Refleksi terhadap “Nur wer die Sehnsucht kennt”

Puisi ini saya dapatkan dari sebuah buku lama yang dibawa teman. Yah, kumpulan-kumpulan puisi Goethe. Saya memaknai puisi ini dengan sosok yang telah melekat dengan diri saya sendiri di bidang lain. Tak heran dan tak asing lagi jika saya menggunakan pembacaan dekonstruktif terhadap puisi ini yang berjudul “Nur wer die sehnsucht kennt” karya Geothe. Sambil mengingat menjadi seorang mahasiswa, marilah berbagi bacaan lama untuk setiap zaman.

Qu’est-ce que la déconstruction? atau kalau dalam bahasa indonesianya, “Apa itu dekonstruksi? Dalam beberapa literatur yang menjelaskan tentang ini ada sebuah penjelasan yang saya senangi. Penjelasan itu ialah :

  1. la déconstruction, a-t-il dit, c’est Plus d’une langue. En laissant en elle une figure auto-interprétativedéployer sa nécessité, sans se soumettre à quelque méta-discours que ce soit, elle s’apparenterait à une sorte de traduction des héritages parvenus jusqu’à nous.
  2. traduction aussi nécessaire qu’impossible. A sa façon unique et idiomatique, elle ferait survivre plus d’une voix.
  3. puis est venu cet autre aphorisme, pas moins énigmatique : La déconstruction est la justice. L’un comme l’autre s’impose performativement, comme la loi. Une force fondatrice, un acte de foi qui opère au bord du langage, dont le fondement n’est pas rationnel mais mystique, introduit une tension entre une justice qu’on ne peut “adresser” qu’indirectement, de manière oblique (l’expérience de l’impossible) et un système du droit (le possible). Si l’on prend au sérieux la justice, elle franchit toutes les limites : adulte/enfant, homme/femme, humain/animal, etc… Elle affectetoutes les partitions qui instituent le sujet humain.

Dekonstruksi ialah sebuah istilah yang digunakan untuk menggambarkan sebuah “metode”. Istilah yang digunakan oleh Derrida memiliki makna eksklusif. Dimana ini merupakan sebuah penghancuran atau pembangunan. So, istilah dekonstruktif ini tidak terdengar intuitif dalam makna kerusakan, keterpisahan, dan pengurangan beberapa kontruksi. Dalam literatur lain menerangkan bahwa dekonstruksi sebenarnya sebuah istilah ketidakmungkinan mendirikan “kesempurnaan Makna” dan struktur “Ideal”. Derrida tidak menunjukkan sejumlah sebutan untuk “de-sedimentasi” dalam sebuah rombakan makna. Selain daripada itu, dekonstruksi juga membangun kembali sebuah kondisi-kondisi pada sebuah teks. Jika makna tersebut dihancurkan, maka posisi penafsir harus memahami sebuah “ensemble” dalam tatanan dekonstruksi dibentuk. Setelah itu, barulah si penafsir menata ulang kembali makna untuk sebuah tujuan. Referensi lain yang menjelaskan Istilah “Arche-Writing” bagi Derrida ialah dimana tanda, penafsiran, makna dari segala jenis, tindakan, dan pengalaman itu sebuah fenomena. Derrida menganggap bahwa bahasa ialah sebuah fenomena. So, bagi Derrida, penulis yang merupakan predikat esensial bukanlah sebuah penomena. Maka dalam pembacaan Dekonstruktif, si penafsir selalu melibatkan dan melihat teks yang berbeda. Secara kokoh kata yang memiliki makna, merupakan metafora satu yang bersinggungan dengan metafora yang lain.

Puisi Geothe : “Nur wer die Sehnsucht kennt”.

Nur wer die Sehnsucht kennt, 

Weiß, was ich leide! 

Allein und abgetrennt 

Von aller Freude,

Seh´ ich ans Firmament 

Nach jener Seite. 

Ach! der mich liebt und kennt, 

Ist in der Weite. 

Es schwindelt mir, es brennt Mein Eingeweide. 

Nur wer die Sehnsucht kennt, 

Weiß, was ich leide!

Menjadi manusia dapat melaksanakan perbuatan baik, buruk, berbesar hati, egois, rindu, dan cinta. Manusia tidak dapat lari dari kenyataan hidup yang penuh dengan perjuangan membangun cinta kasih dalam diri di tengah-tengan masyarakat. Membina cinta kepada manusia dan Tuhan sering lenyap dihanyutkan berbagai kepentingan. Kesenangan hati dan penderitaan membatasi kesadaran. Bukan sesuatu yang harus dipertanggungjawabkan yang harus manusia hadapi, atau harus mengejar keinginan lain yang saling berganti-ganti. Selain keinginan, ada sebuah penderitaan yang dimulai dari diri sendiri dan berdampak pada orang lain. Penderitaan dan kesukaran hidup yang dialami manusia memiliki dimensi yang luas. ” Penderitaan dipandang sebagai penderitaan, maka ” penderitaan ” akan tetap sebagai penderitaan. Kalau ” Penderitaan dipandang sebagai ” karunia ” Tuhan dan ” ujian ” bagi perjalanan hidup kita, maka penderitaan itu akan merupakan proses penguatan, peningkatan dan penyucian diri bagi manusia dalam pendakian spiritual menuju Brahman. Penderitaan harus dipandang sebagai proses kristalisasi jiwa menuju penglihatan di dalam diri. Penglihatan ke dalam diri akan membawa kemurnian jiwa tanpa selubung kegelapan hawa nafsu yang menggelora. Hanya jiwa yang murni akan dapat menjangkau kesucian Tuhan. Nietzsche mengatakan dalam karyanya “ So sprich und stammle: “Das ist mein Gutes,das liebe ich, so gefällt es mir ganz, so alleinwill ich das Gute. Nicht will ich es als eines Gottes Gesetz, nichtwill ich es als eine Menschen-Satzung und -Nothdurft: kein Wegweiser sei es mir für Über-Erden und Paradiese. Eine irdische Tugend ist es, die ich liebe: wenigKlugheit ist darin und am wenigsten dieVernunft Aller“.

Tidak hanya menemukan benih-benih kebaikan di dalam diri manusia sendiri, tetapi juga benih-benih keburukan. Manusia akan berhasil menemukan Kebenaran, tetapi juga kepalsuan, Cinta-kasih dan Kelembutan, juga kebencian dan kekerasan. Maka, ia melakukan jihad besar, jihad melawan napsu sendiri. Manusia sendiri akan merubah seperti yang diinginkan di dunia ini. Perubahan terhadap nilai-nilai transendental dimulai dari diri sendiri. Tanpa mengharapkan perubahan di luar diri sendiri. Tidak ada penundaan untuk perubahan itu hingga dunia berubah dengan sendirinya. The World is changed, only you are not. Maka di sini sering kali manusia menciptakan pertentangan antara dirinya dengan dunia ini.

About Falah

Keepsmile and .... and... and....
Aside | This entry was posted in Filsafat. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s