26/12/2014

Falah berkicau di Socmed Facebook dengan kakak-kakaknya waktu itu. Hujan yang padamkan semua aktivitas setiap orang, jadikan sebuah kemalasan. Handphone Falah bergetar pada waktu itu, toot tengtong. Falah membaca whatsapp, “Hai, asalamualaikum. Falah ini saya Vera. Senang jika anda menemui saya malam ini di café pinggir jalan”. Ia menerima ajakan Vera, dan berpamitan di facebook.

Adzan berkumandang, Si Kecil Falah bergegas ke Mesjid. Fikirannya waktu itu agak terganggu dengan ajakan Vera. Sebenarnya Falah tidak biasa bertemu dengan seorang wanita, tapi asa tidak mengerti yang melangkahkan kakinya. Seusai salat, ia berdoa kepada Sang Pencipta, “Hai Sang Pencipta, pujiku hanya untukmu. Kau ialah raja semesta ini. Semua kau atur demikian indahnya dengan sebuah alasan-alasan yang kadang kusulit fahami. Jika langkahku ialah sebuah kebaikan, maka semua itu ialah kebaikanmu dan ini ialah langkahmu untuk mempertemukan aku dan tulang rusukku yang telah dipisahkan. Wahai Sang Pencipta, atas semua fana manusiawi yang tak luput, lindungilah dua cahaya ini dalam pertemuan pertemanya, Amiiin ya rabbal alamin“.

Falah bergegas dengan ganti baju dan keluar kontrakan. Di perjalanan ia sebenarnya memikirkan satu hal. Ya, entah itu apa yang menjadikan sebuah ganjalan pada dirinya, tapi ia tidak menghiraukannya. Lima menit dalam perjalanan, maka sampailah di tempat tujuan. Si kecil Falah itu menunggu. Karena kesal menunggu, ia membuka FBnya dan kembali curhat ketawa-ketawa, padahal tidak disadari curhatannya itu dilihat oleh banyak orang. Kiranya itu ialah sebuah pesan. Lah lah rempong dah ah ah ah…..!!!

Akhirnya Vera datang juga, ia memakai gaun orange, jaket hitam, rok yang melambai, dan keseksian bibirnya serta tatapan sinisnya menjadikan pertemuan itu pobia bagi Si Kecil Falah. Falah terdiam sekedar untuk usil ngerjain Vera, tapi dengan segera Vera mendekati Falah, “Hai Falah, apa kabar? Senang bisa berjumpa denganmu di café ini”. Si Falah kaget tertatih-tatih dengan sapaan Vera. “Sudahlah Falah, jangan difikirkan. Sejak lama kau jadikan dirimu sebagai pertanyaan-pertanyaan yang entah apa dan mengapa. Sekarang biarlah aku yang menjadi sebuah pertanyaan bagimu sendiri. Oh ia, kamu mengagumi bibirku ya Falah? Ayo ngaku,,,, (tersenyum) tadi sempat terlihat di fikiran lhoo Falah“.

Dengan sedikit beberapa obrolan pembuka, mereka pergi ke café yang dibicarakan tadi. “Ayo naik Ver” Ajakan Falah. Vera akhirnya naik, dan perjalanan dimulai. Tangannya memeluk badan Falah, dan kepada Vera bersandar pada Falah.

“Ver, ini haram menurut agama lhoo”

“Haram atau tidak, ini merupakan bentuk akraban Falah”

“wa laa taqrabuu zina kan Ver?”

“Jika kita memiliki hasrat, barulah waspada. Bukankan Hijab kita ialah fikiran?”

“Yah, payah kalah terus aku”

“Kalah atau menang tidak penting Falah. Hal terpenting ialah kebaikanmu”

“Lah kenapa ke sono?”

