Boneka Karin

Karya : Gisa Tickrrieta [Teman FB : http://www.facebook.com/gisa.tickrrieta%5D

Editor : Muhammad Noor Falah

Di waktu dan boneka yang sama, Karin hidup penuh penantian. Ia memiliki seorang teman bernama Andri yang bertemu kala perjalanan wisata sekolah. Ada sebuah perasaan pada hati Karin bahwa ia mulai jatuh hati pada Andri. Riang dan gembira mereka alami di wisata. Namun, kala tuai berpisah, Karin berniat untuk menyampaikan perasaannya dengan harapan Andri membalas jawaban atas perasaannya. Hingga pada sebuah hubungan, cara mencintai mereka amatlah berbeda. Tiada ruang dalam fikiran Karin selain memikirkan Andri, tapi laksa rindu tak pernah tertuju pada siapapun kala Andri tidak memikirkannya, Karin yang menganggap bahwa Andrilah satu-satunya pria yang tak bisa tergantikan. Akan tetapi, Andri menganggap bahwa Karin ialah wanita cadangannya.

Pada suatu ketika, hal layak seorang kekasih ingin Karin jalani, agaknya menemukan kecewa.

“Andri, apakah kamu ingin pergi menonton film?”

“Saya tidak bisa”

“Kenapa, apa kamu sibuk?”

“Tidak, aku akan bertemu seorang teman”

Jawaban sama dan pertanyaan sama pula mereka saling bersapa sua dalam semua keinginan. Ketiadaan dalam mata Andri berwujud dalam sebuah pertemuannya dengan wanita lain di depan mata Karin. Karin berkata dalam hati, “Mungkin aku hanya wanita simpanannya” (dengan wajah lemas dan menghembuskan nafas). Kisah menjadikan Karin ingat kejadian demi kejadian dimana ucapan cinta hanya diutarakannya saja. Tak pernah Karin mendengar ujar Andri, “Karin, aku mencintaimu”. Cukup dalam hati menyata Tanya dalam ingatannya. Pertemuan demi sebuah kenangan yang ingin diukir Karin, tidak pernah satu kata Andri ucap, “Aku mencintaimu, Karin”. Hanya boneka pemberian Andri setiap hari yang didapati Karin. “Entah, apakah ini sebuah symbol bahwa dia tidak bisa merespon Karin atau tidak memiliki usaha untuk membuat kenangan indah”, tanya Karin dalam dirinya. Pada suatu ketika pertemuan terjadi di suatu tempat,

“Emm.. Anri aku,,,”

“Apa?”

“Aku mencintaimu”

Ungkapan Karin dibalas dengan kekosongan kata, jauh terlabih makna untuk sekedar bahagiakannya ketika hidup dalam tanda tanya. Andri mengabaikannya, hanya boneka dan boneka yang didapat. Ada rasa bahwa Andri menghindar dari Karin. Setiap harinya Karin hanya dapati boneka tak bernyawa. Namun, Karin menghidupkan boneka itu hanya dalam fikirannya sendiri.

Pada hari kebahagiaannya, ingin sekali Karin mendengarkan ucapan dari Andri. Lagi dan lagi Karin harus menelan pil pahit dari prilaku Andri. Pada bukaan mata pertama dari tidur, dalam fikir Karin bayangan merayakan ultah berdua terus menghantuinya. Bayangan itu mengajak fikiran Karin bahwa keindahan bisa digapai ketika bersama Andri di tanam penuh bunga. Karin menunggu ucapan Andri di HP, tapi waktu nampak menjadi pagi, siang, sore, dan malam, hingga Karin menutup matanya kembali masih belum datang jua ucapan itu.

Waktu menunjukkan pukul 02.00 dini hari, tiba-tiba Andri meneleponnya sampai Karin terbangun dan menyuruhnya keluar rumah. Bersama rasa suka cita dan baying indah, ia pun pergi keluar

“Andri..?”

“Disini… ambil ini” (Andri lagi-lagi memberikan boneka pada Karin)

“Apa ini?”

“Kemarin aku lupa memberikannya padamu, jadi memberikannya sekarang. Aku akan pulang sekarang, bye”

“Tunggu, tunggu! Apa kamu tahu hari apa ini?”

“Hari ini? Aku tidak tahu”

            Karin kembali bersedih karena tak sedikit dalam benak Andri untuk mengingat ulang tahunnya. Ketika Andri berbalik Karin berteriak, “Tunggu..!!”

“Apa kamu ingin mengatakan sesuatu?” Tanya Andri

“Katakan padaku, katakan padaku kau mencintaiku.”

“Apa?”

