Maret 2015

Kisah ini kuabadikan untuk memberikan sebuah contoh kepada kehidupan selanjutnya. Dimana ada suatu kebiasaan yang dianalogikan kepada sebuah Buah Mangga. Kehidupan pertama ia terasa pahit, kedua asam, dan ketiga manis. Semua itu memberikan sebuah pelajaran dimanakah aku harus berdiam diri. Asam akan sesuai jika orang hamil memakannya di siang hari. Namun, semua itu butuh pengorbanan yang cukup besar. Hidup manusia berhubungan dengan berjuta titik. Titik-titik itu antara lain ialah cinta, kegelisahan, cita-cita, dendam, iri, benci, keinginan, kehendak, kemauan, asal, keabadian, kesukaan, sosial, ilahiyyah, dan lain sebagainya. Terkadang manusia konsentrasi dalam satu bidang saja. Contoh halnya cinta dengan sebuah gegana. Tidak ada hal yang penting selain gegana butuhnya sandaran hati yang mampu membela dirinya sendiri. Sisi lain, bukankah semua itu secara tidak langsung menutup titik-titik yang lain? Sehingga tidak ada keharmonisan dalam hati dan fikirannya sendiri. Bukankah semua itu bentuk kejahatan bagi dirinya sendiri?

Manusia bisa memilih dengan berbagai resiko. Air terdiam ketika dilempari batu dan dijejali sampah di beberapa waktu, mungkin ia akan bersabar. Akan tetapi, ketika hujan turun, sungai akan mengamuk dengan meloncati batas tanah. Pikirkan, air yang tak bersalah selalu dikotori, perjalanannya pada samudra diganggu demi sebuah kepentingan individual. Bukankah tanah memiliki batasan untuk memuluskan perjalanan Air menuju pemurniannya? Bukankah lemparan sampah tersebut ialah sebuah penghinaan, sedangkan dia sendiri munafik bahwa dirinya membutuhkan air sungai tersebut? “Pikirkanlah”…!!

Manusia memang harus membuat duri bagi melindungi dirinya sendiri di lain pihak, tapi semua memiliki kondisi berbeda. Mawar indah dengan durinya ketika pagi menjelang, dan kaktus bertajam di gurun sebagai bukti kehidupannya sendiri bukan? Semoga bersama pilihan ini aku terbebas dari kelaliman berwujud kebaikan, kemunafikan, dan pengasingan dari kebaikan itu sendiri.

About Falah

Keepsmile and .... and... and....
This entry was posted in Filsafat, Sastra. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s