“Kadang pengetahuan tidak memberikan sebuah kebaikan, hanya egoisitas”

“Itulah mengapa, mungkin bayang-bayang Imaji, Agama dan Tuhan membekas kuat”

“Bukan imajinasi diri Falah?” (sambil mencubit pipi si kecil Falah)

“Bebaslah Ver”

“Ini kayak Free Will……… Hahahaha”

“Cielah yang Gegana… hahahaha”

“Apa sih” (Sambil nyubit tangan)

Sesampai di sebuah café, mereka memilih tempat duduk yang kondusif untuk sebuah obrolan. Lantai teraatas mereka pilih dengan sebuah posisi pinggir. Jalan kelihatan dan pemandangan pegunungan.

“Vera, dalam diamku sebenarnya aku mengamati dirimu. Kau mampu ketahui itu”

“Ya sudah aku fahami, kau mau bilang aku punya indra keenam, mata ketiga, Adjian rasa tunggal kan?”

“Demikian adanya, sungguh bahagia kubisa kenal denganmu Vera”

“Terima kasih, Trilogi Metafisika : Ajaran Dharma tertinggi Krishna itu sungguh aku banget. Itu terjadi padaku pada umur 18 Tahun”

“Yah, yang sudah, tetaplah sudah. Biar dia akan menjadi kenangan dengan nyaman”

“Falah, suasana begini enaknya sih sedikit bintang, anginnya gimana gitu, terus ada bulan di sono”

Ketika mereka mengobrol, ada dua pasangan di pinggirnya, “Hei kak, sini! Kita ngobrol barengan, dan Falah mau minta tolong“. Mereka berdua menghampiri Falah dan duduk di antara Vera. “Ini kakak ini, pengen suasananya ada bintang, angin sepoy-sepoy, dan ada Bulan mungkin ga?” Mereka tertawa dan Vera sedikit kesal dengan sikap Falah yang dianggap mempermalu dirinya. “Cukup tertawanya, tolong ikutin aba-aba saya. Kalian bertiga merem ya?” kata Falah. Entah Falah melakukan apa, tapi dengan waktu agak lama, mereka diperkenankan kembali membuka matanya. Mereka bertiga bengong, seperti kesetanan. Tak lama dari itu, mereka pun diperkenankan kembali ke meja mereka.

“Falah, ini yang dimaksud olehmu Krishna yang telah membayangi Tuhan?”

“Iyalah demikian, tapi maksudnya bukan Tuhan yang Mahaesa kan? Matakan banyak kata di sana, Sang Pencipta dan lain sebagainya”.

“Inikah Falah yang disebut alam imaji?”

“Iyalah, ini hadiah buat kamu Ver. Kan Falah udah janji”

“Lalu mereka nanti bagaimana Falah?”

“Mereka akan biasa lagi jika mereka ingin pulang Ver”

“Oh, Falaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah, It’s Impossible”

“It’d made only for u by me :p :p :p :p. Vera aku tidak bisa memberikan seperti yang orang lain berikan ke kamu dalam bentuk apapun, kan Falah anak kusir kereta, tapi dengan amanat allah swt di Falah, Walau tanpa uang, Falah bisa buat kamu bahagia, hahahahaha….”

Vera kagum dengan aktrasi itu, entahlah manusia macam apa yang diciptakan, tapi kebaikannya jadikan Falah ada selalu di benak Vera. Namun, Falah sudah tidak bisa lagi berbicara. Ia seperti orang yang mati kutu, diam dalam seribu Bahasa. Sosok Rukmini ditampilkan Vera. Ia langsung membuka mata ketiganya, dan menerobos semua hati dan fikiran Falah.

Setelah makanan habis masing-masing tiga menu, “Falah, ayo kita pulang, antarkan saya ke rumah dan mengobrollah kamu dengan orang tua Vera”. Falah shock mendengar ajakan Vera. Tapi, si Falah mau aja nerima ajakannya.

“Falah ini uangnya, bayarin sama Falah ya?”

“Yes kamu tertipu. Aku sudah ngerti bagaimana membayangin kamu, Ver”

“Maksudnya?”

