma,

Ananda Rupam, Amritam Yad Vibhuti,

Shantam, Shivam Advaitam.” (Tait Up.)

“Shivam, shantam, Advaitam

Chaturtham, manyante,” (Ramatapini)

“Dhyayeteesanam, pradhyayedavyam,

Sarvamidam, Brahma Vishnu Rudrendrasthe,

Sarve Samprasuyante, Sarvanichendryanicha;

Sahabhutaih Nakaranam Karanam Dhata Dhyata

Karanantu Dhyeyah Sarvaiswarya Sampannah

Sarveswarah Sambhurakasa Madhye.

Siva eko Dhyayet: Sivankara, Sarvam

Anyat Parityaja (Atharva Sikha).

Pembacaan Dekonstruktif-perspektivis terhadap Shvetashvarata Upanishad

 

Text suci mengisahkan tentang penciptaan alam semesta. Alam semesta apakah yang dimaksud di sini? Jika berpijak pada teori relativitas Einstein bahwa implus kecil saja mengakibatkan alam semesta ini meluas dan mengerut. Perhitungan TR Einstein membawa pada sebuah kesimpulan bahwa alam semesta memiliki awal dan terus saja meluas sejak permulaannya. Titik penting yang diangkat di sini ada kelebihan radiasi yang tertinggal dari ledakan besar dan dapat dilacak. Pembuktian alam semesta meluas ketika bintang-bintang memancarkan cahaya geser merah yang berpacuk pada jarak mereka.

Spektrum cahaya yang bergerak meninggalkan titik pengamatan cendrung mendekati merah. Ini membuktikan bahwa benda-benda angkasa bergerak menjauhi Bumi. Pendapat para ilmuan kebanyakan menyatakan bahwa bintang dan galaksi tidak hanya bergerak menjauhi Bumi, tapi juga saling menjauhi antara satu dengan yang lainnya. Pergerakan benda-benda menunjukan bahwasannya alam semesta ini meluas. Pergeseran ini merupakan akibat efek doppler. Jika galaksi bergerak menjauhi antara satu dengan yang lainnya, maka gelombangnya akan tampak meregang dan bergeser merah, dan jika bintang itu mendekati Bumi, maka akan tampak menciut dan bergeser Biru.

Model alam semesta yang mengecil jika seseorang kembali ke masa lalu dan pada akhirnya mengerut dan konvergen pada satu titik. Artinya, pada suatu masa, semua benda alam semesta memadat dalam sebuah titik massa tunggal yang memiliki volume nol karena gaya gravitasinya sangat besar. Alam semesta menjadi ada sebagian hasil dari ledakan titik massa yang memiliki vol nol ini. Teori Big Bang menyatakan sesuatu memiliki volume nol berarti sama dengan menyatakan sesuatu itu tidak ada. Selanjutnya alam semesta ini memiliki awal.

Dalam kepercayaan Hindu, hari Brahma memiliki jangka hidup seumur alam semesta. Di beberapa reverensi tentang kajian saintis menyatakan bahwa alam semesta ada dan terbentuk dari 4.6 Miliyar Tahuan yang lalu. Agama Hindu menurut Carl Sagan menyatakan bahwa skala waktu sama dengan skala waktu kosmologi ilmiah modern. Siklusnya berjalan dari hari siang dan malam biasa kita ke suatu siang dan malam Brahma, 8.64 milyar tahun panjangnya. Lebih panjang dibanding usia Bumi atau Matahari dan sekitar separuh waktu sejak Dentuman Besar (Big Bang). Dan masih ada banyak skala waktu yang lebih panjang. Panjang gelombang cahaya galaxy dijelaskan dalam beberapa teori dalam fisika.