“Katakan!” (Karin sambil memeluk Andri dari belakang)

            Jauh dalam hati Karin, keinginan Andri mengatakan bahwa ia mencintainya, tapi tanggapan dingin tersaji “Aku tak ingin mengatakan itu, jika kamu kecewa mendengarnya, silahkan mencari penggantiku”. Andri pergi dengan mengecewakan Karin sampai terjatuh ke tanah. Kala air mata menetes, dengan perih Karin bertanya kembali, “Apakah tak bisakau katakana bahwa kau mencintaku? Bagaimana dia bisa? Mungkin ia bukanlah pria terbaik bagiku”.

            Kejadian itu menjadikan Karin berdiam diri sendiri di rumah sambil meratapi keadaan kisahnya, dan sampai itu jua andri tidak bisa mengatakan cinta padanya. Setiap harinya, Andri hanya memberikan sebuah boneka sampai kamarnya dipenuhi boneka-boneka. Sebulan kemudian Karin bersekolah kembali. Karin dihadiahi rasa sakit dengan melihat Andri bersama wanita lain berjalan berdua. Karin kembali ke rumahnya dan melihati boneka-boneka dengan menghidangkan tangis. Pertanyaan sama Karin lontarkan, “Kenapa kau berikan boneka-boneka ini padaku? Apa boneka ini sama halnya kau berikan pada wanita lain?” Boneka-boneka itu Karin lempar satu persatu. “Kriing,…. Kring….. kring….” Hp Karin berbunyi. Ia melihati panggilan tersebut, dan ternyata Andri. Andri menyuruh Karin turun ke Halte dekat rumahnya.

            Karin mencoba menenangkan diri dan pergi menemuinya dengan sebuah janji bahwa melupakan Andri ialah keputusan terbaiknya. Kali ini Andri membawa boneka besar.

“Karin, kupikir Kamu marah, tapi datang” (sambil menyodorkan boneka besar)

“Aku tidak membutuhkannya.”

“kenapa?”(Sambil Karin mengambil boneka dan melemparnya ke jalan)

“Aku tidak butuh boneka ini, aku tidak membutuhkannya lagi! Aku tidak ingin melihat orang seperti kamu lagi”

“Maafkan aku” (dengan suara kecil dan mengambil boneka itu di jalan)

“Kamu bodoh! Mengapa kamu mengambil boneka itu?”

            Andri mengabaikan ujar Karin dan bersi keras mengambil boneka itu. Tanpa sadar “peeep…. Peeep….” Suara klakson truk menuju kea rah Andri

“Andri! Pergi! Menjauh!”

            Dia tidak menghiraukan teriakkan Karin, dan berjongkok mengambil boneka. “Blooom” suara mengerikan. Karin ditinggalkan Andri dengan menutup mata selamanya. Jauh untuk menyatakan, “Aku mencintaimu”. Karin setelah tragedy tersebut menjalani hidup dengan ditikari sedih, beralas duka, dan nganga gelisah yang mendalam. Setiap harinya Karin meilhati dan bermain dengan boneka-boneka yang diberikan Andri. Hanya boneka-boneka merupakan sebuah kenangannya bersama Andri. Ia selalu mengingat hari-harinya bersama harapan ketika sedang jatuh cinta. “Satu.. dua… tiga…” Karin seperti orang gila. Sampai ia menghitung bonekanya berjumlah 485. Karin menangis lagi dengan mendekap erat boneka, lalu terbisik, “Aku mencintaimu… Aku mencintaimu….. Aku mencintaimu”. Serentak Karin terkejut dan menjatuhkan bonekanya. Lalu ia ambil kembali dan menekan perut bonekanya kembali, “Aku mencintaimu… Aku mencintaimu…. Aku mencintaimu….”.

Kata cinta keluar dari boneka tanpa henti. Terkejut Karin dengan semua itu, tidak menyangkan bahwa hati Andri selalu di sampingnya, melindunginya, dan mencintainya sebanyak ucapan boneka satu per satu. Karin mengambil boneka di bawah tempat tidur dan menekan perutnya. Boneka terakhir dengan noda darah di atasnya. Suara yang keluar dariboneka, “Karin apa kau tahu hari ini? Aku tidak bisa mengatakan kucinta padamu karena malu. Jika kamu memaafkanku dan mengambil boneka ini, maka aku akan mengatakan bahwa aku mencintaimu, setiap hari sampai kumati. Karin I Love You”. Karin kembali menangis dan bertanya, “Kenapa? Kenapa? Kutanya Tuhan bahwa kuketahui sekarang ketika dia tak lagi di sisiku, tapi dia mencintaku sampai ajal menjemputnya?”

_Tamat_

About Falah

Keepsmile and .... and... and....
This entry was posted in Sastra. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s