“Kamu ngasih uang kan karena liat Falah ga bawa uang sedikitpun ya?”

“Iya”

“hahahaha….. hitung di tasmu Ver, berapa?”

“Ada 3,7jt Falah”

“Tunggu”

Falah menelepon sodaranya di kontrakan, “Om, itu di buku Masa Depan Tuhan ada uang Falah ya Om?” Tanya Falah, “Iya” jawab Omnya. Falah menyuruh menyimpannya di sajadah tempat Falah salat. Tak lama kemudian, “Ver, coba liat tas kamu sekarang” Falah kembali berbicara kepada sodaranya, “Om uangnya udah Falah ambil, coba liat ga ada kan?” Om kaget, “Ini uang kok bisa gini?” Tanya om. Biarlah nanti Falah akan jelasin.

“Ver bertambah kan uangnya?”

“Iya falah, jadi 7,7jt”

“Nah sebelum kita pulang ke rumah, kita belanja dulu buat mama sama papa ya di rumah”

“Falah…. Falah…..”

Mereka pergi dari café dan. Falah mengembalikan imajinasi dan ilusinya dalam semula. Di perjalanan ….

“Falah ini ujan lhoo”

“Ah santai aja, kemungkinan nanti pas sampe rumah kamu ujan bakal besar Ver. Falah bakalan nginep di rumah kamu”

“Ah kayak Tuhan aja kamu Falah”

“Emang di Tuhan ada kemungkinan dan prediksi. Enggak kelees”

“Kamu menarik, lucu, dan ngegemesin”

“Ada lhoo satu lagi”

“Apa Falah?”

“Ngangenin aku maaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaakh”

“Aduh kamu Geernya minta ampun”

“PD boleh lhooo”

“Iya”

Mereka menikmati keadaan, sampai kecepatan kendaraan mereka pelankan, seperti mengamalkan waktu abadi menurut Einstein.

“Falah”

“Op over?

“Kue Seneng?”

“Karepmu?”

“yee dwe kan nonyo”

“Iyo dwe seneng”

“Hahahaha…. Sama Falah, Vera juga seneng banget bisa kenal sama Falah. Walaupun berawal dari sebuah tulisan-tulisanmu di web, wordpress, kompasiana, dan jurnal-jurnal di Oxford University. Sampai ketika Vera berkunjung ke Sorbonne, tulisan Falah nyangkut di sana membicarakan sastra perspektif Jacques Derrida”

“Itu kebetulan saja Ver bisa nyangkut ke sono. Hahahaha”

“Ih geje anak si anak Kusir Kereta”.

“Oh iya Falah anak kusir kereta”

“Yah, aku mengerti, halnya Krishna dan Arjuna, yang Falah maksud dengan Anak Kusir Kereta ialah alm ayah Falah ditempatkan sebagai Krishna yang membawa Arjuna pada jalan kebajikan. Kan Pandawa lambing kebajikan yang dipahlawani Arjuna, sedangkan Krishna ialah bentuk kemuliaan, kebenaran, kebaikan, dan kesucian. Penggambaran Krishna selanjutnya ialah ketika halnya Falah harus membimbing keluarga halnya kusir itu. Masih beruntungkah Falah jika seseorang memiliki pemikiran sepertimu dan bersedia menjadi istri setiamu suatu saat nanti”.

“Hahaha…. Jangan berbicara masalah jodoh, mungkin ini munajat Falah kepada Sang Mahakuasa”

“Ini juga sebagai gambaran ke sana kan Falah? Kusir kereta”

“Mungkin demikian adanya Ver”

“Andai kau bersedia menjadi Kusir keretaku Falah, yang mengarahkan fikiran, hati, prilaku, angan-angan, kesalehan, kebaikan, keburusan, kemungkaran, waktu, dan apapun yang kulakui, niscaya senanglah aku, Falah. Namun, terkadang kau mengukur diri dengan apa yang ada di rumah, kesederhanaan sering kau jadikan barometer untuk ketidakpantasan diri untuk menikah dengan orang yang lebih darimu secara material”

