Sarah dan Ken*

Seketika manusia harus menyadari akan sebuah hubungan, seperti hal aku dalam ragam relasi. Pertanyaan sederhana bisa diungkapkan, bila setiap gairah dipuaskan seketika setelah ia muncul, bagaimana manusia bisa menjalani hidup dan melalui waktu? Bayangkan jika beberapa orang dikirimkan kepada utopia di mana semua tumbuh dengan sendirinya dan burung kalkun terbang ke sana kemari siap dimakan, di mana sepasang kekasih menemukan satu sama lain tanpa ada penundaan dan menjaga pasangannya tanpa tanpa kesulitan. Di tempat seperti ini manusia akan mati karena bosan atau menggantung diri mereka sendiri. Manusia menciptakan keindahan dalam pikirannya sendiri karena ia dalam keadaan lain. Setelah itu, dengan penuh kemudahan juga, beberapa orang akan berkelahi serta membunuh satu sama lain, dan kemudian mereka akan menciptakan kesengsaraan untuk mereka sendiri, lebih daripada yang telah ditimbulkan oleh alam sendiri.

Dalam keadaan terpuruk manusia ingin menyingkirkan perasaannya sendiri karena semua fenomena keberadaan memiliki pikiran sebagai pertanda, pikiran sebagai pemimpin utama, dan fenomena itu terbuat dari pikiran. Sebagai akibat dalam hubungan kasih sayang juga sebagaimana terdapat dalam beberapa dialog Platon bahwa hubungan dengan lain di luar diri kita yang berasal dari teman adalah manifestasi dari pikiran manusia sendiri. Sebagaimana manusia berada dalam pikiran manusia yang lainnya. Jika kita menghendaki manusia lain ada di satu keadaan atau tempat berdasarkan apa yang kita pikirkan, maka manusia itu berada dalam perjalanan.

Alam menginginkan agar manusia tidak memerlukan alat besar untuk bisa hidup bahagia. Masing-masing dari manusia mampu membuat kebahagiaan sendiri. Hal-hal yang berasal dari luar mempunyai kadar kepentingan yang sedikit. Semua yang paling baik untuk manusia berada di luar jangkauan manusia lain. Pengakuan akan kehendak bebas manusia untuk menentukan kebahagiaan tidak lain ialah sebagai sesuatu mampu mempengaruhi kejadian sejarah seperti halnya pengakuan terhadap kekuatan bebas yang menyegerakan badan surgawi untuk pengukuran waktu di alam semesta. Heraclitus mengatakan, “Tiada ada yang bertahan kecuali perubahan”. Seluruh dunia adalah sebuah neraka. Dengan pemikiran apa kita bisa terhindar dari apinya?”

*Refleksi dari kisah inspiratif Sarah dan Ken, ^_^

About Falah

Keepsmile and .... and... and....
Aside | This entry was posted in Filsafat. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s