Pandangan Hindu menyatakan bahwa Tuhan Yang Mahaesa adalah Brahman, Dewa Wisnu adalah personifikasi Brahman tertinggi. Kāranodakaśāyi Vishnu : Wisnu yang berbaring dalam lautan penyebab dan Beliau menghembuskan banyak alam semesta. Lautan penyebab adalah energi eksternal Tuhan. Sesuai dengan teori fisika terkini dimana energi tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan. Jadi “pori-pori” Kāranodakaśāyi Visnu muncul Garbhodakaśāyī Visnu memunculkan sebuah alam semesta. Dari 1 “pori-pori” memunculkan 1 alam semesta yang terdiri dari jutaan galaksi. Garbhodakaśāyī Visnu dan Dewa Brahma ada di tiap-tiap alam semesta.

Benih-benih transendental (anti materi) Sankarsana muncul dari “pori-pori kulit” Maha Visnu dalam bentuk telur emas yang tak terhitung jumlahnya sambil maha-Visnu “berbaring” di lautan penyebab, semua telur tersebut tetap tertutupi oleh unsur material besar. Secara Ilmiah munculnya alam semesta dari “pori-pori Tuhan” dalam wujud Kāranodakaśāyi Visnu ini merupakan area tempat terjadinya perubahan dari Energi menjadi Materi, yang merupakan kebalikan dari Pralaya dimana materi berubah menjadi energi. Dalam kitab  Purana dan Upanisad  digambarkan bahwa alam semesta terbentuk secara bertahap dan berevolusi. Penciptaan alam semesta dalam kitab Upanisad diuraikan seperti laba-laba memintal benangnya tahap demi tahap.

Di dalam Yajur Weda III.6 menyatakan “Ayam gauh prsnir akramid,asadan mataram purah,pitaram caprayam svah”. Dari sloka tersebut terlihat bahwa selain berotasi, bumi juga berevolusi mengelilingi matahari, dari pernyataan ini sangat erat dengan teori heliosentris yang menyatakan bahwa pusat alam semesta adalah matahari. Dan diperjelas lagi oleh kitab Atharwa Weda mengenai pergerakan Bumi. Dalam kitab ini pun juga menjelaskan bahwa bagaimana bumi dapat bertahan di dalam angkasa raya karena gaya tarik-menarik yang lebih superior, ini dalam ilmu fisika telah dijelaskan oleh Newton melalui teori Gravitasi.

Pada Yujur Weda IX.3 menyatakan “Apam rasam udvayasam surye santam samahitam, apam rasasya yo rasah”. Penjelasannya di sini ialah intisari yang paling halus yang membentuk air ada di matahari. Matahari sesungguhnya adalah bola gas yang berpijar, dengan komponen utama gas hindrogen dan helium. Hidrogen (H2) dapat bereaksi dengan oksigen (O2) menghasilkan air (H2O). Reaksinya 2H2(g) + O2 (g)a à 2H2O(l). “Somena aditya balinah” ini memiliki maksud matahari menghasilkan energi dari soma. Di Matahari secara terus menerus terjadi reaksi fusi  inti-inti atom hidrogen menjadi inti atom helium. Reaksi tersebut disertai dengan pelepasan energi yang sangat besar.

Dewa Wishnu menyelaraskan partikel dirinya dan disesuaikan dengan energi matahari atau helium. Bahma memiliki wewenang untuk mengurusi alam semesta. Setiap galaxy ditempati dan diurus oleh Brahma. Nah, disinilah slogan Albert Einstein bisa terpecahkan bahwa, “Jangan salahkan gravitasi jika manusia jatuh cinta”. Namun, Einstein sendiri mengakui bahwa kesalahan terbesar dalam hidupnya ialah menetapkan konstanta kosmologis.

Tulisan ini amatlah dangkal sekali dari apa yang penulis ketahui. Jika suatu saat ada kesempatan untuk menuliskan kembali, maka penulis akan menghitung secara matematik-kosmologis untuk menggambarkan semua hal yang terjadi, walau kebanyakan ketidakmampuan seseorang memahami, berfatwa bahwa itu semua adalah pemaksaan. Tidak menjadi alasan bagi penulis, karena satu tulisan akan membentuk dirinya sendiri. Tidak ada celah bagi penulis untuk menutupi ketidakbecusan yang berlarut.

About Falah

Keepsmile and .... and... and....
Aside | This entry was posted in Sains. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s