“Setidaknya kau mengerti, Takdir tetaplah takdir Ver”

“Jika Takdir berbicara, maka Sang Penakdir akan menjadikan semuanya nyata”

“Falah, terkadang manusia ingin murni bebas dari apapun, tapi mereka sendiri diperbudak oleh kehendak untuk bebas dari pengetahuan. Hingga dampak dirinya hanya pengetahuan dari pengelaman mereka yang lebih penting. Sisi lain mereka munafik untuk mengakui bahwa sebenarnya mereka mengetahui dari hal di luar dirinya sendiri. Itu ialah pengalaman mereka yang berelasi bukan?”

“Biarlah Ver, jangan membahas ini itu. Cukup perasaan kita yang dibicarakan”

“Yah, karena kau selalu memikirkan dia Falah”

“Itu hak aku untuk selalu ingat pada kakaknya”

“Tapi dia diam Falah”

“Mau anggap atau tidak, adik selalu mendoakan hal terbaik buatnya”

“Itulah yang kusenangi dalam dirimu. Ibarat daun pisang yang dipakai payung oleh pengembala, ketika sampai ditujuan, daun itu dibuang. Bahkan sesudah kering dibakar. Tapi, kau malah membuat itu sebuah hal yang wajar manusiawi, dan ingin selalu berteman baik”

“Vera, aku hanya ingin membuat buah kebaikanku saja selama hidup dari masa ke masa”

“Terpujilah Sang Khaliq atas semua kasih dan Sayang-Nya. Inilah pengetahuan tertinggi tentang dirimu Falah. Seperti Arjuna yang selalu tepat ketika memanah. Sang Kusir selalu kau jadikan ukuran untuk melakukan sesuatu”

“Vera, Falah mau bertanya boleh?”

“Dengan senang hati Falah”

“Jika kau menjadi Ibu dari anak-anakku suatu saat nanti dan fikiran murnimu hilang dan pengetahuan falah yang melekat, apa yang Vera akan lakukan?”

“Jika pengetahuan itu baik dan mulia, taka pa kemurnian Vera hilang. Karena manusia diam di pengetahuan berbeda. Sedangkan semua pengetahuan itu dari Sang Mahatahu. Bukankah semua akan berelasi Falah? Memikirkan kehidupan Akhirat sama halnya paripurna dalam sebuah pertanggungjawaban Falah. Hidup ini harus ditanami kebaikan, dan pasti imamku ialah hidupku. Berharap kau menjadi seorang kusir seperti alm ayahmu Falah”

“Sang Mahapencipta sedang melakukan sebuah rencana Vera”

“Falah, kau suatu saat nanti Surga atau Nerakaku Falah”

Hujan menyambut anak kusir ketera, disertai angina besar di Rumah Vera. Untunya mereka tidak kena marah hujan karena berlama-lama di perjalanan. “Tok tok tok tok tok….. asalamualaikum… Umi, Vera pulang” Selang waktu tersebut, ibunya membukakan pintu.

“Waalaikumsalam, Eh ini pulangnya sama Falah toh. Sini masuk nak”

“Umi ini Falah yang Vera selalu ceritain ke Umi. Vera baru bisa bawa dia sekarang. Ga pernah dijawab kalau telepon, dibbm, de el el. Somse orangnya Umi”

“Ah ini anaknya sih suka membaca. Kalau lagi baca dia tak inget apa-apa”

“Hahahaha….. kok ibu bisa tahu Falah?”

“Ah rahasia perusahaan nak, hehehe….”

“Tunggu Falah, Vera sediain susu dan tumis cumi buat kamu. Itu kesukaan kamu kan?”

