Sills-Maria Menangis

Tak disadari dan tak sangka, seorang pemuda yang diputuskan oleh takdir bersemayan di kasta Brahmana menjadi seorang guru. Suatu ketika pemuda itu turun dari Nirwana demi memanusiakan manusia. Ia dipanggil seseorang dari cahaya temaran, yang mana ilalang berdendang di bawah kuasa kunang-kunang. Tabiat malam kala itu menguliti semua munajat di Mecha-Imajinations. Demi hari tak terasa bagi pemuda itu, tuk mengamini kehidupannya. Walau masa depan di belakangnya, dan mala lalu di depannya. Seperti halnya lantunan Dream Teather dalam syair The Spirit Carries On yang mengkhotbah manusia memiliki kepribadian ganda.

Kegilaan apa yang pemuda itu alami, “kisah seribu satu siang dan malam” digambar Naguib Mahfouz tak lain serpihan dari kehidupannya sendiri. Melalui beberapa kelucuan Abu Nawas ia dihampiri oleh Zarathustra. Manusia Ideal bagi kaum Zorowaster berkata pada pemuda itu,

“Hai Vladimir, putra buruh siapakah dirimu?”

“Wahai Sang Bijak, siapalah diriku tidaklah penting, terlahir dari sebuah kasta ialah keputusan takdir. Namun, pengetahuan dan kemasyhuran kugamai karena kemampuanku”.

“Bagaimana jika suatu siang atau malam dating setan menyelinap dalam kesunyianmu yang terdalam dan berbisik padamu : Hidup yang sedang dan yang telah kau jalani ini harus kau jalani lagi sampai waktu yang tak terbatas, dan tidak aka nada sesuatu yang baru dalam hidup ini, melainkan setiap lara dan gembira, setiap gagasan dan pandangn, apapun yang paling sederhana dan hebat dalam hidupmu pasti kan kembali lagi padamu. Segalanya dalam urutan-urutan yang sama. Bahkan laba-laba dan cahaya surya di antara pepohonan ini, dan bahkan saat sekarang ini dan diriku sendiri pun kan kembali jua. Abadi dari hidup kembali lagi dan lagi, serta kau bersamanya lagi, bersama tiang keping dari debu ini. Tidakkah kau akan merebahkan dirimu, mengeratkan gigimu, dan melaknati setan yang berbisik seperti itu? Ataukah kau mengalami saat yang hebat andaikan kau bias menjawab pada setan itu : kau benar-benar “Tuhan” dan tak pernah aku mendengarkan suatu yang lebih ilahi daripada yang kau bisikan”. Seandainya pikiran ini menguasaimu, itu akan mengubahmu sebagaimana kau sekarang, atau barangkali menghancurkanmu”.

“Bentuk dari sebuah meditasi tidak hanya dalam perenungan dan kefanaan dalam sebuah pertapaan. Jika semua itu terjadi padaku, diriku kan contohi Dewa Syssipus yang telah didarmakan oleh Albert Camus. Halnya Vasudev Krishna mengajariku tentang seorang pendaki gunung”.

Serentak Zarathustra tercengang dengan ungkapan Vladimir. Waktu terdiam dan bermain petak umpet bersama Bhatarayama ketika kebisuan Zarathustra diketahui tangkai pohon lotus. Vladimir jauhi Zarathustra dan berkata sambil memalingkan muka, “Sudahkah kau tahu bahwa tuhanmu telah mati?”.

Vladimir berfikir jika setangkai mawar tumbuh di Sills-Maria, sebenarnya mawar tidaklah tetap, tapi menuju kegugurannya sendiri. Mawar indah di ketika waktu surya takkan kuliti kemerahannya. Itulah keabadian yang Vladimir yakini. Ia berlangkah kaki di jalan yang sama, dan di peristirahatan dedaun gugur jua. Ia menuju sungai Veidra. Di mana permunajatan hening kan dimulai.

Vladimir melemparkan batu ke sungai, cluk… kedua kalinya ia lemparkan kembali… cluk….. Tersadarilah bahwa wakau di titik dan arus sama, sebenarnya ia melempar hal yang berbeda. Kejadiannya mengajari bahwa jika semua orang mengetahui semua hal mengenai keindahan Mawar, semua telah diketahui orang sebelumnya yang terwariskan kepada generasi berikutnya. Padahal semesta dan mawar tersebut berubah detik demi detik. Ia berhasil memanusiakan dirinya sendiri melalui bersua dengan Zarathustra. Vladimir tak jadi melakukan permunajatan. Ia pergi menuju Sills-Maria.

Sills-Maria ialah sebuah kebun bunga. Di sana beragam bunga berwarna menjadi keindahan di setiap detiknya. Dengan angina sepoi-sepoi dan kicauan kenari merupakan keberbauran semua makhluk. Vladimir mengajari semua makhluk di sana. Ia mengajari mereka bagaimana cara menerima kenyataan dan mengamini takdir. Ajaran terakhirnya kepada mereka ialah, “Di Dunia ini tidak ada takdir, melainkan apa yang kita perbuat”.

Vladimir menuliskan dalam sebuah kertas, “Apa-apa yang kukatakan dan kuajarkan bukan untuk hari ini, melainkan tuk seratus tahun ke depan. Dunia ini menjadi diam karena pemikiran manusia. Pembelajaran ini kan terus terulah sampai Dunia ini benar-benar tidur”. Vladimir meminum racun tuk menentukan takdirnya sendiri.

Seraya dengan itu, bunga-bunga berguguran, burung-burung merontokkan bulunya, dan air merintiki tubuh Vladimir di bawah naungan pelangi. Awan menghitam, langit bergumam, dan gugur dedaun menutupi tubuh Vladimir. Jiwa Vladimir menyatu dengan murid-muridnya, dan suatu saat nanti, mawar, rose, teratai, anggrek dan lainnya akan kembali indah suatu saat bersama jiwa baru Vladimir dalam diri setiap bunga.

About Falah

Keepsmile and .... and... and....
Aside | This entry was posted in Sastra. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s