Falah dilanda kebingungan. Apa yang dia lakukan sehari-hari bisa diketahui keluarga Vera. “Udah Falah jangan bingung gitu. Ketika Vera ngomong suka Falah. Ibu langsung liat Falah itu orangnya bagaimana, cita-cita, dan bacaan bukunya apa. Alhamdulillah Falah, izin Allah swt“. Buat Si Kecil Falah, hari itu ialah sebuah kebingungan. Vera di dapur sedang mempersiapkan makanan kesukaan si Kecil.

“Falah, bagaimana Tafsir itu. Coba jelasin!”

“Falah ga bisa umi”

“Lah bukankah Falah bukan tipikal pembohong? Apalagi suda berjanji”

“Ya Umi, Falah malu”

“Yee jangan gitu, kabar Falah sampai lo ke sini”

“Yah, jangan bu, Falah malu ah”

“Jangan malu Falah. Oke, ibu ngerti sifat kamu. Ditinggal dulu mau salat isya”

Vera selesai memasak dan masuk ke kamarnya, “hayo Falah, sini ga apa-apa. Aku mau nunjukin sesuatu” Dengan rasa malu Falah memasuki kamar Vera. Masuk ia ke dalam lalu kaget dengan keadaan kamarnya.

“Ini semua milikmu Ver?”

“Sampai tidur pun kamu ditikari pengetahuan”

“Yah ada-ada aja Falah ini tuh. Ini ada 73 bidang pengetahuan. Khusus buat karya-karyamu Vera pisahin”

“Oh ini ada semua ya?”

“Iya Falah, aku kagumi kamu lewat karya-karyamu Falah. Anak kusir Kereta, hehehe”

“Hahahaha…… dikau … dikau”

“Falah aku mau share masalah trilogi metafisika itu yang Falah buat”

“Silahkan” (Falah sambil memakan tumis cumi)

“Falah, jika kisah pelacur dan Sufi tersebut menjadi patokan dalam hidup? Apakah ada kisah linear dari kebaikan?”

“Jelaslah Sayidina Utsman sama Abu Jahal”

“Oh iya ya Fal”

“Lah bagaimana orang bisa menuju kebahagiaan jika ketidakmungkinan terus ada?”

“Yakin berdasarkan Kitab Suci yang dicontohkan Nabi Muhammad, serta berdoa pada Sang Pencipta. Kan dalam kemewaktuan semua doa sudah”

“Falah jika Sang Pencipta mengetahui apa yang ada dalam hatiku, mengapa kuharus bermunajat”

“Lah kamu juga pengen ketemu Falah BBM falah kan?”

“Oh iya ya”

“Jika kamu merindukan aku suatu saat nanti, ada kan mengantarkan rindumu?”

“Iya Falah. Sederhana sekali penjelasanmu”

“Setidaknya kamu punya keyakinan didasarkan pada kitab suci, dan ditopang berdasarkan pengetahuan. Jika pengetahuan menyiksa dirimu, apakah pengetahuan yang gagal untuk memanusiakan manusia, atau kamu sendiri yang bermasalah? Toh yang mensistematisasi pengetahuan diciptakan untuk mendamaikan Dunia ini”

“Falah, kamu suka lagu goyang dumang ya? Dream Teather kagak relevan buat sekarang”

“Iya bener banget. Ayolah nyalain HPnya sambil diskusi enak kayaknya”

“Falah jika amal lalu baik berdasarkan pada teks suci, bagaimana supaya kita tidak membatalkan di kemudian hari?”

“Yah menuruti kata Plato aja, konsefnya menyoal kesetiaan”

“Halaaaah si Falah. Kamu bakalan setia ga nanti kalau jadi suamiku?”

“Yah kenapa jadi gini sih?”

“Lah kan dalam trilogi Krishna harus berserah pada takdir lho jangan lupa”

“Edaaaan, emangnya lu panitia Takdir?”

“Memang panitia bagi takdirku sendiri”

“Hahahaha ada-ada aja”

“Soal kegelisahan, mungkin aku memaksakan saja terhadap apa yang aku anggap benar sih Falah, dan kamu orang kelima dalam hidup aku”

“Yeh lebay gini, habis Ver kamu obatnya?”

“Kan kamu Falah Obatnya”

“Ah kamu Falah jadi takut, jadi pengen pipis”

“Falah bener hujan ini, kamu nginep di sini aja”

“Yah ngarep kamu”

“Kita diskusi sampe jam 03.00”

“Edan lu peyang, PA banget”

“Falah, Falaaaaaaaaaaaaaaah…. Mengapa manusia akhirnya harus berharap?”

“Karena dia menilai dalam kehidupannya. Itulah”

“Apa semua harapannya akan terlaksana”

“Tidak ada kegagalan yang tertunda, hanya buang-buang waktu saja”

“Terus apa kegagalan?”

“Ketika kita tidak bisa mengolah perasaan kita”

“Semua ada hikmah kan?”

“Iya hikmah yang dimakanis, hasil ialah kualitas diri dalam kehidupan”

“Kenapa kamu gambarkan aku dengan Gesa?”

“Karena kamu kan Gesekan Sanubari”

“Hahaha… Falah akhirnya jujur juga”

“EH…”

“Falah mengapa dalam puasa, kita lupa malah makan, eh harus dilanjut puasa dan kita mengqadanya kembali, itu dalam kitab Fathul Muin dan Kasifati Suja”

“Karena semua harus ditahan kan? Dari apapun dan kita harus menjaganya”

“Lah bener ya, kenapa aku ga bisa kefikir sampai sana?”

“Lah kamu kerjanya mikirin aku terus sih”

“Hahahaha kok Falah tau?”

“Dari tadi aku lagi baca fikiran kamu”

“Eh Falah bisa juga nerawang sama kayak aku Falaaaaaaaaaaaaaaaaaaah”

“Edan, kirain kamu sadar aku ngasih ilusi”

“PA kamu Falah, hahahaha”

“Eiii mit amiittt mit amiitttt”

“Tapi kamu demen kan sama aku? Aku bisa baca hati kamu lho”

“Aduh mampus deh, nanti aku kalau nikah poligami ga bisa”

“Kamu ga akan poligami karena kamu orangnya perasa”

“Halah, apa sih?”

“Kok kita jadi gila gini ya?”

“Elooooo yang bawa aku gila”

“Aku dan Kau huruf berbeda tempat punya makna tersendiri”

“Hah, malas kalau ngajak diskusi”

“Setidaknya kekuatan fikiran aku sudah masuk ke kamu, Falaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah”

“Kamu manusia Ver?”

“Bukan, aku ratu siluman lhoo”

“Eh serius”

“Iya eh apa sotoy kamu, ini keliatan sama kamu”

“Ini test IQ ga salah, 329?”

“Lah Falaaaaaah mentang-mentang kamu 379. Mau remehin aku?”

“Enggak sih”

“Falah aku pengen tidur di samping kamu”

“Kamu waras ga?”

“Iya matakan terus diskusi”

“Umi ga apa-apa karena dia tahu nantinya. Kalau alm bapak ada yang kayak kamu, pasti diajakin ngobrol sejak dulu juga”

Yah begitulah, mereka terbawa perasaan yang amat dalam, tapi semua itu dilakukan Vera karena di hati Falah tersimpan satu nama, dan Vera berusaha dengan kekuatan fikirannya untuk menghilangkan nama di hati anak kusir kereta. Diskusi hebat semalaman terus berlanjut. Vera menyulut kemarahan api pengetahuan si anak kusir kereta. Pada suatu fase, Vera mentok berfikir, dan memeluk Falah erat. “Kau adalah pengetahuan Falah, tapi kau tak bisa dimaknai dengan pengetahuan. Kau mampu dimengerti dengan kasih sayang. Oleh sebab itulah, kupeluk dirimu agar kufahami semua perasaanmu. Salam hangat dari alm ayahku“.

About Falah

Keepsmile and .... and... and....
Aside | This entry was posted in Sastra. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s